NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 Keputusan Papa yang Mengubah Segalanya

Suasana malam di ruang makan rumah kami terasa begitu tenang, hangat, dan damai. Bau harum masakan kesukaan ku masih tercium samar-samar, memenuhi ruangan yang diterangi lampu gantung berwarna keemasan yang memancarkan cahaya lembut. Di atas meja kayu jati yang megah itu sudah tersaji lengkap berbagai hidangan lezat. Papa duduk di ujung meja, wajahnya tampak tenang namun terlihat begitu gagah dan berwibawa. Di sebelahnya duduk Mama, wanita yang selalu tampak lembut dan anggun, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya seakan selalu menyelimuti suasana dengan kasih sayang yang tak bertepi. Dan aku, Lisna, duduk berhadapan dengan mereka, masih dengan semangat menceritakan hari hariku di kampus, tertawa renyah sambil sesekali menyesap air putih, sama sekali tak menyadari bahwa detik-detik berikutnya akan mengubah seluruh jalan hidupku selamanya.

“Papa, Mama, tahukah kalian? Hari ini di kelas ada hal yang sangat seru terjadi! Teman sebelahku sampai tertawa terbahak-bahak hingga membuat seluruh kelas menoleh padanya!” ceritaku bersemangat, mataku berbinar penuh kegembiraan. Tanganku bergerak lincah mengiringi ceritaku, begitu asyik bercerita hingga tak menyadari bahwa Papa hanya diam saja, sesekali mengangguk pelan tanpa senyum yang biasanya merekah di wajahnya. Mama juga hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan—terdapat kelembutan, namun diselimuti pula oleh sesuatu yang berat, seakan ada sesuatu yang berat sekali sedang tersimpan rapat di hatinya.

Pelan namun pasti, suara Papa terdengar memotong ceritaku yang masih mengalir deras. Nadanya tenang, rendah, namun begitu tegas dan berwibawa sehingga seketika membuat suasananya berubah hening seketika. “Lisna, hentikan sejenak ceritamu. Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan denganmu malam ini.”

Kalimat itu begitu ringkas, namun beratnya seakan menekan dadaku. Perlahan tanganku yang tadi masih bergerak lincah kini terhenti di udara, lalu jatuh terkulai di pangkuan. Senyum perlahan menghilang dari bibirku. Aku menatap wajah Papa lekat-lekat, berusaha mencari makna di balik tatapan matanya yang teduh namun tampak begitu serius malam ini. Ada sesuatu yang tak biasa. Jantungku perlahan mulai berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya.

“Ada apa, Papa?” tanyaku pelan, suaraku terdengar sedikit bergetar meski kucoba sebisa mungkin untuk tetap tenang. “Apakah ada kesalahan yang telah Lisna perbuat?”

Papa menggeleng pelan. Diambilnya napas panjang terlebih dahulu, seakan sedang mengumpulkan seluruh kekuatan dan kesabaran untuk mengucapkan kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya. “Bukan begitu, Nak. Kamu tidak bersalah sama sekali. Justru… Papa hendak menyampaikan sesuatu yang sangat besar maknanya bagi masa depanmu. Sesuatu yang telah lama menjadi janji, dan kini saatnya untuk ditepati.”

Hatiku mencelos. Perasaanku tiba-tiba saja menjadi tak enak. “Janji? Janji apa yang Papa maksud?”

Papa menatapku dalam, seakan ingin memastikan setiap kata yang diucapkannya terserap sepenuhnya oleh hatiku. “Dulu, jauh sebelum engkau lahir ke dunia, Papa dan sahabat baik Papa telah bersepakat untuk menjodohkanmu dengan putranya. Janji itu telah terucap di hadapan banyak orang, dan tak sepantasnya janji tersebut diingkari. Sekarang waktunya telah tiba, Lisna. Kamu akan segera dinikahkan.”

Seketika itu juga, rasanya seakan bumi berhenti berputar di bawah kakiku. Udara di ruangan yang tadi terasa begitu hangat dan nyaman, kini seakan berubah menjadi dingin dan sesak. Napasku tertahan sejenak di kerongkongan. Mataku terbelalak tak percaya menatap kedua orang tuaku bergantian, berharap ada secercah canda atau senyum yang menyiratkan bahwa ini hanyalah gurauan semata. Namun tak ada sedikit pun tanda bercanda di wajah mereka. Wajah Papa tetap serius, mantap, dan tak tergoyahkan. Wajah Mama tampak sayu, penuh keharuan namun tak membantah sepatah kata pun yang diucapkan oleh Papa.

“Dijodohkan?” ulang kata-kata itu dari mulutku, suaraku nyaris berbisik namun penuh keputusasaan. “Papa menyuruhku menikah? Sekarang? Saat aku masih menjadi mahasiswi semester tiga? Saat impianku masih panjang dan cita-citaku belum tercapai sedikit pun?”

“Benar, Nak,” sahut Mama pelan, tangannya terulur menyentuh punggung tanganku dengan penuh kasih sayang seakan ingin menenangkan gelombang badai yang tiba-tiba melanda hatiku. “Percayalah, ini semua demi kebahagiaanmu. Pria itu berasal dari keluarga baik-baik, berpendidikan tinggi, berakhlak mulia, dan Papa serta Mama sudah mengenalnya serta keluarganya sejak lama. Dia adalah pilihan terbaik untuk mendampingimu seumur hidup.”

“Tapi Lisna belum pernah bertemu dengannya, Ma! Lisna tak tahu siapa dia, bagaimana sifatnya, atau seperti apa hatinya!” suaraku mulai meninggi, air mata perlahan mulai menggenang di pelupuk mataku. Rasa takut, kecewa, dan bingung bercampur menjadi satu meluap tanpa dapat kutahan lagi. “Lisna masih ingin melanjutkan kuliah, meraih impian, membangun masa depan dengan caraku sendiri! Bagaimana mungkin Papa memutuskan hal sebesar ini tanpa menanyakan keinginan hatiku terlebih dahulu?”

“Karena Papa tahu apa yang terbaik untukmu, Lisna!” potong Papa dengan suara sedikit meninggi, namun tetap berusaha menjaga kendali atas emosinya. “Janji adalah janji. Kehormatan keluarga turut dipertaruhkan di sini. Kamu anak berbakti, Papa yakin engkau tak akan menyusahkan Papa dengan menolak keputusan ini.”

Kalimat itu seperti palu godam yang menghantam dadaku. Kehormatan keluarga, pengabdian, kewajiban… semua beban itu seakan ditimpakan begitu saja ke atas pundakku yang masih terasa begitu muda. Aku terdiam mematung, menatap kosong ke arah piring di depanku yang sama sekali tak tersentuh. Rasa syahdu menjalar perlahan di sekujur tubuhku. Ternyata, kebebasan yang kurasakan selama ini hanyalah ilusi belaka. Di masa depan yang kubayangkan penuh warna dan impian, ternyata telah digariskan jalan lain yang sama sekali tak pernah kusetujui. Semua keputusan telah diambil tanpa memberiku kesempatan untuk memilih.

“Siapa pria itu, Pa?” tanyaku akhirnya, suaraku pecah diiringi buliran air mata yang mulai menetes membasahi pipi. “Setidaknya… beri aku tahu siapa yang akan menjadi tuanku kelak.”

Papa menarik napas panjang sekali lagi, menatapku dengan sorot mata yang berusaha tegar namun tersirat pula rasa iba di sana. “Engkau akan mengetahuinya dalam waktu dekat ini, Nak. Bersabarlah dan terimalah dengan lapang dada. Papa berjanji engkau tak akan menyesal. Dia adalah pria luar biasa yang kelak akan membuatmu hidup penuh kebahagiaan.”

Aku tak lagi menjawab sepatah kata pun. Kukunci rapat bibirku, menelan sisa-sisa rasa pahit yang mendadak memenuhi rongga hatiku. Makan malam yang sedari tadi terasa begitu nikmat kini berubah menjadi hambar dan menyisakan rasa getir yang tak tertahankan. Perlahan aku berdiri, kursi kayu itu terdengar berdecit pelan memecah keheningan ruangan. Aku menatap Papa dan Mama sekali lagi, lalu membungkuk sopan meski hatiku sedang hancur berkeping-keping.

“Maafkan Lisna, Pa, Ma. Lisna sedang tak berselera untuk makan malam.”

Dengan langkah gontai dan air mata yang tak sanggup lagi kubendung, aku melangkah meninggalkan ruang makan itu. Punggungku memunggungi mereka yang masih diam terpaku di tempatnya. Langkah kakiku terasa begitu berat seakan ada rantai besar yang mengikat kakinya. Setiap langkah yang kuambil terasa menjauhkanku dari masa depan yang kucita-citakan, dan menyeretku masuk ke dalam sebuah takdir yang sama sekali tak kuinginkan.

Sampainya di dalam kamar, aku mengunci pintu rapat-rapat, lalu tubuhku merosot jatuh terkulai bersandar di balik pintu itu. Air mataku tumpah begitu saja tanpa dapat kucegah lagi. Dadaku terasa sesak luar biasa. Rasanya dunia seakan runtuh dan berubah kelabu dalam sekejap mata. Keputusan Papa malam ini benar-benar telah mengubah segalanya. Kebebasanku, pilihanku, masa depanku… seakan semuanya telah dirampas begitu saja.

Siapakah pria itu? Mengapa aku harus menikah dengannya? Dan akankah aku sanggup menjalani hidup bersama seseorang yang sama sekali tak kukenal? Ribuan pertanyaan berputar liar di kepalaku, menimbulkan kegelisahan yang tak kunjung usai. Malam itu, di dalam kesunyian kamarku, aku baru menyadari bahwa hidup yang kuketahui selama ini telah berakhir. Dan entah dengan rasa apa, aku harus mulai melangkah memasuki babak baru yang sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!