NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Burger Nyam Nyam

"Kamu beneran mau beliin aku hape?" tanya Silva dengan mata berbinar antusias.

Baffin tidak menjawab lewat kata-kata. Cowok itu hanya mengangguk santai sambil bersandar pada motornya.

Namun, alih-alih bersorak senang, senyum Silva langsung surut. Sudut bibirnya menekuk ke bawah, berganti cemberut.

"Pasti ada syaratnya, kan?" tebak Silva curiga.

Baffin kembali mengangguk. Kali ini seulas senyum tipis yang nyaris tak kentara terukir di wajahnya.

"Tuh, kan! Kebiasaan!" seru Silva sebal.

"Gak ada yang gratis di dunia ini, Cilpa," sahut Baffin datar, menyebut nama panggilan khusus darinya untuk Silva.

"Ya udah, gak usah kalau gitu. Aku pakai hape ini aja masih bisa kok," balas Silva ketus bercampur kecewa.Gadis itu membalikkan badan, memilih untuk mengabaikan Baffin dan lanjut mengotak-atik ponsel barunya yang sudah tidak berbentuk itu.

Baffin terdiam. Ia menatap lekat-lekat profil samping wajah Silva untuk waktu yang cukup lama. Ada keheningan yang sempat membentang di antara mereka sebelum akhirnya Baffin kembali bersuara. "Kenapa gak tanya dulu apa syaratnya?"

"Males," tukas Silva tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

"Padahal gak susah."

Kalimat pendek itu sukses memancing rasa penasaran Silva. Ia menoleh cepat. "Apa?" tanyanya, mendadak kembali antusias.

Baffin menaikkan sebelah alisnya. "Menurut kamu?"

Silva menggeleng polos. "Gak tahu."

"Maunya apa?" tanya Baffin lagi.

"Yang gak susah!" seru Silva cepat, tidak mau rugi.

Baffin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kalau gitu, bikinin nasi goreng."

Silva sempat melongo, terkejut dengan syarat yang teramat random itu. Namun sedetik kemudian, tawa renyahnya pecah. Senyumnya mengembang lebar, dipenuhi rasa percaya diri yang melambung.

"Kamu ketagihan sama nasi gorengku, ya? Ngaku!" Ujar Silva.

Di luar dugaan, Baffin malah menggelengkan kepala dengan ekspresi lempeng.

Senyum Silva langsung lenyap. "Terus kenapa syaratnya bikin nasi goreng?"

"Karena kamu minta yang gak susah." Silva kembali cemberut, merasa harga diri masaknya jatuh.

"Kalau gitu aku gak mau! Lagian kata siapa gak susah? Pas kemarin aku bikinin kamu nasi goreng, aku harus ngunci Bunda dulu di kamar biar gak ketahuan. Habis itu aku dimarahin habis-habisan."

Baffin menatapnya tajam. "Kamu gak boleh masak?"

Silva mengangguk lesu. "He-eh."

Baffin tidak bertanya apa alasannya. Karena sudah bisa ditebak.

"Kalau gitu, masak di rumah aku," solusi Baffin enteng.

"Terus nanti yang marahin aku Tante Gilda?" sahut Silva cepat.

"Bundaku gak bakal marahin kamu," ucap Baffin tenang, meyakinkan.

Namun, suasana hati Silva telanjur keruh. "Tetep aja aku udah gak mau."Baffin mengernyitkan dahi.

"Kenapa?"

"Karena kamu minta nasi goreng bukan karena nasi gorengku enak!" cicit Silva.

Baffin tertegun sebentar.

Tanpa membalas ucapan gadis itu, Baffin tiba-tiba meraih pergelangan tangan Silva dan menariknya berjalan.

"Heh, Apin! Kita mau ke mana?" tanya Silva panik sekaligus bingung.

Langkah lebar Baffin membawa mereka melewati deretan kelas, bahkan melintasi koridor kelas 3A yang sepi. Karena ini masih jam pelajaran.

Langkah kaki Baffin baru berhenti saat mereka tiba di area parkiran, tepat di sebelah motor sport miliknya. Tanpa membuang waktu, Baffin mengambil helm milik Silva yang tergantung di motor, lalu memakaikannya ke kepala gadis itu dengan gerakan yang lembut meski ekspresinya tetap datar.

Setelah memastikan pengait helm Silva terkunci, Baffin memakai helmnya sendiri dan langsung melompat naik ke atas jok motor.

"Naik," perintah Baffin mutlak.

"Kita mau ke mana, sih?" tanya Silva celingukan.

"Pulang."

"Hah? Pulang? Kita aja belum masuk kelas sama sekali hari ini, Baffin!" protes Silva tak habis pikir.

"Sudah males. Sudah telat juga," jawab Baffin acuh tak acuh sambil menyalakan mesin motor yang langsung menderu.

"Kan, kamu yang bikin telat!" tuduh Silva tak terima.

"Kan, kamu yang bikin gara-gara." Aneh memang. Baffin yang terkenal dingin, irit bicara, dan tidak peduli sekitar, entah kenapa selalu punya cadangan kesabaran untuk meladeni dan menyahuti setiap omelan tidak bermutu dari Silva.

"Ck!" Silva berdecak kesal. Tangan mungilnya mendarat agak keras di punggung Baffin, memukul cowok itu sebagai pelampiasan rasa gemasnya.

"Sudah, cepetan naik."

Akhirnya, dengan perasaan ragu dan setengah jengkel, Silva naik juga ke boncengan motor Baffin. "Tapi... kalau pulang sekarang, aku pasti dimarahin Bunda," gumamnya pelan, mulai cemas.

Baffin tidak merespons ketakutan itu. Ia langsung menarik gas motornya, membuat Silva refleks berpegangan pada jaket cowok itu.

Saat motor meluncur menuju gerbang sekolah yang hanya terbuka sedikit, seorang satpam sempat menghadang.

"Mau ke mana, Mas?" tanya Pak Satpam setengah berteriak.

Namun, Baffin mengabaikannya begitu saja. Ia lihai mengandalkan celah gerbang yang sempit dan langsung melesat keluar menuju jalan raya.

Begitu motor sudah membelah jalanan kota yang cukup ramai, Silva sedikit memajukan kepalanya agar suaranya tidak tenggelam oleh angin. "Nanti kalau kita dilaporin ke guru BK gimana? Salah kamu, ya! Kan kamu yang ngajak bolos!"

Dari balik kaca helmnya, Baffin melirik spion. "Kamu gak pernah bolos sekolah, ya?"

"Pernah kok!" sahut Silva tidak mau kalah. "Aku pernah bolos ke pantai, pernah bolos nonton konser juga. Banyak deh pokoknya!"

Baffin agak terkejut mendengar pengakuan itu. Di balik helmnya, sepasang matanya membelalak kecil. Ia mengira Silva hanyalah tipe gadis ceroboh yang penakut, polos, dan agak cupu.

Ternyata, gadis di boncengannya ini sudah tidak asing lagi dengan dunia perbolosan ria.

"Terus kenapa sekarang kamu takut kalau dilaporin?" tanya Baffin heran.Silva mendengus, lalu menyandarkan pelipis helmnya ke punggung Baffin dengan lesu.

"Ya beda, Apin... Kalau yang itu kan aku bolosnya seharian dari rumah, emang gak berangkat. Bukan yang udah masuk lingkungan sekolah terus kabur kayak gini!"

•••

Ternyata Baffin berbohong. Alasan "pulang karena sudah malas dan telat" yang diucapkannya di parkiran sekolah tadi hanyalah kedok.

Sejak awal, niat cowok itu menarik Silva murni untuk membelikannya ponsel baru.

Motor sport Baffin akhirnya membelok dan berhenti di area parkir sebuah pusat perbelanjaan. Begitu mesin motor mati, Silva langsung turun dari boncengan.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan kening berkerut dalam, merasa asing dengan tempat ini.

"Kok ke sini, Pin?" tanya Silva bingung.

Baffin tidak langsung menjawab. Cowok itu ikut turun dari motor, lalu melangkah mendekati Silva. "Sudah, diam aja," ketusnya sambil mengulurkan tangan untuk melepas helm yang terpasang di kepala Silva.

Setelah helm terlepas dan diletakkan di atas spion, Baffin tanpa permisi langsung menyambar pergelangan tangan Silva dan menggenggamnya erat.

"Pegangan sama aku. Biar gak hilang kayak kemarin," gerutu Baffin dengan nada kesal yang tertahan. "Masa dua kali aku nemenin kamu ke mall, dua kali juga kamu hilang?"

Silva hanya bisa mengerucutkan bibirnya, pasrah tangannya digandeng protektif oleh Baffin. Ia tahu betul reputasi kecerobohannya sendiri memang sering merepotkan cowok itu semenjak mereka dipaksa bersama lagi oleh orang tua mereka.

Mereka pun berjalan beriringan memasuki area dalam mall yang cukup ramai. Namun, baru beberapa langkah melewati pintu masuk utama, Silva mendadak menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.

Sentakan itu otomatis membuat Baffin ikut berhenti dan menoleh heran."Eh, itu..." Silva menunjuk ke arah koridor lantai satu, lalu menatap Baffin dengan mata yang mengerjap bingung. "Itu Kenya sama Archard, kan?"

Baffin mengikuti arah telunjuk Silva. Belum sempat Baffin merespons, Silva sudah mengambil napas dalam-dalam, bersiap mengeluarkan suara cemprengnya. "KE—MMMH!"

Pekikan Silva langsung terputus saat telapak tangan besar Baffin dengan cekatan membekap mulutnya. "Ini mall. Jangan teriak-teriak," bisik Baffin tajam di dekat telinga Silva, sebelum akhirnya melepaskan bekapan tangannya setelah memastikan gadis itu tenang.

Silva terbatuk kecil, lalu berbisik dengan heboh sambil mendekatkan diri ke Baffin. "Kok mereka bisa ke mall bareng? Jangan-jangan mereka pacaran, ya?"

Baffin menatap Silva datar, seolah tidak habis pikir dengan daya imajinasi tunangan dadakannya ini. "Mereka itu Ketua OSIS sama Wakil Ketua OSIS kalau kamu lupa."

Mendengar ucapan Baffin, Silva langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras. Ah, benar juga! Baru beberapa hari yang lalu Kenya dan Archard resmi dilantik menjadi ketua dan wakil kelas, bisa-bisanya ia lupa.

Lagipula, rasanya memang agak mustahil kalau tiba-tiba Kenya yang galak bisa pacaran dengan Archard yang kaku.

Paling-paling mereka sedang mengurus properti atau keperluan sekolah.

"Kita samperin yuk, Pin!" ajak Silva antusias. Ia kembali menoleh ke arah koridor tempat Kenya dan Archard berdiri tadi. Namun, dalam hitungan detik, kedua orang itu sudah tidak ada di sana. "Eh? Kok sudah hilang?"

"Gak usah," tukas Baffin dingin. "Habis ini paling mereka juga bakal balik ke sekolah. Mereka ke sini buat urusan OSIS, bukan mau bolos kayak kita."

Tanpa menunggu balasan atau protes dari Silva, Baffin kembali mempererat genggaman tangannya pada jemari gadis itu.

Ia melanjutkan langkah lebarnya menuju area pertokoan elektronik, tetap menuntun Silva yang super ceroboh agar tidak lepas dari jangkauannya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Baffin setelah mereka berdua keluar dari gerai elektronik dengan membawa paper bag berisi ponsel baru milik Silva.

"Ha?" tanya Silva balik,

"Kamu mau ke mana lagi? Atau mau langsung pulang aja?" ulang Baffin datar.

Silva langsung menggelengkan kepalanya cepat. Berada di mall saat jam sekolah—meskipun statusnya bolos—terasa terlalu sayang untuk langsung diakhiri dengan pulang ke rumah. "Gimana kalau kita beli burger nyam-nyam?"

Baffin tidak membalas lewat kata-kata. Namun, cowok itu langsung memutar haluan langkahnya menuju eskalator, membawa mereka naik ke lantai yang khusus menjajakan deretan kuliner dan makanan. Langkah lebar Baffin akhirnya membelok dan mampir ke salah satu gerai Burger King.

Setelah memesan, Silva langsung duduk dengan antusias. Sembari menunggu burger pesanannya siap, ia membuka kotak ponsel barunya dan mulai menyalakan perangkat tersebut.

Dengan telaten, Silva mulai melakukan proses pemindahan data dari ponsel sebelumnya yang layarnya retak parah ke ponsel yang jauh lebih baru dan mulus itu.

Namun, proses memindahkan akun, foto, dan obrolan aplikasi yang memakan waktu lama itu perlahan menguras kesabarannya. Sambil mendengus, Silva menaruh ponsel barunya ke atas meja dengan gerakan yang agak kasar.

"Capek!" keluh Silva frustrasi. Lalu mengambil burgernya yang Baru datang itu. "Baru kemarin aku mindahin data kayak begini!"

Baffin yang duduk di hadapannya hanya melirik ponsel itu sekilas, lalu menatap Silva dengan pandangan datar andalannya. "Makanya, jangan ceroboh."

"Aku gak ceroboh!" elak Silva tidak terima, langsung melotot sebal ke arah Baffin yang selalu saja menyudutkannya.

Silva tidak tahu saja, beberapa lantai di atas tempatnya mengunyah burger dengan kesal, dua orang yang sempat ia bicarakan tadi justru sedang berdiri canggung di depan area bioskop.

1
Ai Oncom
❤️❤️❤️
chill: makasih ya sudah mampir.. baca juga buku yang satunya. 📖📖
total 1 replies
falea sezi
😒 cwek manja g guna sial teros
falea sezi
🤣🤣 ceroboh dan goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!