Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 18
Tok
Tok
Tok
Pintu diketuk pelan. Rumi dan Asti saling pandang. Setelah kejadian tadi siang di toko roti, Asti menemani Rumi di rumah. ,
"Kamu pesen paket?" tanya Asti. Rumi menggeleng.
"Nggak, Asti!" jawab Rumi.
Asti bangkit dari duduknya dan ngintip dari gorden. Matanya langsung melotot.
“Anjir,” desisnya.
“Mak Lampir. Nggak ada akhlak datang lagi ke sini! Mau apa lagi dia?”
"Rumi! Buka pintunya! Jangan sampai aku tendang sampai rusak!" teriak Bu Sri.
"Bikin emosi aja nih Nak Lampir satu!"
Asti buka pintu setengah. Badannya ngehalangin Bu Sri masuk ke dalam rumah kontrakan Rumi.
“Mau apa, Bu? Nambah dosa? Mending pulang saja deh Bu Sri. Lagian suka banget nyakitin mantunya!”
"Minggir kamu, Kompor meleduk! Aku datang ke sini mau bicara dengan wanita itu!" Mata Bu Sri awas melihat ke dalam rumah.
Mencari sosok Rumi, namun Asti malah semakin menghalangi pintu. Membuat Bu Sri kesal sekali kepada teman Rumi itu.
"Wanita itu, wanita itu! namanya Arumi! Dahlah, sana Bu jangan buat masalah di sini! Bikin malu sendiri!" kesal Asti.
"Nyebelin sekali kamu! Awas kamu!"
Mereka berdua saling sikut mepertahankan posisinya. Asti menahan sedangkan Bu Sri berusaha masuk ke dalam rumah.
“Asti, biar aku temui dia! Aku baik-baik saja kok!" Rumi mendekat saat mendengar keributan keduanya.
“Tapi Rum, tuh Lampir datang pasti cuma mau nyakitin kamu! Jangan sampai kamu stress dan pada akhirnya malah akan berpengaruh dengan kehamilan kamu!" khawatir Asti.
“Aku baik-baik saja, Asti,” Rumi senyum. Tipis. Tapi matanya berkata lain. Rumi juga menenangkan Asti dengan mengusap tangannya lembut. Asti hanya menghela napas dan membiarkan Bu Sri masuk.
“Aku mau denger, Ibu mau ngomong apa lagi. Toh Mas Fathur sebentar lagi pulang.”
Bu Sri masuk dengan tatapan yang tetap tajam ke arah Rumi. Sepertinya Bu Sri masih belum selesai dengan unek-unek yang sebelumnya.
"Kamu benar sedang hamil? Kamu tidak sedang berpura-pura untuk membohongi Fathur agar lebih memilih kamu di banding aku kan Rumi? Hebat sekali otakmu ko-tor sekali Rumi! Kamu sudah pintar sekali membuat anakku menjadi anak dur-haka! Pasti ini karena kamu di racuni jan-da gatal satu ini! Jangan sampai kamu menyesal karena sudah melawan aku, Rumi!" Bu Sri menatap tajam ke arah Asti yang mendelik ke arahnya.
“Rumi nggak diracun siapa-siapa, Bu,” Rumi maju selangkah. Asti mau nahan, tapi Rumi angkat tangan. Meminta Asti untuk tak khawatir, dia bisa menangani ibu mertuanya.
“Saya cuma sadar. Selama ini saya diam, Ibu injek. Saya nurut, Ibu bu-nuh anak saya. Jadi sekarang saya pilih ngelawan. Biar anak saya kali ini hidup. Saya tak mau nya-wa di dalam sini yang saya jaga sepenuh hati ibu gu-gurkan lagi seperti sebelumnya,”
Bu Sri gemetar. Dia angkat tangan, mengarah kepada Rumi. Tapi kali ini Asti lebih cepet. Dia mencekal pergelangan Bu Sri.
“Cobain aja, kangjeng ratu!,” bisik Asti.
“Sekali lagi nyentuh Rumi, gue viralkan video Ibu nampar bumil. CCTV toko masih ada!. Mau jadi artis? Biar semakin viral kelakuan mertua sejenis Mak Lampir ini?"
Bu Sri tarik tangannya. Wajahnya merah padam. Tak lama dari luar, terdengar suara motor Fathur. Dia masuk, bawa kresek isi sayur sama buah. Keringetan. Baju kerjanya lusuh. Begitu lihat Bu Sri, kreseknya jatuh. Apel menggelinding ke kaki Ibunya.
“Ibu ngapain lagi di sini?” suara Fathur dingin. Nggak ada ‘Bu’ yang hormat. Hambar.
Bu Sri langsung pasang muka melas.
“Nak... Ibu kangen. Ibu mau minta maaf... Ibu khilaf kemarin...”
“Khilaf? Akan jauh lebih baik, untuk saat ini ibu jangan temui Rumi dulu. Biarkan dia istirahat, apalagi kandungannya masih sangat muda dan rentan. Fathur mohon ibu mengerti keadaan Rumi kali ini. Fathur ingin juga punya anak seperti abang-abang Fathur!" ucap Fathur lirih.
“Mas...” Rumi mengusap tangan suaminya yang terlihat memelas kepada ibunya.
“Jadi kamu benar-benar memilih wanita ini di banding ibu? Ingat Fathur, surga kamu ada pada ibu. Dan seharusnya kamu tahu perjuangan ibu membesarkan dan menyekolahkan kamu seperti apa di saat ayahmu tak ada! Hanya ibu yang berjuang untukmu! Dan sekarang? Kamu bahkan membu-ang ibumu sendiri? Apa kamu tak takut menjadi anak dur-haka?" Bu Sri menangis lirih dan menyayat.
"ck! pinter banget sih Bu aktingnya! Padahal jadi artis ikan terbangan aja! Lumayan dapat duit!" celetuk Asti.
"Bu ... Jangan lagi bicara soal itu! Fathur mohon, Fathur hanya ingin merasakan menjadi Ayah dan hidup bahagia bersama dengan keluarga kecil Fathur seperti keluarga kedua Abang Fathur. Walau keadaan ekonomi kami pas-pasan. Fathur mohon ridho dari ibu. Tolong terima Rumi dan anak kami ... Fathur mohon, Bu ..." Fathur menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan sang ibu.
Rumi dan Asti menutup mata tak percaya dengan yang di lakukan Fathur. Rumi menangis melihat bagaimana suaminya sampai memohon kepada ibunya.
"Fathur! Apa yang kamu lakukan? Kamu bahkan sampai seperti ini demi wanita itu? Apa yang sudah dia katakan selama ini padamu hah? sudah ibu katakan sampai kapanpun ibu tak akan pernah memberikannya restu! Walau dia hamil atau punya anak dari kamu! Dia tak setara dengan kita! Lebih baik kamu ceraikan dia dan menikah dengan Dona. Agar kehidupan kamu juga terjamin, Fathur! Ibu yakin kamu akan lebih bahagia dan menjadi orang yang sukses. Tak seperti ini, ketularan hidup miskin!" Emosi Bu Sri tak mengira dengan yang di lakukan anak lelakinya demi Rumi.
"Bu! Tolong jangan bawa-bawa Dona lagi dalam rumah tangga Fathur! Sampai kapanpun Fathur tak akan pernah kembali dan menikah dengan Dona! Fathur mencintai Rumi! Apalagi sekarang Rumi sedang hamil! Fathur tak mencintai Dona! Dia hanya masa lalu,"
"Lagi pula tak Maslaah hidup miskin tapi aku bahagia bersama dengan orang yang Fathur cinta! Tak masalah hidup pas-pasan tapi aku juga masih bisa memberikan kewajiban aku untuk ibu, di banding dengan kedua abangku yang kaya! Apa ibu juga ingin aku seperti mereka yang tak memberikan ibu uang bulanan kalau sudah menikah dengan wanita kaya? Baiklah, kalau itu yang ibu mau!"
"Fathur! Apa yang kamu katakan, hah! Kau selamanya akan tetap memberikan ibu jatah bulanan dan juga menghidupiku seumur hidup! Ucapan kamu benar-benar sudah membuat ibu sakit hati Fathur! Jangan sampai Tuhan murka karena ucapanmu kepada surgamu ini!" Bu Sri pergi dari sana setelah menatap penuh kebencian kepada Rumi.
Rumi hanya bisa mengusap dada, mau dia lawan percuma juga. Bu Sri selalu punya seribu jawaban untuk membalas ucapannya. Bahkan Bu Sri sengaja menabrak bahu Asti saat akan keluar dari rumah anaknya.
"Astaga! Ibumu benar-benar sudah ketempelan setan mau kaya, Fathur! Ngebet banget mau kaya tapi dengan cara pintas! Lagian nikah sama si Dona belum tentu dia juga kecipratan duitnya! Aish, ibumu itu kebanyakan nonton drama! Orang kek Dona itu cuma pinter buat merayu emakmu aja! Udah berhasil mana mau dia ngurus emakmu lagi, pegang kata-kataku!" kesal Asti.
"Mas ..." Rumi mengusap pundak suaminya yang masih terpaku di tempatnya.
"Mas nggak apa-apa, Dek!" Fathur membalas dengan mengusap tangan istrinya dengan lembut. Rumi tahu saat ini perasaan suaminya pasti sedang berantakan. Bakti kepada ibu, dan tanggungjawab kepada istri. Menjadi dilema untuk suaminya yang penurut kepada ibunya.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/