“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elnara Savana...
"Kakakmu butuh uang untuk operasi besar, dan kami telah menerima lamaran dari keluarga Dastan untukmu." Suara lemah dari ayah angkatnya membuat Elara menoleh.
Ruang tamu yang sebelumnya tampak hangat, berubah menjadi tegang kala Rian, ayah tiri Elara mengatakan lamaran mendadak tersebut.
"Apa?" Dinginnya suara Elara.
Selama sepuluh tahun terakhir, Elara hidup bagaikan robot di keluarga Roselyn. Mereka mengadopsinya dari panti asuhan, bukan karena kasih sayang, tetapi karena Elara memiliki tubuh yang sehat dan bisa dijadikan sebagai 'alat' untuk membantu putra kesayangan mereka, Veyla—yang sejak kecil memiliki penyakit jantung bawaan. Elara bekerja, mengurus rumah, dan melakukan segalanya tanpa pernah menerima kasih sayang layaknya seorang anak.
Dan sekarang, keluarga ini dengan gampangnya menjodohkannya?
"Benar Elara, umurmu sudah dua puluh empat tahun. Sudah cukup untuk menikah." Kata Lauren, ibu tiri Elara di seberang sofa.
"Tenang saja Elara, Dastan adalah keluarga terkaya di kota ini. Tak ada ruginya kamu menikah dengannya, ayah pastikan pernikahanmu akan sangat bahagia." Kata Rian dengan penuh keyakinan.
Tapi, siapa yang tidak tahu siapa keluarga Dastan itu?
Mereka adalah keluarga terkaya di kota ini. Tapi, pernikahan ini pasti diatur untuk putra bungsu mereka, karena hanya dia satu-satunya anggota keluarga yang belum menikah.
Dan lagi, pria itu terkenal dengan pembuat masalah dan selalu semena-mena di kalangan sosial. Baru-baru ini, ia mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh, dan rumor mengatakan bahwa ia menjadi semakin sulit diatur dan temperamental.
"Tidak. Aku tak akan menerimanya!" Elara dengan tegas menolak. Dia sudah cukup menderita di keluarga ini, dan dia tidak mau menambahkan beban lain di hidupnya. Yang dia inginkan hanyalah lepas dari keluarga Roselyn dan memulai hidup baru.
Namun siapa sangka Rian melakukan hal diluar dugaan, Elara yang melihat itu membelalakan matanya.
"Jika kamu tak menikahi putra bungsu keluarga Dastan itu, ayah akan mati di depanmu!" Katanya sambil menodongkan senjata api di kepalanya sendiri.
Elara menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, mencoba menahan gemetar yang mulai menjalari tubuhnya. Ia menatap Rian dengan tatapan dingin, meski dalam hatinya, ia tahu pria itu tidak main-main.
Lauren menjerit tertahan. "Rian! Jangan bertindak gegabah!"
Tapi pria itu tidak bergeming. Matanya dipenuhi keputusasaan dan tekad. "Pilih, Elara. Menikahi putra Dastan atau menyaksikan ayahmu mati di depanmu?"
Elara mengatupkan rahangnya. Ini gila. Sangat gila. Ia bisa saja membiarkan Rian bertindak bodoh, tapi bagaimanapun juga, jika pria itu mati, hidupnya akan semakin sulit. Keluarga Roselyn mungkin akan menudingnya sebagai penyebab kematian ayah angkatnya, dan itu bisa menggagalkan rencananya untuk lepas dari keluarga ini.
Namun, menikahi putra bungsu Dastan yang lumpuh? Itu sama saja menyerahkan masa depannya pada seorang pria yang terkenal tak punya attitude, dan sekarang bahkan harus bergantung pada kursi roda.
Elara menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya. "Baik," katanya akhirnya. "Aku akan menikah dengannya."
Rian menurunkan pistolnya perlahan, matanya dipenuhi kemenangan. "Bagus. Kamu tidak akan menyesal, Elara."
Namun dalam hati, Elara berjanji—ia mungkin menikahi pria itu, tapi ia tidak akan menjadi milik siapa pun. Dan yang terpenting, ini adalah tiketnya untuk keluar dari neraka keluarga Roselyn. Selama bertahun-tahun ia menjadi budak di rumah ini, dan sekarang ia akan mendapatkan kebebasannya—dengan cara apa pun.
"Tapi ada satu syarat," kata Elara dengan dingin. "Setelah pernikahan ini, hubungan kita berakhir. Aku tidak ingin ada urusan lagi dengan keluarga Roselyn. Tidak ada panggilan, tidak ada kunjungan, tidak ada apa pun. Aku akan melupakan kalian, dan kalian akan melupakanku."
Rian dan Lauren saling bertukar pandang, lalu Rian mengangguk dengan enggan. "Baik. Terserah."
Elara tersenyum sinis di dalam hatinya. Akhirnya, setelah sepuluh tahun, ia akan bebas.
*****
"Elara, kau yakin akan menikah? Kakak akan bilang pada ayah agar kamu tidak menikah dengan pria itu." Kata Veyla pada Elara.
Veyla adalah kakak tiri dan juga putra kandung keluarga Roselyn, pria tampan namun sayang memiliki penyakit jantung bawaan sejak lahir. Ia adalah satu-satunya orang di rumah itu yang terkadang menunjukkan kebaikan pada Elara, meskipun sering kali sikapnya terlalu posesif dan membuat Elara merasa tidak nyaman.
Elara menghela nafas, "Tidak perlu, aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Toh pernikahan ini tak akan bertahan lama." Kata Elara sambil mengemasi barangnya karena besok dia harus pergi ke kediaman Dastan dan sehari setelahnya akan menikah.
Veyla mencekal tangan Elara dengan dingin, "Kamu menerima ini begitu saja?!" Tatapan Veyla seolah mengatakan jika dia sangat marah sekarang, dan itu membuat Elara bingung.
"Kenapa kamu begitu marah? Ini juga demi pengobatanmu." Katanya tenang.
Veyla mengeratkan genggamannya, napasnya memburu seiring emosi yang kian mendidih di dadanya. Matanya yang biasanya lembut kini dipenuhi kemarahan dan kepedihan.
"Apa aku pernah meminta pengorbanan seperti ini darimu, Elara?" suaranya bergetar, penuh frustasi. "Aku lebih baik mati daripada melihatmu menikah dengan pria seperti itu!"
Elara mendesah, dia dengan kuat melepaskan genggaman Veyla dan menatapnya dengan dingin. "Jangan ikut campur, ayah tak akan mudah melepaskan kesempatan ini untukmu." Kata Elara dengan tajam.
Dia tak membenci Veyla, tapi sikap Veyla terkadang membuat dia kesal dan risih terlebih saat seperti ini. Karena, dia merasa kakak tirinya itu,
"Aku menyukaimu, Elara!!" Suara itu menggelegar di kamar luas itu.
Elara memejamkan matanya sejenak, dia sudah menduga ini sejak lama. Tapi baru sekarang Veyla mengungkapkannya.
Elara membuka matanya perlahan, menatap Veyla dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kakak hanya terjebak dalam ilusi," katanya datar. "Aku ini hanya saudara tirimu."
Veyla menatapnya dengan mata penuh luka. "Kau tahu aku tidak menganggapmu sebagai adik sejak lama."
"Tapi itu tidak merubah fakta. Dan buang rasamu, aku tak akan menerimanya." Katanya dengan dingin.
Veyla memegang bahu Elara dengan serius, "Aku akan membujuk ayah untuk membatalkan pernikahan ini. Kamu tunggu disini dan tunggu kabar baiknya." Ucapnya lalu keluar dari kamar Elara dengan cepat.
Elara yang melihat itu menghela nafasnya pelan, lalu kembali menata pakaiannya.
Tatapannya beralih ke kotak kayu yang terukir indah di sana. Kotak itu adalah satu-satunya barang yang ia miliki sejak di panti asuhan. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya—bahkan Elara sendiri tidak tahu. Ketika ia masih bayi, ia ditemukan di depan gerbang panti asuhan dengan kotak kayu ini dan sebuah liontin sederhana dengan ukiran yang tidak ia pahami.
Elara membuka kotak itu dan menatap gelang perak yang ada di dalamnya. Gelang itu sudah tua, dengan ukiran rumit yang mirip dengan liontinnya. Sering kali ia bertanya-tanya tentang asal-usulnya, tetapi tidak ada yang bisa menjawab. Di panti asuhan, ia hanya dianggap sebagai anak yatim piatu biasa. Dan sejauh yang ia tahu, itulah dirinya.
"Aku harus segera membereskan ini dan mencari tahu asal-usulku." Gumamnya dengan penuh tekad.
Keluar dari keluarga Roselyn bukanlah hal buruk, dengan cara ini dia bisa keluar bebas untuk mencari informasi tentang masa lalunya. Selama sepuluh tahun hidup di rumah ini, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Semua waktunya dihabiskan untuk bekerja dan melayani keluarga Roselyn seperti budak.
"Hal yang terpenting sekarang adalah membuat perjanjian dengan putra bungsu yang problematik itu. Dengan begitu jalanku sangat mulus." Gumamnya pelan sambil menutup kotak kayu itu dan menyimpannya di dalam koper.
Namun, setelah dia selesai berkemas, dia mendengar suara keributan dari bawah.
Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Elara, dan tak berapa lama suasana kembali hening.
Dia yakin Rian pasti menangani putranya dengan baik, tentu saja dia tak akan mendengarkan putranya. Karena ini.. pernikahan politik yang diatur keluarga ini. Rian butuh uang untuk operasi Veyla, dan keluarga Dastan menawarkan mahar yang besar. Elara tidak lebih dari sekadar barang dagangan dalam kesepakatan ini.
"Aku benar-benar meremehkan Rian dan Lauren." Gumamnya dengan senyum sinis.
Dia kemudian menurunkan kopernya dari ranjang lalu menaruhnya ke samping, tatapannya masih dingin seperti biasa.
Selama sepuluh tahun, ia belajar untuk tidak menunjukkan emosi. Ia belajar untuk menjadi patuh, menjadi robot yang berguna, menjadi alat bagi keluarga Roselyn. Semua itu agar ia bisa bertahan. Dan sekarang, di ambang kebebasannya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya—bahkan kakak tirinya yang mengaku menyukainya sekalipun.
Hingga sebuah ketukan pelan dari jendela membuat wanita itu menoleh dan berjalan ke sana.
Tidak ada siapa pun. Mungkin hanya angin, pikirnya.
Elara menarik napas dalam-dalam dan menatap langit malam. Besok, ia akan bertemu dengan calon suaminya—pemuda lumpuh yang konon temperamental dan sulit diatur. Ia tidak tahu seperti apa pria itu sebenarnya, tetapi ia sudah siap dengan konsekuensinya.
Yang terpenting, ia akan bebas.
Bebas dari keluarga Roselyn.
Bebas untuk mencari tahu siapa dirinya sebenarnya.
Meskipun hatinya masih dipenuhi pertanyaan tentang masa lalunya, tentang kotak kayu dan liontin aneh itu, ia tahu bahwa satu langkah kecil ini akan membawanya lebih dekat pada jawaban yang ia cari.
Dia memejamkan mata, dan dalam keheningan malam, ia berbisik pada dirinya sendiri,
"Aku tidak peduli seberapa sulitnya. Aku akan menemukan kebenaran tentang masa laluku, dan tidak ada yang bisa menghentikan ku"
*****
Bersambung
✨ Hai Hai Hai...✨
Karya baru aku hadir lagi untuk menemani kamu yang sedang butuh hiburan dan cerita baru. 💗 Semoga kisah ini bisa bikin kamu ikut terbawa suasana, penasaran, sekaligus terhibur sampai akhir.
Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komentar, dan rating kalian, ya! 🥹💕 Dukungan kecil dari kalian berarti besar dan jadi penyemangat buat aku untuk terus melanjutkan ceritanya.
Selamat membaca dan semoga betah bersama kisah Dreven & Elnara! 🌷✨
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/