NovelToon NovelToon
Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: IRISVEL

SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Pengawasan khusus?

BAB 11: "PENGAWASAN KHUSUS SANG KETUA OSIS"

Suasana SMA Nusantara Mandiri pasca-insiden meledaknya gudang di Pelabuhan Tua mendadak berubah tegang. Walau kepolisian menutup rapat investigasi dan menyatakan kejadian itu sebagai "kebakaran akibat korsleting listrik industri," desas-desus di kalangan murid tetap berembus kencang. Semua orang tahu, geng Krava mendadak bubar total hanya dalam waktu satu malam, sementara nama geng Averus makin tak tersentuh di puncak hierarki jalanan.

Aira berjalan menyusuri koridor lantai dua sambil mengunyah permen karet. Gaya berjalannya tetap santai, seragamnya tetap acak-acakan—dua kancing atas kemeja sengaja dilepas, lengan digulung rapi sampai siku. Bekas luka gores kecil di pelipis kirinya ditutupi plester bergambar kartun yang sengaja dia tempel asal.

"Pagi, Aira!" beberapa murid yang dulu kerap mengacuhkannya kini menyapa ramah, bahkan terkesan segan.

Sejak aksi pangkas tuduhan nyontek dan runtuhnya dominasi Valerie, reputasi Aira meroket. Dia bukan lagi cewek figuran penakut yang bisa disuruh-suruh, melainkan sosok savage yang bikin bergidik siapapun yang berniat cari gara-gara.

"Yo," balas Aira singkat tanpa menoleh, memasukkan kedua tangan ke dalam saku rok

abu-abunya.

Begitu sampai di ambang pintu kelas 11-IPA 2, langkah Aira terhenti. Di atas meja belajarnya, terpajang sebuah kotak bekal stainless steel berwarna perak, lengkap dengan botol termos kecil beraroma teh krisan hangat. Di samping bekal itu, ada secarik kertas bertuliskan tulisan tangan yang sangat rapi dan tegas:

Harus dihabiskan. Jangan cuma makan permen karet.

— L.B.A.

Aira memutar bola matanya malas. "Anjir... ni cowok beneran ketularan virus bucin apa gimana sih?"

"Cieee... dapet gizi tambahan dari Ketua OSIS nih!" goda Bimo yang baru saja datang membawa tas ransel tebalnya. Cowok berkacamata itu menatap bekal di meja Aira dengan pandangan takjub. "Gila ya, Ra. Dari kemarin Langit bolak-balik ke kelas kita cuma buat mastiin lu gak bolos. Satu sekolah udah heboh ngebahas kalian berdua!"

"Bawel lu, Bim," dengkus Aira, walau tangannya tetap membuka tutup bekal perak itu. Di dalamnya terata rapi roti panggang dengan isi daging asap, telur setengah matang, dan potongan alpukat segar. "Kotoran ayam banget si Kanebo. Sok-sokan ngatur pola makan gue."

Padahal, mulutnya berkata begitu, tapi tangan Aira tanpa ragu langsung menyambar sepotong roti panggang dan mengunyahnya dengan lahap. Lumayan lah, gratisan, batinnya membela diri.

Tiba-tiba, bayangan tinggi menjulang menutup sinar matahari yang masuk dari jendela koridor.

Langit Biru Adhitama berjalan masuk ke kelas. Jas OSIS-nya terpasang rapi, lengkap dengan ban kapten di lengan kiri. Wajahnya yang rupawan tampak tenang seperti biasa, tapi matanya langsung terkunci pada sosok Aira yang sedang mengunyah rotinya.

Di belakang Langit, Valerie berjalan menunduk rapat. Wajah cewek itu terlihat sangat pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Sejak dokumen aset kepemilikan keluarga Shena gagal dicolong malam itu—dan justru berpindah tangan sepenuhnya ke bawah kekuasaan Aira—posisi keuangan dan pengaruh keluarga Valerie di yayasan sekolah mulai goyah drastis.

"Shena," panggil Langit dengan suara beratnya yang khas, menghentikan langkah tepat di depan meja Aira.

Aira menaikkan sebelah alisnya sambil mengunyah roti. "Ngapain lu ke sini lagi? Mau inspeksi kerapihan baju gue? Nih, kancing gue lepas dua, tangkap gue kalau berani."

Langit menatap dua kancing atas kemeja Aira yang terbuka, memperlihatkan tulang selangka cewek itu yang tegas. Kilatan dingin mendadak muncul di mata Langit. Tanpa meminta izin, Langit maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka.

Sret.

Tangan kanan Langit meraih kerah kemeja Aira, lalu dengan jemari tangannya yang panjang dan luwes, dia memasangkan dua kancing atas kemeja Aira satu per satu hingga tertutup rapat.

"Posisikan seragam lu dengan benar," bisik Langit, suaranya sangat rendah hingga hanya bisa didengar oleh Aira. tangannya sempat mengusap lembut leher Aira saat selesai mengancingkan. "Gue gak suka cowok lain ngeliatin lu kayak gitu."

Aira menepis tangan Langit pelan, pipinya mendadak terasa agak hangat. "Heh! Kanebo Kering! Lu beneran ngajak ribut ya? Lu pikir lu bapak gue pake ngatur-ngatur kancing baju segala?!"

"Gue bukan bapak lu," balas Langit datar, menatap lurus ke dalam mata Aira yang menyala galak. "Gue pengawas khusus lu. Mulai hari ini, lu masuk dalam daftar siswa dalam pengawasan ketat OSIS."

"Pengawasan ketat pala lu meledak!" cerocos Aira. "Alasan murahan! Lu sengaja kan mau nempel-nempel ke gue terus?!"

Langit tidak membantah. Sudut bibirnya justru terangkat sangat tipis—sebuah senyuman yang sukses bikin beberapa cewek di barisan depan kelas memekik tertahan karena terpesona.

"Kalau iya, kenapa?" tantang Langit santai. "Lu mau protes? Surat pengawasannya sudah gue tandatangani sendiri sebagai Ketua OSIS dan disetujui Kepala Sekolah. Tiap jam istirahat dan pulang sekolah, lu wajib lapor ke ruangan OSIS."

Aira menyipitkan matanya, menatap Langit dengan aura permusuhan yang pekat. "Lu manfaatin jabatan lu buat ngekang gue, Langit?"

"Gue manfaatin apa pun yang gue punya buat jaga lu," jawab Langit tanpa keraguan sedikit pun.

Di sudut ruangan, Valerie menatap interaksi manis-panas di antara Aira dan Langit dengan jemari yang mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Kebencian membakar dadanya hingga terasa sesak. Semua rencana yang dia susun rapi di masa lalu hancur total. Langit yang dulu tak pernah memandangnya, kini justru berlutut menyerahkan seluruh perhatiannya pada Aira—cewek figuran yang harusnya sudah hancur!

Aira... lu mikir lu udah menang?! batin Valerie histeris. Lihat aja nanti pas acara camp sekolah... gue bakal bikin lu tenggelam di dasar jurang sampai gak ada satu orang pun yang bisa nemuin mayat lu!

Aira yang punya insting bertarung tajam mendadak melirik ke arah Valerie. Matanya yang tajam bertemu dengan tatapan penuh racun dari Valerie. bukannya takut, Aira justru tersenyum miring, meniup gelembung permen karetnya lalu menyapa Valerie dengan gerakan bibir tanpa suara:

C-O-B-A-A-J-A.

Langit yang menyadari arah pandangan Aira melirik sekilas ke arah Valerie dengan tatapan membunuh yang sangat dingin, lalu kembali menatap Aira.

"Jangan buang energi lu buat mikirin hal sampah," kata Langit sambil menepuk pelan puncak kepala Aira—membuat rambut bergelombang cewek itu agak berantakan.

"Habisin bekal lu. Nanti siang gue tunggu di ruangan OSIS. Kalau lu bolos..." Langit mendekatkan wajahnya ke telinga Aira, "...gue bakal jemput lu pake cara yang gak bakal lu suka."

"Cih! Dasar diktator!" umpat Aira begitu Langit berbalik dan melangkah keluar kelas dengan gaya tenangnya yang angkuh.

Aira kembali duduk di kursinya, menyambar roti

panggangnya lagi dengan gigitan kasar. Tapi di balik umpatan dan muka ketusnya, sudut bibir Aira terangkat tipis.

Pengawasan ketat, huh? Boleh juga permainannya, Kanebo Kering.

see you next bab 12

jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini

1
PengGeng EN SifHa
kenapa si shamena shena nanana di juluki CEWEK TRANSMIGRAN thoor ?

dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?
PengGeng EN SifHa
alur cerita yg sulit dijabarkan,akan tetapi sangat seru dimana jiwa muda yg penuh tantangan...dimana dunia nyata saja sudah seru & ini dunia fana + seru lagi dengan logika yg begitu badas.
PengGeng EN SifHa
gedebak gedebig dar der dor kembang api to raa ??🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!