Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Setelah melewati beberapa jam, akhirnya mereka sampai di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 10.00 malam. Di situ mereka menunggu sampai waktunya Papa dan Ibu berangkat.
Hingga saat mereka harus masuk ke ruang tunggu dan berpisah.
“Ily, Ibu pamit ya,” ucap Ibu Amanda sambil memeluk Emily. “Nurut sama suaminya, jangan membangkang. Buktikan kalau Emily bisa jadi anak yang baik. Jangan mabuk lagi, jangan balap-balapan lagi. Harus ingat, sekarang sudah punya suami, Nak.”
“Ibuuuuuu…” lirih Emily, air matanya tak terbendung.
“Baik-baik di sini sama suamimu ya,” lanjut Ibu Amanda.
Emily tidak menjawab, hanya menangis ketika harus berpisah dengan orang tuanya.
Tak lupa juga Emily memeluk Papa Evan. Meskipun tempo hari ia pernah mendapat tamparan, tetap saja ditinggalkan seperti ini membuat dadanya sesak.
“Papa… maafkan Emily, Papa,” ucap Emily terisak.
“Jangan nangis, Sayang. Sekarang kamu sudah punya suami, sudah ada yang jaga kamu. Jadi Papa akan berangkat dengan tenang. Tolong ya, sekarang harus lebih baik, lebih nurut lagi. Jangan membuat keluarga kecewa,” jawab Papa Evan menepuk punggung anaknya.
Emily semakin menangis dalam pelukan sang ayah.
“Rey, Papa titip Emily ya… tolong jaga dia baik-baik,” ucap Papa Evan serius.
“InsyaAllah, Pah. Rey akan berusaha,” jawab Rey mantap.
Setelah berpamitan kepada orang tua, mereka masuk kembali ke dalam mobil. Kali ini hanya berdua. Jika tadi bersama Ibu Amanda dan keluarga yang lain, sekarang mereka pulang berdua menuju apartemen Rey. Di dalam mobil, Emily tampak masih bersedih karena harus berpisah dengan orang tuanya.
“Nggak usah nangis kayak gitu, cengeng loh,” ucap Rey sambil melirik Emily.
“Bodo amat! Lu pikir nggak sedih apa harus pisah sama orang tua, terus harus hidup sama orang baru,” jawab Emily sengit.
“Ya gue ngerti. Tapi kan ini kehidupan. Lagian gue bukan orang baru, bukannya tiap hari lo lihat gue di kelas?” jawab Rey.
“Status baru, Pea!” sergah Emily.
“Ya nikmatin aja lah. Kita sekarang hidup berdua, jalanin aja. Kenapa harus dibikin ribet sih?” ucap Rey santai.
“Nikmati-nikmatin pala lo peyang! Lu pikir gampang jadi gue? Gue udah punya pacar nih. Gimana kalau pacar gue tahu kalau gue udah nikah?” gerutu Emily.
“Ya lagian lu yang nggak ngotak. Udah punya suami masih punya pacar. Menurut gue sih kalau dia tahu ya bagus,” jawab Rey santai.
“Bagus apanya, Goblok?! Yang ada jadi masalah dalam hubungan gue!” bentak Emily.
“Pernah diapain aja sih lo sama dia sampai nggak rela harus berpisah? Udah iclik loh?” tanya Rey dengan nada sinis.
“Stress lo! Mulut dijaga! Gini-gini gue masih perawan ya!” bentak Emily sengit.
“Hhhhaaa? Massssaaaaa…???” jawab Rey dengan nada menggoda.
“Bodo amat kalau nggak percaya. Emang gue peduli!” ucap Emily ketus.
“Gue nggak percaya kalau belum nyobain… dan membuktikan,” jawab Rey sambil menaikkan alisnya.
“Si anjir! Lo mau membuktikan apa? Emang pengen nyentuh gue Lo yah?!” ucap Emily sewot.
“Ya kan katanya tadi lo belum pernah icibos dan lo masih perawan. Ya gue pengen tahu aja. Masa iya seorang ketua geng motor yang pacarannya lengket banget nggak pernah digerepe-grepe?” sindir Rey.
“Sorry ya, se liarnya gue… gue tetap bisa jaga harga diri,” jawab Emily menantang.
Rey hanya menaikkan alisnya lagi.
“Bodo amat kalau lo nggak percaya, Rey. Gue nggak peduli!” ucap Emily keras kepala.
“Oh ya? Coba nanti gue buktikan,” ucap Rey menekan.
“Buktikan apa?!” tanya Emily sewot.
“Buktikanlah masih perawan apa nggak,” jawab Rey santai.
“Si anjir! Emang siapa yang mau sama lo?!” ucap Emily melotot.
“Mau nggak mau ya tetap harus mau, Bego. Gue suami lo,” jawab Rey menekankan kata suami.
“Dih! Kemarin aja lo bilang lo nggak mau nyentuh gue. Sekarang ngaku-ngaku suami,” ucap Emily sewot.
“Ya pada kenyataannya begitu, Pea. Gue suami lo. Dan cuma gue yang boleh nyentuh lo,” ucap Rey menekan lagi.
“Mentang-mentang baru nikah, pikiran lu mah mesum mulu!” balas Emily sinis.
“Tapi emang seharusnya begitu sih. Ini kan malam pernikahan. Harusnya kita mampir lah ke hotel,” ucap Rey setengah bercanda.
“Buat apa anjir mampir ke hotel?! Orang di apartemen juga cuma berdua, kan?!” ucap Emily sewot.
“Hhhaaa… cerdas juga lo. Paling tidak kan kalau di apartemen, mau sampai 24 jam pun nggak masalah,” jawab Rey dengan senyum menyebalkan.
“Si anjir! Mau bikin gue tepar loh!” ucap Emily.
“Emang lo udah pernah tepar?” tanya Rey sengit.
“Udah, tapi karena mabuk. Bukan karena iclik, ya!” jawab Emily ketus.
“Mau gue buat tepar karena iclik?” ucap Rey menekan.
“Setaaaannnnn!!!!!” teriak Emily.
“Hhhaaaaaaaaaa…” Rey hanya tertawa puas.
“Lo kayaknya udah pro banget ya soal ichi bos,” ucap Emily sinis.
“Sialan loh, gue juga masih perjaka ya,” jawab Rey ketus.
“Ahhhhaaaa… 100% gue nggak percaya,” timpal Emily sambil melipat tangan di dada.
“Bodo amat… kalau ichi bos gue belum pernah, jujur aja. Tapi kalau lihat sering,” jawab Rey santai.
“Anjirr… nyari tutorial lu?” tanya Emily melotot.
“Belajar aja. Meskipun nggak dipraktekin, belajar bisa membuat istri gue teparrrr,” ucap Rey sambil nyengir.
“Hhhhaaa nggak mungkin! Wajah lo clingy hyper begitu mana mungkin masih perjaka,” jawab Emily ketawa geli.
“Gue serius. Kalau masuk langsung, nggak pernah. Paling main tangan,” jawab Rey jujur.
“Cewek? Cowok??” tanya Emily sambil menaikkan kedua alisnya.
“Apa-nya?” jawab Rey balik tanya.
“Tangannya??” tanya Emily lagi, sengaja nge-push.
“Yah cowok lah,” jawab Rey datar.
“Si anjir! Berarti lo gay, ihhh!!” ucap Emily langsung menutup mulutnya.
“Heuuhh… maksud gue tangan cowok tuh tangan gue, Pea! Dipikir gue nggak bisa berdiri apa?!” jawab Rey sewot.
“Ya kali lo suka yang berotot,” timpal Emily sambil cekikikan.
“Gue normal, Emily. Mau gue buktikan?” ucap Rey sambil menaikkan alisnya dan melet.
“Si anjir! Wajah lo nggak usah kayak gitu, bikin gue takut,” ucap Emily setengah serius.
“jadi Takut ??apa? Jadi sange?” goda Rey dengan tatapan nakal.
“Jihhh… nggak nafsu gue liat lo ajh,” ucap Emily sinis.
“Yakin nggak nafsu? Kalau udah lihat si Joni gue lo pasti ketagihan, apalagi kalau udah dimentokin,” goda Rey sambil nyengir lebar.
“Anjir… lu udah bener-bener pro,” jawab Emily dengan wajah muak.
“Ngasih tahu aja supaya lo nggak ngeremehin gue,” ucap Rey santai.
“Bilang aja lo udah sange deket-deket sama gue,” ucap Emily sinis lagi sambil melirik tajam.
“Dihhh… cowok MH modal bacot doang. Sok tampan, sok macho, aslinya paling lima menit tepar. Hhhhaaaa…” timpal Emily sambil menertawakan Rey.
“Lo bener-bener ngeremehin gue. Lima menit mah buat pemanasan aja nggak cukup. Mau gue buktikan sekarang?” jawab Rey menantang.
“Anjiiiirrr jangan ngaco Reyyyyy!!!!” teriak Emily panik