Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.
Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.
Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.
Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Bianca Kusuma
"Dari sini ya yang manggil cewek muda cantik, yang siap menyiksa kakek bangsat yang suka mukulin anaknya?" kataku begitu masuk ke ruangan gelap itu.
Begitu lampu dinyalakan, kulihat Hartono ketakutan. Tapi begitu melihatku, dia langsung terbahak.
"Aku sudah menduga yang mengurung kami itu Satria, tapi astaga, dia kirim kamu ke sini. Jangan bikin aku ketawa, Nak."
"Anak lo juga awalnya belagu begitu, sebelum kehilangan setengah giginya." Senyum Hartono goyah beberapa detik begitu mendengarku, tapi dia tetap menjaga sikapnya.
Kupanggil pria di pintu dan kusuruh dia melepas salah satu tangan Hartono dan memegangnya untukku.
"Tangan ini yang lo pakai buat mukulin iparku? Tangan kotor ini yang lo pakai buat menyakitinya?"
"Aku nggak tahu kamu ngomong apa."
"Ah, gue bantu ingetin, Sayang, nggak masalah. Gue jago bikin orang pulih ingatannya."
Kubuka koperku di lantai, karena di sini tidak ada penopang seperti di ruangan sebelah, lalu kuambil tang, sebuah spatula tipis, dan sebilah pisau.
Di mata Hartono kulihat ketakutan mulai mengitari irisnya, tapi dia berusaha menjaga sikap.
"Coba gue lihat pisau gue udah tajam belum." Kugoreskan ringan ke telapak tangannya dua kali, dan dua luka dalam langsung terbuka. "Kayaknya tajam banget."
Hartono menjerit kesakitan dan mulai meronta. Dia berusaha bergerak untuk menyerangku, tapi pria itu menahannya dan membaringkannya, menaruh tangan di lehernya sampai dia hampir tidak bisa bernapas dan wajahnya menjauh dariku, hanya tangannya yang terjulur. Kubalik tangannya dan kuperhatikan baik-baik.
"Gimana kalau kita bikin layanan manikur? Mumpung gratis, dasar bodoh." Aku bicara sambil mengamati kukunya. "Kayaknya warna merah darah bakal cantik banget di lo." Dia mencoba berteriak tapi tidak bisa, tertahan tekanan pria itu di tubuh dan lehernya.
"Nggak masalah lo nggak bisa ngomong, Sayang. Gue tahu lo seantusias gue, jadi mulai aja sekarang."
Pertama kupakai spatula, kumasukkan ke bawah kuku dengan tenaga besar untuk melepaskan kuku dari dagingnya. Hartono berteriak meski susah payah, dan pria yang memegangnya menatapku ngeri.
Begitu kuku pertama lepas cukup jauh, aku maju dengan tang dan menariknya sampai copot. Hartono mencoba menarik tangannya, tapi tidak kubiarkan, begitu juga pria yang menahannya. Kurasa pria itu malah takut gagal dan aku menyiksanya juga, karena dia mati-matian menahan Hartono supaya nyaris tak bisa bergerak.
Kuku pertama tercabut, aku lanjut ke yang kedua, lalu ketiga, keempat, sampai kuku terakhir di tangan itu jatuh ke lantai bersama yang lain.
Aku berdiri dan mundur, mengamati pemandangannya.
"Lepasin aja, dan suruh dokter yang lagi ngurus si tak berguna di kamar sebelah ngurus yang ini juga. Gue nggak punya waktu dan kesabaran buat terus di sini. Tapi besok gue balik ya? Jangan terlalu kangen sama gue." Aku keluar dari ruangan tanpa memberi waktu supaya ada yang mencerna apa pun. Hartono masih meneriakkan sesuatu, tapi kuabaikan setiap katanya.
Aku keluar dari sana dan berjalan menembus hutan lagi dengan perasaan tugas terlaksana, setidaknya untuk hari pertama. Besok aku kembali dan lanjut, hari ini baru pemanasan, makanya kubuat ringan dulu pada mereka. Sampai hari terakhir mereka akan menyesal pernah dilahirkan.
Sebelum menuju markas aku ganti baju di samping mobil saja, supaya tidak berisiko tiba di sana penuh darah, karena meski sudah kuhindari, bajuku tetap kotor. Rendra pasti akan bertanya terlalu banyak dan aku tidak boleh mengambil risiko dia tahu apa-apa. Kalau Satria memutuskan bercerita menggantikanku, silakan, tapi dari mulutku tidak akan keluar sepatah kata.
Selesai ganti baju aku masuk mobil dan menyetir cukup lama sampai tiba di markas, lalu langsung ke ruangan kakakku. Tapi begitu masuk aku kaget melihat Rendra dan Satria berdampingan menonton video yang sangat khas. Aku, menyiksa dua cacing tolol. Aku tidak menyangka Satria akan memberitahu Rendra, tapi aku senang dia jadi tahu. Aku tidak mau menyembunyikan apa pun darinya, tidak sekarang.
"Lihat siapa yang datang. Pahlawan gue," kata Rendra sambil mendekat dan mencium keningku, yang membuatku meleleh habis, walau aku harus menyembunyikannya di depan kakakku.
"Jujur gue pengin ada di sana, tapi makasih, Bia, udah ngelakuin ini buat gue. Gue nggak bakal punya kendali diri cukup buat berhenti."
"Sama-sama, sama-sama, gue tahu gue emang yang terbaik." Aku tersenyum mengejek.
Kakakku meringis dan menatapku serius, membuatku paham bahwa bom akan segera datang.
"Terima kasih, Bia, karena ngerti posisi kami di mafia, karena meraih tempatmu dengan kemampuan sendiri, dan karena menerima masa depanmu. Walau itu bukan sesuatu yang kami inginkan, kamu nggak mengamuk, kamu terus maju dan tetap kuat."
Padahal sebenarnya aku mengamuk. Aku ingin membunuh orang-orang di dalam Dewan, aku ingin membunuh orang-orang dari segala pihak, aku ingin membunuh diriku sendiri. Tapi yang menopangku waktu itu Rendra, meski tidak ada yang tahu. Hanya saja sekarang, saat ini, aku benar-benar tidak ingin melakukan pembicaraan ini, karena semua ucapan terima kasih itu bakal buyar begitu kata-kata kakakku berikutnya keluar, aku yakin.
"Bia, gue nggak mau ngomong ini begini, setelah berterima kasih banyak buat apa yang lo lakuin, tapi..."
"Jangan bilang, Sat. Bia nggak bakal nikah sama bajingan itu, mau dia udah nentuin tanggalnya atau belum, sialan, nggak ada yang boleh nyentuh Bia."
Mataku membelalak. Pertama, tanggal pernikahan terkutuk itu sudah ditentukan? Kedua, Rendra tidak boleh membongkar diri begitu. Aku akan cari jalan keluar dari kekacauan ini, tapi dia tidak boleh menyerahkan dirinya. Sudah kubilang jelas aku akan jatuh, tapi aku akan jatuh sendirian.
"Kalian berdua harus banget ya ngerusak suasana? Serius, Rendra, gue bukan anak kecil." Aku berusaha mencairkan keadaan. "Dan lo, Sat, yang bener aja, setelah semua yang gue lalui hari ini lo malah jatuhin bom begini ke pangkuan gue. Jujur, hal terakhir yang pengin gue pikirin sekarang itu omong kosong ini."
* * *