NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenal Dunia Baru

Setelah beberapa suapan, Eve mulai memperhatikan Bastian lagi. Pria itu berdiri tidak jauh dari meja dengan sikap tenang, sesekali memberi arahan kepada pelayan lain yang sedang mengatur hidangan. Dari caranya berbicara dan bagaimana pelayan lain langsung mengikuti instruksinya.

'Kharisma kepala pelayan emang beda ternyata'

Kalau begitu, dia orang yang tepat untuk ditanya,

Eve menelan telur yang baru saja dimakannya, lalu mengangkat wajah. Namun sebelum sempat bertanya, dia teringat sesuatu dan matanya kembali bergerak ke sekeliling ruangan.

Masih belum ada siapa-siapa.

Kemarin malam dia juga belum melihat Cedric maupun anak Duke yang satunya. Kalau mereka memang tinggal di mansion ini, seharusnya cepat atau lambat mereka akan muncul. Eve jadi penasaran apakah mereka sedang pergi atau memang belum pulang.

Dia mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke meja kecil tanpa sadar, sambil berpikir. Lebih baik bertanya langsung daripada terus membuat dugaan sendiri. Dia sekarang anak kecil. Bertanya tentang keluarganya sendiri seharusnya tidak terlihat aneh.

"Bactiyan," panggil Eve akhirnya.

Bastian yang sedang memeriksa salah satu hidangan segera menoleh. "Ya, Nona?"

Eve menunjuk kursi-kursi kosong di sekitar meja. "Yan lain... beyum matan?"

Bastian tampak memahami maksud pertanyaannya. Dia berjalan mendekat sebelum menjawab dengan tenang, "Maksud Nona adalah anggota keluarga lainnya?"

Eve mengangguk.

"Untuk saat ini, Tuan Cedric belum berada di kediaman," jawab Bastian. "Begitu juga dengan Tuan Muda yang lainnya."

Eve berhenti mengunyah.

'Belum berada di kediaman?'

Eve menelan makanannya sebelum kembali bertanya, "Meleta peldi?"

"Ya, Nona. Keduanya memiliki urusan masing-masing."

"Oh..."

Eve kembali menunduk pada piringnya. Jawaban itu memang belum memberikan banyak informasi, tetapi setidaknya dia sekarang tahu alasan kenapa sejak kemarin belum bertemu mereka.

Dia mengambil sepotong buah dan menggigitnya pelan.

Kalau begitu, rencananya untuk mengamati keluarga Valois harus ditunda sedikit. Eve tidak kecewa, sebaliknya mungkin dia masih memiliki banyak waktu.

Eve melirik Bastian lagi. Ada satu hal yang lebih penting untuk ditanyakan, tetapi dia ragu sejenak. Kalau dia langsung bertanya tentang kematian Aveline, tentu akan terdengar aneh. Anak empat tahun yang baru datang ke keluarga ini tiba-tiba bertanya siapa yang pernah meracuninya sendiri?

Tidak masuk akal.

Dia harus mencari informasi sedikit demi sedikit. Eve menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil memainkan potongan buah di atas piring.

"Bactiyan."

"Ya, Nona?"

"Di lumah ini... banyat peyayan?"

Bastian terdiam sesaat, mungkin tidak menyangka pertanyaan itu.

"Cukup banyak, Nona," jawabnya kemudian. "Kediaman Duke memiliki beberapa bagian yang membutuhkan pengelolaan berbeda."

Eve mengangguk pelan.

'Berarti banyak orang yang keluar masuk, mungkin bakal susah buat nentuin siapa pelakunya'

Itu justru membuat pencarian pelakunya nanti menjadi lebih merepotkan.

Kalau racun diberikan melalui makanan atau minuman, jumlah orang yang memiliki akses ke dapur dan ruang makan juga perlu diperhatikan. Kalau melalui obat, daftar orangnya tentu berbeda lagi. Dan kalau racunnya berasal dari benda lain, dia harus mencari tahu kapan Aveline mulai menunjukkan gejala.

Pikiran Eve mulai bergerak seperti saat dia menangani kasus lama di kehidupannya dulu. Namun, dia mengurungkan kembali pemikiran nya yang berbelit-belit itu. Dia bahkan belum tahu kapan kematian Aveline terjadi. Lagipula, penyelidikan tanpa data cuma menghasilkan dugaan.

Eve mengambil susu dan meminumnya beberapa teguk.

Bastian memperhatikan Eve yang tiba-tiba menjadi diam. "Apakah ada sesuatu yang Nona butuhkan?"

Eve menggeleng.

"Dak ada."

Dia kemudian kembali fokus pada sarapan.

Setelah sarapan selesai, mungkin dia bisa meminta seseorang mengajaknya berkeliling mansion. Dengan begitu, dia bisa mengenal tempat ini sekaligus melihat siapa saja yang bekerja di dalamnya.

Eve mengambil potongan roti terakhir.

'Pelan-pelan aja.'

Dia menggigitnya sambil mengayunkan kedua kakinya yang bahkan belum menyentuh lantai.

Bagaimanapun juga, sekarang dia punya waktu.

Dan kalau keberuntungan masih berpihak kepadanya, dia ingin menggunakan waktu itu sebanyak mungkin sebelum cerita mulai bergerak menuju bagian yang tidak bisa dia kendalikan.

Setelah menghabiskan sarapannya, Eve akhirnya meletakkan sendok dan bersandar pada kursinya. Perutnya sudah cukup kenyang untuk membuat pikirannya bekerja lebih baik.

Dia sempat memperhatikan Bastian yang masih berdiri tidak jauh dari meja. Sebuah ide terlintas di pikiran Eve, mungkin dia akan merasa lebih baik mengetahui seperti apa tempat tinggal barunya.

Dia mengangkat wajah kepada Bastian.

"Bactiyan," panggil Eve sambil mengangkat satu tangan kecilnya.

Bastian menoleh. "Ya, Nona?"

"Talau caya mawu keyiying mancion... bole?"

Bastian tampak sedikit terkejut dengan permintaan itu, tetapi tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. "Tentu saja. Apakah Nona ingin melihat beberapa ruangan?"

Eve langsung mengangguk.

"Mawu."

"Baik. Kalau begitu, saya akan menemani Nona."

Begitu Bastian mendekat, Eve mengangkat kedua tangannya. Bastian memahami maksudnya dan membungkuk untuk menggendongnya. Eve tidak lagi merasa perlu malu digendong. Setelah beberapa kali dibawa ke sana kemari sejak kemarin, dia mulai menyadari bahwa tubuh empat tahunnya memang belum memungkinkan dia menjelajahi mansion sebesar ini dengan nyaman. Kakinya mungkin bisa berjalan, tetapi kalau harus naik turun tangga dan berpindah dari satu sayap mansion ke sayap lainnya, dia akan menghabiskan separuh hari hanya untuk berjalan.

Bastian membawa Eve keluar dari ruang makan dan mulai memperlihatkan beberapa bagian mansion yang belum pernah dilihatnya. Mereka melewati sebuah ruang pameran pribadi terlebih dahulu. Di balik pintu besar terdapat berbagai benda yang tersusun rapi di dalam lemari kaca, pedang tua, perhiasan, beberapa medali, benda-benda kecil yang tampaknya memiliki nilai sejarah, bahkan lukisan keluarga yang dipasang di dinding.

Eve memperhatikan semuanya dari pelukan Bastian. Matanya bergerak dari satu benda ke benda lainnya, tetapi kali ini dia tidak hanya melihat karena kagum. Kebiasaannya sebagai dokter forensik membuatnya otomatis memperhatikan detail kecil. Beberapa pedang tampak benar-benar pernah digunakan, bukan sekadar hiasan. Ada bekas goresan pada salah satu sarungnya, sementara beberapa benda lain terlihat jauh lebih tua daripada usia mansion itu sendiri.

"Ini cemua puna kelualda paloi?" tanya Eve sambil menunjuk salah satu pedang.

"Sebagian besar, Nona. Beberapa merupakan peninggalan leluhur keluarga," jawab Bastian.

Eve mengangguk kecil.

Dia tidak bertanya lebih banyak. Informasi seperti ini mungkin akan berguna nanti, tetapi untuk sekarang dia masih ingin melihat tempat lain.

Dari ruang pameran, Bastian membawanya melewati ruang tamu, ruang musik, beberapa ruangan yang digunakan para pelayan, lalu dapur. Begitu pintu dapur terbuka, aroma makanan langsung menyambut mereka. Beberapa juru masak sedang sibuk menyiapkan bahan untuk makan siang. Mereka sempat menoleh ketika Bastian masuk membawa Eve, lalu kembali melanjutkan pekerjaan setelah memberi salam.

Eve memperhatikan mereka beberapa saat. Ukuran dapurnya saja hampir sebesar ruang makan di panti tempat dia dulu tinggal.

"Talau caya mawu cemilan, boye minta di cini?" tanya Eve dengan nada serius.

Bastian menahan senyum. "Tentu saja, Nona. Selama bukan sebelum waktu makan."

Eve mengangguk puas.

Setelah itu perjalanan berlanjut. Bastian tidak hanya menunjukkan ruangan-ruangan utama, tetapi juga menjelaskan secara singkat bagian mansion mana yang boleh dimasuki Eve dan mana yang sebaiknya tidak dia datangi tanpa ditemani. Eve mendengarkan sambil sesekali melihat sekeliling. Dia mulai mendapatkan gambaran tentang bentuk mansion ini, letak tangga, halaman dalam, ruang keluarga, serta beberapa lorong yang menghubungkan bagian utama dengan sayap lainnya.

Semakin lama, Eve semakin sadar bahwa mansion ini memang terlalu besar untuk dihafalkan dalam satu hari.

Ketika Bastian akhirnya membawa Eve melewati sebuah pintu tinggi dengan ukiran sederhana di permukaannya, Eve mendongak.

"Ini apa?"

"Perpustakaan keluarga," jawab Bastian.

Mata Eve langsung berubah.

"Pelpustataan?"

Bastian membuka pintunya.

Begitu masuk, Eve otomatis menoleh ke segala arah. Rak-rak buku memenuhi hampir seluruh ruangan. Beberapa menjulang sampai mendekati langit-langit dan membutuhkan tangga kecil untuk mengambil buku di bagian atas. Buku-buku disusun sangat rapi berdasarkan ukuran dan jenisnya, tetapi susunannya tidak sepenuhnya sama dengan perpustakaan yang pernah Eve kenal. Ada beberapa papan kecil di antara rak yang tampaknya digunakan sebagai penanda kategori.

Bastian menurunkannya sebentar di lantai, tetapi Eve malah berdiri diam sambil menatap rak-rak di hadapannya.

Jumlah bukunya terlalu banyak.

"Wow..."

'Ini mah kayak skala perpustaan kota.'

Kali ini kekagumannya tidak dibuat-buat.

Eve berjalan beberapa langkah mendekati salah satu rak. Jari kecilnya hampir menyentuh punggung buku, tetapi dia berhenti sebelum benar-benar mengambilnya. Ada banyak judul yang tertulis di sana. Beberapa terlihat seperti alfabet yang familiar, tetapi sebagian lainnya menggunakan bentuk huruf yang sama sekali tidak dia kenali.

Dia memiringkan kepala.

'Ini bahasa apa?'

Eve berpindah ke rak lain. Hasilnya sama. Beberapa judul bisa dia kenali bentuk dasarnya, tetapi dia tidak mampu membaca keseluruhannya. Bahkan papan penanda yang dipasang di antara rak menggunakan tulisan yang berbeda dari dunia asalnya.

Dia mengerutkan kening dan menunjuk papan kecil yang berada tidak jauh dari mereka.

"Bactiyan."

"Ya, Nona?"

Eve menunjuk tulisan di papan itu dengan telunjuknya.

"Itu bacana apa?"

Bastian mengikuti arah jarinya, lalu kembali menatap Eve. "Yang itu?"

Eve mengangguk.

"Bagian tersebut bertuliskan 'Sejarah Kerajaan Elarion'," jawab Bastian.

Eve terdiam.

Dia kembali menatap tulisan di papan.

"cejalah... Elalion?"

"Benar."

Eve berkedip beberapa kali. Dia kemudian melihat tulisan itu lagi dengan lebih teliti.

Eve menurunkan tangannya perlahan. Selama hidup sebelumnya, membaca adalah sesuatu yang begitu otomatis sampai dia tidak pernah memikirkan prosesnya. Bahkan ketika membaca laporan medis atau hasil pemeriksaan, matanya hanya perlu menyapu tulisan dan otaknya langsung memahami isinya.

Sekarang, dia bahkan tidak bisa membaca papan petunjuk.

'Gue perlu cepet-cepet belajar membaca'

Eve menatap rak buku yang memenuhi ruangan. Lalu dia mendongak kepada Bastian.

"Talau itu... bacana yimana?"

Bastian menjawab dengan tenang, "Saya bisa membacakannya untuk Nona."

Eve mengangguk kecil, tetapi matanya masih tertuju pada tulisan tersebut.

Kalau sistem tulisan di dunia ini memang berbeda, dia harus mempelajarinya dari awal. Untungnya dia sudah terbiasa menghafal istilah medis, nama latin, dan berbagai macam data selama bertahun-tahun. Mengingat bentuk huruf seharusnya bukan masalah besar.

Yang menjadi masalah mungkin hanya satu.

Eve melirik rak-rak buku yang jumlahnya seperti tidak ada habisnya.

'Kalau guru gue nanti nyuruh baca semua buku di sini, gue kabur.'

Dia menarik napas kecil, lalu kembali melihat papan itu.

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!