Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 12
Lelah sekali rasanya malam ini bagi Rara. Ia frustasi menghadapi tekanan dan ancaman dari pria brengsek bernama Rudi. Energinya terasa terkuras habis.
Agar tidak berlarut dalam masalah itu, ia pergi ke kelab malam seperti biasa. Menyingkirkan sebentar soal tekanannya dan menikmati kebebasan sementara waktu.
Ia keluar dari mobil. Lalu melangkah menuju pintu depan kelab malam layaknya seorang model. Berjalan melenggang dengan dibalut slip dress satin dengan belahan dibetisnya dan dipadukan dengan sepatu high heels. Ia tampak memukau dan menawan.
Velvet and gold, kalimat itu terpasang menyala diatas pintu utama tempat hiburan malam itu. Disini, merupakan tempat bagi sebagian orang adalah lambang pencapaian tertinggi, tempat di mana tagihan malam bernilai ratusan juta rupiah dibayar tanpa perlu melirik dua kali ke arah angka totalnya.
Seorang pria mengangkat tangan saat ia menatap kearah sofa yang hanya diduduki oleh pria itu. Ia langsung berjalan kearahnya.
Pria itu adalah Stevan. Bisa dikatakan, pria ini adalah ketua dari bisnis kontrak temu di kelab malam mewah ini. Ia yang mengenalkan setiap tamu ke anggotanya.
Rara duduk menyilangkan paha disamping Stevan. Ia tidak duduk terlalu dekat namun ada jarak sekitar 30 cm. Pria itu memesan minuman biasanya. Minuman mocktail yang menyegarkan dan tidak akan membuat mabuk.
"gimana kontrak lo sama Rudi, masih lanjut apa sudah putus ?" tanya Stevan untuk memulai obrolan sambil menunggu minuman yang dipesan jadi.
"sudah nggak lanjut," jawab Rara kesal.
"kalau begitu gue mau kenalan tamu baru malam ini. Sebentar lagi orangnya pasti sampai," kata Stevan.
"siapa ?" tanya Rara.
"namanya Bramantyo Wijaya. Dari namanya aja, udah pasti dia bukan pria biasa. Yaah semoga aja bukan pria seperti Rudi. Ini bukan permintaan langsung dia yang ingin ketemu kamu. Tapi ini permintaan dari ayahnya. Kalau bisa kamu ambil hatinya dan jalani hubungan yang lebih dekat," jelas Stevan.
"nggak, gue nggak mau kalau jadi jodoh-jodohan gini. Gue masih mau bebas," jawab Rara sambil menggelangkan kepala menolak.
"dengerin dulu ra. Ini bukan kontrak temu biasa. Ada uang imbalan yang lebih besar dari yang kamu terima dari Rudi. Apalagi lo kan sekarang lagi ada masalah keuangan. Coba jalanin dulu," kata Stevan.
Sepintas Rara kembali teringat saldo di rekeningnya yang mepet dari standarnya. Ditambah lagi ia harus memikirkan pembayaran bunga ke Rudi.
Seorang pelayan wanita datang. Dua minuman mocktail yang terisi digelas berbentuk piala telah tersaji dihadapan mereka berdua. Lalu pelayan itu pergi.
"gimana ra ? Setuju ?," tanya Stevan. Ia lalu meminum mocktail digelasnya.
"oke gue setuju," jawab Rara pasrah.
"gitu dong. Ini nanti kontraknya sifatnya lama dan tidak ada batasnya. Tapi lo bakal dapat uang imbalan terus. Intinya lo diminta sama ayahnya untuk nemenin Bram. Ayahnya cuman ingin anaknya punya teman dekat perempuan," jelas Stevan.
Rara tak menjawabnya. Ia hanya menyimak dengan beberapa kali meminum mocktail yang dipesankan oleh Stevan.
"Nah itu dia orangnya," kata Stevan saat melihat seorang pria berbadan tegap, rambut yang rapi, dan rahang tegasnya dikelilingi dengan jenggot tipis yang tumbuh di sekitar pipi dan dagu. Kesan maskulin dan dewasanya sangat terasa.
Badan pria itu dibalut dengan jas hitam yang rapi dan bersih. Kakinya ia tutupi dengan sepatu pantofel hitam mengkilap.
"aku pergi dulu ya, temenin dia sebentar, ajak ngobrol, intinya tidak ada kontrak tertulis. Setiap dia butuh teman dia akan hubungi kamu," kata Stevan. Ia seketika berdiri saat pria itu tinggal beberapa langkah sampai di sofa. Sementara Rara masih duduk dan menikmati minumannya.
Tepat saat Stevan berhadapan dengan pria itu, ia bersalaman sebentar dan mempersilahkannya duduk di sofa yang akan ia tinggalkan.
"kamu Rara ya ?" tanya pria yang bernama Bramantyo itu. Suaranya berat dan terisi.
"iya aku Rara," jawab Rara. Lalu ia berdiri dan menyambut salaman Bramantyo.
Obrolan mereka dimulai dengan canggung. Namun, lama-kelamaan suasana makin cair dan terlihat mulai akrab. Gelak tawa juga sesekali terdengar diantara mereka. Disisi lain, hal itu di amati oleh Stevan yang berbaur di keramaian ditengah ruangan yang dipenuhi dengan orang-orang yang terlena dengan alunan musik di kelab malam. Ia tersenyum menandakan kepuasan melihat keakraban mereka berdua.