Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Langit malam Desa Sukamaju dipenuhi bintang yang bersinar terang, seolah ikut merayakan kemenangan kecil Adit hari ini.
Udara malam yang biasanya dingin terasa lebih sejuk dan menyegarkan berkat aliran Irigasi Mata Air Suci yang menguapkan energi murni ke seluruh penjuru rumah.
Tok tok tok.
Terdengar ketukan pelan dari pintu depan tepat pukul tujuh malam.
Adit yang baru saja selesai mandi dan mengenakan kaus santai segera berjalan membukakan pintu.
Ceklek.
Sesosok wanita cantik berdiri di ambang pintu dengan senyum mengembang.
Riana tampil memukau malam ini.
Ia mengenakan gaun selutut berwarna biru dongker yang elegan, rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi bahu, dan aroma parfum wangi mawar langsung menguar menyapa indra penciuman Adit.
Di tangan kanannya, ia membawa sebuah tas dokumen, sedangkan tangan kirinya menenteng kotak berisi makanan hangat.
"Malam, Pak Bos Peternakan.
Boleh aku masuk?" sapa Riana dengan nada menggoda.
Adit terkekeh pelan dan melebarkan bukaan pintunya. "Silakan masuk, Ibu Bos Restoran.
Tumben malam-malam dandan serapi ini ke desa."
Riana melangkah masuk dan meletakkan bawaannya di atas meja ruang tamu.
"Tentu saja harus rapi, malam ini kita merayakan rekor pendapatan tertinggi Restoran Nusantara sepanjang sejarah!" seru Riana antusias.
Ia membuka tas dokumennya dan menyodorkan selembar kertas rekapitulasi keuangan kepada Adit.
"Lihat ini, Dit. Hanya dalam hitungan hari sejak kita meluncurkan menu Telur Zamrud dan Bebek Berapi, ditambah berita kejatuhan Anton hari ini laba bersih kita minggu ini menembus delapan ratus juta rupiah!"
Mata Riana berbinar-binar menatap Adit.
"Dan sesuai kesepakatan bagi hasil kita, empat ratus juta sudah kutransfer ke rekeningmu sore tadi."
Adit mengangguk puas. Uang itu akan sangat berguna untuk membeli cetak biru bangunan baru dari Toko Sistem nanti.
"Kerja bagus, Riana. Ini semua juga berkat manajemenmu yang cerdas di kota," puji Adit tulus.
Mendengar pujian itu, semburat merah tipis muncul di pipi Riana.
Wanita itu tiba-tiba melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka berdua.
Tanpa aba-aba, Riana melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Adit dan memeluknya erat.
"Terima kasih, Adit. Kamu bukan cuma menyelamatkan usahaku, tapi kamu juga mewujudkan mimpiku," bisik Riana pelan di dada Adit.
Adit sempat terkejut, namun perlahan ia membalas pelukan hangat itu.
[Ting!]
[Pemberitahuan Sistem: Afeksi Karakter Riana mencapai titik maksimal!]
[Status Hubungan Diperbarui: Jatuh Cinta / Kesetiaan Mutlak.]
[Mendapatkan Hadiah Pencapaian Harem Pertama: 500 Poin Pengalaman.]
Adit tersenyum tipis membaca layar transparan yang muncul di sudut pandangannya.
Mereka menghabiskan malam itu dengan makan malam bersama dan mengobrol santai hingga pukul sepuluh malam, sebelum akhirnya Riana pamit pulang karena besok harus memimpin rapat direksi.
Pukul 02.15 Dini Hari.
Suasana Desa Sukamaju sangat sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin malam.
Adit sedang tertidur lelap di kamarnya saat sebuah alarm merah berkedip hebat di dalam benaknya.
[PERINGATAN DARURAT! PERINGATAN DARURAT!]
[Terdeteksi 5 individu asing memasuki area aset Tuan Rumah secara ilegal!]
[Ancaman Terdeteksi: Benda mudah terbakar Bensin dan Senjata Tajam.]
[Tujuan Penyusup: Pembakaran dan Sabotase.]
Mata Adit langsung terbuka lebar. Rasa kantuknya lenyap seketika digantikan oleh aura dingin yang mematikan.
Berkat Fisik Manusia Super Level 2, pendengarannya kini sangat tajam. Ia bisa mendengar suara gemerisik langkah kaki yang mengendap-endap dari arah kebun belakang.
"Anton... kau benar-benar memilih jalan kematianmu sendiri," gumam Adit pelan.
Ia turun dari ranjang, mengenakan jaket hitamnya, dan melangkah keluar kamar tanpa menyalakan lampu sama sekali.
Di halaman belakang, lima orang pria bertubuh kekar dengan wajah tertutup masker hitam sedang sibuk menyiramkan cairan berbau menyengat ke sekeliling pagar kandang unggas.
"Cepat siram yang rata! Bos Anton mau tempat ini jadi abu malam ini juga," bisik pria botak yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu.
"Siap, Bos. Setelah ini kita tinggal lempar korek dan cabut"
"Cabut ke mana, Tuan-tuan?"
Sebuah suara bariton yang dingin mendadak memotong ucapan preman itu.
Kelima preman itu tersentak kaget dan serempak menoleh ke arah sumber suara.
Di bawah bayang-bayang pohon mangga, Adit berdiri bersedekap dada menatap mereka layaknya malaikat pencabut nyawa.
"Sialan! Ketahuan! Habisi dia cepat!" teriak si pemimpin botak sambil mencabut golok dari pinggangnya.
Empat preman lainnya ikut mengeluarkan senjata tajam dan langsung menyerbu ke arah Adit secara bersamaan.
Adit sama sekali tidak bergeming. Ia menghela nafas panjang dan mengalirkan energi spiritual ke kepalan tangan kanannya.
Srak!
Preman pertama mengayunkan parangnya ke leher Adit.
Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata biasa, Adit menunduk dan langsung melesatkan pukulan uppercut ke rahang preman tersebut.
Bugh! KRAK!
[Teknik Tinju Penghancur Batu diaktifkan!]
Tubuh preman itu terlempar ke udara setinggi dua meter sebelum jatuh berdebum ke tanah, pingsan seketika dengan rahang patah.
Melihat temannya tumbang dalam satu pukulan, tiga preman lainnya sempat ragu. Namun Adit tidak memberi mereka kesempatan.
Wussh!
Adit melesat maju. Kecepatannya membuat ia terlihat seperti bayangan hitam di kegelapan malam.
Sebuah tendangan menyapu kaki preman kedua, disusul sikutan keras ke ulu hati preman ketiga.
Bugh! Akh!
Hanya dalam waktu kurang dari lima belas detik, empat preman bayaran itu terkapar mengerang kesakitan di atas tanah.
Pemimpin botak itu kini berdiri gemetar. Golok di tangannya terasa sangat berat.
"M-monster macam apa kau ini?!" teriaknya ketakutan. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan pemantik api, dan bersiap melemparnya ke arah tanah yang sudah disiram bensin.
"Mati kau bersa—"
Trang!
Sebelum pemantik itu menyala, Adit telah melempar sebuah batu kerikil dengan tenaga penuh, menghantam pergelangan tangan si pemimpin hingga tulang tangannya retak.
"Aaaaargh!" Pria botak itu menjerit histeris menjatuhkan pemantiknya.
Adit berjalan pelan mendekati pria yang kini jatuh berlutut sambil memegangi tangannya yang hancur.
Adit menjambak kerah baju pria itu dan mengangkatnya hingga kakinya tidak menyentuh tanah.
"Dengar baik-baik," desis Adit tepat di depan wajah pria itu.
"Beri tahu aku semua rencana Anton, atau kubuat kalian berlima menjadi pupuk untuk pohon buahku malam ini juga."
Mata pria botak itu membelalak dipenuhi teror mutlak.
Menghadapi tatapan Adit yang tak kenal ampun, ia tahu ancaman itu bukanlah gertakan belaka.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.