NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : Pertemuan Tidak Terduga

    ​"Ferdi, temen kamu mana?"

​Ferdi yang tadinya sudah ancang-ancang akan mengambil donat di atas meja langsung kaget setengah mati. Dia menengokan kepalanya pelan-pelan sambil nyengir kaku. "Temen yang mana, Ma?"

​Tante Siska—mamanya Khafi—langsung mendelik tajam sambil melipat tangan di dada. "Si Khafi lah! Terus itu anak-anak yang lain pada ke mana?"

​"Oh, si Khafi..." Ferdi manggut-manggut sok polos. "Lagi di atas, Ma. Lagi mabar PS bareng Pandu sama Kevin."

​Tante Siska yang baru selesai cuci tangan habis nerima paket langsung ngeliatin Ferdi curiga. "Terus kamu ngapain di sini sendirian? Udah nilep berapa biji donat Mama?"

​Ferdi cuma cengengesan sambil ngelus belakang lehernya. "Nggak jadi kok, Ma. Tadi baru ge mau ngambil, tapi keburu kepergok."

​"Enggak jadi apa belum sempet?" cetus Tante Siska sambil cekatan membaluri donat-donatnya pakai topping keju.

​Saat Tante Siska ngasih kode dagu, Ferdi yang udah paham langsung sigap ngambil piring dari rak atas. "Ya... belum sempet. Keburu Mama dateng kan," jawabnya asal.

​Tante Siska cuma menggeleng-gelengkan kepala, lalu menyerahkan piring berisi beberapa donat aneka rasa ke tangan Ferdi yang mukanya masih tanpa dosa. ​"Kamu tuh ya, ketimbang nangkring nungguin donat Mama, mending pulang sana. Kasihan emak kamu udah masak di rumah, anaknya malah sibuk ngabisin dagangan orang."

​Ferdi yang akhirnya duduk di kursi dapur cuma terkekeh santai. Mulutnya udah sibuk mengunyah donat hangat yang rasanya emang tidak pernah gagal. "Nggak gitu, Ma. Ferdi di sini tuh berperan penting sebagai food taster. Menilai varian mana yang bakal meledak di pasaran."

​"Halah, alasan aja kamu!" Tente Siska hanya mendengus malas melihat kelakuan sahabat anaknya itu yang memang sudah dianggap anak sendiri.

​Sementara itu di lantai dua, kamar Khafi udah kayak kapal pecah. Suara teriakan dari stik PS sahut-menyahut.

​"Woi, Pandu! Oper ke kiri, malah ditembak ke tribun!" teriak Kevin heboh sambil selonjoran di karpet.

​"Sabar anjir, stik gue macet-macet tombol R1-nya!" balas Pandu tidak kalah ngegas, matanya melotot tajam menatap layar TV.

​Khafi yang lagi duduk di pinggir kasur cuma terkekeh pelan sambil fokus memutar bola di permainan. "Alasan lo, Ndu. Bilang aja lo kalah skill sama gue."

​Tidak lama kemudian, pintu kamar didorong keras dari luar. Ferdi masuk sambil mamerin piring berisi enam biji donat keju dan cokelat.

​"Woi! Donat hangat Mbak Siska sudah mendarat!" seru Ferdi dengan tidak sopannya.

​Pandu langsung melepas stik PS-nya dari genggaman begitu saja. "Bagi satu, Di!"

​"Eits, salim dulu sama yang udah ngambil!" ledek Ferdi sambil menghindar.

​Kevin yang baru selesai dari kamar mandi dalam langsung ngambil satu donat cokelat dari piring Ferdi tanpa rasa bersalah. "Enak banget lo ya nangkring di bawah dari tadi."

​"Biarin, yang penting gue dapet," balas Ferdi dengan rasa bangga sambil terus menghindar dari kejaran Pandu yang ingin mengambil salah satu donatnya.

Saat mereka sedang heboh berebut donat, suara Tante Siska melengking kencang dari bawah, menembus pintu kamar.

​"KHAFIII! Turun sebentar! Anterin Mama kirim pesenan!"

​Khafi menghela napas panjang. Dia langsung nyamber hoodie hitam yang tergantung di belakang pintu, terus memakainya santai. Sebelum keluar, Khafi sempet-sempetnya ngelempar stik PS tepat ke dada Kevin yang lagi rebahan di kasur. "Gue turun dulu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Sore itu, ditemani suara TV yang menyala pelan, Kiara sedang santai rebahan di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Tidak lama dari itu, Bi Yanti---Asisten Rumah Tangga yang sudah bekerja lama dengan keluarganya--- datang tergopoh-gopoh dari arah dapur dengan raut cemas.

​"Neng Kiara..."

​Kiara menengok, lalu membetulkan posisi duduknya. "Eh, Bibi. Kok belum pulang?"

​"Belum, Neng. Tadi Bibi sekalian meriksa bahan di dapur. Ternyata udah pada habis, Neng. Tinggal bumbu dapur doang," terang Bi Yanti.

​Kiara manggut-manggut paham. "Oh gitu... Yaudah nggak apa-apa, Bi. Bibi pulang aja sekarang, udah sore banget."

​"Tapi Bibi niatnya mau belanja sebentar ke depan, terus masak buat makan malam Neng Kiara..."

​Kiara melirik jam dinding, lalu menggeleng pelan. Melihat Bi Yanti yang tidak bergeming sambil menatap dirinya dengan penuh rasa khawatir, Kiara bangkit dari duduknya. Ia mengusap lembut lengan Bi Yanti seraya tersenyum. "Nggak apa-apa, Bi. Nanti Mama pulang kok, tadi udah ngabarin Kia, malah ngajakin makan malam di luar..." ucapnya memberi penjelasan.

Bi Yanti akhirnya paham dan tersenyum tenang. "Ya udah, syukur kalau gitu, Bibi siap-siap pulang dulu atuh ya,"

Kiara mengangguk. "Kia juga mau mandi. Nanti Bibi hati-hati ya..."

Setelah itu, Kiara beranjak naik ke lantai atas. Sesampainya di kamar, notifikasi pesan dari sang Mama muncul tepat saat ponselnya hendak diisi daya.

...WhatsApp...

Mama

Kia, kayaknya malam ini kita nggak jadi, soalnya kolega mama mendadak ngajakin makan malam bareng.

kamu makan sendiri dulu,

Maaf ya..

Kiara hanya membacanya dengan tatapan lesu seraya menghela napas panjang. "Ujung-ujungnya mie instan lagi," gumamnya pasrah sambil mengambil dompet dan kunci rumah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​"Kamu tuh ya! Kalau di rumah jangan nempel sama kasur terus, sekali-kali keluar kamar bantuin Mama, jangan pas keluar malah bikin mama kesel," celetuk Sang Mama begitu mereka selesai kirim bungkusan pesanan dan mampir ke minimarket terdekat.

​"Ini kan udah ngebantu nuntun keranjang belanjaan, Kanjeng Ratu..." sahut Khafi santai sambil ngambil satu kaleng Coca-Cola dari kulkas pendingin.

​Mama menatap dirinya tajam. "Jangan minum soda terus! Banyakin air putih, Itu perut kamu lama-lama bisa bolong ya."

​"Hari ini Khafi belum minum soda sama sekali, Ma," bela Khafi

Mama Khafi mengibaskan tangannya, dengan wajah tidak percaya ia menyahut. "Halah ngeles mulu kamu."

Khafi melengos sambil mempertahankan kaleng minumannya, lalu mengekor di belakang langkah sang Mama dari belakang karena ia bertugas membawa keranjang.

"Emang mau beli apa lagi sih, Ma? Di rumah kan masih banyak bahan."

"Ya terus kenapa? Mama yang mau belanja kok kamu malah heboh."

Khafi mengusap dadanya penuh drama mendengar jawaban ketus dari sang Mama, ia jadi merasa serba salah. "Khafi tuh nanya, Ma..."

"Dari pada berisik, mending kamu cariin kopi si Papa sana."

"Nggih, kanjeng Ratu..." Khafi menggunakan kesempatan itu untuk sejenak berlalu dari taring Mama yang sedang keluar.

Mama mendengus, lalu kembali asyik memilih Frozen food di hadapannya. Saat hendak berbalik, keranjang belanjaannya tidak sengaja terjatuh karena tersenggol seorang gadis belia yang saat ini sedang berjongkok merapikan kembali belanjaan miliknya yang terjatuh.

"Aduh, maaf ya, Ibu. Saya bener-bener nggak sengaja." Dengan gerak panik tangannya dengan cekatan memasukan kembali beberapa barang yang terjatuh.

Mama Khafi ikut berjongkok, mengambil alih keranjang belanjanya dari tangan gadis tersebut yang masih menampilkan raut wajah bersalah.

"Nggak apa-apa kok, nggak ada yang rusak juga," ucap Mama Khafi lembut seraya tersenyum untuk menenangkan.

Gadis itu terpaku sejenak, lalu menampilkan senyum kaku saat mereka berdua berdiri.

​Saat gadis itu mengalihkan pandangan sambil merapikan rambut... mata Khafi langsung membelalak saat mendekati keduanya.

​"Lah? Kuntil?"

​Suara familiar itu membuat dua perempuan beda usia tersebut menoleh serempak.

​Kiara yang tadinya masih memasang wajah seribu penyesalan mendadak membeku. Matanya membulat seraya dahinya mengernyit menatap cowok jangkung ber-hoodie hitam di depannya. "Khafi? Ngapain lo di sini?"

​"Harusnya gue yang nanya, ngapain lo sama Mama gue?" balas Khafi seraya memasukan kopi ke keranjang belanjaan yang saat ini Di genggaman Mamanya.

​Kiara semakin terkejut, Matanya makin membulat saat sadar wanita paruh baya di depannya ini adalah Mamanya Khafi.

​"Loh, loh, bentar..." Mama Khafi nengok bergantian antara Khafi dan Kiara dengan mata berbinar penasaran. "Khafi, ini temen kamu? Cantik gini kok kamu panggil Kuntil?!"

​PLAK!

​Mama Khafi tanpa ragu mendaratkan tepukan lumayan kencang di bahu anaknya.

​"Aduh! Sakit, Ma!" meringis Khafi sambil mengusap bahunya yang terasa panas.

​Kiara buru-buru menggeleng heboh sambil menyalami tangan Tante Siska sopan. "Eh, bukan gitu, Tante... Nama saya Kiara, murid baru di kelasnya Khafi,"

​"Tuh kan! Namanya bagus Kiara, main panggil Kuntil aja kamu tuh ya!" semprot Tante Siska lagi ke Khafi. "Nggak ada sopan-sopannya banget sama cewek cantik gini,"

​Khafi mendelik tidak terima mendengar ucapan Sang Mama , sedangkan ​Kiara cuma bisa meringis kaku, sementara Tante Siska malah kembali mengajak Kiara untuk berbincang.

​Khafi yang sadar dirinya udah kalah telak dari dua perempuan di depannya cuma bisa memutar bola mata malas.

​Tante Siska kembali menatap Kiara hangat, matanya menyelidik ramah. "Kiara tinggal di mana daerah sini? Kok Tante baru liat?"

​Ibu jari Kiara menunjuk ke luar kaca transparan minimarket, mengarah ke gerbang kompleks di seberang jalan. "Di kompleks seberang itu, Tante."

​"Loh! Deket banget dong! Berarti sejalur sama rumah kita," Tante Siska langsung menepuk tangannya antusias. "Besok-besok kalau mau berangkat sekolah, bareng Khafi aja padahal."

​Kiara cuma bisa tersenyum kaku penuh rasa sungkan, sementara Khafi yang lagi berdiri di depan mengantre untuk bayar di kasir mendengar Mamanya cuma mendengus pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.

​"Belanjaan Kiara sekalian aja sini, Tante yang bayar," ucap Tante Siska pas mereka udah di depan kasir, ia menoleh ke arah Kiara yang mengantre di belakangnya.

​Kiara tersenyum sungkan, kepalanya menggeleng dengan cepat untuk menolak. "Eh, nggak usah, Tante! Makasih banyak, Kiara bayar sendiri aja."

​"Nggak apa-apa, cuma mie instan sama es krim gini doang kok repot amat." Tante Siska langsung menyamber keranjang kecil Kiara dan menyatukannya di atas meja kasir tanpa bisa dibantah.

​Kiara cuma bisa pasrah sambil melirik Khafi, tapi cowok itu cuma mengedikkan bahunya acuh tak acuh seolah bilang: 'Terserah Nyokap gue aja.'

​Di luar minimarket yang udah agak redup karena malam mulai turun, Khafi membawa kantong belanjaan Mamanya ke bagasi mobil.

​"Kiara berani pulang jalan kaki ke seberang?" tanya Tante Siska lembut sambil mengusap lengan Kiara.

​"Berani kok, Tan. Jalan dalam kompleksnya terang, ada Pak Satpam juga di gerbang depan," jawab Kiara sambil mengulas senyum manis yang membuat Tante Siska menghembuskan napas lega.

"Kiara pamit pulang ya, Tante. Maaf dan makasih banyak buat yang tadi..." ucapnya dengan nada sungkan.

​"Yaudah kalau gitu, hati-hati ya," Tante Siska tersenyum hangat, lalu nengok ke belakang mobil. "Khafi! Sini kamu!"

​Khafi yang lagi berdiri santai menunggu di samping pintu mobil mengerjap. "Apaan lagi, Ma?"

​"Bantu seberangin Kiara! Kamu tuh ya, ada cewek sendirian malam-malam bukannya dijagain, malah berdiri kayak patung. Nggak ada gentle-nya banget, malu-maluin Mama aja," omel Tante Siska sambil mendorong bahu Khafi.

​Kiara dan Khafi mendadak meringis bersamaan. Kiara bahkan langsung mengibaskan tangannya heboh. "Eh, nggak usah, Tante. Kiara beneran bisa sendiri kok, beneran!"

​Tapi Tante Siska tetep pada pendiriannya dan dorong pelan bahu mereka berdua ke tepi jalan. "Udah, sana seberangin dulu. Mama tunggu di mobil."

​Khafi menghela napas pasrah. Tanpa banyak bicara, tangan bersarnya langsung meraih pergelangan tangan Kiara yang tidak memegang kantong plastik belanjaan. "Ayo."

​Kiara membeku seketika. Sensasi hangat dari genggaman tangan Khafi membuat lidahnya mendadak kelu. Dia cuma bisa mengekor pasrah di samping cowok itu menyeberangi jalanan yang agak lenggang.

​Saat sampai di pertengahan jalan, suasana mendadak canggung.

​"Jangan diam aja napa, Ra. Gue takut salah gandeng wujud lain penunggu minimarket nih," celetuk Khafi memecah keheningan dengan nada jahilnya yang khas.

​Kiara langsung tersadar dari lamunannya dan memutar bola mata. "Setan juga milih-milih ya kalau mau digandeng sama lo! Gue lagi apes aja nih jadi kena."

​"Apes-apes gini, tapi seneng kan lo digandeng Kapten Basket?"

​"Dih! Kepedean!" Kiara langsung menghempaskan tangan Khafi begitu kaki mereka menyentuh trotoar depan gerbang kompleksnya.

​"Dah, masuk sana," Khafi tanpa permisi langsung menarik tudung hoodie Kiara ke depan sampai menutupi setengah wajah gadis itu. "Hati-hati di jalan, awas ada temen lo yang ngikutin dari belakang."

​Kiara memberontak sambil memanyunkan bibirnya kesal, merapikan kembali tudung hoodienya.

​Khafi cuma terkekeh pelan, menatap wajah Kiara yang memerah entah karena kesal atau malu. "Gue balik ya, Kuntil."

​Tanpa nunggu balasan Kiara, Khafi balik badan dan menyeberang kembali dengan santai. Kiara berdiri sebentar memperhatikan punggung jangkung itu, sampai pandangannya beralih ke mobil Tante Siska yang melaju pelan sambil melambaikan tangan dari kaca jendela. Kiara balas melambai dengan senyuman tipis yang tak bisa dibendung.

​Malam ini... lumayan hangat juga, batin Kiara pelan sambil berjalan masuk ke kompleks rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!