Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sore hari di hari ketiga pameran akhirnya tiba.
Suasana di stan Star Technology masih dipenuhi banyak orang sampai detik terakhir penutupan.
Siska duduk di kursi sambil memijat pelan bahunya yang terasa sangat pegal.
Namun wajah cantiknya memancarkan senyuman bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
"Pak Anton, pameran ini benar-benar sukses besar," lapor Siska dengan suara ceria.
"Kita berhasil mendapatkan kontrak investasi awal senilai lebih dari tiga puluh miliar rupiah."
Anton duduk santai di kursi samping Siska sambil meminum kopi hitam kalengan.
"Kerja bagus Siska, itu semua juga berkat kerja kerasmu menyusun proposal dengan cepat," puji Anton tenang.
"Tidak Pak Anton, ini semua berkat Anda yang menghancurkan Nexus kemarin," balas Siska merendah.
"Kalau saja Anda tidak membongkar cacat chip mereka, investor tidak akan berbalik kepada kita secepat ini."
Anton hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari CEO wanitanya itu.
"Uang investasi itu gunakan seratus persen untuk pengembangan dan produksi massal chip kita," perintah Anton.
"Baik Pak Anton, saya akan segera menyusun tim baru besok pagi," jawab Siska mencatat instruksi itu.
"Lalu apa rencana Anda selanjutnya setelah ini?" tanya Siska penasaran.
Anton meletakkan kaleng kopinya di atas meja dan menatap lurus ke arah pintu keluar gedung pameran.
"Aku akan mencari ladang uang yang baru," jawab Anton santai.
"Uang di rekeningku sekarang memang banyak, tapi itu belum cukup untuk menguasai kota ini," lanjutnya.
"Aku butuh aset nyata seperti tanah, properti, atau mungkin tambang."
Siska mengangguk mengerti mendengarkan ambisi besar bosnya itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke arah stan mereka.
Tuk tuk tuk.
Seorang wanita muda yang sangat anggun dan cantik berjalan menghampiri meja Anton.
Wanita itu mengenakan gaun merah marun berlengan panjang yang terlihat sangat mahal dan berkelas.
Wajahnya cantik dengan riasan tipis, rambutnya dipotong sebahu dan dibiarkan terurai rapi.
Di belakang wanita itu, ada dua orang pria berjas hitam yang berdiri tegap menjaga jarak.
"Permisi, apakah Anda yang bernama Tuan Anton?" sapa wanita itu dengan suara lembut tapi penuh wibawa.
Anton menatap wanita itu dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai.
"Benar, aku Anton," jawab Anton tanpa berdiri dari kursinya. "Siapa kamu?"
Wanita itu tersenyum manis melihat sikap Anton yang sangat santai menghadapinya.
"Perkenalkan, namaku Elena," ucap wanita itu mengulurkan tangan kanannya yang dihiasi cincin berlian.
"Aku datang jauh-jauh dari ibu kota khusus untuk menemui Anda hari ini," jelas Elena.
Anton membalas uluran tangan itu sekilas lalu melepaskannya dengan cepat.
"Ada urusan apa orang dari ibu kota mencariku sampai ke sini?" tanya Anton langsung pada intinya.
Dia tidak suka basa-basi yang membuang banyak waktu.
Elena menarik kursi kosong di depan meja lalu duduk dengan posisi menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Aku mendengar kabar menarik tentang seorang pemuda yang menemukan mangkok Dinasti Ming asli di toko loak," ucap Elena membuka pembicaraan.
"Lalu kemarin, aku mendengar pemuda yang sama berhasil menganalisa kelemahan teknologi mikro hanya dengan mata telanjang," lanjutnya dengan mata berbinar.
"Orang-orang menyebutnya kebetulan, tapi aku tidak percaya pada kebetulan beruntun."
Anton menyipitkan matanya mendengar ucapan Elena.
Koneksi wanita ini pasti sangat luas hingga bisa melacak jejaknya dari toko barang antik sampai ke pameran teknologi.
"Kamu menyelidikiku?" tanya Anton dengan nada mulai dingin.
"Hanya sedikit mencari informasi dasar, harap Anda tidak tersinggung Tuan Anton," jawab Elena tersenyum meminta maaf.
"Katakan apa maumu Elena, aku sedang sibuk," desak Anton tidak sabar.
Elena memberi isyarat tangan kepada salah satu pengawalnya di belakang.
Pengawal itu maju dan meletakkan sebuah kotak kayu ukir kecil di atas meja Anton.
Klik.
Elena membuka kunci kotak kayu itu dan memperlihatkan isinya kepada Anton.
Di dalam kotak itu ada sebuah batu giok berwarna hijau pekat seukuran kepalan tangan orang dewasa.
"Ini adalah batu giok warisan dari kakekku," jelas Elena sambil menatap batu itu.
"Banyak ahli penilai barang antik di ibu kota yang mengatakan batu ini palsu atau hanya giok kualitas rendah."
Anton menatap batu giok itu dengan tenang tanpa menyentuhnya sama sekali.
"Lalu kamu mau aku menilainya untukmu?" tebak Anton menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Benar Tuan Anton," jawab Elena mengangguk pelan.
"Kalau Anda memang sehebat rumor yang beredar, tolong beritahu aku apa nilai sebenarnya dari batu ini."
Siska yang duduk di sebelah Anton hanya diam menyimak percakapan dua orang hebat di depannya.
Dia tahu betul kemampuan bosnya, jadi dia sama sekali tidak khawatir Anton akan gagal.
"Sistem, periksa batu giok itu," perintah Anton di dalam hati.
[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]
Mata Anton langsung menembus permukaan luar batu giok berwarna hijau pekat tersebut.
Pandangannya masuk ke bagian inti batu yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang atau alat pembesar biasa.
Di dalam sana, Anton melihat pola serat batu yang sangat unik menyerupai sisik naga.
Warna hijau di bagian intinya menyala sangat terang seperti memiliki cahaya sendiri.
[Analisis selesai. Objek terdeteksi sebagai Giok Darah Naga Hitam langka dari era Dinasti Song.]
[Kondisi terbungkus kerak mineral luar. Nilai estimasi di pasar lelang gelap mencapai dua ratus miliar rupiah.]
Anton sedikit terkejut membaca informasi dari sistem di kepalanya.
"Dua ratus miliar?" batin Anton menelan ludah, tapi wajahnya tetap terlihat sangat tenang.
Anton mematikan sistem penglihatannya lalu menatap wajah Elena yang sedang menunggu jawaban.
"Batu ini memang terlihat seperti giok murahan dari luar," ucap Anton memancing reaksi Elena.
Raut wajah Elena sedikit berubah kecewa mendengar kalimat pertama Anton.
"Jadi Anda juga setuju dengan para ahli di ibu kota itu?" tanya Elena menghela napas pelan.
"Aku belum selesai bicara," potong Anton cepat.
"Para ahli itu cuma orang tua rabun yang menilai buku dari sampulnya saja."
Mata Elena kembali berbinar mendengar ucapan lanjutan Anton.
"Apa maksud Anda Tuan Anton?" tanya Elena mencondongkan tubuhnya ke depan karena penasaran.
"Ini adalah Giok Darah Naga Hitam peninggalan era Dinasti Song," jawab Anton dengan nada meyakinkan.
"Hanya saja batu ini masih terbungkus lapisan mineral luar yang menipu pandangan mata biasa."
Elena melebarkan matanya kaget mendengar nama batu tersebut disebut.
"G-Giok Darah Naga Hitam? Anda tidak sedang bercanda kan?" tanya Elena dengan suara sedikit bergetar.
"Aku tidak pernah bercanda soal uang dan barang berharga," jawab Anton santai.
"Kalau kamu berani membelah batu ini tepat di tengahnya, kamu akan melihat serat sisik naga menyala di dalamnya."
Elena terdiam terpaku menatap batu giok di dalam kotak kayunya itu.
Dia ingat kakeknya pernah bercerita tentang legenda giok tersebut saat dia masih kecil.
"Kalau batu ini dilelang di tempat yang tepat, harganya bisa mencapai dua ratus miliar rupiah," tambah Anton memberikan fakta pamungkas.
Gasp.
Siska yang duduk di samping Anton sampai menutup mulutnya karena kaget mendengar angka fantastis itu.
Dua ratus miliar adalah jumlah uang yang bisa membeli beberapa perusahaan sekelas Star Technology.
Elena menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.
"Tuan Anton, Anda benar-benar orang yang sangat luar biasa," puji Elena dengan tatapan penuh rasa kagum.
"Banyak profesor tua yang menertawakanku saat aku membawa batu ini, tapi Anda bisa melihat kebenarannya dalam hitungan detik," lanjutnya.
"Karena mataku tidak pernah berbohong," balas Anton dengan senyum percaya diri.
Elena menutup kembali kotak kayu itu lalu menguncinya rapat-rapat.
Dia memberikan kotak itu kepada pengawalnya untuk disimpan kembali.
"Sebenarnya, kedatanganku ke sini bukan hanya untuk menguji kemampuan Anda," ucap Elena dengan nada suara yang mulai serius.
"Aku ingin menawarkan sebuah kerja sama bisnis yang sangat menguntungkan untuk kita berdua."
Anton menyilangkan tangannya di dada menunggu kelanjutan ucapan wanita dari ibu kota itu.
"Kerja sama seperti apa?" tanya Anton singkat.
"Minggu depan, akan ada sebuah acara pelelangan bawah tanah rahasia di sebuah pulau pribadi dekat ibu kota," jelas Elena.
"Banyak barang antik langka, sertifikat tanah sengketa, dan perusahaan pailit yang akan dilelang dengan harga miring di sana."
Anton mulai tertarik mendengar kata lelang bawah tanah dan tanah sengketa.
Itu adalah tempat yang tepat baginya untuk memutar uang dan memperluas aset kemampuannya.
"Lalu apa hubungannya denganku?" pancing Anton ingin tahu perannya.
"Aku butuh mata Anda, Tuan Anton," jawab Elena menatap tepat ke mata Anton.
"Aku punya banyak dana, tapi aku kekurangan orang yang bisa membedakan barang asli dan palsu di sana," keluh Elena.
"Lelang bawah tanah sangat kotor, mereka sering menjual barang palsu dengan harga gila-gilaan untuk menjebak orang kaya baru."
"Jadi kamu mau menyewaku sebagai penilai barang pribadimu?" tanya Anton menyimpulkan.
"Benar, aku akan membagi keuntungan dua puluh persen dari setiap barang berharga yang berhasil kita dapatkan berkat penilaian Anda," tawar Elena.
Anton tertawa pelan mendengar tawaran bagi hasil tersebut.
"Dua puluh persen itu terlalu kecil Elena, kemampuanku jauh lebih berharga dari itu," tolak Anton terang-terangan.
Wajah Elena sedikit menegang karena tidak menyangka tawarannya akan ditolak begitu saja.
"Lalu berapa yang Anda inginkan Tuan Anton?" tanya Elena berhati-hati.
"Aku tidak mau menjadi pegawai sewaanmu," jawab Anton dengan nada tegas.
"Aku akan datang ke lelang itu menggunakan uangku sendiri, dan membeli barang untuk diriku sendiri."
"Tapi Tuan Anton, untuk masuk ke pelelangan itu butuh surat undangan khusus dari keluarga elit," jelas Elena.
"Orang biasa tidak akan pernah diizinkan masuk meskipun punya banyak uang."
Anton tersenyum sinis menatap wanita di depannya itu.
"Karena itulah kamu ada di sini kan?" balas Anton.
"Kamu memberikanku surat undangan masuk sebagai rekan bisnismu, bukan bawahanmu," syarat Anton.
"Sebagai gantinya, aku akan memberikan saran gratis kepadamu barang mana saja yang layak kamu beli nanti."
Elena terdiam sejenak memikirkan tawaran berani dari pemuda di depannya ini.
Dia butuh kemampuan mata Anton untuk menghindari kerugian di lelang palsu.
Memberikan akses masuk pada Anton bukanlah masalah besar baginya yang merupakan keturunan keluarga elit ibu kota.
"Baiklah Tuan Anton, aku setuju dengan syarat Anda," putus Elena akhirnya mengalah.
Elena merogoh tas tangannya lalu mengeluarkan sebuah amplop hitam bersegel lilin merah.
Dia menyodorkan amplop itu ke atas meja tepat di depan Anton.
"Ini undangan masuk untuk Anda, acara dimulai hari sabtu minggu depan," ucap Elena.
"Aku akan mengirimkan mobil jemputan ke apartemen Anda di hari keberangkatan."
Anton mengambil amplop hitam itu lalu menyimpannya ke dalam saku jasnya.
"Kesepakatan yang bagus," jawab Anton santai.
Elena berdiri dari kursinya lalu merapikan gaun merah marun yang dikenakannya.
"Senang berbisnis dengan Anda Tuan Anton, sampai jumpa minggu depan," pamit Elena sambil tersenyum manis.
"Hati-hati di jalan," balas Anton tanpa repot-repot berdiri mengantarnya.
Elena berbalik dan berjalan pergi meninggalkan area stan Star Technology diikuti oleh dua pengawalnya.
Siska yang sedari tadi diam langsung menoleh ke arah Anton dengan wajah khawatir.
"Pak Anton, apakah aman berbisnis dengan orang dari ibu kota seperti dia?" tanya Siska cemas.
"Mereka punya kekuasaan yang jauh lebih besar dari keluarga Kusuma di kota ini," Siska mengingatkan.
Anton membuka kaleng kopinya lagi dan meminum sisa isinya sampai habis.
"Justru karena mereka punya kekuasaan besar Siska, aku harus memanfaatkan mereka," jawab Anton tenang.
"Ini adalah batu loncatan bagiku untuk masuk ke lingkaran orang-orang paling berkuasa di negara ini."
Anton meremas kaleng kopi kosong itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Selama seminggu ini, fokuskan semua pekerjaan untuk mengurus perusahaan kita," perintah Anton pada Siska.
"Aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi para serigala lapar di pelelangan nanti," batin Anton penuh tekad.
Banyak hal yang harus dia lakukan untuk memastikan dirinya tidak diremehkan di tempat para elit ibu kota tersebut.
Pertarungan memperebutkan kekayaan yang sesungguhnya akhirnya akan segera dimulai.