Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 : Kembali Pulang
Kini mobil milik Dokter Arga melaju dengan kecepatan sedang menuju Puskesmas Sekar Sari. Pagi itu lalu lintas desa belum terlalu ramai. Hamparan sawah yang menghijau membentang di sisi kanan dan kiri jalan, sementara sinar matahari mulai menghangatkan suasana.
Arga masih memikirkan keadaan Winarsih. Wajah wanita itu yang dipenuhi air mata terus terbayang di benaknya.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah tangga mereka?" gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, saat melewati sebuah warung kopi di pinggir jalan, pandangan Arga menangkap sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di bawah pohon besar.
Mobil itu terasa tidak asing.
Arga memperlambat laju kendaraannya.
"Hm?"
Dari balik kaca depan, ia melihat seorang pria sedang duduk di kursi pengemudi. Pria itu tampak sibuk memainkan ponselnya, jemarinya bergerak cepat.
Saat pria itu sedikit mengangkat wajahnya, Arga langsung mengenalinya.
"Dimas?" Kening Arga berkerut. "Bukankah itu asisten sekaligus orang kepercayaan Clarissa?"
Arga semakin merasa heran. "Sedang apa dia di Desa Sekar Sari?" Tatapannya terus mengawasi dari kejauhan.
Beberapa detik kemudian...
Layar ponsel Dimas seolah menunjukkan bahwa pesan yang ia kirim telah berhasil terkirim. Pria itu kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku, menyalakan mesin mobilnya, lalu bersiap pergi.
Brumm...
Mobil sedan hitam itu mulai bergerak meninggalkan lokasi.
Arga refleks menginjak pedal gas. "Aku harus mencari tahu."
Ia berniat mengikuti mobil Dimas. Namun baru beberapa meter mobilnya melaju...
Tring... tring...
Ponsel Arga yang terhubung dengan sistem handsfree mobil berdering.
Di layar dashboard tertulis: Puskesmas Sekar Sari.
Arga langsung menekan tombol jawab.
"Halo."
"Dokter Arga?" terdengar suara panik salah seorang perawat.
"Iya."
"Dok, Dokter sekarang di mana?"
"Saya masih di jalan."
"Dok, pasien sudah banyak yang antre. Ada beberapa pasien lansia yang sejak tadi menunggu pemeriksaan. Kami juga baru menerima pasien anak dengan demam tinggi."
Arga menoleh ke arah jalan di depan, mobil Dimas kini mulai menjauh.
"Baik. Saya akan segera kesana."
"Terima kasih, Dok."
Sambungan telepon pun berakhir.
Arga kembali melirik ke arah sedan hitam itu. Mobil Dimas kini sudah berbelok di sebuah persimpangan dan perlahan menghilang dari pandangan.
Arga menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Kalau aku mengikuti Dimas sekarang..." Ia mengembuskan napas pelan. "Pasien-pasien di puskesmas harus menunggu."
Beberapa detik kemudian, Arga menggeleng pelan. "Tidak, tugas utamaku adalah sebagai dokter."
Tanpa ragu lagi, ia membelokkan mobil menuju jalan yang mengarah ke Puskesmas Sekar Sari.
Brumm...
Kini mobil Arga melaju meninggalkan persimpangan. Meski demikian, rasa curiga di hati Arga belum juga hilang.
"Apa ada hubungannya Dimas dengan kedatangan Clarissa beberapa waktu lalu?" pikirnya. "Dan... kenapa dia berada di desa ini?"
Pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya. Namun untuk saat ini, Arga memilih mengesampingkan rasa penasarannya. Baginya, pasien yang sedang menunggu di Puskesmas Sekar Sari jauh lebih penting daripada mengejar sebuah dugaan yang belum memiliki jawaban.
Beberapa menit kemudian...
Mobil Dokter Arga memasuki halaman Puskesmas Sekar Sari.
Brumm...
Begitu mobil berhenti, Arga segera mematikan mesin lalu turun dengan langkah cepat. Belum sempat ia menutup pintu mobil, Perawat Dessi sudah berlari kecil menghampirinya.
"Dokter Arga!"
Arga menoleh.
"Maaf, Dok. Pasien hari ini benar-benar banyak."
Arga mengangguk tenang. "Tidak apa-apa. Bagaimana kondisi pasien anak yang tadi?"
"Demamnya cukup tinggi, Dok. Saya sudah melakukan pemeriksaan awal sesuai prosedur."
"Baik."
"Selain itu, ada seorang lansia yang mengeluh sesak napas sejak subuh."
"Kita tangani satu per satu."
"Iya, Dok."
Arga mempercepat langkah memasuki ruang pemeriksaan.
Di ruang tunggu, puluhan pasien sudah memenuhi bangku. Ada ibu-ibu yang menggendong balita, para petani yang baru pulang dari sawah, hingga beberapa lansia yang duduk sambil memegang nomor antrean.
Melihat Arga datang, beberapa pasien langsung tersenyum lega.
"Dokter Arga sudah datang."
"Alhamdulillah."
Arga membalas senyum mereka dengan ramah. "Maaf membuat Bapak dan Ibu menunggu."
"Tidak apa-apa, Dok," jawab seorang nenek sambil tersenyum hangat.
Arga segera memasuki ruang praktik. "Silahkan pasien pertama."
Hampir dua jam berlalu.
Arga memeriksa pasien tanpa henti. Ia memeriksa balita yang mengalami demam tinggi, memberikan penjelasan kepada seorang ibu hamil, hingga menangani seorang petani yang mengalami luka akibat terkena sabit.
Meski wajahnya tetap tenang dan profesional, sesekali pikirannya kembali teringat pada Dimas.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan di desa ini?"
Namun setiap kali pikiran itu muncul, Arga kembali memusatkan perhatian kepada pasien di hadapannya. Baginya, keselamatan pasien selalu menjadi prioritas.
Menjelang siang, antrean pasien mulai berkurang. Perawat Dessi masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Dok."
"Iya?"
"Ini laporan pasien yang sudah selesai diperiksa."
Arga menerimanya lalu membubuhkan tanda tangan. "Terima kasih."
Dessi sempat memperhatikan wajah Arga. "Dokter kelihatan sedang memikirkan sesuatu."
Arga tersenyum tipis. "Memangnya terlihat ya?"
"Iya."
"Tidak ada apa-apa."
Dessi tidak bertanya lebih jauh. "Oh ya, Dok. Tadi ada yang menelepon puskesmas menanyakan jadwal praktik Dokter."
Arga mengangkat wajah. "Siapa?"
"Tidak menyebutkan nama."
"Perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan, Dok."
Arga mengernyit pelan. "Apa dia meninggalkan pesan?"
Dessi menggeleng. "Tidak. Setelah tahu Dokter sedang memeriksa pasien, dia langsung menutup telepon."
Arga hanya mengangguk pelan. "Baik."
Meski tampak tenang, perasaan tidak enak kembali muncul di hatinya. Entah mengapa, sejak melihat Dimas pagi tadi, firasatnya mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi. Namun ia belum mengetahui apa sebenarnya yang sedang disembunyikan.
Arga masih menatap beberapa berkas pasien di atas meja kerjanya. Baru saja ia hendak melanjutkan pemeriksaan pasien berikutnya, ponsel yang berada di samping meja tiba-tiba bergetar.
Bzzz... Bzzz...
Layar ponselnya menyala.
Tertulis sebuah nama yang begitu dikenalnya... Mama.
Arga terdiam sejenak. Hampir sebulan terakhir, ibunya memang beberapa kali menghubunginya. Namun, karena jadwal yang sangat padat, mereka hanya sempat berbicara sebentar.
Arga segera mengangkat panggilan itu. "Halo, Ma."
"Arga..." suara wanita paruh baya itu terdengar hangat namun penuh kerinduan.
"Iya, Ma."
"Kamu sedang sibuk?"
Arga melirik ke arah ruang tunggu. "Masih ada beberapa pasien, Ma."
Di seberang telepon terdengar helaan napas pelan.
Arga tersenyum tipis. "Ada apa, Ma?"
"Arga... kapan kamu pulang?"
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam beberapa detik.
"Mama kangen." Suara itu terdengar begitu lembut hingga membuat Arga merasa bersalah.
"Maaf, Ma."
"Hampir setahun kamu bertugas di desa. Selama itu juga kamu belum pernah pulang ke rumah."
Arga memejamkan mata sesaat. Ia sadar, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Sejak memutuskan mengabdikan diri sebagai dokter di daerah pedesaan, ia hampir tidak pernah pulang ke rumah keluarganya. Waktunya habis untuk melayani masyarakat yang membutuhkan.
Belum lagi, sejak hubungannya dengan Clarissa berakhir beberapa bulan lalu, Arga memang sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan. Baginya, bekerja adalah cara terbaik untuk mengalihkan pikiran.
"Maaf sudah membuat Mama khawatir."
"Papa juga sering menanyakanmu."
Arga tersenyum kecil. "Bagaimana kabar Papa?"
"Baik. Papa juga berharap kamu pulang. Rumah terasa sepi sejak kamu pergi."
Arga menundukkan kepala. "Apa minggu ini kamu bisa pulang?" tanya sang ibu penuh harap. "Sekadar makan malam bersama kami juga tidak apa-apa."
Arga memandang keluar jendela ruang praktik. Beberapa pasien masih duduk menunggu giliran.
Ia berpikir sejenak. "Insyaallah, Ma."
"Benarkah?"
"Iya. Kalau jadwal di puskesmas memungkinkan, akhir pekan ini aku akan pulang."
Suara wanita itu langsung terdengar lebih ceria. "Alhamdulillah."
"Mama nanti masak makanan kesukaanmu."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Ma."
"Oh ya."
"Iya, Ma?"
"Jangan terlalu memaksakan diri bekerja."
"Aku baik-baik saja."
"Mama tahu kamu selalu bilang begitu." Nada suaranya berubah lembut. "Tapi Mama juga tahu, sejak kamu berpisah dengan Clarissa, kamu semakin jarang beristirahat."
Arga terdiam.
"Mama tidak ingin kamu terus menyimpan semuanya sendirian."
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Akhirnya Arga berkata pelan, "Semuanya sudah berlalu, Ma."
"Kalau memang sudah berlalu, pulanglah. Tidak semua beban harus kamu pikul sendirian."
Ucapan itu membuat Arga menarik napas panjang. "Baik, Ma."
"Janji?"
"Janji."
"Kalau begitu Mama tunggu akhir pekan nanti."
"Iya."
Setelah mengucapkan salam, sambungan telepon pun berakhir. Arga meletakkan ponselnya di atas meja. Tatapannya kosong beberapa saat. Bayangan rumah keluarganya kembali terlintas di benaknya. Sudah hampir setahun ia tidak menginjakkan kaki di sana.
Belum lagi ucapan sang ibu yang kembali menyinggung Clarissa. Arga mengembuskan napas pelan.
"Mungkin... memang sudah saatnya aku pulang."
Namun sebelum itu, masih banyak pasien di luar ruang praktik yang menunggu pertolongannya. Arga segera mengenakan kembali stetoskop di lehernya, lalu menekan tombol antrean.
"Silahkan pasien berikutnya masuk."