Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua klien
Dimas membaca pesan Rani dua kali sebelum meletakkan ponselnya, layar menghadap ke bawah di atas meja—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar setiap kali pikirannya sudah pindah dari ruangan yang ia duduki ke masalah lain yang lebih mendesak.
"Dimas." Alya menutup kotak makanannya, nafsu makan yang tadi baru mulai kembali ikut menghilang. "Klien mana aja?"
"Rani belum sebut nama. Cuma bilang dua klien besar."
"Kamu punya feeling siapa?"
Dimas menghitung dalam kepala klien-klien yang nilainya cukup besar untuk masuk radar investor sekelas Vertex Capital, yang juga cukup lama bekerja sama dengan mereka untuk dianggap "matang" dan layak direbut. Daftar itu pendek, tapi dua nama langsung muncul, dan keduanya bukan nama yang ingin ia dengar malam ini.
"Kalau aku jadi Vertex," katanya pelan, "aku bakal incar Baswara Living sama Kanaya Studio duluan. Dua-duanya baru mau naik kelas, butuh modal ekspansi, dan kontrak sama kita abis tiga bulan lagi."
Alya diam, jarinya mengetuk pelan tepi meja—gerakan yang selalu muncul waktu ia menghitung risiko, kebiasaan yang baru Dimas sadari sejak mereka mulai lebih sering berbagi meja makan selain meja rapat.
"Kalau bener dua itu," katanya akhirnya, "kita bukan lagi hadepin satu serangan. Kita hadepin pola."
Rani datang ke apartemen Dimas jam sembilan malam, membawa laptop dan satu map berisi print-out yang sudah ia siapkan sejak sore—kebiasaan yang membuatnya jadi asisten paling diandalkan di studio, meski usianya baru dua puluh empat dan belum genap setahun bekerja di Alinea.
"Saya cross-check dari LinkedIn tim business development Vertex," katanya, membuka laptop di meja tamu Dimas tanpa basa-basi. "Tiga orang mereka posting event yang sama minggu ini—workshop 'strategi ekspansi UMKM kreatif' di Kemang. Saya cek daftar peserta yang di-tag di story mereka."
Ia memutar layar laptop ke arah Dimas dan Alya.
Dua nama yang sudah diduga Dimas ada di sana. Tapi ada satu nama ketiga yang membuat Alya menarik napas cukup keras untuk terdengar di ruangan sepi itu.
"Studio Ruma," kata Alya pelan.
Dimas menatapnya. "Klien pertama kita."
"Klien pertama Alinea," Alya mengoreksi, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Sebelum ada kamu, sebelum ada nama Alinea. Pak Broto yang percaya sama aku waktu studio ini masih aku kerjain sendirian dari kamar kos."
Rani melihat pergeseran kecil di wajah Alya dan memilih diam, menunduk ke laptopnya, pura-pura sibuk menyusun ulang data yang sudah rapi.
"Kalau Vertex sampe rebut Ruma," lanjut Alya, lebih pelan, "itu bukan cuma soal kehilangan klien. Itu—" Ia berhenti, tidak menyelesaikan kalimat, karena tidak yakin sendiri kalimat itu berakhir di mana.
Dimas tidak mengisi jeda itu dengan kata-kata penenang seperti biasanya. Ia tahu, dari enam bulan terakhir belajar membaca Alya, bahwa kalimat yang tidak selesai itu tidak butuh dilengkapi orang lain.
Mereka bertiga bekerja sampai lewat malam,map berisi data klien tersebar di lantai ruang tamu Dimas, tiga laptop menyala dengan tiga tab berbeda—riset kompetitor, draf proposal ekspansi Ruang Gaya, dan daftar klien lama yang perlu dihubungi ulang sebelum Vertex sempat mendekati mereka lebih dulu.
Jam satu pagi, Rani sudah tertidur di sofa, laptop masih menyala di pangkuannya. Dimas menyelimutinya dengan jaket yang tergantung di kursi, gerakan yang ia lakukan tanpa berpikir, kebiasaan seorang kakak yang terbentuk dari mengurus adik-adik magang selama bertahun-tahun di industri ini.
Alya masih di meja, menatap layar tanpa benar-benar membaca apa yang tertulis di sana.
"Kamu capek," kata Dimas, duduk di kursi sebelahnya.
"Aku takut," katanya, lebih jujur dari yang biasa ia izinkan keluar. "Bukan takut kalah bisnis. Aku udah biasa kalah tender, biasa klien pindah karena harga. Yang aku takutin itu" Ia menghela napas, mencari kalimat yang tepat. "Kalau Ruma pindah, itu kayak orang pertama yang percaya sama aku, akhirnya mikir aku nggak cukup lagi. Padahal dia yang bikin aku percaya diri bisa bangun studio ini dari nol."
Dimas tidak buru-buru menjawab. Ia belajar itu juga dari Alya—bahwa tidak semua kalimat butuh dibalas segera, kadang cukup didengar sampai selesai.
"Kalau Pak Broto beneran mau pindah," katanya akhirnya, "itu bukan karena dia mikir kamu nggak cukup. Itu karena dia liat angka yang lebih besar, dan itu pilihan bisnis yang wajar. Tapi kalau kamu tanya pendapat aku—" Ia berhenti sebentar, memilih kata. "Orang yang percaya sama kamu waktu kamu belum punya apa-apa, biasanya nggak gampang pergi cuma karena ada tawaran lebih gede. Kecuali ada alasan lain yang kita belum tau."
Alya menoleh. "Maksudnya?"
"Maksudnya," kata Dimas, "sebelum kita panik dan langsung nyusun proposal buat semua klien sekaligus, mungkin kita perlu telepon Pak Broto duluan. Bukan buat jual diri. Cuma buat nanya, kenapa dia bahkan mau dateng ke workshop itu."
Alya menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di wajahnya melunak bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ada seseorang yang memilih bertanya lebih dulu sebelum buru-buru mencari solusi.
"Besok pagi," katanya. "Aku yang telepon."
Ponsel Dimas bergetar sekali lagi jam setengah dua pagi, saat Alya sudah tertidur di sofa satunya, kepalanya bersandar ke bantal yang sama tempat Rani tidur beberapa jam sebelumnya.
Pesan dari nomor yang tidak tersimpan.
Dimas, ini Sinta dari Ruang Gaya. Maaf ganggu malam-malam. Saya baru dikasih tau tim saya, ternyata Vertex Capital yang deketin kalian selama ini itu punya nama lain di kontrak resminya—PT Vertex Kapital Nusantara. Dan itu, setau saya, salah satu anak perusahaan dari grup investasi yang dulu... pernah kerja bareng Alinea juga. Coba dicek lagi.
Dimas duduk diam menatap layar itu, mengulang kalimat terakhir dalam kepalanya.
Grup investasi yang dulu pernah kerja bareng Alinea juga.
Ia tidak ingat pernah bekerja sama dengan grup manapun sebelum ini—tapi "Alinea" bukan cuma dirinya. Alinea juga Alya, dan riwayat Alya jauh lebih panjang dari enam bulan terakhir yang Dimas tahu.
Ia menatap Alya yang masih tertidur di sofa seberang, wajahnya tenang untuk pertama kalinya malam itu, dan menahan diri untuk tidak membangunkannya sekarang juga dengan pertanyaan yang mungkin tidak akan punya jawaban baik.
Pertanyaan itu bisa menunggu sampai pagi.
Tapi entah kenapa, Dimas merasa pagi tidak akan datang cukup cepat.