Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Riuh di Kelas sebelah
Langkah kaki Kirana melambat tepat di depan pintu kelas MIPA-1. Pagi ini, koridor sekolah sudah mulai sepi karena bel tanda masuk bimbingan gabungan persiapan seleksi kota baru saja berbunyi. Di pelukannya, Kirana mendekap erat tas jinjing berisi modul dan papan jalan. Meskipun dia sudah memantapkan hati sejak sabtu kemarin di rumah Keenan, tetap saja ada desiran gugup yang mampir di dadanya begitu menyadari dia harus belajar di lingkungan kelas yang berbeda.
"Kir! Buruan masuk, jangan semedi di depan pintu!"
Sebuah bisikan heboh yang terlampau nyaring membuat Kirana menoleh ke arah jendela koridor. Di sana, Raina, Alya, dan Windy rupanya sedang berdiri mengintip dengan wajah penuh semangat. Windy bahkan sempat melambaikan sebungkus biskuit cokelat sebagai bentuk dukungan moral emosional.
Kirana tertawa kecil melihat tingkah laku para sahabatnya. Rasa gugupnya seketika luruh digantikan kehangatan. Dia mengangguk mantap, lalu melangkah melewati ambang pintu kelas MIPA-1.
DUG! DUG! DUG!
"KEDATANGAN TAMU KEHORMATAN! SEMUANYA BERDIRI!"
Suara gebrekan meja yang disusul teriakan lantang dari Damar seketika memecah keheningan kelas. Damar bahkan nekat berdiri di atas kursinya, bertindak bagai pemandu sorak dadakan.
"Selamat datang Kirana Putri Baskara, maskot juara umum MIPA-2 di markas besar MIPA-1!" seru Raihan tidak kalah heboh, tangannya sibuk bertepuk tangan ritmis berirama, mengabaikan sekotak susu UHT yang hampir tersenggol dari mejanya.
Beberapa anak kelas MIPA-1 yang ada di dalam kelas langsung ikut tertawa riuh, menyambut Kirana dengan lambaian tangan yang sangat ramah. Tidak ada lagi sisa-sisa pandangan sinis atau bisikan aneh seperti saat badai gosip mading dua minggu lalu. Semua orang di sekolah ini kini tahu betapa berharganya Kirana, dan mereka memperlakukannya dengan penuh rasa hormat.
"Damar, Raihan, turun gak lo berdua. Malu-maluin kelas kita aja," tegor Danu dengan kedewasaan penuh, meski senyum sabarnya tetap terkembang. Danu melangkah menghampiri Kirana, lalu menunjuk ke arah barisan meja tengah. "Duduk di sana aja, Kir. Kursinya udah disiapin dari subuh sama cowok berjaket denim."
Kirana melirik ke arah meja yang ditunjuk Danu. Di sana, Keenan sedang duduk dengan gaya kasual andalannya. Satu tangannya memutar-mutar pulpen dengan sangat lincah, sementara sepasang mata tajamnya menatap Kirana dengan binar jenaka yang teramat hangat. Di atas meja kayu itu, sudah tergeletak sebuah kursi kosong di sebelah Keenan, lengkap dengan sekotak susu cokelat dingin—investasi harian yang tidak pernah absen.
Di sudut meja lain, Romeo hanya melirik sekilas dari balik buku rumusnya, memberikan anggukan kepala tipis sebagai tanda sapaan formal ala dirinya sebelum kembali tenggelam dalam coretan angka.
Kirana berjalan menyusuri baris meja tengah, lalu duduk di kursi sebelah Keenan. Begitu dia menaruh tasnya, Keenan langsung mencondongkan tubuhnya ke samping, memamerkan cengiran bandelnya yang sangat familier.
"Gimana, Tuan Putri? Sambutan dari anak buah gue cukup meriah?" goda Keenan setengah berbisik, matanya mengerling jail.
"Meriah banget sampai gue rasa gendang telinga gue hampir pecah karena kelakuan Damar," balas Kirana ikut berbisik, namun tawa renyahnya yang lepas tidak bisa disembunyikan. Dia mengambil kotak susu cokelat pemberian Keenan, memutar-mutarnya pelan di tangan. "Makasih ya, Keenan."
"Sama-sama. Susu cokelat itu mengandung kalsium yang bagus buat memperkuat jantung lo biar gak copot kalau digodain Damar," kilat Keenan santai tanpa beban, membuat Kirana kembali mencubit pelan lengan jaket denim cowok itu dengan gemas.
Di luar jendela koridor, Raina, Alya, dan Windy yang melihat interaksi manis itu dari kejauhan langsung saling berpegangan tangan menahan pekikan gemas. Setelah memastikan Kirana benar-benar aman dan dikelilingi oleh keriuhan yang positif, mereka bertiga akhirnya berjalan mundur menjauh menuju kelas mereka sendiri sambil senyum-senyum sendiri.
Tak lama kemudian, Bu Endang masuk ke dalam kelas membawa tumpukan lembar simulasi soal bimbingan pertama. Atmosfer kelas MIPA-1 mendadak bertransisi menjadi mode serius, namun tetap diwarnai dengan candaan kasual di sela-sela pembahasan rumus transformasi mekanika fluida yang rumit.
Kirana mencatat setiap langkah penyelesaian dengan sangat rapi di papan jalannya, sementara di sebelahnya, Keenan sesekali mencuri pandang, tersenyum puas melihat bagaimana kuncir kuda rambut Kirana bergerak lincah mengikuti gerakan tangannya.
Siang itu, di tengah ruangan kelas MIPA-1 yang riuh, Kirana menyadari satu hal penting yang mengunci keyakinannya di akhir babak perjalanan ini. Kesunyian dan tekanan kaku di rumah Ayah dan Ibu mungkin masih akan selalu menunggunya setiap kali dia pulang sekolah nanti. Namun di sini, di sela-sela tumpukan buku latihan, di antara kekompakan para sahabat perempuan yang mengintip di jendela, kesolidan geng cowok yang heboh, dan kehadiran Keenan yang selalu menjaganya di kursi sebelah, Kirana tahu dia telah berhasil mendobrak keluar dari sudut sunyinya. Dia telah resmi menemukan sebuah perlindungan baru yang riuh, hangat, dan siap menemaninya memenangkan 30 bab kisah putih abu-abu selanjutnya dengan penuh keberanian.