NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

​​Kicauan burung terdengar samar dari balik jendela kaca yang tertutup rapat.

Sinar matahari pagi perlahan menembus celah gorden tebal berbahan beludru di kamar tamu mewah tersebut.

Bima perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa sedikit berat.

Dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah semalaman tertidur pulas seperti orang mati.

Kriut.

Suara pegas kasur berdecit pelan saat Bima mengubah posisi baringnya menjadi duduk.

Dia menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi perabotan mewah berukir emas dengan pandangan takjub.

"Ternyata semalam itu bukan mimpi ya."

"Aku benar-benar tidur di atas kasur yang rasanya lebih empuk dari tumpukan jerami di rumah Kades."

Bima bergumam pelan sambil tersenyum kecil mengingat kejadian dramatis tadi malam.

Energi tenaga dalamnya sudah mulai pulih meski belum kembali ke tingkat maksimal.

Krucuk krucuk.

Perut Bima tiba-tiba berbunyi sangat nyaring meminta untuk segera diisi amunisi.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar lembut dari arah luar menyela lamunan pemuda desa tersebut.

"Permisi Tuan Muda Bima, apakah Anda sudah bangun?"

Terdengar suara seorang wanita paruh baya dari balik pintu kayu jati yang kokoh itu.

"Iya, saya sudah bangun, silakan masuk saja."

Cklek.

Pintu terbuka dan menampilkan seorang pelayan wanita berseragam rapi membawa sebuah nampan perak.

Di atas nampan itu terdapat segelas susu hangat, roti panggang, dan sepiring buah-buahan segar.

"Tuan Besar Herman meminta saya mengantarkan sarapan ringan ini untuk Anda."

"Beliau juga sudah menyiapkan pakaian ganti yang bersih di dalam lemari itu karena pakaian Anda kemarin sudah sangat kotor."

Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja kecil di samping ranjang dengan gerakan sangat sopan.

Bima menatap hidangan sarapan itu dengan mata berbinar-binar.

"Terima kasih banyak, Bibi."

"Tolong sampaikan rasa terima kasih saya juga kepada Pak Herman atas kebaikannya."

Pelayan itu hanya tersenyum ramah lalu membungkuk hormat sebelum keluar dari kamar.

Setelah menghabiskan sarapannya dalam waktu kurang dari lima menit, Bima segera beranjak menuju kamar mandi.

Dia sedikit kebingungan saat melihat berbagai macam tombol dan tuas mengkilap di dalam ruangan mandi berdinding marmer itu.

"Airnya bisa keluar panas dan dingin hanya dengan menggeser tuas ini, benar-benar ajaib."

Bima mandi dengan cepat lalu mengenakan pakaian ganti yang sudah disiapkan.

Pakaian itu terdiri dari kemeja katun berwarna biru muda dan celana kain berwarna hitam pekat.

Meskipun modelnya sederhana, pakaian itu terbuat dari bahan yang mahal dan sangat nyaman di kulit.

Kesan gembel kotor yang kemarin menempel padanya kini hilang tak berbekas.

Bima melangkah keluar kamar dan berjalan menyusuri lorong luas menuju kamar Clara.

Langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun karena tertahan oleh karpet tebal yang melapisi lantai.

Sesampainya di depan kamar Clara, pintu ruangan itu ternyata sedikit terbuka.

Terdengar suara isak tangis tertahan dari dalam kamar yang sangat luas tersebut.

Bima mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk tanpa menimbulkan keributan.

Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Pak Herman sedang memeluk erat seorang gadis yang duduk bersandar di kepala ranjang.

Gadis itu adalah Clara, yang kini sudah membuka matanya meski wajahnya masih terlihat sangat pucat.

"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak."

"Papa pikir Papa akan kehilangan dirimu untuk selama-lamanya."

Suara Pak Herman terdengar serak dan bergetar menahan luapan emosi kebahagiaan.

Clara hanya diam mematung dengan tatapan mata yang terlihat sangat kosong dan kebingungan.

"Papa, tubuhku rasanya sakit sekali dan sangat dingin."

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku selama beberapa hari ini?"

Clara bertanya dengan suara yang sangat lemah nyaris seperti bisikan angin.

Pak Herman melepaskan pelukannya dan mengusap rambut panjang putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Kamu jatuh koma karena penyakit misterius, Sayang."

"Tapi sekarang kamu sudah aman berkat bantuan seorang tabib hebat yang menyelamatkan nyawamu tadi malam."

Clara mengerutkan kening indahnya mencoba memproses informasi yang baru saja didengarnya.

"Tabib hebat?"

Tepat pada saat itu, tatapan mata Clara tidak sengaja menangkap sosok Bima yang berdiri diam di dekat pintu masuk.

Gadis itu menatap Bima dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan menilai.

Penampilan Bima memang sudah bersih, tapi wajah polosnya masih sangat kental dengan aura pemuda desa yang lugu.

"Siapa pria asing ini, Papa?"

"Kenapa dia ada di dalam kamarku?"

Nada suara Clara terdengar sedikit waspada dan tidak nyaman dengan kehadiran Bima.

Pak Herman langsung menoleh ke belakang dan tersenyum lebar melihat kedatangan pemuda itu.

"Ah, Nak Bima, syukurlah kamu sudah bangun."

"Kemarilah, biar Papa kenalkan kamu dengan putri semata wayang Papa."

Bima berjalan mendekat dengan langkah tenang dan berdiri di samping ranjang.

"Perkenalkan Clara, ini adalah Bima, pemuda yang sudah menarikmu dari ambang kematian semalam."

Clara menatap Bima dengan pandangan tidak percaya dan penuh keraguan.

"Dia?"

"Orang seusia dia ini yang Papa sebut sebagai tabib hebat?"

Clara sama sekali tidak berusaha menyembunyikan nada meremehkan dari ucapannya.

Bagi seorang gadis metropolitan yang terbiasa dengan perawatan dokter spesialis luar negeri, mempercayai pemuda kampung sebagai penyelamatnya adalah hal yang konyol.

Bima sama sekali tidak tersinggung dengan reaksi dingin dari putri miliarder tersebut.

Dia sudah menduga bahwa orang-orang kota akan selalu menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.

"Selamat pagi, Nona Clara."

"Saya hanya kebetulan menguasai sedikit ilmu pengobatan tradisional warisan dari guru saya."

Bima menjawab dengan sangat sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit.

Pak Herman yang menyadari perubahan suasana hati putrinya segera mencoba mencairkan suasana.

"Jangan melihat penampilannya yang sederhana ini, Clara."

"Bahkan Profesor Wijaya dan seluruh tim medisnya pun tidak berkutik melihat kemampuan Nak Bima semalam."

Brak!

Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar dengan cara yang sangat kasar.

Seorang wanita paruh baya berdandan sangat menor melangkah masuk dengan wajah angkuh.

Dia mengenakan perhiasan emas berlian yang menempel berlebihan di leher dan pergelangan tangannya.

"Kak Herman, apa benar gosip yang beredar di kalangan pelayan pagi ini?"

Wanita itu berbicara dengan suara melengking yang sangat memekakkan telinga.

"Mereka bilang Kakak membiarkan seorang kuli bangunan mengobati Clara semalaman suntuk."

Pak Herman menghela nafas panjang dan wajahnya mendadak terlihat sedikit lelah.

"Kecilkan suaramu Vina, Clara baru saja sadar dan dia butuh ketenangan."

Wanita bernama Vina itu adalah adik kandung dari mendiang istri Pak Herman, yang berarti dia adalah bibi kandung Clara.

Vina langsung berjalan cepat menghampiri ranjang dan menatap keponakannya dengan wajah dibuat-buat panik.

"Ya ampun Clara sayang, syukurlah kamu masih hidup."

"Tante sangat khawatir kamu dicelakai oleh dukun palsu yang mengincar harta keluarga kita ini."

Vina langsung menudingkan jari telunjuknya yang dipenuhi cincin mahal tepat ke depan wajah Bima.

"Pasti pemuda gembel ini kan dukun palsu yang sedang kita bicarakan?"

Bima menatap jari telunjuk itu dengan pandangan sangat tajam tanpa berkedip sama sekali.

Dia sama sekali tidak menyukai orang yang menunjuk wajahnya dengan cara tidak sopan seperti itu.

"Tante Vina, tolong jaga bicaramu di depan penyelamat nyawa anakku."

Pak Herman menegur adik iparnya itu dengan nada suara yang sangat tegas dan berat.

"Penyelamat nyawa bagaimana maksud Kakak?"

"Kakak pasti sudah diguna-guna oleh anak kampung ini sampai percaya pada hal-hal mistis yang tidak masuk akal."

Vina bersedekap dada sambil membuang muka merendahkan kehadiran Bima di ruangan itu.

"Kita punya uang triliunan rupiah untuk menyewa profesor terhebat dari benua Eropa."

"Kenapa Kakak malah mempercayakan nyawa pewaris tunggal keluarga ini pada anak bau kencur yang tidak jelas asal usulnya?"

Clara yang masih terbaring lemah hanya bisa memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut nyeri.

Perdebatan antara ayah dan bibinya itu membuat kepalanya semakin pusing.

"Sudah cukup, Tante, Papa, kepalaku rasanya mau pecah mendengar kalian berdebat."

Clara merintih pelan sambil menutup kedua telinganya menggunakan bantal.

Melihat pasiennya merasa kesakitan, insting tabib Bima langsung bereaksi tanpa menunggu perintah.

Srek.

Bima melangkah maju mendekati sisi ranjang dan langsung meraih pergelangan tangan kiri Clara.

"Apa yang kamu lakukan, lepaskan tangan kotormu dari keponakanku!" teriak Vina dengan panik.

Vina berniat menarik baju Bima dari belakang untuk menjauhkannya dari Clara.

Namun anehnya, tubuh Bima terasa sangat berat dan sama sekali tidak bergeser meski ditarik sekuat tenaga.

"Jangan banyak bergerak dulu, Nona, detak jantungmu kembali tidak stabil."

Bima menempelkan tiga jari tangan kanannya tepat di atas urat nadi pergelangan tangan Clara.

Clara sedikit meronta berusaha melepaskan genggaman pemuda asing itu dari tangannya.

Namun ada semacam aliran hawa hangat yang tiba-tiba menjalar dari jari-jari Bima masuk ke dalam pembuluh darahnya.

Hawa hangat itu terasa sangat menenangkan dan perlahan mengusir rasa sakit di kepalanya.

Clara tertegun dan berhenti meronta sambil menatap wajah Bima dari jarak yang cukup dekat.

Dia baru menyadari bahwa pemuda desa ini ternyata memiliki raut wajah yang sangat tegas dan mata hitam pekat yang menghipnotis.

"Suhu tubuhmu masih jauh di bawah batas normal orang sehat."

"Racun Es Seribu Tahun itu masih menempel kuat di dinding lambung dan saluran pernafasanmu."

Bima berbicara dengan nada tenang dan profesional, sepenuhnya mengabaikan omelan Tante Vina di belakangnya.

"Aku akan menyiapkan resep ramuan obat herbal yang harus Nona minum siang ini."

Bima melepaskan sentuhannya lalu menoleh ke arah Pak Herman yang sedari tadi mengawasi dengan cemas.

"Pak Herman, tolong perintahkan orang kepercayaan Bapak untuk membeli beberapa bahan herbal di pasar tradisional."

"Saya butuh jahe merah berumur lima tahun, akar alang-alang liar, dan sedikit bubuk mutiara hitam."

Pak Herman langsung mengangguk cepat dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya.

"Baiklah Nak Bima, semua pesananmu akan tiba di rumah ini dalam waktu kurang dari satu jam."

Mendengar hal itu, Tante Vina tertawa mengejek dengan suara lantang.

"Hahaha, jahe merah dan akar alang-alang?"

"Kak Herman, apa Kakak mau meracuni Clara dengan ramuan jamu murahan dari pasar becek itu?"

Tante Vina terus berusaha menyudutkan metode pengobatan yang ditawarkan oleh Bima.

"Jika terjadi komplikasi pada tubuh Clara karena meminum air rebusan rumput liar itu, Tante yang akan menuntutmu ke penjara, anak muda!"

Bima membalikkan badannya dan menatap tajam langsung ke sepasang mata licik milik wanita paruh baya tersebut.

"Jika ramuan saya gagal menyembuhkan rasa sakit di perut Nona Clara hari ini, Anda boleh memotong kedua tangan saya di tempat ini juga."

Suara Bima terdengar sangat datar namun mengandung aura intimidasi yang membuat bulu kuduk Tante Vina berdiri seketika.

Ruangan mewah itu mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang bagai ditarik oleh benang tak kasat mata.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!