Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata CEO" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Nyonya Kirana sangat terkejut dan cemas setelah mendengar cerita Tuan Bahtiar tentang kejadian tak mengenakkan yang dialami sang menantu. Ia bahkan sempat emosi karena tidak terima Kahiyang diperlakukan seperti itu. Ia pun berinisiatif menghibur dengan mengajaknya bersenang-senang.
Keesokan paginya, kebetulan akhir pekan, Nyonya Kirana sudah bersiap sejak pagi untuk menjemput Kahiyang di rumahnya.
Sultan yang berada di depan rumah sedang berolahraga, segera menyambutnya dengan senyum hangat ketika melihat sang ibu turun dari mobil.
“Assalamualaikum, Ma. Tumben pagi-pagi sudah datang kemari, ada apa?” sapanya seraya meraih tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya.
“Waalaikumsalam.” Nyonya Kirana membalas salam, tetapi pandangannya justru langsung mengarah ke dalam rumah. “Mana Kahiyang, menantu mama?”
Sultan mengangkat sebelah alisnya. Dia bahkan sempat menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang lain di dekat mereka.
“Ma, aku ada di hadapan Mama, loh. Kenapa malah Ayangku yang Mama cari?” protesnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Nyonya Kirana terkekeh kecil. “Ya, suka-suka mama, dong. Lagi pula mama memang datang kemari untuk menemui Kahiyang, bukan kamu.”
Sultan mengusap tengkuknya. “Anak sendiri sekarang sudah kalah saing sama menantu,” gerutunya pasrah.
Nyonya Kirana hanya mengangkat bahunya cuek mendengar gerutuan anaknya.
Dari dalam rumah, Kahiyang yang mendengar suara Nyonya Kirana segera keluar. Begitu melihat ibu mertuanya, wajahnya langsung cerah.
“Eh, Mama. Kapan datang?” sapanya sambil menghampiri, lalu menyalami tangan Nyonya Kirana dan mencium kedua pipinya.
“Mama barusan datang, Sayang.” Nyonya Kirana tersenyum hangat sambil memegang bahu Kahiyang.
Tatapannya kemudian mengamati wajah menantunya beberapa saat. “Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lebih baik?”
Kahiyang mengangguk pelan. “Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Ma."
“Benar...?” Nyonya Kirana memastikan dengan penuh perhatian. “Jangan cuma bilang baik, karena nggak mau membuat mama khawatir.”
Kahiyang tersenyum kecil. “Benar, Ma. Kemarin memang masih sempat kepikiran, tapi sekarang sudah nggak lagi.”
“Syukurlah...” Nyonya Kirana mengangguk perlahan. “Kalau begitu... kamu ikut mama. Hari ini kita bersenang-senang.”
Kahiyang mengerutkan kening. “Hahhh... ke mana, Ma?”
"Nanti kamu akan tahu. Lebih baik sekarang segera bersiap," perintah Nyonya Kirana seraya mengusap pundak Kahiyang lembut.
Sultan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka langsung menyela, “Aku boleh ikut ya, Ma?”
Nyonya Kirana langsung menoleh ke arah putranya. “Kamu di rumah saja. Kalau mau, temani Papa mancing sana!"
“Karena mama mau menghabiskan waktu bersama menantu mama. Lagian, kamu kan, setiap hari bisa bersama istrimu.”
Sultan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. "Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu malam," pesannya pada sang ibu. "Mama kan, suka lupa waktu kalau sudah belanja.”
Nyonya Kirana langsung tertawa kecil. "Kamu tenang aja nggak usah khawatir."
Kahiyang sendiri bergegas masuk ke dalam rumah untuk berganti baju, begitu Sultan mengijinkannya pergi. Hingga beberapa saat kemudian ia sudah turun kembali dan menghampiri suami serta ibu mertuanya.
"Aku sudah siap, Ma," katanya. Ia mengenakan gamis warna sage, dipadukan dengan hijab bermotif warna senada. Terlihat sangat manis membalut tubuh dan kepalanya.
Sultan menyipitkan matanya menatap sang istri. "Ayangku, kenapa dandan cantik? Kamu kan, nggak jalan sama suamimu? Gimana kalau ada yang melirikmu?"
Nyonya Kirana menggelengkan kepala sembari menatap putranya tajam. “Daripada banyak komentar, lebih baik bantu bukakan pintu mobil.”
Mau tak mau Sultan pun berjalan lebih dulu guna membukakan pintu untuk kedua wanita yang sangat dicintainya.
Setelah berpamitan, sopir lalu melajukan mobil, meninggalkan Sultan sendirian di rumah.
...
Hari itu benar-benar menjadi hari khusus bagi Kahiyang. Nyonya Kirana membawanya mengelilingi pusat perbelanjaan. Mereka masuk dari satu butik ke butik lainnya, memilih pakaian, tas dan sepatu, hingga mampir ke toko perhiasan.
Setiap kali Kahiyang hendak menolak karena merasa barang yang dipilih terlalu mahal, Nyonya Kirana justru menggeleng.
“Kalau mau, kamu bisa membelikannya untuk ibumu atau adik-adikmu,” ucapnya seraya menyerahkan sebuah tas bermerek kepada Kahiyang sambil tersenyum. “Anggap saja ini hadiah dari mama.”
“Tapi ini sudah cukup, Ma.” Kahiyang mengembalikan tas itu perlahan, merasa tidak enak hati pada ibu mertuanya yang terlalu baik.
“Nggak ada istilah cukup. Karena hari ini mama memang sedang ingin memanjakan menantunya.” Nyonya Kirana kembali menyodorkan tas tersebut. “Ayo, jangan membuat mama kecewa.”
Kahiyang akhirnya hanya bisa tersenyum meringis menerima tas itu.
Setelah puas berbelanja, mereka makan siang bersama. Obrolan ringan membuat suasana semakin hangat. Nyonya Kirana sengaja menghindari pembicaraan yang terlalu serius agar Kahiyang benar-benar bisa melupakan kejadian kemarin.
Selesai makan, mereka kembali masuk ke dalam mobil.
“Kita pulang sekarang, Ma?” tanya Kahiyang sambil memasang sabuk pengaman.
Nyonya Kirana tersenyum sembari menatapnya dari samping. “Belum. Kita masih akan pergi ke salon.”
Kahiyang langsung menoleh mendengar jawaban itu. “Salon...?”
"Iya... mama ingin kamu melakukan perawatan supaya Sultan makin bucin sama kamu. Selain itu supaya pikiranmu rileks setelah kejadian kemarin. Mama mau kamu pulang dengan hati senang,” ujar Nyonya Kirana, lalu meminta sopir menjalankan mobil.
Lagi-lagi Kahiyang hanya bisa tersenyum pasrah. “Terima kasih, Ma.”
“Nggak perlu berterima kasih.” Nyonya Kirana menepuk lembut tangan menantunya. “Mama melakukan ini karena mama sayang sama kamu.”
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan salon kecantikan langganan Nyonya Kirana. Kahiyang turun dan berjalan berdampingan dengan ibu mertuanya memasuki salon. Kemudian segera menuju meja resepsionis untuk melakukan registrasi ulang.
Sementara itu, tak jauh dari mereka, Cantika dan Bu Retno yang kebetulan juga berada di sana menunggu antrean, langsung terkejut melihat kedatangan keduanya.
Cantika menatap Kahiyang beberapa saat lalu berbisik, “Bu, itu Kahiyang dan ibu mertuanya, kan?”
Bu Retno mengalihkan pandangan ke arah Kahiyang. “Iya. Ngapain mereka datang ke salon seperti ini? Memangnya punya uang untuk perawatan di sini?"
Ucapan itu terdengar cukup jelas hingga membuat Kahiyang menoleh. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Nyonya Kirana sudah lebih dahulu menghentikan langkahnya. “Kenapa memangnya, masalah buat kalian?” tanyanya tenang.
Cantika terkekeh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Nggak apa-apa, sih. Cuma heran saja. Salon ini kan, mahal, orang seperti kalian mana cocok?"
“Betul. Jangan sampai nanti sudah selesai perawatan, malah nggak sanggup bayar. Kecuali kalau dapat voucher gratisan." timpal Bu Retno, nada suaranya terdengar meremehkan.
Kahiyang mulai tidak nyaman. Ia menarik napas dan hendak membuka mulut, tetapi Nyonya Kirana kembali mendahuluinya. “Kalau soal pembayaran, sepertinya kalian tidak perlu khawatir.”
Cantika tertawa mengejek sambil mengangkat alis. “Memangnya kalian mampu?”
Nyonya Kirana baru saja hendak menjawab ketika manager salon itu, yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya datang menghampiri.
“Selamat datang, Nyonya Kirana.” Manager itu tersenyum ramah sambil sedikit membungkukkan tubuh. “Kami sudah menyiapkan ruangan VIP seperti biasa.”
Seketika suasana menjadi hening. Cantika dan Bu Retno saling menatap.
Manager itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kahiyang.
“Dan untuk Nyonya Kahiyang, semua perawatan hari ini akan kami layani sesuai permintaan Nyonya Kirana.”
Cantika mengernyitkan kening. “Tunggu... Nyonya Kirana?”
Manager itu mengangguk sopan. “Benar, Bu. Beliau ini adalah salah satu member VIP kami."
Senyum di wajah Cantika perlahan menghilang. Bu Retno yang tadi paling lantang mencibir pun mendadak terdiam, kehilangan kata-kata.
lanjuut thor