NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Class Meet

Ruang OSIS siang itu dipenuhi suara kertas yang dibolak-balik. Beberapa lembar proposal berserakan di atas meja panjang. Papan tulis putih di depan ruangan juga sudah penuh dengan tulisan.

CLASS MEETING SEMESTER GANJIL

Di bawahnya terdapat beberapa kolom kosong.

Cabang Lomba:

Basket — ?

Futsal — ?

Estafet — ?

Tarik Tambang — ?

Tebak Kata — ?

Kreativitas Kelas — ?

Azka duduk di ujung. Kedua tangannya terlipat rapi di atas meja. Memimpin seluruh rapat dengan gaya seorang ketua yang entah mengapa terlalu santai untuk ukuran rapat OSIS.

"Jadi..."

Tatapannya menyapu ke belasan anggota OSIS yang ada di bawah kepemimpinannya.

"Semua persiapan udah hampir beres?"

Di seberangnya, Nia membuka notebook sekretarisnya.

"Proposal sudah selesai, Kak. Perizinan lapangan juga sedang dikonfirmasi. Jadwal penggunaan aula sudah aman..."

Nia membalik lagi catatan pada notebooknya.

"Penyewaan GOR (Gelanggang Olahraga) kota juga sedang diurus oleh Pak Firman."

Raizel yang duduk di sampingnya mengangkat beberapa lembar kertas.

"Anggaran konsumsi juga sudah aku hitung. Yah... meskipun ada beberapa juga yang tidak di ACC."

Azka mengangguk.

"Good."

Kemudian ia menoleh ke sisi kanan. Ke kembaran tak seirasnya yang berdiri penuh wibawa. Dengan tablet yang ia sangga di lengan kirinya.

Asna yang menyadari arah tatapan itu pun langsung membaca lembar susunan acara.

"Jadwal pembukaan sudah selesai. Pembagian tugas panitia juga tinggal menunggu jenis lomba yang dipilih."

Nada suaranya tenang.

Tidak tergesa.

Tidak pula terdengar seperti sedang menghadapi rapat yang melelahkan.

Berbeda jauh dengan saudara kembarnya yang sebelumnya duduk seenaknya.

Azka menunjuk papan tulis menggunakan ujung pulpen. Kemudian bangkit—berjalan mondar-mandir bagaikan seorang pemimpin perusahaan yang melihat kesimpulan hasil rapat.

Pandangannya menyapu ke seluruh tulisan pada papan tulis.

Basket.

Futsal.

Estafet.

Tarik tambang.

Tebak kata.

Dst...

Semuanya tertulis rapi.

Terlalu rapi.

Terlalu aman.

Azka menyipitkan mata.

"Bakalan boring sih ini."

Ungkapan itu langsung mencuri perhatian seisi ruangan.

Asna yang sedang merapikan spreadsheets-nya pun langsung memicingkan mata.

"Aku ada usul nih beberapa," sambung Azka lagi.

Raizel dan Nia saling berpandangan cemas. Nia bahkan perlahan menutup notebook-nya. Seolah bersiap menyelamatkan catatan rapat sebelum terjadi bencana.

Tiba-tiba—

Srettt...

Seluruh perencanaan yang sebelumnya disusun hampir matang, Azka hapus begitu saja. Meninggalkan satu sapuan panjang yang menghapus seluruh daftar hingga papan kembali putih.

Mata Nia langsung membelalak tak percaya. Telapak tangannya terangkat—hampir ingin menahan tindakan itu. Namun tetap saja terlambat untuk mencegah perbuatan Azka yang terlalu cepat.

Di depan, Azka berjalan untuk mengambil spidol yang tadi diletakkan di meja.

"Mending untuk kerja sama tim, kita pakai permainan tradisional aja."

Asna masih menyipit penuh tanda tanya. Meski belum ada niatan untuk menghentikan ulah kembarannya yang kadang memang, suka menghancurkan planning yang telah disusun rapi.

"Permainan tradisional?" tanya Nia pada akhirnya.

"Yep."

Pada bagian yang sebelumnya tertulis lari estafet, kini ia menuliskan sebuah permainan yang cukup familiar:

BENTENGAN.

Beberapa anggota OSIS mulai memperhatikan.

Merasa belum ada suara sanggahan dari bawahannya, Azka pun berbalik sembari tersenyum puas.

Jemarinya menunjuk ke udara seolah ingin meyakinkan bahwa permainan ini akan benar-benar worth it.

"Lari estafet itu cuma oper-operan tongkat."

Ia mengetuk perlahan papan tulis itu dengan pangkal spidolnya ke tulisan yang baru.

"Kalau bentengan..."

Azka mengangkat jari telunjuknya.

"Strategi, kecepatan, sama kerja sama tim... semuanya bakalan kepake."

Asna mengangguk kecil mendengarkan. Kemudian jemarinya mengetik setiap usulan baru itu pada tablet yang ada di lengannya.

Karena jujur saja, idenya terdengar masuk akal.

"Satu bisa jadi penjaga. Yang lain bisa menyusup. Bisa pakai strategi..."

"Dan lebih seru."

Asna perlahan mengangkat kepalanya.

"Cukup bisa menjadi bahan pertimbangan. Toh peralatan yang akan digunakan juga tak cukup sulit sebenarnya."

"Iya sih. Mungkin cuma butuh pilar atau tiang bendera sebagai base dari setiap tim. Apa perlu... kita buat base sendiri? Dengan minjem peralatan seperti tongkat dan tali dari anak-anak Pramuka?" sambung Jeremy. Yang selalu anak Pramuka, sekaligus pengurus OSIS.

Beberapa anggota yang lain nampak mengangguk-anggukkan setuju. Meski setiap barang pinjaman, memerlukan sebuah surat pinjam yang harus ditandatangani oleh pembina masing-masing ekstra.

"Bisa diatur."

Azka menoleh kearah Raizel.

"Nanti buatkan surat peminjaman ya, Zel. Untuk stempel dan tinta, ada di rak alat tulis biasanya."

Raizel mengangguk.

Kemudian Azka melanjutkan menulis permainan berikutnya.

Catur.

Lompat tali.

Seni musik.

Nama demi nama permainan berjejer rapi pada papan hingga ke nomor 9.

Dan pada nomor sepuluh, spidol itu ia ketukkan sekali hingga meninggalkan titik hitam tebal. Seolah ingin memberikan penegasan bahwa permainan terakhir ini akan menjadi puncak event yang akan mengguncang seluruh sekolahan.

Spidolnya menggantung di udara. Senyumnya perlahan melebar. Lalu menggosok kedua telapak tangannya.

10. Petak umpet.

Ruangan langsung hening. Beberapa anggota OSIS saling menatap keheranan.

Nia berkedip.

Raizel bahkan sampai menurunkan kertas anggarannya.

"Petak... umpet?"

Azka mengangguk mantap.

"Peraturannya tak akan sama dengan petak umpet yang biasa kalian mainkan pas masih bocil..."

Beberapa anggota menopang dagunya untuk mendengarkan penjelasan itu lebih seksama.

Jemari Asna yang sebelumnya mengetik untuk mencatat pada kolom tablet, ikut menggantung di udara.

"Sepuluh pencari."

Ia menulis angka besar di papan.

10 PENCARI

Kemudian di bawahnya—

10 TERSEMBUNYI

Alis beberapa anggota OSIS seketika terangkat. Seolah hampir mengerti keseruan apa yang akan timbul dari permainan petak umpet hasil modifikasi khas Azka ini.

Perlahan, arah gerak spidol itu membentuk garis panah. Seolah ingin menghubungkan antar keterikatan peraturan yang harus ditaati.

Setelahnya—

"Hah?!"

"Gila lu, Az?!"

"Gimana selesainya kalo kek gitu caranya?"

Beberapa anggota langsung membelalak.

Azka tak menggubris itu. Justru semakin bersemangat untuk menyelesaikan tulisannya.

BATAS ARENA: SATU SEKOLAHAN SMA NEGERI NUSA BANGSA

"Lu mau gue sembunyi diatas loteng sekolahan, Kak Azka?" tanya Nia tak percaya.

Azka malah mengangkat bahu.

"Kenapa enggak?"

Nia yang mendengar jawaban itu, hanya bisa menutup wajahnya dengan satu tangan.

"Ini bukan petak umpet tau nggak?"

Azka menoleh.

"Terus apa?"

"Ini simulasi pencarian orang hilang."

"Setuju!"

Nia mendongak dengan cepat.

"Justru itu yang membuat permainan ini seru" pungkas Azka penuh kepuasan.

Namun di balik semua itu, beberapa anggota OSIS mulai ikut memikirkan idenya.

Bentengan memang membutuhkan strategi.

Lompat tali cukup sederhana untuk dilakukan banyak peserta.

Dan petak umpet—meskipun terdengar konyol—bisa menjadi salah satu lomba paling ramai jika benar-benar dilaksanakan.

Raizel membuka kembali catatannya.

"Kalau petak umpet benar-benar dilakukan, kita perlu peraturan yang lebih ketat. Dan pengawas yang lebih banyak agar tak timbul kecurangan, atau tindakan yang berbahaya."

Asna langsung menambahkan.

"Jangan sampai ada yang masuk ke area terlarang seperti lab fisika yang masih dalam tahap renov. Atau ngelakuin hal nekat seperti nyemplung ke kolam ikan yang ada di deket parkiran mobil guru."

Azka mengangguk.

"Kalo soal keamanan, itu tugas gue."

Pandangan Azka beralih kepada seluruh anggota OSIS.

"Gue yang koordinasi sama guru. Area terlarang ditutup. Pengawas ditambah. Kalau ada aturan yang bikin permainan ini nggak aman, kita ubah."

Asna terdiam.

Baru kali ini sejak rapat dimulai, ia melihat Azka berbicara tanpa nada bercanda sedikit pun.

"Tapi..."

Azka tiba-tiba menyeringai.

"Kalo pada akhirnya memang berhasil bikin seru... kita tetep lanjutin."

"Anjir lah..."

Desahan itu berasal dari bangku Jeremy. Remaja itu menatap sinis kearah Azka yang kini kembali merapikan mejanya.

"Pantesan gue kalah sama lu pas pemilihan ketua dulu."

Jeremy bertepuk tangan dua kali.

"Tengil-tengil begini ternyata otak lu masih nyala juga rupanya."

Azka hanya tersenyum bangga tak membalas.

Perlahan, ruangan kembali bersiap untuk mengatur bagaimana aturan, larangan, dan hal-hal lain yang mungkin akan memakan waktu hingga jam pulang—atau bahkan molor.

Tanpa mereka sadari, papan tulis yang awalnya berisi daftar lomba biasa kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tidak masuk akal.

Bentengan.

Lompat tali.

Petak umpet satu sekolah.

Class meeting tahun ini...

Sepertinya tidak akan berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya.

1
Alia Chans
benci banget jam olahraga 😭😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!