Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Bintang Cita Entertainment
Beberapa hari setelah insiden billboard, Keira berdiri di depan gedung enam lantai di Jakarta Selatan dan untuk pertama kalinya merasa sesuatu benar-benar menjadi miliknya.
Tulisan di depan lobi masih baru dipasang.
Bintang Cita Entertainment.
Huruf-huruf logamnya belum mengilap sempurna karena plastik pelindung baru dilepas setengah. Di lantai dasar masih tercium bau cat, beberapa pekerja membawa meja, dan kabel internet belum sepenuhnya rapi. Namun bagi Keira, tempat itu terasa lebih nyata daripada semua ruang rapat mahal yang pernah ia masuki atas nama Hartono Group.
Evan berdiri di sampingnya dengan kopi di tangan. "Tidak buruk, kan?"
"Ini lebih dari tidak buruk." Keira menatap fasad kaca gedung. "Kamu bilang sewa kantor kecil."
"Definisi kecil setiap orang berbeda."
"Enam lantai bukan kecil."
Evan tersenyum terlalu polos untuk orang yang jelas sedang menyembunyikan sesuatu. "Temanku punya gedung kosong. Daripada tidak dipakai, lebih baik dipakai oleh perusahaan penuh masa depan."
Keira menoleh. "Teman yang sama dengan investor diam itu?"
"Dunia pertemananku luas."
"Jawabanmu makin mencurigakan."
Reynard duduk di kursi roda di sisi lain, Rubik di pangkuan. "Gedung bagus."
Keira menatapnya. "Kamu suka?"
"Kei suka."
Jawaban itu membuat Evan batuk kecil untuk menutupi tawa. Reynard meliriknya sekali, dan tawa itu langsung mati.
Mereka masuk ke lobi. Naomi sudah berada di dalam, memotret setiap sudut dengan semangat seperti anak kecil masuk taman bermain. "Kak Keira! Lantai dua bisa jadi ruang penulis. Lantai tiga studio reading. Lantai empat ruang editing. Lantai lima ruang meeting besar. Lantai enam kantor Kakak!"
"Pelan-pelan, Nao. Meja saja belum lengkap."
"Justru itu seru. Kita bisa membangun semuanya dari awal."
Keira menyentuh permukaan meja resepsionis yang masih tertutup plastik. Dari awal. Kalimat itu terasa menenangkan.
Mereka naik satu lantai demi satu lantai. Lantai dua masih dipenuhi kardus kursi lipat dan papan tulis. Lantai tiga memiliki ruangan kosong dengan dinding kaca, cocok untuk reading naskah. Di lantai empat, teknisi sedang memasang komputer editing bekas yang dibeli Rio dari rumah produksi lama. Lantai lima menghadap jalan raya, dan dari sana Keira bisa melihat gedung Langit Entertainment di kejauhan, lebih tinggi, lebih mahal, lebih mapan.
Naomi mengikuti arah pandangnya. "Kak, suatu hari papan nama kita bisa sebesar itu."
"Tidak perlu sebesar itu," kata Keira. "Cukup sampai mereka tidak bisa mengabaikan kita."
Reynard mendengar kalimat itu dan menunduk ke Rubik. Di balik wajah polosnya, ia sudah memikirkan tiga cara membuat gedung ini lebih aman, dua jalur pendanaan tambahan, dan satu daftar orang Langit Entertainment yang sebaiknya tidak pernah dibiarkan mendekati Keira.
Evan membawa mereka ke ruang meeting sementara di lantai dua. Di sana, seorang pria berusia awal tiga puluhan sudah menunggu. Rambutnya rapi, kemejanya sederhana, dan tatapannya tajam tanpa terlihat sombong.
"Rio Prasetya," kata Evan. "Mantan manajer utama di Langit Entertainment."
Rio berdiri dan menunduk sopan. "Mbak Keira."
"Panggil Keira saja kalau kita bekerja sama."
"Baik, Keira."
Keira duduk di hadapannya. Reynard ditempatkan di dekat jendela. Ia tampak sibuk memutar Rubik, tetapi Keira tahu ia mendengar semuanya.
"Kenapa keluar dari Langit?" tanya Keira langsung.
Rio tidak tersinggung. "Karena aku lelah menjual talent yang tidak siap hanya karena mereka punya keluarga kaya. Aku juga lelah melihat talent bagus dipinggirkan karena tidak punya orang dalam."
Keira teringat Livia.
"Kalau masuk BC, kamu akan bekerja dengan perusahaan kecil. Kami belum punya drama tayang, belum punya daftar artis, belum punya bukti pasar."
"Tapi kalian punya arah."
"Kamu yakin hanya dari satu pertemuan?"
Rio membuka folder. "Aku menonton rekaman casting yang dikirim Evan. Aku juga melihat caramu menangani Livia setelah insiden Tiffany. Orang yang membela talent kecil di depan sponsor biasanya either bodoh atau serius membangun sesuatu yang berbeda."
"Dan menurutmu aku yang mana?"
"Aku belum tahu. Itu sebabnya aku datang."
Keira tersenyum. Ia menyukai jawaban itu. Tidak menjilat, tidak terlalu cepat percaya.
Pertemuan berlangsung hampir dua jam. Mereka membahas struktur perusahaan: Keira sebagai creative director dan sutradara utama, Naomi sebagai penulis inti, Evan sebagai investor strategis, Rio sebagai kepala manajemen talent. Masih banyak kursi kosong, tetapi kerangkanya mulai terlihat.
Rio tidak meminta gaji tinggi. Ia justru meminta dua hal: hak menolak proyek yang merusak talent dan kebebasan membangun sistem pelatihan dasar.
"Aktor baru sering rusak bukan karena tidak berbakat," katanya. "Mereka rusak karena dilempar ke lokasi tanpa perlindungan, lalu setiap orang merasa boleh membentuk mereka dengan cara kasar."
Keira mengingat pipi Livia yang merah. "Aku ingin perusahaan ini tidak seperti itu."
"Kalau begitu kita perlu aturan tertulis sejak awal."
"Buatkan."
Rio menatapnya. "Kamu langsung percaya?"
"Aku percaya pada orang yang meminta sistem, bukan hanya posisi."
Untuk pertama kalinya, wajah Rio melunak sedikit.
Setelah itu, Keira mengeluarkan dua daftar dari tas.
Daftar pertama berisi nama-nama aktor muda, penyanyi, dan model iklan yang belum dikenal. Daftar kedua berisi judul novel web lokal, beberapa dari platform kecil, yang menurutnya layak dibeli hak adaptasinya.
Rio membaca halaman pertama, lalu halaman kedua. Alisnya bergerak sedikit.
"Kebanyakan orang di daftar ini belum punya nama."
"Belum."
"Beberapa bahkan tidak punya agensi."
"Lebih baik."
"Dan novel-novel ini..." Rio mengetuk satu judul. "Rating-nya tidak tinggi."
"Karena promosinya buruk. Ceritanya bagus."
Evan menatap daftar itu dengan campuran kagum dan takut. "Kamu menyiapkan ini kapan?"
"Sebelum menikah."
Tidak sepenuhnya bohong. Sebagian daftar memang ia susun sejak lama. Sebagian lagi berasal dari ingatan yang tidak mungkin ia jelaskan. Nama-nama yang sekarang belum berarti, tetapi kelak akan mengisi papan iklan, award show, dan trending topic.
Reynard melihat wajah Keira saat ia membicarakan daftar itu. Matanya hidup. Lukanya masih dibalut perban, tetapi tangannya bergerak penuh keyakinan. Ia tampak seperti seseorang yang akhirnya berdiri di tempat yang seharusnya.
Cantik, pikir Reynard.
Berbahaya juga.
Rio menutup folder perlahan. "Orang-orang ini sekarang semua masih bukan siapa-siapa. Bagaimana kamu tahu mereka punya potensi?"
Ruangan menjadi sunyi.
Naomi menatap Keira dengan penuh rasa ingin tahu. Evan menahan napas. Reynard berhenti memutar Rubik.
Keira tersenyum.
"Intuisi."
Rio menatapnya lama. "Kalau intuisimu salah?"
"Maka aku tanggung."
"Kalau benar?"
Keira menoleh ke jendela, ke arah gedung Langit yang berdiri jauh di sana. "Maka kita akan punya cukup alasan untuk berdiri lebih tinggi."
Reynard menatap profilnya.
Pada hari itu, Bintang Cita Entertainment belum punya drama tayang, belum punya artis terkenal, bahkan belum punya sofa yang nyaman di ruang tunggu. Namun ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada semua itu.
Ada Keira yang percaya bahwa masa depan bisa ditulis ulang.