Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Belum Selesai
Dengan langkah yang diusahakan setegap mungkin—meskipun Yasing dan Maul masih agak meringis memegangi pinggang mereka yang kram—keempat sahabat itu berjalan menelusuri lorong berlantai kaca transparan. Rasa lelah akibat membanting robot dan menabrak tiang-tiang besi raksasa seakan menguap begitu saja, berganti dengan rasa penasaran yang membuncah di dalam dada.
"Gila, gua masih gak nyangka kita beneran sampe di tahap ini," bisik Yasing dengan mata berbinar-binar. "Lu membayangkan gak sih, nanti jam tangan Mechabest gua bentuknya bakal kayak gimana? Pasti ada logo harimau api yang super keren!"
"Halah, palingan juga biasa aja. Yang jelas punya gua nanti pasti paling elegan," sahut Maul sambil membetulkan tatanan rambutnya menggunakan pantulan dinding kaca. Muka sok cool-nya sudah kembali seratus persen, seolah-olah lima menit lalu dia tidak baru saja menjerit gara-gara tertimpa besi.
"Kalian berdua tuh terlalu banyak berandai-andai," sela Alif sambil membetulkan letak kacamatanya dengan gaya sangat terpelajar. "Berdasarkan kalkulasi dan analisis rasional gua, desain jam tangan Mechabest itu disesuaikan sama kepribadian penggunanya. Jadi, punya gua pasti bakal penuh sama indikator holografik canggih buat menyusun strategi tempur."
"Dih, ngomong doang dipelihara, Lif! Kepribadian lu kan cuma ngomong doang, paling nanti jam lu isinya cuma tombol buat menyalakan rekaman suara lu sendiri!" semprot Sahla yang langsung disusul gelak tawa dari Yasing dan Maul.
"Enak aja! Lihat aja nanti!" sungut Alif tidak terima.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu ganda berukuran raksasa yang terbuat dari bahan paduan titanium mengkilap. Di atas pintu itu, terdapat papan tanda bertuliskan RUANG UTAMA PENGARAHAN MECHABEST.
BZZZZZT!
Pintu raksasa itu bergeser terbuka secara otomatis. Begitu mereka melangkah masuk, pemandangan luar biasa langsung menyambut indra penglihatan mereka. Ruangan itu sangat luas, bertingkat, dan dipenuhi oleh berbagai meja kontrol canggih dengan puluhan layar monitor transparan melayang di udara.
Di tengah ruangan, telah berdiri lima orang yang tampak sangat berwibawa.
Teh Caca berdiri di paling depan dengan gaya khasnya yang santai tapi tegas. Di sampingnya, ada seorang pria muda berkacamata canggih yang memegang papan ketik holografik, seorang cowok berpenampilan santai dengan jaket bertudung, seorang gadis muda berkostum taktis kebiruan yang tersenyum manis, dan seorang pria tua berambut serta berjanggut putih lebat yang mengenakan jas laboratorium putih melayang.
"Wah, rame banget..." gumam Sahla sambil celingukan ke sekeliling ruangan.
Teh Caca melangkah maju dua tindak, menatap empat remaja di depannya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Ruang Utama Mechabest. Karena tadi di awal cuma gue yang sempat perkenalan, sekarang saatnya kalian kenalan sama orang-orang penting di balik operasional Mechabest."
Pria muda berkacamata canggih melangkah maju pertama kali. Dia tersenyum ramah. "Satu per satu ya. Nama gua Opik. Gua yang memegang bagian analisis data, pelacakan target, dan pengembangan strategi di Mechabest. Rekaman drone yang mengawasi kalian waktu nolongin nenek-nenek di penyeberangan jalan itu... gua yang operasikan."
"Ooh! Jadi Abang yang ngintipin kita dari jauh pake drone?!" seru Yasing sambil menunjuk Opik. "Wah, pantesan serasa ada yang ngeliatin!"
Opik hanya terkekeh pelan. "Itu namanya pemantauan calon pahlawan, Yasing."
Selanjutnya, gadis muda berkostum kebiruan melangkah maju dengan anggun. "Halo semuanya! Nama aku Clairine. Aku pemegang armor Mecha Water. Salam kenal ya! Mulai sekarang kalian bisa panggil aku Clairine, atau bebas terserah kalian!"
"Susah amat sih namanya. Yaudah gua panggil kelay aja ya?" kata Yasing sambil menggaruk kepalanya.
"Terserah lah sakarep lu dah" balas Clairine
Kemudian, pria tua berjas lab melangkah maju sambil mengelus janggut putihnya yang tebal. Matanya memancarkan kearifan sekaligus kecerdasan luar biasa. "Dan saya adalah Profesor Einstein. Kepala pusat penelitian, pengembangan teknologi, sekaligus pimpinan tertinggi dari organisasi Mechabest ini. Selamat atas pencapaian kalian sejauh ini, anak-anak muda berhati mulia."
"Salam kenal, Prof!" jawab Yasing, Maul, Alif, dan Sahla serempak sambil membungkukkan badan penuh rasa hormat.
Terakhir, cowok berjaket tudung yang dari tadi menyandarkan tubuhnya di pilar besi melangkah maju dengan santai. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Gua Pasya. Pemegang Mecha Poison. Udah gitu aja."
"Singkat, padat, jelas," gumam Maul pelan, merasa aura Pasya lumayan mirip dengan gaya sok cool-nya, bedanya Pasya kelihatan kayak bocah plenger yang sok cool sedangkan dia emang cocok jadi orang cool.
Setelah seluruh proses perkenalan selesai, suasana di ruangan itu mendadak hening sejenak. Sahla yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa penasarannya, langsung melompat kecil dengan raut wajah yang sangat girang. Matanya berbinar-binar menatap Teh Caca.
"Teh! Teh Caca! Mana, mana Mecha Watch aku?! Udah enggak sabar banget nih mau ganti status di sosmed jadi anggota Mechabest!" seru Sahla heboh sambil menyodorkan kedua tangannya ke depan.
Teh Caca baru saja mau membuka mulutnya untuk merespons, namun tiba-tiba...
Pasya melangkah maju dengan sangat cepat. Dia menyergap ke depan, menurunkan tudung jaketnya, lalu menghirup napas dalam-dalam.
"THIS IS PRANK!!!"
Teriakan Pasya menggelegar kencang banget tepat di depan muka Yasing, Maul, Alif, dan Sahla! Suaranya yang begitu keras sampai memantul di dinding-dinding titanium ruangan, membuat keempat remaja itu meloncat kaget setengah mati. Sahla bahkan hampir tertungging ke belakang kalau tidak ditahan oleh jaket Maul.
"ANJIR! KAGET GUA!" jerit Yasing sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Bang Pasya... ya ampun, telinga gua langsung berdengung..." keluh Alif sambil mengucek-ngucek telinganya yang melengking.
Pasya menyeringai lebar, menatap keempat remaja yang wajahnya mendadak cengo dan lemas.
"Kalian pikir udah selesai? Hah?! Belom!" seru Pasya dengan nada memprovokasi, memutar tubuhnya sambil bersedekap dada. "Kalian kira gampang banget mau dapet jam perubah Mechabest cuma gara-gara berhasil merusak beberapa robot latihan dan tiang besi? Masih ada satu tahap lagi yang harus kalian lewati!"
"Hah?! Masih ada lagi?!" keluh Yasing dan Maul serempak dengan raut muka yang merana.
"Sekarang kalian pergi ke arena pertarungan. Cepat!" perintah Pasya tegas, menunjuk ke arah pintu besi raksasa yang berada di sisi sebelah kanan ruangan.
Meskipun rasa kecewa dan lelah membuncah di dalam dada, mereka berempat tidak punya pilihan lain. Dengan bahu yang terkulai lemas dan muka cemberut, Yasing, Maul, Alif, dan Sahla berjalan menuruni tangga menuju arena pertarungan utama.
Arena pertarungan utama ini ukurannya jauh lebih masif ketimbang ruangan simulasi sebelumnya. Arena ini dikelilingi oleh benteng pelindung energi berbentuk kubah transparan. Lantainya terbuat dari lempengan baja khusus yang dirancang untuk menahan dampak ledakan energi skala besar.
Keempat sahabat itu kini berdiri berjejer di tengah arena. Suasana terasa sunyi, hanya terdengar suara dengung halus dari generator energi di bawah tanah.
"Aduh... gua udah capek banget padahal," gerutu Sahla sambil menyelonjorkan kakinya di lantai baja. "Mana lapar lagi, belum sempat makan siang."
"Sama, La. Gua rasa otot dada gua udah mau lepas gara-gara nabrak besi tadi," tambah Yasing sambil memegangi bahunya.
"Sudah, terima saja kenyataan," kata Alif sok pasrah. "Secara dramaturgi cerita pahlawan, ujian terakhir itu memang selalu muncul di saat-saat paling melelahkan."
"Diem deh, Alif. Lu tadi kan paling santai di Ninja Warrior!" semprot Maul yang masih jengkel.
GERRR-KLAK!
Tiba-tiba, suara mekanisme rantai besi berukuran raksasa bergema keras dari ujung arena. Pintu gerbang besi setinggi sepuluh meter yang berada tepat di depan mereka mulai terangkat perlahan ke atas. Udara dingin bercampur embun uap tekanan tinggi keluar merembes dari balik gerbang tersebut.
Dari dalam kegelapan lorong di balik gerbang, terdengar langkah kaki berirama berat. TAK! TAK! TAK!
Dua sosok melangkah keluar dari dalam uap putih. Begitu uap itu mengurai, mata Yasing dan kawan-kawan membelalak lebar.
Di sebelah kiri, berdiri Pasya. Tapi dia bukan lagi Pasya yang mengenakan jaket tudung biasa. Seluruh tubuhnya kini terbalut oleh armor bertema futuristik berwarna hitam legam dengan garis-garis ungu berpendar terang. Di bagian punggungnya, terdapat ekor mekanis berbisa beruas-ruas yang meliuk-liuk di udara seperti kalajengking sang pemburu.
Pasya — Mecha Poison (Mode Kalajengking).
Di sebelah kanan, berdiri Clairine. Baju taktis kebiruannya telah bertransformasi menjadi armor aerodinamis berwarna biru laut mengkilap dengan aksen putih perak. Di bagian helmnya, bentuk sirip hiu yang tajam terukir megah, dan di kedua tangannya terpasang pedang ganda berbentuk sirip pemotong yang dialiri arus air bertekanan tinggi.
Clairine — Mecha Water (Mode Hiu).
Aura tekanan dari kedua pahlawan senior itu terasa sangat kuat dan mengintimidasi, membuat udara di dalam arena terasa makin berat untuk dihirup.
"Waduh... ini mah bukan ujian lagi, ini namanya penyiksaan!" pekik Sahla histeris, refleks bergerak mundur sampai menyentuh batas kubah pelindung.
"Lu... kok jadi serem banget, Clai?!" cicit Alif dengan wajah pucat pasi.
Pasya menggerakkan ekor kalajengking mekanisnya ke depan, menunjuk langsung ke arah Yasing dan kawan-kawan. Ujung sengat ungu berpendar itu memancarkan aura berbahaya. "Di tahap terakhir ini, kalian harus bertahan dari serangan kita berdua! Kalau kalian bertahan selama lima menit tanpa pingsan, kalian baru resmi dinyatakan lulus!"
"Beneran harus lawan mereka tanpa senjata apa-apa?!" jerit Yasing panik.
TAP! TAP! TAP!
Langkah kaki terdengar dari arah belakang mereka. Teh Caca berjalan masuk ke dalam arena pertarungan dengan santai. Di kedua tangannya, dia membawa sebuah kotak koper besi berlogo Mechabest yang berpendar emas.
Teh Caca berhenti tepat di samping Yasing. Dia meletakkan koper besi itu di atas tanah, lalu menekannya hingga koper itu terbuka secara otomatis.
KLIK! BZZZZT!
Di dalam koper berlapis busa pengaman tersebut, terbaring empat buah jam tangan berdesain sangat canggih dengan berbagai warna dominan: Merah membara, Kuning keemasan, Biru toska, dan Pink.
"Teh Caca tak setega itu membiarkan kalian bertarung pakai tangan kosong," ujar Teh Caca sambil tersenyum hangat.
Dia mengambil jam-jam tersebut dan membagikannya satu per satu kepada empat remaja di depannya.
"Yasing, ini Mecha Watch Damage buat lu. Kekuatan harimau tempur ada di dalamnya," kata Teh Caca sambil memasangkan jam berwarna merah ke pergelangan tangan kiri Yasing.
"Maul, ini Mecha Watch Tank. Pertahanan badak besi siap melindungi lu dan tim lu," Teh Caca memakaikan jam berwarna kuning ke tangan Maul.
"Alif, ini Mecha Watch Fly. Keterampilan elang udara ada di tangan lu," jam berwarna hijau toska terpasang rapi di lengan Alif.
"Dan Sahla, ini Mecha Watch Speed. Kecepatan kilat cheetah jadi milik lu," Teh Caca memakaikan jam berwarna biru muda ke pergelangan tangan Sahla.
Keempat sahabat itu menatap jam tangan canggih di pergelangan mereka dengan rasa takjub yang tak terlukiskan. Permukaan jam itu memancarkan cahaya lembut yang berdenyut seirama dengan detak jantung mereka masing-masing.
Teh Caca mundur beberapa langkah, lalu menatap mereka penuh percaya diri. "Pakai jam itu! Tekan tombol utama di samping jam, dan teriakkan kata kunci perubah kalian: MECHABEST ACTIVATE! tunjukkan pada Pasya dan Clairine kalau kalian layak jadi pelindung Kota Mecha!"
Yasing menatap tiga sahabatnya. Rasa takut, lelah, dan ragu yang tadi menyelimuti hatinya mendadak sirna digantikan oleh api semangat yang membakar hebat. Maul mengepalkan tangannya, Alif membetulkan posisi kacamatanya dengan senyum percaya diri, dan Sahla berdiri tegap dengan pandangan tajam.
"Guys!" teriak Yasing mantap, mengacungkan lengan kirinya ke udara. "Saatnya kita tunjukkan aksi kita yang sebenarnya!"
"Ayo!" balas Maul, Alif, dan Sahla serempak.
Secara bersamaan, keempat sahabat itu menekan tombol utama pada Mecha Watch masing-masing. Cahaya silau berwarna-warni meluncur membumbung tinggi menembus atap arena pertarungan!
"MECHABEST ACTIVATE!"