NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Second Chance Under the Cherry Blossoms

Sensasi dingin yang menusuk tulang perlahan berganti menjadi kehangatan yang lembut. Bau busuk racun dan bau mesiu dari pertempuran Balai Agung perlahan lenyap, tergantikan oleh aroma harum kelopak bunga sakura dan wewangian kayu cendana yang menenangkan.

Ye Xinyue membuka matanya perlahan. Pandangannya yang semula kabur kini berangsur jelas, menangkap langit-langit berukir rumit bertautkan kelambu sutra berwarna merah jambu. Ia tidak lagi berada di pelataran pualam yang berdarah, melainkan terbaring di atas ranjang empuk dalam sebuah kamar yang terasa asing namun bertaut pada memorinya.

"Nona! Nona akhirnya sadar!" suara tangisan yang sangat familier memecah keheningan. Mingzhu—dengan wajah yang jauh lebih muda dan tanpa bekas luka pertempuran—berlutut di samping ranjang seraya memegang erat jemari Xinyue. "Hamba sangat takut! Nona pingsan saat rombongan kereta kita tiba di depan gerbang Istana Dalam!"

Xinyue mengerutkan keningnya, mendudukkan tubuhnya perlahan. Kepala terasa sedikit pening, seolah ada batas tak kasat mata yang baru saja menata ulang seluruh garis pikirannya.

Istana Dalam? Kereta?

Secara naluriah, ingatan-ingatan asing berhamburan masuk ke dalam kesadarannya. Xinyue mengingat dengan sangat jelas bahwa dirinya adalah seorang wanita modern yang secara misterius bertransmigrasi ke dalam dunia novel komik sejarah. Namun, ingatan mengenai pertarungan hukum, persidangan akbar, hingga keruntuhan takhta Zhao Fengting seolah tertutup oleh kabut tipis—ia hanya tahu bahwa ia terlempar ke dalam dunia cerita ini sebagai seorang karakter figuran: Selir ke-20 dari Prefektur Lin.

"Mingzhu... hari ini tanggal berapa?" tanya Xinyue dengan suara yang agak serak.

"Hari ini adalah hari ketiga bulan keempat, Nona," jawab Mingzhu seraya mengusap air matanya. "Hari di mana Nona dan para selir baru lainnya resmi memasuki Istana Dalam untuk menyambut Yang Mulia Kaisar."

Xinyue menatap telapak tangannya sendiri yang halus dan bebas dari bekas luka bedah maupun jejak racun. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang porselen. Rasa heran membuncah di dalam dadanya. Ia tahu betul alur novel ini: Selir ke-20 ditakdirkan mati secara tragis pada bab-bab awal karena menjadi korban konspirasi racun di Istana Dalam.

Jika aku memang masuk ke dalam dunia novel ini, batin Xinyue tegas, aku tidak akan membiarkan diriku mati konyol sebagai karakter sampingan. Aku harus bertahan hidup dengan logikaku sendiri.

Petang harinya, kelopak bunga sakura gugur perlahan ditiup angin sepoi-sepoi di halaman Paviliun Teratai. Suasana istana terasa tenang, jauh dari gambaran konspirasi berdarah yang biasanya menghiasi cerita-cerita istana.

Xinyue mengenakan gaun sutra berwarna ungu muda yang sederhana, melangkah menyusuri jalan setapak berkerikil di taman belakang pavilion. Langkah kakinya terhenti saat melihat sesosok pria berdiri di bawah pohon sakura tua yang sedang bermekaran.

Pria itu mengenakan jubah sutra hitam bersulam benang emas dengan motif naga menyambar awan. Sosoknya tegap, berparas tampan luar biasa dengan garis rahang yang tegas dan sorot mata pekat bagaikan telaga tanpa dasar. Zhao Fengting—sang penguasa tertinggi Kekaisaran Great Yan.

Xinyue tertegun sejenak. Berdasarkan pengetahuan cerita yang ia miliki, Kaisar Zhao Fengting adalah sosok yang dingin, kejam, dan tidak tersentuh oleh wanita mana pun. Namun, saat tatapan mata mereka saling mengunci di bawah guguran bunga sakura, ada sebuah pendar aneh yang bergetar halus di antara mereka—sebuah ikatan tak kasat mata yang terasa sangat familiar, seolah jiwa mereka telah bersimpangan ribuan kali sebelum detik ini.

Xinyue segera menundukkan kepalanya, merapatkan jemari dan membungkuk memberikan penghormatan resmi sesuai tata krama istana.

"Hamba, Selir Ye dari Paviliun Teratai, memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia dilimpahi kesehatan dan umur panjang," tutur Xinyue dengan suara jernih dan tenang.

Zhao Fengting tidak langsung memerintahkannya untuk berdiri. Sang Kaisar justru melangkah mendekat secara perlahan. Langkah kakinya yang mantap di atas kerikil taman terdengar bagaikan ritme yang teratur. Ketika pria itu berhenti tepat di hadapan Xinyue, aroma kayu cendana yang hangat menyeruak, membalut indra penciuman Xinyue.

"Tengadahkan kepalamu, Selir Ye," perintah Zhao Fengting. Suaranya rendah, berbobot, namun tidak mengandung ketajaman yang membunuh.

Xinyue mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam iris mata pekat sang Kaisar. Tidak ada rasa takut berlebihan di matanya, melainkan ketenangan rasional seorang wanita yang sadar akan posisinya.

Zhao Fengting memiringkan kepalanya sedikit. Di dalam benak Sang Kaisar, perasaan asing yang amat dahsyat mendadak bergolak. Pria itu tidak memiliki ingatan tentang garis waktu sebelumnya, tidak tahu tentang tragedi atau takdir perulangan. Namun, saat melihat mata jelaga milik Xinyue, dadanya terasa berdesir hangat—sebuah rasa kerinduan yang mendalam dan tidak masuk akal seolah ia telah menunggu wanita ini selama berabad-abad.

"Kau... tidak takut padaku?" tanya Zhao Fengting, jemarinya perlahan terangkat, merapikan sehelai kelopak sakura yang tersangkut di sanggul rambut Xinyue.

Sentuhan kulit jemari pria itu yang hangat membuat desiran halus merayap di sepanjang tulang belakang Xinyue. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya—sebuah reaksi fisik yang tidak bisa ia jelaskan secara analisis ilmiah semata.

"Hamba menghormati Yang Mulia sebagai penguasa kekaisaran," sahut Xinyue jujur, membalas tatapan pria itu tanpa berpaling. "Ketakutan hanya milik mereka yang menyimpan kebohongan atau niat jahat. Hamba hadir di sini hanya untuk menjalani hidup dengan tenang dan mematuhi hukum yang berlaku."

Jawaban itu membuat bibir Zhao Fengting melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat menawan—senyuman tulus yang jarang sekali terlihat di wajah sang Kaisar yang biasanya kaku.

"Hukum dan ketenangan..." gumam Zhao Fengting pelan. Pria itu mengamati keberanian murni dan kecerdasan yang memancar dari aura Xinyue. Dari puluhan wanita yang masuk ke Istana Dalam untuk memperebutkan perhatiannya, hanya wanita di hadapannya ini yang menatapnya bukan sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai seorang manusia.

Zhao Fengting melangkah satu tapak lebih dekat, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Angin malam yang berembus pelan menerbangkan ujung gaun ungu Xinyue dan jubah hitam sang Kaisar hingga saling menyatu.

"Istana Dalam adalah tempat yang penuh dengan bahaya dan intrik, Selir Ye," bisik Zhao Fengting, suaranya terdengar sangat hangat dan sarat akan perlindungan yang tidak biasa. "Namun, berdiri di hadapanmu saat ini... aku merasa seolah-olah takdir baru saja membawakan satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku."

Xinyue menatap mata sang Kaisar yang memancarkan ketulusan dan ketertarikan yang amat pekat. Di dalam dunia novel yang penuh dengan kepalsuan ini, rasa hangat yang mengalir di antara mereka terasa begitu nyata. Ia tahu ia harus waspada terhadap alur cerita, namun dorongan di dalam dadanya membisikkan bahwa pria di hadapannya ini bukanlah ancaman—melainkan takdir baru yang siap ia tempuh bersama.

"Jika Istana Dalam adalah tempat yang berbahaya, Yang Mulia," sahut Xinyue dengan senyum tipis yang memikat, "maka hamba akan memastikan bahwa hamba berdiri di samping Anda dengan logika dan kebenaran yang hamba miliki."

Zhao Fengting menggenggam jemari Xinyue dengan lembut, menyalurkan kehangatan yang mengunci janji tak tertulis di bawah pendar rembulan dan guguran bunga sakura. Babak baru dalam novel ini telah dimulai—bukan lagi sebagai kisah tragis karakter sampingan, melainkan sebuah ikatan romansa dan takdir baru yang ditulis ulang oleh jemari mereka sendiri.

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!