NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Detik-Detik Terakhir di Ruang Cermin

Waktu berjalan tanpa suara, membawa sisa-sisa hari dalam hitungan mundur yang kian menipis. Di dalam kamar apartemen pribadi Lu Jingyan yang sunyi, keheningan malam terasa begitu berat dan menekan dada. Pendar lampu kota dari balik jendela kaca raksasa memantulkan bayangan redup pada permadani lantai, sementara di atas meja kerja kayu mahoni, sebuah arloji saku perak tergeletak diam.

Jingyan duduk di kursi kerjanya dengan punggung tegak. Napasnya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Ia dapat merasakan sensasi dingin yang merambat perlahan dari ujung jemari kaki hingga naik ke pergelangan tangannya—sebuah sinyal biologis tak kasat mata bahwa batas waktu peminjaman raga ini sudah berada di ambang garis akhir.

Tinggal beberapa jam lagi.

Kontrak jiwa yang diikat oleh semesta bersama sang penjaga entitas segera menemui titik akhirnya. Tidak ada lagi ruang untuk tawar-menawar, tidak ada perpanjangan waktu, dan tidak ada keajaiban fana yang bisa menahan eksistensinya lebih lama di bumi ini.

Pintu ruang kerja terketuk pelan. Sekretaris Han melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk. Wajah pria paruh baya itu tampak sembab dan menyimpan duka yang amat mendalam. Selama berminggu-minggu mendampingi sang pewaris, Sekretaris Han adalah satu-satunya orang di luar sana yang mulai menyadari kejanggalan di balik perubahan drastis, ketenangan mutlak, serta sorot mata penuh rahasia yang terpancar dari diri atasannya.

"Semua urusan operasional harian Lu Group, pembagian portofolio perwalian independen untuk Nyonya Lin Meiying, dan pengamanan hak hukum keluarga kecil di distrik utara sudah saya selesaikan sepenuhnya sesuai instruksi terakhir Anda, Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan suara bergetar parah, menahan isak tangis yang mendesak tenggorokannya.

Jingyan mendongak perlahan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di luar lingkaran rahasianya.

"Terima kasih, Han," ucap Jingyan tenang, suaranya terdengar begitu damai di tengah badai takdir yang menghimpitnya. "Kau bukan hanya sekadar asisten terbaikku selama ini, tetapi juga sahabat sejati yang menjaga punggungku di saat-saat paling gelap. Mulai besok dan seterusnya, pertahankan integritas perusahaan ini, dan pastikan tidak ada satu pun orang yang bisa merenggut hak masa depan Anqi."

Sekretaris Han tidak mampu lagi menahan air matanya. Ia membungkuk dalam-dalam selama beberapa detik, memberikan penghormatan terakhir kepada sosok atasan sekaligus pemimpin luar biasa yang telah mengubah jalannya sejarah Lu Group. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sekretaris Han berbalik melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu perlahan dan meninggalkan Jingyan seorang diri dalam keheningan.

Di luar jendela, langit malam perlahan-lahan mulai bergeser ke arah fajar. Garis tipis kemerahan menyembul di ufuk timur kota, menyambut hari baru yang akan datang tanpa kehadirannya.

Jingyan bangkit berdiri dari kursi kerjanya. Langkah kakinya terasa sedikit ringan, seolah beban dunia yang selama ini ia pikul di atas pundaknya perlahan-lahan terangkat seiring dengan memudarnya ikatan ragawi tersebut. Ia berjalan mendekati dinding kaca besar yang memantulkan bayangan utuh sosok Lu Jingyan—pria tampan berwibawa, direktur utama korporasi raksasa, pewaris tahta kekayaan yang ditakuti banyak orang.

Namun, di balik pantulan kaca itu, Jingyan dapat melihat bayangan samar wajah lamanya: Chen Guowei, si buruh kasar berjaket kusam yang mati tertimpa reruntuhan besi dingin di lantai 35 gedung ini setahun yang lalu.

Lingkaran cahaya keemasan yang lembut mendadak berpendar di hadapannya. Udara di dalam ruangan berubah menjadi hangat, beraroma kelopak bunga kamboja dan wangi kayu manis yang sangat dirindukannya. Sosok bayangan transparan dengan jubah kain kelabu tua—sang penjaga takdir—muncul perlahan tanpa suara di sudut ruangan, menatap Jingyan dengan sorot mata penuh kedamaian.

“Waktumu di dunia ini telah genap, Chen Guowei alias Lu Jingyan,” suara tanpa wujud itu bergema lembut di dalam kesadaran batinnya. “Kau telah menepati sumpahnya, menegakkan keadilan bagi keluargamu, dan meruntuhkan tembok keserakahan yang merajalela. Apakah ada kalimat terakhir sebelum ragamu kembali menyatu dengan keabadian?”

Jingyan menatap pantulan dirinya sendiri di kaca untuk terakhir kalinya. Bayangan jas mewah itu mulai meluruh, berubah menjadi pendar partikel cahaya kecil yang berterbangan di udara.

"Aku tidak memiliki penyesalan apa pun," bisik Jingyan pelan pada bayangannya sendiri, suaranya memantul lembut di dinding ruangan. "Katakan pada semesta... aku pulang."

Di belahan kota yang berbeda, di dalam rumah kontrakan kecil di distrik utara, Lin Meiying terbangun secara tiba-tiba dari tidurnya. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan napasnya memburu seolah ia baru saja bermimpi melewati badai yang sangat panjang.

Ia bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati agar tidak membangunkan putrinya yang tertidur lelap di sampingnya. Dengan langkah gontai, Meiying berjalan keluar menuju teras depan rumah kontrakan.

Suasana di luar masih sangat gelap, menyisakan pendar lampu jalan yang temaram. Namun, ada sesuatu yang aneh di udara pagi ini. Hembusan angin malam yang tadinya dingin mendadak berubah menjadi sejuk, membawa aroma harum mahoni dan kayu manis yang begitu pekat—aroma yang sama persis dengan pelukan terakhir yang ia kenali bertahun-tahun silam.

Meiying merentangkan tangannya perlahan di bawah teras, membiarkan angin lembut itu membelai wajahnya. Air mata tiba-tiba menetes begitu saja membasahi pipinya, bukan karena kesedihan yang mendalam, melainkan karena gelombang kedamaian yang luar biasa merasuk ke dalam relung hatinya. Di dalam debar dadanya, ia tahu—tanpa perlu dijelaskan oleh kata-kata apa pun—bahwa jiwa yang selama ini mengawasi dan melindunginya dari kejauhan akhirnya telah menemukan tempat peristirahatan yang abadi.

"Selamat jalan..." bisik Meiying lirih ke udara kosong, tersenyum lembut sambil menengadah menatap langit malam yang perlahan-lahan memudar, menyambut terbitnya fajar pertama di atas puing-puing masa lalu yang telah sembuh sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!