NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pria itu perlahan bangkit dari kursi kebesaran milik Erlangga sambil menyunggingkan senyum jenaka. Dengan langkah yang santai, ia berjalan mendekat.

"Gue ke sini mau ngajak lo minum. Suntuk nih," ucapnya sambil menaikkan sebelah alisnya, mencoba mencairkan suasana yang tampak menegang.

Erlangga sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Wajahnya tetap datar dan dingin.

Tanpa memperdulikan kehadiran pria tersebut, Erlangga langsung melangkah menuju meja kerjanya, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi. Tangannya bergerak kasar melonggarkan ikatan dasi yang terasa kian mencekik akibat sisa amarah dari ruang rapat tadi.

Pria itu berdecak pelan ketika melihat respons dingin Erlangga. Lalu Ia melangkah lebih dekat, dan mengetuk-ngetukan jemarinya di atas meja untuk menarik perhatian Erlangga.

"Lang, kuping lo masih normal kan?" tanyanya. Ia sedikit memiringkan kepalanya, menatap Erlangga dengan tatapan usil.

Pria yang berdiri di hadapan Erlangga ini adalah Rafael Leonardo, sepupu jauhnya yang tinggal di Australia. Berbeda dengan Erlangga yang dingin, Rafael justru cenderung lebih santai dan ekspresif. Rafael ikut terbang ke Indonesia bersama Erlangga beberapa minggu yang lalu untuk membantu mengurus bisnis keluarga.

Erlangga langsung menghembuskan nafas panjang. Lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Hmm... Gue lagi nggak pengen minum," jawab Erlangga sambil menatap tajam ke arah Rafael. Seolah ia sedang mengisyaratkan secara tidak langsung agar sepupunya itu segera angkat kaki dari ruangannya.

Alih-alih takut, Rafael justru menyengir lebar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Lo yakin? Cewek-cewek di club sini tuh cantik-cantik, tau," bujuknya sambil menaik-turunkan alisnya menggoda.

Erlangga langsung mendengus pelan. "Apa perlu gue panggil satpam buat ngusir lo dari sini, Rafael?"

Bukannya lari atau ketakutan, Rafael justru meledakkan tawanya hingga kepalanya mendongak ke belakang. "Hahahaha, lo marah?"

Erlangga tidak menjawab. Tangannya terulur membuka laci meja kerja, lalu merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah pistol. Dengan gerakan tenang, ia mengacungkan senjata itu tepat ke arah Rafael.

"Gue hitung sampai tiga. Kalau lo masih berdiri di sini, gue bakal bunuh lo sekarang juga," ucap Erlangga dingin.

Melihat pistol itu sudah mengarah padanya, tawa Rafael mendadak menghilang. Ia langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tahu betul bagaimana sifat Erlangga yang tak pernah main-main dengan ucapannya.

Ia juga masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat mereka masih berada di Australia. Kala itu, Rafael yang terlalu jauh meledek Erlangga harus pasrah menerima tembakan dari sepupunya itu. Beruntung, peluru tersebut melesat dan hanya menyerempet ujung lengannya saja.

"Ck... Iya-iya, gue pergi," Rafael langsung membalikkan badannya dan melangkah cepat ke arah pintu.

Setelah kepergian Rafael, Erlangga perlahan menurunkan tangannya. Lalu menunduk, mengamati benda yang kini berada di dalam genggamannya. Perlahan bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum miring yang penuh dengan ejekan.

"Sama pistol mainan aja takut," gumamnya sinis, sebelum akhirnya melempar kembali benda plastik itu ke dalam laci dan menutupnya rapat.

**

Sementara itu di tempat lain, Kara dan Anya baru saja tiba di sebuah club malam. Mereka melangkah masuk melewati pintu utama dengan gaya yang anggun.

Suara dentuman musik DJ yang memekakkan telinga, serta aroma alkohol yang pekat langsung menguar di indra penciuman mereka.

Begitu sampai di meja resepsionis, Anya segera memesan ruang VIP khusus. Tak lama kemudian, seorang petugas pelayan membimbing mereka naik ke lantai dua.

Begitu pintu ruang VIP dibuka dan mereka masuk, Kara langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa bludru berwarna merah. Ia memejamkan matanya sejenak sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.

"Ah... Capek banget gue hari ini."

Anya langsung tersenyum sambil merapikan rambutnya di depan cermin kecil. "Bentar lagi capek lo juga hilang kok, kalau lihat gigolo ganteng."

"Cepat pesan mereka dong, nggak sabar nih gue," ucap Kara sambil membuka matanya lebar-lebar.

Anya langsung menganggukkan kepalanya, lalu berjalan ke arah pintu dan memanggil pelayan club yang berjaga di luar ruangan. Ia langsung memesan beberapa botol wine mahal, serta ia juga ingin mendatangkan empat gigolo tampan malam ini.

Tak butuh waktu lama, keempat pria berwajah tampan itu pun tiba. Kara langsung menelan ludahnya dengan susah payah, matanya tak berkedip menatap dua gigolo berbadan atletis yang berjalan ke arahnya itu, sementara dua lainnya menghampiri Anya.

Kedua gigolo itu langsung duduk merapat di sisi kiri dan kanan Kara. Salah satu dari mereka tersenyum ramah dan langsung membuka suaranya. "Perkenalkan nona, nama sa..."

"Hust!" Kara langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir sang gigolo. "Nggak usah kenalan, lo cukup temani gue minum aja, oke? Dan satu lagi, manggilnya lo-gue aja, jangan pakai embel-embel 'Nona' segala."

Gigolo itu mengangguk patuh sambil tersenyum manis, lalu mengangkat tangan membentuk gestur oke.

Kara lantas menoleh ke sisi lain, menatap pria di sebelah kanannya yang sejak tadi hanya diam tanpa suara. "Lo kenapa diam? Lagi sariawan ya?"

"Gue nggak diam kok, cuma pengen nuangin lo minum aja," jawab gigolo itu tenang. Jemarinya yang kekar meraih botol wine, lalu menuangkannya perlahan ke dalam gelas milik Kara.

Kara langsung meraih gelas itu dan menyesapnya perlahan. "Eh, Gue boleh nggak sih grepe-grepe badan kekar kalian ini?" tanyanya blak-blakan, sambil menatap sayu ke arah mereka bergantian.

Kedua gigolo itu saling pandang sejenak, sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Tentu saja boleh, tapi bayaran kita harus di tambah," ucap salah satunya dengan kedipan mata yang menggoda.

Kara langsung mengibaskan tangannya santai. "Halah, tenang aja! Lo tau temen gue yang itu?" Ia menunjuk asal ke arah Anya yang sedang asyik mengobrol di sudut ruangan. "Dia nanti yang bakal bayar kalian. Gue ini pengangguran, jadi nggak punya uang. Tapi tenang, temen gue itu kaya raya, pekerjaannya aja model."

"Kenapa lo nggak ikutan jadi model aja biar kaya?" tanya gigolo di sisi kiri sambil menopang dagunya, dan menatap wajah Kara lekat-lekat.

Kara yang mulai merasa pusing akibat efek dari alkohol itu langsung tertawa terbahak-bahak. "Gue nggak mau kerja, capek! Mending rebahan aja, enak."

Detik berikutnya, rasa penasaran Kara mengalahkan kesadarannya. Tanpa ragu, tangan Kara terulur menekan lengan kekar gigolo di sebelah kiri, lalu beralih meraba otot lengan pria di sebelah kanan. Matanya langsung membelalak takjub. "Kok bisa keras kayak gini sih?"

Tanpa ragu, jemarinya bergerak turun, meraba permukaan otot perut six-pack yang tercetak jelas dibalik kemeja tipis kedua pria itu. "Anjir, yang ini lebih keras lagi!" serunya girang, sementara kedua gigolo itu hanya tersenyum pasrah melayani.

Di tengah kehebohan kecil itu, tanpa disadari oleh mereka, sepasang mata sedang menatap ke arah Kara.

Pria itu menyipitkan matanya sejenak, lalu memiringkan kepalanya demi memastikan penglihatannya itu benar.

Dan detik berikutnya, ekspresi wajah pria itu langsung berubah.

"Lah... Itu bukannya ceweknya Erlangga?" batin Rafael. Ia tertegun di tempat dengan mata yang melebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!