Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayangan di Gerbang Kota Lumina
Angin pagi di dataran rendah barat membawa aroma debu gurun yang bercampur dengan kelembapan hutan purba. Setelah meninggalkan Lembah Bintang Kelabu, Kaelen dan Lyra menempuh perjalanan selama dua hari penuh menyusuri jalur setapak tua yang jarang dijamak oleh pedagang maupun pelancong biasa. Jalanan berbatu terjal itu dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang batangnya telah diselimuti lumut hijau tebal, menciptakan suasana sunyi yang teramat sangat. Di kejauhan, siluet tembok batu raksasa dari Kota Kuno Lumina mulai tampak menjulang, membelah cakrawala dengan arsitektur megalitikum yang memancarkan aura kuno.
Kota Lumina bukan lagi pusat kejayaan perdagangan seperti ribuan tahun silam di era Sekte Langit. Kini, tempat itu berfungsi sebagai kota bebas—sebuah zona abu-abu di mana para buronan, alkemis pelarian, pedagang pasar gelap, dan mata-mata dari berbagai faksi besar berkumpul untuk bertransaksi di bawah cengkeraman hukum rimba. Tembok-tembok batunya yang tinggi diukir dengan relief pudar berbentuk burung garuda bersayap pedang, sisa peninggalan sejarah yang kini telah dipenuhi oleh noda darah kering dan lumut hitam.
Kaelen berjalan di depan, mengenakan jubah abu-abu berkerudung longgar untuk menyembunyikan pedang baja gelap di pinggangnya. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara, seolah berat tubuhnya ditiadakan oleh penguasaan tingkat tinggi atas Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa. Di belakangnya, Lyra berjalan dengan mantap, membawa sebuah kantong kulit berisi bahan-bahan alkimia langka yang ia butuhkan untuk meracik penawar racun tingkat lanjut, mengantisipasi kemungkinan bentrokan dengan faksi-faksi yang bermarkas di dalam kota.
"Kita sudah hampir sampai di gerbang utama," bisik Lyra, merapikan tudung jubah ungunya. "Ingat, Kaelen, Kota Lumina berada di bawah kendali longgar aliansi pedagang bayangan yang dibekingi oleh faksi-faksi besar dari daratan tengah. Jangan menarik perhatian yang tidak perlu, setidaknya sebelum kita mendapatkan informasi akurat mengenai pergerakan Sekte Kuno selanjutnya."
Kaelen mengangguk pelan tanpa menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam mengawasi situasi di sekitar gerbang kota. Puluhan kultivator berpenampilan mencurigakan—mulai dari pendekar berpedang ganda dengan tato ular di leher hingga para rahib sesat berjubah hitam—tampak antre untuk melewati pos penjagaan yang dijaga oleh tentara bayaran berzirah besi berat. Setiap orang yang masuk harus membayar upeti berupa batu roh tingkat rendah atau menyerahkan informasi berharga kepada para pengawas gerbang.
Ketika giliran mereka tiba, seorang komandan penjaga berbadan gempal dengan bekas luka melintang di pipi kirinya menghalangi jalan mereka. Pria itu menyipitkan mata, menatap postur tubuh Kaelen dan Lyra dengan tatapan penuh selidik. Matanya berhenti sejenak pada tangan Lyra yang terlihat bersih dan terawat, ciri khas seorang alkemis kelas atas.
"Hentikan langkah kalian, orang asing," suara komandan penjaga itu terdengar berat dan serak. "Aturan baru di Kota Lumina: setiap kultivator luar yang ingin masuk harus menunjukkan lencana identitas sekte, atau membayar pajak masuk sebesar sepuluh batu roh kualitas murni. Dan untuk wanitamu itu, dia harus meninggalkan setengah dari kantong ramuannya sebagai jaminan keamanan."
Suasana di sekitar gerbang mendadak menegang. Beberapa pelancong lain yang tadinya mengantre memilih untuk mundur beberapa langkah, tidak ingin terseret dalam masalah dengan penjaga korup yang terkenal kejam tersebut. Lyra mengerutkan kening, tangannya secara refleks meraba kantong pinggang tempat botol-botol racunnya tersimpan, siap memuntahkan cairan toksin jika situasi memburuk.
Namun, sebelum Lyra sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Kaelen mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar gadis itu tetap tenang. Pemuda itu mendongak, menatap tepat ke dalam mata sang komandan penjaga tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar. Tekanan spiritual tingkat tinggi yang mengalir secara pasif dari dalam dantian Kaelen mendadak memancar keluar, membuat udara di sekitar pos penjagaan terasa membeku seketika.
"Kami tidak punya waktu untuk meladeni aturan bodoh ini," ucap Kaelen dengan nada datar yang dingin. "Buka gerbangnya sekarang, atau biarkan pedangku yang membukanya untuk kalian."
Komandan penjaga itu terkejut bukan kepalang. Ia terhuyung mundur selangkah, merasakan tekanan tak kasat mata seolah ada gunung raksasa yang menindih dadanya. Keringat dingin langsung membasahi pelipis pria gempal itu. Sebagai seorang kultivator di alam pembentukan Qi tingkat lanjut, ia tahu betul bahwa pemuda di hadapannya memiliki kekuatan yang jauh melampaui kapasitasnya untuk dilawan. Tanpa perlu mencabut senjata, niat membunuh yang terkendali itu sudah cukup untuk meremukkan mental orang-orang lemah.
"B-baik... silakan masuk, Tuan!" kata komandan penjaga terbata-bata, buru-buru melambaikan tangan kepada bawahannya untuk mengangkat gerbang besi berat tersebut. Ia tidak ingin mempertaruhkan nyawanya hanya demi memungut pajak dari orang yang salah.
Kaelen melangkah melewati gerbang tanpa melirik lagi ke arah sang komandan, diikuti oleh Lyra yang memasang ekspresi kagum bercampur geli. Mereka resmi memasuki labirin sempit Kota Lumina.
Labirin Lorong Batu dan Transaksi Gelap
Begitu melewati dinding benteng, suasana bising langsung menghantam indra pendengaran mereka. Pasar terbuka yang membentang di sepanjang jalan utama dipadati oleh lapak-lapak pedagang yang menawarkan berbagai barang aneh: mulai dari cakar monster purba, gulungan teknik bela diri tingkat rendah, hingga budak kultivator yang dirantai lehernya. Aroma rempah-rempah eksotis bercampur dengan bau mesiu dan keringat manusia, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.
"Mereka tidak membuang waktu," ujar Lyra sambil mengamati sekeliling. "Lihat simbol-simbol yang digambar di dinding sudut jalan itu? Itu adalah tanda pengenal dari faksi 'Tangan Hitam', cabang bawahan dari Sekte Kuno yang beroperasi di wilayah barat. Artinya, informasi tentang kematian Liliyana sudah menyebar ke telinga para petinggi mereka di kota ini."
Kaelen mengedarkan pandangannya. Benar apa yang dikatakan oleh Lyra. Di beberapa dinding bangunan batu tua, terdapat coretan arang berbentuk laba-laba bermata tiga—lambang yang sama persis dengan liontin yang dulu direbut dari salah satu pembunuh bayaran di Lembah Bintang Kelabu. Kehadiran mereka di Kota Lumina tampaknya sudah diantisipasi, atau setidaknya, gerak-gerik mereka kini berada di bawah pengawasan ketat mata-mata musuh.
"Kita butuh tempat peristirahatan sekaligus informasi tentang jalur tercepat menuju perbatasan utara," kata Kaelen tenang. "Cari penginapan yang terletak di bagian barat kota. Biasanya tempat-tempat kumuh di sana jauh lebih aman dari intipan mata-mata resmi karena para penjaga enggan mencampuri urusan para buronan."
Setelah berjalan menyusuri belasan lorong berliku yang semakin lama semakin sepi, mereka akhirnya menemukan sebuah bangunan berlantai tiga yang tampak tua dan reyot. Papan nama kayu di atas pintu menggantung miring dengan tulisan usang: Kedai Angin Malam. Dari dalam bangunan itu, terdengar suara dentingan gelas piala dan gelak tawa kasar dari para pendekar bayaran yang sedang menghabiskan malam dengan minuman keras.
Kaelen mendorong pintu kayu yang berderit nyaring. Begitu mereka masuk, puluhan pasang mata langsung menoleh ke arah pintu. Tatapan-tatapan itu penuh dengan rasa curiga, kerakusan, dan permusuhan—tipikal ekspresi para pembunuh bayaran yang selalu mencurigai setiap pendatang baru sebagai mangsa atau saingan bisnis.
Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan make-up tebal dan senyum dibuat-buat mendekati mereka sambil membawa nampan berisi kendi anggur. "Selamat datang di Kedai Angin Malam, anak muda. Mau sewa kamar atau sekadar mencari informasi? Di sini semua bisa diatur, asalkan kantong uangmu cukup tebal."
"Kami butuh satu kamar privat di lantai atas dan kendi air hangat," jawab Kaelen singkat, melemparkan sekeping batu roh berkualitas sedang ke atas meja bar.
Mata wanita pemilik kedai itu langsung berbinar-binar begitu melihat kilau batu roh tersebut. Sikapnya yang tadinya acuh tak acuh seketika berubah menjadi ramah yang berlebihan. "Silakan, silakan! Kamar nomor empat di ujung koridor lantai dua adalah yang paling tenang. Tidak ada yang akan berani mengganggu kalian di sana."
Ancaman di Balik Dinding Kayu
Kamar di lantai dua itu cukup sederhana: sebuah tempat tidur berkerangka kayu keras, sebuah meja bundar kecil dengan dua kursi usang, dan jendela berjeruji besi yang langsung menghadap ke gang sempit di luar gedung. Udara di dalam ruangan terasa sedikit lembap, namun jauh lebih baik daripada kebisingan di lantai bawah.
Lyra langsung mengeluarkan beberapa peralatan alkimianya di atas meja, menata botol-botol kecil berisi serbuk pembersih udara untuk memastikan tidak ada racun atau dupa pengintai yang dipasang oleh pemilik kedai sebelumnya. Setelah merasa yakin tempat itu steril, ia duduk di kursi sambil menghela napas panjang.
"Kaelen, aku merasa ada yang tidak beres sejak kita menginjakkan kaki di kota ini," kata Lyra serius, membuka salah satu botol ramuannya. "Kehadiran tanda tangan Sekte Kuno di berbagai sudut jalan menunjukkan bahwa jaringan mereka di Kota Lumina jauh lebih terorganisasi dari perkiraan kita. Liliyana mungkin sudah mati, tapi faksi di belakangnya memiliki hierarki yang sangat panjang. Mereka tidak akan tinggal diam setelah kehilangan artefak dan pemimpin cabangnya."
Kaelen berdiri di dekat jendela, membuka sedikit jeruji besi untuk melihat situasi di gang bawah. Pandangannya menangkap beberapa sosok berjubah hitam yang mondar-mandir di depan pintu masuk kedai, seolah sedang berjaga atau menunggu mangsa keluar.
"Mereka memang sedang menunggu kita," ucap Kaelen tanpa menoleh. "Atau lebih tepatnya, mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang secara serentak."
Sebelum Lyra sempat merespons, suara ketukan pintu berderit pelan terdengar dari luar. Ketukan itu berjumlah tiga kali, disusul jeda singkat, lalu dua kali ketukan—sebuah sandi rahasia yang tidak mungkin diketahui oleh orang sembarangan.
Kaelen memberi isyarat agar Lyra tetap duduk di tempatnya. Dengan gerakan tangan yang sangat tenang, ia menempatkan telapak tangannya pada gagang pedang baja gelap di pinggang, lalu membuka pintu kamar secara perlahan.
Berdiri di koridor remang-remang bukanlah seorang pembunuh bayaran berwajah beringas, melainkan seorang pria tua bertubuh bungkuk mengenakan jubah kain kasar kumal. Wajah pria itu dipenuhi keriput tua, dan matanya yang sebelah tertutup katarak putih. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu pendek berukir kepala serigala.
"Salam, pendekar muda," suara pria tua itu terdengar serak bagai gesekan amplas pada kayu kering. "Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Tapi kurasa ada informasi penting mengenai 'Jantung Bayangan' dan rute menuju Pusaran Kabut Abadi yang ingin kalian dengar sebelum para anjing Sekte Kuno merobek pintu kamar ini."
Kaelen menyipitkan mata, menatap pria tua misterius itu dengan penuh kewaspadaan. Pertemuan tak terduga di sarang penyamun ini jelas bukan suatu kebetulan semata. Sebuah permainan baru telah dimulai di dalam labirin Kota Lumina, dan mereka kembali menjadi pusat perhatian para penguasa bayangan.