**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - BARA DI BAWAH KULIT PUALAM
Matahari Mediterania perlahan bergeser ke barat, menumpahkan semburat jingga kemerahan ke dinding batu abu-abu Kastel Valois.
Arthur Valois telah kembali terlelap. Bukan tidur koma akibat racun polonium yang merusak sumsum tulang, melainkan tidur lelap pemulihan di bawah pengaruh obat penawar murni. Enam dokter forensik Swiss dan sepuluh operator tempur Valois Maritime Defense bersenjata lengkap menyegel lantai tiga tanpa celah.
Aku melangkah keluar dari kamar medis, menutup pintu kayu ek berperekat peredam suara tanpa menimbulkan derit sedikit pun.
Lorong sayap barat kastel temaram. Di ujung lorong, pintu ganda menuju balkon batu terbuka lebar, membiarkan angin laut Liguria yang asin dan beku bertiup liar menyapu karpet merah.
Di sana, di tepi balkon yang menghadap langsung ke jurang karang dan deburan ombak berbusa putih di bawahnya, berdiri Adrian Varell.
Jas arang gelapnya telah ditanggalkan. Kemeja hitam bergaris tenun sutra membungkus punggungnya yang kokoh dan bidang. Angin laut menerbangkan helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Di tangan kanannya, cerutu Kuba menyala merah redup, mengepulkan asap putih tipis yang langsung disapu angin senja.
Langkah sepatuku mendarat tanpa suara di lantai balkon marmer.
Adrian tidak menoleh, namun suara baritonnya yang berat mengalun rendah menembus deburan ombak. "Dia mengenalimu."
Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan mutlak dari pria yang mengamati setiap detik kebangkitan sang patriark dari ambang pintu.
"Darah tidak pernah salah mengenali asalnya, Adrian," sahutku pelan, melangkah mendekat hingga berdiri di sampingnya.
Aku menyandarkan kedua lenganku ke pagar balkon batu yang dingin. Di bawah sana, tiga mil laut dari garis pantai Nice, siluet dua kapal fregat tempur Jeanne d'Arc dan Lafayette mengapung anggun di atas air laut yang mulai menghitam, meriam otomatis di haluannya mengarah ke laut lepas bagai anjing penjaga yang setia menanti perintah ratunya.
Adrian menghembuskan asap cerutunya ke udara dingin, lalu mematikan ujung apinya pada asbak batu di langkan balkon. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, memangkas jarak di antara kami hingga bayangan tubuh tegapnya menenggelamkanku dari terpaan angin laut.
Aroma tembakau dingin, garam laut, dan panas tubuhnya yang dominan seketika mengurungku.
Sepasang mata hitam kelam Adrian menatapku lurus. Tatapannya menelanjangi sisa ketegangan yang masih melekat di garis bahuku. Perlahan, jemarinya yang kapalan dan berurat kokoh terulur menyentuh pipiku yang dingin. Kulit telapak tangannya begitu hangat, mengirimkan gelombang kejut lembut yang merayap turun ke pangkal leherku.
"Babak pembersihan di Eropa sudah selesai, Nadia," bisik Adrian rendah, suaranya parau dan sarat akan gravitasi gelap yang berbahaya. "Julian dan Marcus membusuk di Marseille. Armada tanker Valois berada di bawah perintah mutlak jemarimu. Lalu sekarang... apa yang tersisa di dalam kepalamu?"
Aku mendongak, membalas tatapan matanya tanpa gentar sedikit pun. "Teka-teki terakhir, Adrian. Siapa yang memberi Julian pasokan polonium itu sembilan belas tahun lalu."
Adrian menyipitkan matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Sembilan Teratai hanyalah perantara. Di balik mereka, ada oligarki lama dari Jakarta yang menandatangani pembagian jalur logistik timur bersama Julian sebelum Helena dibakar."
"Dan nama mereka ada di brankas tersembunyi kastel ini," sahutku pelan.
"Nanti malam," bisik Adrian.
Jemarinya meluncur turun dari pipiku, menelusuri rahangku yang tegas, lalu mendarat di kerah mantel kasmir abu-abuku. Dengan gerakan lambat yang penuh kendali, ia membuka kancing mantelku satu per satu.
Kain wol tebal itu terlepas dari pundakku, jatuh terkulai ke atas lantai balkon batu tanpa dipedulikan.
Kini yang tersisa di tubuhku hanyalah gaun rajut hitam pas badan tanpa lengan. Angin Mediterania yang dingin seketika menggigit kulit lenganku yang telanjang, membuat bulu-bulu halus di tengkukku meremang.
Namun hawa dingin itu musnah seketika saat tangan Adrian melingkari pinggang rampingku, menarik tubuhku merapat ke dadanya dengan sentuhan yang tegas dan menuntut.
Panas tubuh maskulinnya merayapi gaun rajut tipisku tanpa ampun. Otot-otot dadanya yang keras menekan dadaku, dan aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdentum berat, berpadu liar dengan deru ombak di bawah tebing.
"Kamu telah memegang dunia di tanganmu hari ini, Nadia Valois," bisik Adrian parau tepat di depan bibirku. Hawa napasnya yang hangat membelai bibir merah alamiku. "Tapi malam ini... sebelum kita membuka brankas berdarah itu... kamu harus membayar harga atas pria yang berdiri di sampingmu menembus badai ini."
"Harga apa yang kamu minta, Tuan Varell?" bisikku serak, jemariku bergerak naik menyusup ke balik kerah kemeja sutra hitamnya, merasakan kulit lehernya yang panas membakar telapak tanganku.
"Kepatuhanmu," desis Adrian rendah.
Sebelum aku sempat menepis kata-kata arogan itu, bibir Adrian telah menghantam bibirku dalam sebuah ciuman yang luar biasa menuntut, liar, dan memabukkan.
Lidahnya merangsek masuk dengan dominasi mutlak yang meremukkan seluruh kendali logikaku. Rasa tembakau mahal dan asin angin laut berpadu di antara tautan bibir kami. Tubuhku tersentak saat tangan kanannya menyusup ke belakang tengkukku, mencengkeram helaian rambutku untuk memperdalam ciuman itu, sementara tangan kirinya meluncur turun menelusuri lekuk pinggulku, meremasnya dengan kepemilikan yang membuat napasku tercekat di kerongkongan.
Helaan napas tertahan di dadaku saat lutut Adrian menyusup di antara kedua kakiku, memisahkan pahaku dan memaksaku bersandar pada langkan balkon batu yang dingin.
Kontras yang begitu ekstrem antara dinginnya marmer di punggung bawahku dan panas membara dari tubuh Adrian yang menekan di depanku memicu letupan gairah liar yang menyengat langsung ke kesadaranku.
Tanganku mencengkeram kain kemejanya di bagian bahu, kuku-kukuku menancap di balik kain sutranya saat Adrian melepaskan bibirku sejenak hanya untuk menenggelamkan wajahnya ke ceruk leherku. Bibirnya yang panas menghujani garis rahangku dengan kecupan dan sentuhan sensual, meninggalkan jejak kemerahan baru di atas kulit pualamku yang dingin.
"Adrian..." bisikku terengah-engah, dadaku naik-turun liar beradu dengan dadanya.
"Katakan siapa pemilik takhtamu malam ini, Nadia," geram Adrian serak di atas kulit leherku, tangannya menelusup ke bawah keliman gaun rajutku, meraba paha mulusku yang hangat dengan sentuhan jemarinya yang kapalan dan terlatih.
Sensasi sentuhan kulit kasarnya di kulit sensitif pahaku membuat seluruh tubuhku gemetar hebat oleh luapan hasrat yang menuntut pelepasan. Aku menarik kepalanya ke atas, menatap tepat ke manik mata hitamnya yang berkilat bagai bara api di tengah kegelapan senja.
"Kamu, rajaku..." bisikku dengan senyuman liar yang menantang bahaya. "Ambil apa yang menjadi hakmu."
Sorot mata Adrian menggelap total.
Dengan satu gerakan sentakan yang kuat dan penuh kendali, pria itu mengangkat tubuhku sepenuhnya dari lantai balkon, membawaku melangkah masuk ke dalam kamar utama sayap barat kastel dan menyatukan kembali keintiman kami di dalam kehangatan ruang privat.
Pintu balkon terbanting menutup oleh terpaan angin laut di belakang kami, mengunci dunia luar yang fana dari pertempuran intim dua penguasa baru samudra.
Dua jam kemudian, kegelapan malam telah menyelimuti seluruh pesisir Côte d'Azur.
Di dalam kamar utama yang hanya diterangi oleh bara api perapian, hening merayap damai. Selimut beludru sutra tebal menutupi tubuh kami. Aku berbaring miring, menyandarkan kepalaku di atas dada bidang Adrian yang berdetak tenang dan kokoh.
Jemari Adrian yang besar membelai punggung telanjangku dengan ritme lambat yang menenangkan, sesekali mengecup puncak kepalaku dengan kehangatan protektif yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di lantai bursa.
Di atas meja samping ranjang, sebuah silinder logam kuningan tua peninggalan Arthur Valois yang baru saja diambil Bastian dari brankas bawah tanah kastel tergeletak membisu.
Sebuah segel timah berukir lambang Garuda lama era pra-kemerdekaan merekat di penutupnya.
"Dokumen dari Jakarta," gumamku serak seraya menatap silinder kuningan itu di bawah pendar bara api.
Adrian melirik silinder itu dengan mata menyipit tajam. "Daftar konsorsium tujuh keluarga yang membakar Helena sembilan belas tahun lalu. Tiga di antaranya telah kamu hancurkan: Arkana, Marvia, dan cabang Hendra."
"Dan empat lainnya?" tanyaku dingin, merasakan amarah yang kembali membeku di dalam nadiku.
Adrian menarik napas panjang, tatapannya beralih menatap langit-langit berukir kastel tua itu.
"Empat keluarga lainnya memegang kendali atas bank sentral, kementerian pertahanan, dan dewan energi nasional di Jakarta," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan peringatan atas badai yang jauh lebih besar. "Mereka adalah para pendiri oligarki yang sesungguhnya, Nadia. Dan mereka tahu bahwa kamu telah merebut armada Valois di Eropa."
Aku menegakkan tubuhku perlahan, membiarkan selimut beludru sutra merosot hingga ke pinggangku. Tatapanku dingin, memandang silinder kuningan itu dengan determinasi seorang ratu yang siap membumihanguskan siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Biarkan mereka bersiap di Jakarta, Adrian," bisikku pelan, sudut bibirku melengkung membentuk seringai paling mematikan. "Karena begitu kaki saya kembali menginjak tanah air... giliran empat taring terakhir itu yang akan kucabut hingga ke akar-akarnya."
Babak Ketiga: Tabir Masa Lalu & Rahasia Darah resmi dibuka di atas abu para pengkhianat.
Dan seluruh negeri... akan segera menyaksikan penghakiman terakhir dari sang pewaris sejati.
Bersambung...