Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Rasa sesak yang tak terbendung di dada Andrea sudah tidak sanggup ia tahan lagi. Setelah berlari ke kamarnya, gadis itu menyambar tas kuliahnya begitu saja lalu bergegas keluar dari rumah tanpa mempedulikan penampilannya yang masih berantakan.
Ia memilih berjalan kaki menyusuri trotoar kompleks perumahan yang sepi, membiarkan air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya yang pucat.
Namun, baru beberapa ratus meter Andrea melangkah, raungan halus mesin mobil sport hitam yang sangat ia kenali terdengar mendekat dari arah belakang. Mobil itu meluncur pelan sejajar dengan langkah kakinya, sebelum akhirnya memotong jalan dan berhenti tepat di depan Andrea, menghadang jalannya.
Pintu pun terbuka. Bara keluar dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu melangkah tegap mendekati Andrea, menyambar pergelangan tangan gadis itu dengan cengkeraman yang kuat namun hati-hati, lalu membukakan pintu penumpang.
"Masuk," perintah Bara pendek, suaranya terdengar datar namun tak terbantahkan.
"Aku ... aku mau ke kampus saja Kak," lirih Andrea pelan, suaranya serak akibat terlalu banyak menangis.
"Aku tidak suka mengulang ucapan. Masuk, Andrea," desis Bara lagi sambil menatap tajam dari balik kaca mata hitamnya.
Tak punya daya untuk membantah, Andrea akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil. Bara menutup pintu dengan tegas, memutar mengitari kap, lalu segera tancap gas meninggalkan area kompleks.
Sepanjang perjalanan, Bara hanya diam dan fokus menyetir, sementara Andrea tertunduk memeluk tasnya, menahan isak tangis yang sesekali masih lolos dari bibirnya. Bara mengarahkan mobilnya menjauhi area kampus. Ia membawa Andrea ke sebuah hotel berbintang lima di pusat kota. Sebuah tempat yang jauh dari jangkauan Selina maupun teman-temannya.
Skenario balas dendam di kepala Bara sejatinya terus berteriak, mengingatkan bahwa tangisan Andrea seharusnya menjadi pemandangan yang memuaskan baginya. Namun nyatanya, logika dingin itu mendadak tumpul. Hatinya menolak keras melihat keputusasaan gadis di sampingnya.
Setibanya di suite room lantai atas yang tenang, Bara mengunci pintu dari dalam. Ia melepas kacamata hitamnya, lalu berjalan mendekati Andrea yang masih berdiri kaku di tengah ruangan.
Tanpa banyak bicara, Bara menarik tubuh mungil Andrea ke dalam pelukannya. Tangan kekarnya melingkari punggung lemas gadis itu, menenggelamkan wajah Andrea di dada bidangnya yang hangat.
"Jangan ditahan, menangislah sepuasmu," bisik Bara rendah, suaranya terdengar begitu berat namun menyimpan kelembutan yang teramat asing. Jemari tangannya merayap naik, mengusap rambut hitam Andrea dengan gerakan lembut yang menenangkan.
"Mama ... Mama marah banget sama aku Kak ...." bisik Andrea terbata-bata di dada Bara, jemari lentiknya mencengkeram erat kemeja pria itu. "Aku takut ...."
"Ada aku di sini. Tidak ada yang boleh menyakitimu, termasuk ibumu," ucap Bara tegas, melontarkan janji manis yang mengunci hati Andrea semakin dalam. Bara menunduk, mengecup puncak kepala Andrea dengan lembut dan lama, membiarkan aroma terapi dan kehangatan tubuhnya perlahan meredakan gemetar di tubuh gadis itu.
Setelah beberapa saat, tangis Andrea perlahan mereda. Bara membimbingnya untuk duduk di tepi ranjang, lalu menyodorkan sebotol air putih. "Minum dulu."
Andrea menerima gelas itu dan menyesapnya pelan. Saat atmosfer di kamar itu mulai tenang dan hangat, ponsel di saku celana Bara mendadak bergetar.
Bara merogoh ponselnya. Nama Mike tampak tertera di layar. Dengan kening berkerut tipis, Bara menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Ada apa?" tanya Bara dingin.
"Bar! Kita dalam bahaya besar!" suara Mike di ujung telepon terdengar terengah-engah dan panik. "Peretasan data perusahaan untuk proyek besar besok ... sistem keamanan Papa kamu berhasil mendeteksinya! Orang-orang suruhan Pak Danu sekarang sedang melacak IP address utama yang kita pakai dari basecamp!"
Gurat wajah Bara seketika mengeras. Manik matanya berkilat tajam. "Bagaimana bisa terdeteksi? Bukannya Angel sudah mengamankan kodenya?"
"Angel sudah melakukannya Bar! Tapi ternyata kodenya belum sempat dienkripsi ulang secara sempurna!" seru Mike frustrasi. "Kalau dalam waktu tiga puluh menit kita tidak memutus akses dan membersihkan jejak di server utama, Pak Danu bakal tahu kalau kamu otak di balik semua ini! Kamu harus ke basecamp sekarang!"
Situasi berubah menjadi sangat genting. Puncak dari skenario perusakan bisnis Selina dan Pak Danu bisa hancur berantakan jika identitas Bara terbongkar hari ini.
Bara mematikan sambungan telepon. Ia mengusap wajahnya kasar, merasakan ketegangan yang membakar kepalanya. Dalam kondisi normal, ia akan langsung berlari keluar tanpa mempedulikan sekitar. Namun saat pandangannya kembali beradu dengan sepasang mata jernih Andrea yang menatapnya dengan raut cemas, langkah Bara mendadak tertahan.
Meskipun di tengah kepungan bahaya yang bisa menghancurkan rencana besarnya, Bara tetap tidak bisa membiarkan Andrea terlantar atau merasa dibuang begitu saja.
Bara mengambil ponselnya kembali, membuka aplikasi transportasi, dan memesan sebuah taksi eksekutif resmi untuk dijemput di lobi hotel. Setelah memastikan pesanan terkonfirmasi, Bara berlutut di hadapan Andrea yang duduk di tepi ranjang.
Ia menangkup kedua pipi Andrea, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. "Andrea, dengarkan aku baik-baik," ujar Bara dengan nada suara yang tenang meski rahangnya mengeras menahan kepanikan. "Aku ada urusan mendadak yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Aku sudah memesankan taksi untukmu."
"Kak Bara mau pergi?" tanya Andrea polos, ada rasa kehilangan yang tersirat di matanya.
"Hanya sebentar," bisik Bara manis sambil mengecup kening Andrea singkat namun dalam. "Taksi akan menunggumu di lobi lima menit lagi. Driver-nya akan mengantarmu langsung ke rumah dengan aman. Jangan pergi ke mana-mana sendirian setelah ini, paham?"
"Tapi Mama_ "
"Jangan hiraukan Mama, langsung masuk ke kamar saja dan jangan lupa dikunci. Aku akan telepon pelayan rumah supaya ngantar makanan ke kamar kamu, ingat ... jangan kemana-mana sendirian."
Andrea mengangguk pelan. "Iya, Kak ...."
Bara merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang tunai bernilai cukup besar dan meletakkannya di genggaman tangan Andrea. "Pegang ini."
Setelah itu ia berdiri, menyambar jaket kulitnya, lalu menggandeng tangan Andrea berjalan keluar kamar menuju lift. Bara mengawal gadis itu sampai ke pintu mobil taksi yang sudah menunggu di depan lobi hotel.
Setelah membukakan pintu dan memastikan Andrea duduk dengan nyaman di dalam, Bara membungkuk sedikit di jendela mobil. "Telepon aku kalau sudah sampai," pesannya pendek.
Taksi itu perlahan melaju meninggalkan area hotel. Baru setelah memastikan mobil yang membawa Andrea hilang di balik belokan jalan, Bara berbalik dengan langkah lebar dan tergesa, masuk ke dalam mobil sport-nya untuk melesat menuju ke tempat di mana ia harus memperjuangkan harga diri ibunya.