NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Hujan deras mengguyur sejak pagi, menyapu dinding-dinding kaca Vance Group Tower hingga pemandangan kota di luar hanya berwujud bayangan samar yang kelabu.

Namun di lantai lima puluh lima, di dalam ruang rapat utama dewan komisaris, hawa dingin yang menusuk tidak berasal dari pendingin udara atau cuaca di luar, melainkan dari ketegangan kaku yang membeku di antara orang-orang yang duduk di balik meja mahoni raksasa tersebut.

Nico duduk tegak di salah satu ujung meja. Setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuhnya yang tegap, memancarkan aura dominasi yang tak tergoyahkan.

Sepasang mata kelabunya menatap dingin pada tumpukan berkas di hadapannya, tak sedikit pun menunjukkan kelelahan meski pikirannya sempat terdistraksi oleh peristiwa di penthouse tadi pagi.

Di ujung meja yang berlawanan, Tuan Besar Sebastian Vance duduk di atas kursi roda khususnya. Pria tua itu tampak ringkih, wajahnya pucat dengan selang oksigen tipis yang terpasang di bawah hidungnya. Di samping kursi roda itu, Claudia Ophelia berdiri dengan anggun. Gaun sutra berwarna marun yang dikenakannya dipadu dengan perhiasan mutiara hitam, mempertegas posisinya sebagai pendamping utama sang pemilik takhta Vance Group.

Sementara Liam Vance duduk di sisi kanan Claudia, menyunggingkan senyum kaku yang menyembunyikan intrik tajam.

"Rapat dewan komisaris hari ini resmi dibuka," ujar salah seorang komisaris senior, pria berambut perak bernama Tuan Jacob, seraya menggetukkan pulpennya ke meja. "Agenda utama kita adalah evaluasi akuisisi saham Vance Logistik serta pembahasan mengenai restrukturisasi direksi mengingat kondisi kesehatan Tuan Besar Sebastian."

Nico tidak membuang waktu. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, menatap lurus ke arah Liam dan Claudia.

"Akuisisi Vance Logistik telah mencapai tahap akhir," kata Nico dengan suara rendah, dalam, dan dipenuhi otoritas murni.

"Tim hukum telah menyelesaikan audit awal. Kita menargetkan kepemilikan saham mayoritas sebesar enam puluh lima persen pada akhir bulan ini. Tidak ada alasan untuk menunda."

Liam tertawa kecil, melipat kedua tangannya di atas meja seraya mengajukan interupsi. "Nanti dulu, Nicolas. Kau terlalu terburu-buru menyimpulkan."

Nico menyipitkan matanya. "Bicaralah dengan data, Liam, bukan dengan asumsi."

Liam menarik sebuah folder tebal berwarna merah dari tas dokumennya lalu menggeserkannya ke tengah meja hingga berhenti di depan Tuan Gunawan dan jajaran komisaris lainnya.

"Berdasarkan laporan independen yang diterima oleh pihak independen dewan komisaris," ujar Liam seraya berdiri membusungkan dada, "terdapat selisih dana operasional sebesar dua ratus miliar rupiah pada laporan keuangan kuartal kedua di sektor logistik yang kau pimpin. Investor asing dari Konsorsium Global meragukan transparansi aliran dana tersebut. Jika akuisisi ini dilanjutkan tanpa investigasi mendalam, nilai saham Vance Group bisa merosot hingga empat belas persen dalam hitungan hari!"

Suasana di dalam ruangan seketika riuh rendah. Para komisaris saling berbisik dengan raut wajah cemas.

Nico sama sekali tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang bagaikan permukaan danau es. "Laporan independen yang kau pegang itu dibuat oleh lembaga audit kecil yang baru didirikan dua bulan lalu, lembaga yang secara kebetulan memiliki keterikatan finansial dengan perusahaan cangkang milik keluarga ibu tirimu."

Mata Claudia berkilat marah menerima tuduhan langsung Nico, namun wanita itu dengan cepat menguasai raut wajahnya.

"Nicolas!" potong Claudia dengan nada suara lugas namun penuh keprihatinan yang dipaksakan. "Jaga bicaramu di hadapan ayahmu. Aku di sini hanya menjalankan tugas membimbing dan memastikan aset keluarga Vance tetap aman. Jangan memutarbalikkan fakta hanya karena kau tidak terima kinerjamu dipertanyakan."

"Cukup, Claudia," potong Nico tajam, tatapannya beralih menembus wanita itu. "Kau tidak punya hak suara dalam rapat eksekutif direksi. Kehadiranmu di sini hanyalah sebagai pendamping Ayah."

"Tapi aku adalah perwakilan resmi dari saham atas nama Sebastian!" bentak Claudia, suaranya naik satu oktav. Ia menyentuh pundak Sebastian yang terbaring lemah di kursi roda. "Sebastian yang meminta kami untuk memeriksa seluruh transaksi logistik ini karena beliau merasa ada yang tidak beres dengan caramu memimpin beberapa bulan terakhir."

Sebastian menggerakkan tangannya yang gemetar, batuk pelan sebelum bersuara serak, "N-Nicolas dengarkan ibumu..."

Nico menatap ayahnya dengan kilatan kekecewaan yang sangat dalam, namun dengan cepat ia melapisi kembali emosinya dengan benteng baja. Ia tahu betul bagaimana Claudia telah memanipulasi pikiran ayahnya yang makin melemah akibat sakit sakitan.

"Ayah," kata Nico seraya berdiri berdiri melangkah mendekati layar proyektor utama. "Kondisi kesehatan Ayah dimanfaatkan oleh orang-orang di ruangan ini yang ingin menggerogoti kekuasaan Vance Group dari dalam."

Nico menekan tombol pada remote di tangannya. Layar proyektor raksasa di belakangnya seketika menampilkan grafik transaksi, alur saham, dan jejak dokumen digital secara terperinci.

"Dua ratus miliar yang disebut oleh Liam tidak hilang," tegas Nico seraya menunjuk grafik berwarna hijau. "Dana tersebut dialokasikan untuk mengunci hak paten jalur distribusi maritim utama di Asia Tenggara, sebuah langkah strategis yang sengaja dirahasiakan dari publik untuk mencegah kompetitor melakukan pemotongan harga. Keputusan ini telah disetujui oleh tujuh dari sepuluh anggota dewan direksi sah pada rapat tertutup bulan lalu."

Para komisaris mengangguk-angguk saat melihat bukti otentik yang ditayangkan Nico. Argumen Liam seketika patah di hadapan fakta keras.

Wajah Liam memerah menahan malu dan amarah. "Tapi kau mengambil risiko tanpa persetujuan langsung dari Ayah!"

"Aku mengambil keputusan sebagai CEO aktif Vance Group!" bentak Nico, suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut ruangan, membuat Liam bungkam seketika. "Tugas CEO adalah mengeksekusi peluang, bukan membuang waktu mendengarkan rengekan orang-orang yang hanya bisa berlindung di balik nama besar orang tua!"

"Nicolas Vance!" jerit Claudia seraya mengebrak meja dengan telapak tangannya. "Kau sudah keterlaluan. Kau mengabaikan keberadaan Ayahmu dan dewan komisaris, aku menuntut pemungutan suara ulang untuk membekukan wewenang eksekutifmu atas proyek akuisisi ini sampai audit forensik selesai dilakukan."

"Aku mendukung usulan Nyonya Claudia!" seru salah seorang komisaris yang merupakan sekutu dekat Claudia.

"Aku juga!" timpal komisaris lainnya.

Debat alot meletus hebat. Ruang rapat berubah menjadi arena pertempuran sengit. Teriakan penyangkalan, interupsi hukum, dan saling tuduh antar benteng kekuasaan terdengar bersahut-sahutan selama lebih dari satu jam. Matteo yang berdiri di dekat pintu masuk memegang gagang senjatanya di balik jas, bersiap menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Nico berdiri di tengah kekacauan itu bagaikan karang yang dihantam badai. Ia membalas setiap sanggahan hukum dari pihak Claudia dengan presisi yang mematikan, menolak mundur satu inci pun dari posisinya. Setiap kalimat yang diucapkannya dipenuhi fakta hukum yang tak terbantahkan, memojokkan kubu Liam dan Claudia hingga tak berkutik.

Setelah dua jam perdebatan yang menguras energi dan emosi, Tuan Gunawan akhirnya mengetuk pulpennya keras-keras ke atas meja.

"Cukup!" seru Tuan Jacob tegas. "Berdasarkan pasal 14 anggaran dasar perusahaan, wewenang CEO dalam akuisisi proyek strategis tetap berlaku sah kecuali ada bukti pelanggaran hukum pidana yang terbukti di pengadilan. Karena tidak ada bukti konkrit atas tuduhan penyelewengan, maka akuisisi PT Vance Logistik akan tetap dilanjutkan di bawah kepemimpinan Nicolas Vance!"

Claudia mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kukunya memutih. Wajahnya dipenuhi kebekuan amarah yang amat sangat, namun ia tidak bisa lagi membantah keputusan mayoritas komisaris senior.

Liam menatap Nico dengan tatapan penuh dendam yang terselubung. "Ini belum selesai, Nicolas," bisik Liam kaku saat Nico melintas di dekatnya.

Nico bahkan tidak memandang Liam. "Bagi orang seperti kalian, ini memang tidak akan pernah selesai. Tapi ingat satu hal, Liam. Sekali lagi kau mencoba menyenggol posisiku di perusahaan ini, aku tidak akan segan-segan mendepakmu keluar dari keluarga Vance."

Nico berjalan lebar keluar dari ruang rapat, diikuti oleh Matteo yang berjalan cepat di belakangnya.

...****************...

Sementara pertempuran politik membara di kantor pusat Vance Group, kesunyian yang menyiksa membungkus penthouse Nico di lantai atas.

Teras balkon bawah yang luas kini tampak basah dan dingin. Air hujan yang menyiprat masuk dari luar bercampur dengan bekas genangan air detergen di atas marmer hitam.

Sienna terbaring telentang di sudut teras, tepat di bawah naungan dinding kaca. Pakaian seragam abu-abunya yang kusam basah kuyup dan ternoda oleh bekas darah kering dari lututnya. Kedua tangannya yang terbalut perban darurat tergeletak lemas di samping tubuhnya, jemarinya membiru akibat hawa dingin yang menusuk.

Kesadarannya datang dan pergi bagaikan lilin yang tertiup angin kencang. Nafasnya pendek-pendek dan memburu, disertai suara serak yang memprihatinkan dari tenggorokannya. Rasa panas akibat demam tinggi membakar kepalanya dari dalam, sementara tubuh bagian luarnya menggigil hebat menahan dinginnya angin sore yang bertiup kencang.

Di dekat pintu masuk teras, Arleen berdiri bersedekap dada seraya mengunyah permen karet. Pelayan wanita paruh baya itu memperhatikan Sienna dengan tatapan dingin tanpa sedikit pun rasa iba.

Ponsel di saku seragam Arleen bergetar pelan. Arleen mengambilnya dan melihat nama Claudia tertera di layar. Ia segera melangkah mundur ke dalam lorong servis yang sepi sebelum mengangkat panggilan itu.

"Nyonya Claudia," sapa Arleen dengan suara pelan.

"Bagaimana situasi di sana?" suara Claudia terdengar tajam dan gusar dari seberang telepon, efek dari kekalahannya dalam rapat dewan komisaris baru saja.

"Gadis itu masih tergeletak di teras bawah, Nyonya," lapor Arleen dengan nada puas. "Kondisinya sangat lemah. Demamnya tinggi dan dia tidak diberi makanan atau air sejak kemarin atas perintah Tuan Nicolas. Saya rasa dia tidak akan sanggup bertahan beberapa hari lagi jika terus begini."

Claudia diam sejenak di seberang telepon, lalu terdengar tawa dingin yang beracun.

"Bagus," desis Claudia kejam. "Tapi jangan biarkan dia mati dulu, Arleen. Jika dia mati terlalu cepat, Nicolas akan kehilangan bahan pelampiasan amarahnya dan kembali berfokus penuh pada perusahaan. Kita butuh gadis itu tetap hidup dalam kondisi menderita agar perhatian Nicolas tetap terpecah."

"Saya mengerti, Nyonya," jawab Arleen santun. "Lalu apa yang harus saya lakukan?"

"Biarkan dia pingsan, lalu pura-pura melapor pada Matteo bahwa gadis itu mencoba melukai dirinya sendiri atau merusak barang lain. Buat Nicolas makin marah padanya malam ini."

"Siap, Nyonya. Saya akan mengatur segalanya dengan rapi."

Arleen memutus sambungan telepon, menyunggingkan senyum kejam, lalu melangkah kembali ke teras bawah.

Ia berjalan mendekati tubuh Sienna yang terbaring lemas. Dengan ujung sepatunya, Arleen menggeser botol kaca pembersih yang sudah kosong ke dekat tangan Sienna yang terkulai. Ia merapikan sedikit adegan itu agar terlihat seolah-olah Sienna dengan sengaja menjatuhkan dan memecahkan peralatan pembersih di sekitarnya karena frustrasi.

Sienna menyadari keberadaan Arleen. Dengan mata cokelatnya yang redup dan berkaca-kaca, Sienna menatap Arleen dengan pandangan memohon yang amat sangat.

"B-Bi Arleen..." bisik Sienna dengan suara yang hampir tak terdengar, bibirnya yang membiru bergetar pelan. "A-air...tolong sedikit air."

Arleen menunduk, menatap Sienna dengan pandangan meremehkan. "Air? Kau tidak berhak mendapat air, Budak. Tuan Nicolas sudah memerintahkan agar kau tidak diberi apa-apa sampai seluruh tempat ini bersih sempurna."

"S-saya tidak sanggup lagi..." air mata bening menetes dari sudut mata Sienna, melintasi pipinya yang pucat dan panas akibat demam. "Tolong... Bi..."

Arleen menendang pelan pel yang terletak di dekat kaki Sienna. "Jangan cengeng! Selesaikan pekerjaanmu kalau tidak mau Tuan Nicolas menyiksa nenekmu di panti jompo."

Menyebut nama neneknya membuat dada Sienna terasa dihantam gada berat. Rasa sakit fisik yang menggerogoti tubuhnya tidak sebanding dengan rasa takut akan keselamatan satu-satunya anggota keluarga yang masih tersisa di dunia ini.

Dengan sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, Sienna mencoba memutar tubuhnya, menekan jemarinya yang berdarah ke lantai marmer untuk mengangkat dadanya. Namun, rasa pusing yang luar biasa mendadak menghantam kepalanya bagaikan gelombang pasang.

Penglihatannya berubah menjadi hitam pekat.

Brak!

Kepala Sienna terkulai jatuh menghantam marmer dingin. Tubuh kurusnya membeku kaku, tak lagi bergerak. Sienna pingsan total di bawah siraman angin hujan teras yang tak berbelas kasihan.

Arleen hanya mendengus dingin melihat tubuh Sienna yang tak sadarkan diri, lalu memutar tubuhnya melangkah santai menuju lift untuk berpura-pura membuat laporan histeris saat Nico kembali nanti.

Pukul tujuh malam.

Mobil sedan Roll-Royce yang membawa Nico akhirnya tiba di basement penthouse.

Nico melangkah keluar dari kabin lift pribadi dengan raut wajah yang luar biasa tegang. Pertarungan sengit di ruang rapat selama berjam-jam telah menguras kesabarannya hingga ke titik terendah. Efek kafein dan amarah yang tertahan membuat auranya makin berbahaya.

Matteo melangkah di belakangnya seraya membawa tas dokumen tebal.

Saat pintu lift terbuka di foyer utama lantai bawah, Arleen sudah berdiri di sana dengan raut wajah panik yang dipaksakan.

"T-Tuan Nicolas!" panggil Arleen seraya membungkuk terburu-buru, suaranya dibuat bergetar seolah-olah terjadi bencana besar.

Nico menghentikan langkahnya, menatap Arleen dengan mata kelabu yang tajam dan berbahaya. "Ada apa lagi?"

"Ampun, Tuan!" tangis Arleen pelan. "Nona Sienna di teras balkon bawah, dia... dia menolak melakukan pekerjaannya dan malah merusak peralatan pembersih. Ketika saya menegurnya, dia malah menjatuhkan dirinya ke lantai dan berpura-pura pingsan untuk menarik simpati."

Nico memicingkan matanya. Rahangnya mengeras kaku. Amarah akibat perdebatan sengit dengan Claudia dan Liam di kantor pusat yang belum sepenuhnya padam kini menemukan saluran pelampiasan yang baru.

Bagi Nico, tindakan Sienna yang dianggapnya terus-menerus melakukan perlawanan pasif adalah bentuk penghinaan terang-terangan terhadap kekuasaannya.

"Matteo," desis Nico dengan suara serendah guruh.

"Ya, Tuan Nicolas?" sahut Matteo kaku.

"Ikut aku ke teras balkon bawah."

Nico melangkah lebar memotong koridor utama menuju teras bawah. Setiap pijakan langkah kakinya yang berat menggema di atas marmer, membawa aura pembalasan dendam yang tak tertembus.

Ketika Nico mendorong pintu teras, angin malam yang basah langsung menyambutnya.

Di sana, di atas lantai marmer yang digenangi air hujan dan bekas cairan kimia, Sienna terbaring tak berdaya. Tubuhnya yang kurus tampak begitu ringkih di bawah pendar lampu teras yang remang. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, dan nafasnya terdengar begitu lambat dan patah-patah.

Nico melangkah mendekat, berhenti tepat di samping tubuh Sienna.

"Bangun Sienna," perintah Nico dingin, suaranya memotong kegelapan malam.

Sienna tidak bergerak. Tidak ada respons sedikit pun dari tubuh yang tergeletak lemas itu.

Nico membungkuk secara kasar, menyambar bahu seragam Sienna lalu merenggut tubuh gadis itu naik agar berhadapan dengannya.

"Jangan berakting di depanku!" bentak Nico tepat di depan wajah Sienna.

Namun, saat kulit telapak tangan Nico menyentuh leher dan pipi Sienna, Nico tersentak kecil secara refleks.

Kulit Sienna terasa luar biasa panas, bagaikan lahar yang membakar di bawah permukaan es. Wajah gadis itu benar-benar hilang rona kehidupan, bibirnya yang membiru pecah-pecah, dan sepasang matanya terpejam rapat tanpa ada gerakan refleks sedikit pun meski tubuhnya diguncang kasar.

Nico memicingkan matanya. Jemarinya yang mencengkeram bahu Sienna merasakan bagaimana tubuh kurus itu bergetar hebat di bawah kendali demam yang amat tinggi.

"T-Tuan Nicolas..." bisik Matteo yang ikut mendekat, raut wajah pengawal itu berubah cemas saat melihat kondisi Sienna secara dekat. "Suhu tubuhnya, ini bukan sekadar pingsan biasa. Kulitnya terlalu panas."

Nico membeku sejenak di tempatnya. Untuk pertama kalinya sejak gadis ini diseret ke penthouse-nya, ada keheningan asing yang menghantam dada Nico. Rasa panas yang membakar dari kulit Sienna yang menyentuh jemarinya seolah menembus benteng kebencian yang dipeliharanya selama belasan tahun.

Nico menatap wajah pucat Sienna yang pasrah di dalam cengkeramannya, wajah putri dari pria yang ia benci setengah mati, namun kini tampak begitu rapuh hingga embusan angin malam saja seolah sanggup menghentikan nafasnya secara permanen.

Amarah di mata Nico tidak padam, namun tertutupi oleh kegelapan kaku yang tak terjelaskan.

"Matteo," panggilan Nico terdengar amat rendah, hampir berbisik namun dipenuhi intimidasi yang kaku.

"Siap, Tuan?"

"Panggil Dokter Leo sekarang," perintah Nico seraya perlahan melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh Sienna terbaring kembali ke atas marmer. "Jika dia mati di sini malam ini, permainan ini akan selesai terlalu cepat."

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!