NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Jerat Pinjol

"Bos," katanya setelah menutup telepon, "adik ipar Anda... Budi, sekarang lagi diuber pinjol. Utangnya gede."

Raka membuka pintu mobil, lalu berhenti.

Di belakang mereka, dari gang rumah Hartono, suara tangis Bu Sumini masih terdengar samar. Ratna sedang berusaha membawanya masuk. Beberapa tetangga pura-pura kembali ke urusan masing-masing, tetapi telinga mereka jelas tetap menempel pada semua drama itu.

"Berapa?" tanya Raka.

Agus melihat catatan di ponselnya. "Informasi awal sekitar Rp 200 juta. Campuran pinjol ilegal dan utang judi online. Penagih sudah mulai sebar pesan ke kontaknya."

Adi, yang ikut memantau dari kantor melalui telepon, terdengar mendesah di speaker. "Dua ratus juta? Setelah kejadian pasar malam? Orang itu benar-benar tidak punya rem."

"Judi tidak memberi rem," kata Raka. "Judi memberi ilusi tombol ulang."

Agus bertanya, "Perlu kita lakukan sesuatu, Bos?"

Raka masuk ke mobil. "Pantau saja. Kalau ada ancaman fisik ke area saya atau perusahaan, dokumentasikan dan lapor. Kalau dia minta uang, jawabannya sudah jelas."

Jawaban itu datang malamnya.

Budi muncul di depan gerbang Villa Citraland Blok A No.3 dengan wajah kusut dan bau rokok menempel di jaketnya. Ia tidak bisa masuk ke klaster karena keamanan menahannya di pos. Tetapi ia cukup keras untuk membuat dua petugas menghubungi rumah Raka.

"Saya adiknya!" teriak Budi dari luar pos. "Panggil Raka! Bilang gue butuh ngomong!"

Petugas keamanan menatapnya datar. Di kawasan seperti itu, orang yang berteriak biasanya langsung terlihat murah.

Agus turun lebih dulu dari mobil kecil internal klaster. Ia tidak membawa ekspresi marah, hanya membawa tablet dan dua anggota shift yang berdiri agak jauh.

"Budi," kata Agus, "Bos tidak menerima tamu tanpa janji."

Budi menunjuk wajah Agus. "Lo siapa? Anjing penjaga?"

Agus tidak terpancing. "Saya petugas keamanan pribadi. Anda diminta pergi."

"Gue mau ketemu Raka!"

Raka akhirnya datang lima menit kemudian. Budi tidak punya hak apa pun; Raka hanya ingin menutup pintu ini dengan jelas. Ia berdiri di sisi dalam pos, dipisahkan pagar rendah dan garis batas tamu.

Budi langsung berubah nada.

"Mas Raka," katanya cepat, "tolong gue. Cuma sekali ini. Gue lagi kepepet."

Raka memandangnya.

Dalam beberapa minggu, Budi tampak menua dengan cara yang buruk. Ia tampak menua oleh malam tanpa tidur, rokok murah, layar ponsel, dan angka utang yang terus tumbuh. Matanya merah. Bibirnya kering. Kukunya kotor. Ia masih memakai gaya sok berani, tetapi tubuhnya mengkhianati rasa takut.

"Urusan apa?" tanya Raka, meski sudah tahu.

Budi menelan ludah. "Pinjol. Mereka gila. Mereka sebar foto gue, chat ke teman, ke kontak lama, bahkan ke orang kerja Ratna. Mereka ancam mau datang. Gue cuma butuh dua ratus juta. Buat nutup semua. Nanti gue balikin."

Agus menatap Budi seperti menatap orang yang sedang membaca naskah buruk.

Raka bertanya, "Kamu pinjam untuk apa?"

"Usaha."

"Budi."

"Ya... ada judi sedikit. Tapi itu karena gue mau balik modal!"

Raka tidak tertawa. Justru itu yang membuat Budi makin gelisah.

"Dulu rentenir. Lalu maling ponsel. Sekarang pinjol ilegal dan judi online. Kamu masih merasa masalahmu adalah kurang modal?"

Wajah Budi memerah. "Kalau lo bantu dari awal, gue nggak bakal begini!"

Petugas keamanan di pos saling melirik. Agus tetap diam. Raka hanya menatap Budi dengan tenang yang membuat semua tuduhan jatuh ke lantai sebelum menyentuhnya.

"Bukan urusanku," kata Raka.

Budi terpaku. "Apa?"

"Utangmu bukan urusanku. Judimu bukan urusanku. Orang yang kamu tipu, ancam, atau repotkan karena nomor kontakmu juga bukan tanggung jawabku. Kalau penagih melanggar hukum, lapor ke polisi atau OJK. Kalau kamu butuh bantuan hukum, cari lembaga bantuan hukum. Tapi uang dari saya tidak ada."

"Lo kaya!" Budi memukul pagar. "Dua ratus juta buat lo cuma receh!"

"Justru karena saya kaya, saya tahu uang tidak boleh dilempar ke lubang yang sama."

Budi gemetar. "Ratna mantan istri lo!"

"Sudah mantan."

"Ibu pernah jadi mertua lo!"

"Sudah bukan."

"Gue keluarga!"

Raka maju setengah langkah. "Kamu bukan keluargaku."

Kalimat itu pelan, tetapi Budi seperti ditampar. Semua topengnya rontok sebentar, memperlihatkan anak manja yang tidak bisa menerima bahwa dunia akhirnya berkata tidak.

Ponsel Budi berdering. Ia melihat layar, wajahnya langsung pucat. Nama tidak tersimpan. Hanya nomor panjang.

Ia menolak panggilan itu.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk. Lalu satu lagi. Lalu lima sekaligus. Foto wajah Budi dari KTP lama, diedit dengan tulisan penghinaan, muncul di layar. Budi cepat-cepat menyembunyikannya, tetapi Raka sudah melihat cukup.

"Mereka sudah sebar ke kontak," bisik Budi. "Mas, tolong. Gue bisa mati."

"Kalau ada ancaman pembunuhan, lapor polisi. Kalau ada pemerasan digital, kumpulkan bukti. Tapi saya tidak akan membayar utang judi."

"Lo tega."

"Aku dulu membayar berkali-kali," kata Raka. "Hasilnya kamu makin berani. Sekarang kamu belajar akibatnya sendiri."

Budi memandang Raka dengan kebencian campur putus asa. "Lo pikir lo aman karena punya rumah gede?"

Agus langsung bergerak satu langkah.

Raka mengangkat tangan kecil, menahan Agus.

"Ancaman itu direkam," kata Raka. Ia menunjuk kamera pos. "Kalau kamu mengulanginya, Garuda Shield akan membuat laporan resmi."

Budi menoleh ke kamera, lalu mundur. Kali ini ia tidak punya panggung, tidak punya ibu yang bisa menangis untuknya, dan tidak punya Ratna yang masih sanggup membayar.

Ia pergi sambil memaki, tetapi suaranya makin kecil di ujung jalan.

Raka tidak langsung kembali ke villa. Ia berdiri di pos beberapa saat, melihat jalan klaster yang bersih dan pagar yang tertutup. Di luar pagar, kekacauan Hartono masih berputar. Di dalam, hidupnya mulai punya sistem.

Agus berkata, "Bos, pinjol ilegal bisa nekat."

"Kita siapkan protokol. Tapi jangan campuri utangnya."

"Siap."

Malam itu, Yuli datang ke villa membawa map cokelat. Ia belum pernah masuk ke rumah baru Raka. Begitu melewati foyer luas dan melihat sistem akses di dinding, ia bersiul pelan.

"Waduh, Mas Raka. Ini rumah atau kantor kedutaan kecil?"

Adi yang duduk di ruang kerja menjawab, "Jangan kasih ide. Nanti Bos bikin kedutaan sendiri."

Yuli tertawa, lalu wajahnya kembali serius. "Saya bawa dua hal. Pertama, soal Budi. Dia masuk daftar beberapa aplikasi pinjol ilegal yang suka pakai debt collector jalanan. Saya sarankan nomor pribadi Mas Raka dibersihkan dari daftar kontak lama. Kalau mereka kirim pesan, jangan balas."

Raka mengangguk. "Lakukan sesuai hukum."

"Kedua," Yuli membuka map, "ini lebih penting."

Di dalam map ada beberapa foto. Satu foto menunjukkan Ratna keluar dari sebuah lounge mahal, memakai gaun yang terlalu baru untuk kondisi keuangannya. Di sampingnya berdiri seorang pria muda dengan jas krem, rambut rapi, dan senyum malas orang yang terbiasa membuat pelayan menunduk sebelum dipanggil.

Raka mengenali aura orang seperti itu bahkan tanpa sistem.

Yuli mengetuk foto itu dengan kuku.

"Namanya Kevin Halim. Beberapa kali terlihat bersama Ratna sejak dua minggu terakhir. Dia juga disebut-sebut dekat dengan lingkaran preman yang ganggu Pak Yanto."

Adi mengerutkan kening. "Halim?"

Yuli mengangguk. "Halim Group."

Ruangan itu mendadak hening.

Nama keluarga itu bukan nama kecil di Surabaya. Properti, hiburan, pembiayaan, jaringan acara, beberapa yayasan, beberapa perusahaan cangkang. Orang biasa melihat gedung dan iklan mereka. Orang yang lebih dekat dunia bisnis tahu bayangannya lebih panjang daripada papan nama.

Raka mengambil foto Kevin.

Wajah pria itu muda, tampan, dan kosong oleh rasa terlalu percaya diri.

Yuli meletakkan foto Kevin di atas meja. "Bos, orang ini bukan preman biasa. Dia pewaris Halim Group."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!