NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##10

Keheningan melingkupi ruang tengah sayap timur Istana Buckingham saat jarum jam dinding antik berdenting tiga kali. Karpet tebal beralas beludru menyerap setiap derap langkah kaki, namun tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang mendadak merayap di udara.

Di atas sofa berukir emas, Violet duduk dengan kedua tangan bertangkup rapi di pangkuan. Seragam sekolahnya sudah berganti dengan gaun kasual berwarna merah muda pucat—sebuah pilihan busana yang sangat jarang ia kenakan kecuali saat ingin memberikan kesan manis dan penurut.

Wajahnya yang biasa dipenuhi garis-garis ketegangan dan tatapan sengit kini bersih, berganti dengan binar mata polos yang seolah siap meluluhkan hati siapa pun yang memandangnya.

Di hadapannya, Alistair berdiri tegap dalam balutan kemeja kasmir abu-abu gelap, sementara Baxeena menyandarkan tubuhnya anggun di bingkai jendela, memperhatikan interaksi itu dengan pandangan tajam dan evaluatif.

"Ayah... bolehkah Violet bicara sebentar?" panggil Violet dengan suara yang teramat lembut, hampir menyerupai bisikan.

Alistair menaikkan sebelah alisnya, menghentikan jemarinya yang sedang memeriksa tablet taktis militer. Pria itu menatap putrinya dengan pandangan meneliti. "Ada apa, Violet? Bus menuju Kent sudah menunggu di halaman depan."

Violet menggelengkan kepala perlahan, bibirnya sedikit mengerucut dalam mimik penuh harap. "Violet... Violet tidak ingin pergi ke Kent sendirian bersama Nenek, Ayah."

"Pangeran telah memutuskan hal itu untuk kebaikanmu, Violet," potong Baxeena dari dekat jendela. Suaranya mengalir tenang, datar, namun sarat akan ketegasan yang tak mudah digoyahkan.

Violet tidak langsung meledak seperti biasanya. Gadis tiga belas tahun itu justru memutar tubuhnya menghadap Baxeena, lalu menyunggingkan senyuman yang teramat manis—begitu manis hingga terasa buatan di mata Baxeena yang terbiasa membaca intrik bisnis.

"Aku tahu, Mommy Baxeena," ujar Violet, menekankan panggilan Mommy dengan intonasi yang sengaja dibuat terdengar tulus. "Aku minta maaf atas sikap kasar dan tidak sopanku di ruang makan tadi pagi. Aku sadar aku telah membuat kesalahan besar... dan aku memikirkan ucapan Mommy di ruang piano kemarin."

Baxeena tidak bergeming. Ia tetap menyilangkan tangan di depan dada, menatap gadis kecil itu tanpa mengedipkan mata. Perubahan sikap yang terlampau drastis dalam waktu lima jam, batin Baxeena. Skenario klasik.

"Lalu apa yang kau inginkan, Violet?" tanya Alistair, mengambil alih percakapan dengan nada suara baritonnya yang tenang.

Violet berdiri dari sofa, melangkah mendekati Alistair lalu meraih ujung lengan kemeja ayahnya dengan jemari kecilnya. "Bisakah kita pergi berlibur bersama? Maksudku... Ayah, aku, dan Mommy Baxeena? Hanya kita bertiga, sebagai keluarga."

Alistair menegang sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa terkejut yang nyata. Sepanjang hidupnya membesarkan Violet, anak itu belum pernah meminta liburan keluarga—terutama yang melibatkan Baxeena.

"Aku ingin kita menghabiskan akhir pekan di mansion peristirahatan di Cotswolds," lanjut Violet, matanya berkaca-kaca dengan sangat pas. "Ibu—maksudku, Katherine—selalu bilang bahwa aku tidak pernah punya keluarga yang utuh. Aku ingin membuktikan padanya bahwa Ayah dan Mommy Baxeena bisa membawaku berlibur seperti keluarga lainnya. Tolong, Ayah... sekali ini saja?"

Di balik senyuman manis dan genangan air mata buatan itu, Baxeena dapat menangkap kilatan halus di manik mata Violet. Itu bukan tangisan penyesalan; itu adalah umpan yang sengaja disebar. Ibu kandungnya, Katherine, pasti telah menanamkan sebuah rencana darurat jika jalur keuangan rahasianya dibekukan, dan Violet sedang menjalankan perannya sebagai pelaksana di lapangan.

Alistair mengalihkan pandangannya dari Violet, menatap lurus ke arah Baxeena. Pria itu tidak membuat keputusan sendiri; ia secara terbuka meminta pandangan dari istrinya.

"Bagaimana menurutmu, Baxeena?" tanya Alistair, suaranya melunak. "Apakah jadwal pribadimu memungkinkan untuk perjalanan akhir pekan ke Cotswolds?"

Baxeena menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang jendela, mendekati Alistair dan Violet dengan gerakan anggun yang penuh kendali. Ia tahu betul ini adalah jebakan. Katherine pasti berniat menciptakan skandal baru atau menggunakan momen liburan keluarga ini untuk menjebak aliansi mereka.

Namun, melarikan diri bukan gaya Baxeena Valerio Desmon. Jika lawan politiknya ingin memasang perangkap, Baxeena akan masuk ke dalamnya, mengambil umpannya, lalu menghancurkan sang pembuat perangkap dari dalam.

"Tentu saja," sahut Baxeena santai, menatap Violet yang kini menahan napas. "Jika putri tercintamu sudah berbuat manis dan memohon seperti ini, bagaimana mungkin aku menolaknya? Lagipula... aku sangat penasaran dengan keindahan Cotswolds di musim gugur."

Violet membelalakkan mata sejenak, tak menyangka Baxeena akan menyetujuinya dengan begitu mudah. Namun dengan cepat ia menguasai diri dan memeluk pinggang Alistair erat-erat. "Terima kasih, Ayah! Terima kasih, Mommy Baxeena!"

"Persiapkan barang-barangmu, Violet," tegas Alistair, mengusap kepala putrinya. "Kita akan berangkat besok pagi."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi hari berikutnya menyapa Kota London dengan udara dingin yang merasuk hingga ke tulang. Kabut tipis menyelimuti pelataran Istana Buckingham saat tiga unit SUV lapis baja berwarna hitam mengilap dipanaskan di halaman utama. Para pengawal kerajaan berseragam serba hitam sibuk memasukkan koper-koper ke dalam bagasi kendaraan.

Violet sudah duduk manis di kursi belakang mobil kedua bersama pengasuhnya, tampak sibuk memeriksa ponsel dengan jemari yang bergerak cepat—kemungkinan besar mengirimkan pembaruan lokasi kepada Katherine secara sembunyi-sembunyi.

Di depan pintu utama istana, Baxeena berdiri rapat membungkus tubuhnya dengan trench coat bahan wol berwarna krem. Di sampingnya, Alistair berdiri tegap mengenakan kemeja seragam dinas harian berhiaskan tanda pangkat pangeran dan perwira tinggi.

Di depan puluhan pengawal, pelayan, dan ajudan militer yang berbaris rapi di sepanjang tangga marmer, Alistair memasang raut wajah yang teramat kaku, formal, dan tak tersentuh. Garis rahangnya mengeras sempurna, memancarkan wibawa dingin seorang calon penguasa.

"Seluruh dokumen pengamanan rute perjalanan menuju Cotswolds telah disetujui oleh Divisi Pengawal Kerajaan, Your Grace," kata Alistair dengan suara lantang dan tata bahasa yang teramat formal, cukup keras untuk didengar oleh para perwira di sekitarnya. "Perjalanan ini akan berada di bawah pengawasan ketat protokol tingkat satu."

Baxeena memutar bola matanya pelan, menyilangkan tangan di dada. Ia melirik Alistair dari samping dengan sudut mata yang dipenuhi kecurigaan.

"Bisakah Anda menghentikan pidato resmi Anda, Pangeran Alistair?" bisik Baxeena lirih, hanya cukup didengar oleh Alistair saat para pengawal berjarak beberapa langkah dari mereka. "Harus berapa kali saya ingatkan bahwa tata bahasa kaku Anda membuat kepala saya pening di pagi hari?"

Garis kaku di rahang Alistair tidak berubah sedikit pun di depan para prajuritnya, namun mata hazel-nya melirik Baxeena dengan binar jenaka yang tersembunyi rapat.

"Ini adalah standar etiket protokol militer di depan publik, Amore," sahut Alistair pelan, tetap menjaga posisi tubuhnya yang tegap bak patung. "Saya harus memastikan seluruh personel memahami bahwa keberadaan Anda berada di bawah perlindungan mutlak saya."

Baxeena mendengus, menatap ke arah mobil tempat Violet berada. "Lagipula... kenapa kau harus ikut setuju untuk pergi bersama kami hari ini? Harusnya kau biarkan saja aku dan anakmu yang berlibur ke Cotswolds. Kehadiranmu hanya akan menambah beban ketegangan."

Tiba-tiba, Alistair mengubah posisinya. Pria tinggi besar itu melangkah setengah tapak lebih dekat, berdiri begitu rapat di samping Baxeena hingga lengan mereka saling bersentuhan. Ia berpura-pura merapikan kerah trench coat Baxeena—sebuah gerakan yang terlihat teratur dan beretika di mata para pengawal yang menonton dari jauh.

Namun, begitu jemari tegap Alistair menyentuh kain wol di dekat leher Baxeena, pria itu menundukkan kepalanya sedikit. Napas hangatnya berhembus tepat di samping telinga Baxeena, dan nada suaranya berubah drastis—menanggalkan seluruh kepalsuan formalitasnya.

"Membiarkan istri galak ku dan putriku yang sedang merencanakan konspirasi pergi berdua saja ke luar kota?" bisik Alistair dengan suara bariton yang teramat rendah, tengil, dan sarat akan godaan yang memabukkan. "Aku tidak se-bodoh itu, Amore. Lagipula... kasur di mansion Cotswolds jauh lebih besar daripada sofa sempit di kamar istana ini. Siapa tahu... kau berniat menjadikanku bantal hidupmu lagi malam nanti?"

Deg.

Seketika itu juga, darah panas menyembur ke seluruh wajah Baxeena. Rasa malu dari kejadian kemarin pagi kembali menghantamnya tanpa ampun. Tubuhnya menegang kaku di dalam balutan mantelnya.

"Alistair Blackwood!" bisik Baxeena tajam, matanya mendelik penuh ancaman. "Jaga mulut mesummu itu sebelum aku meremukkan jemarimu di depan seluruh prajuritmu!"

Alistair mundur kembali ke posisi tegapnya dengan gerakan yang amat mulus. Wajahnya seketika kembali kaku, datar, dan tanpa ekspresi, seolah-olah ia baru saja membacakan laporan strategis negara dan bukan membisikkan godaan mesum pada istrinya. Sudut bibirnya hanya terangkat satu milimeter—sebuah kemenangan kecil yang disembunyikan dengan sempurna.

"Mobil Anda telah siap, Your Grace," kata Alistair nyaring dengan bahasa formal kerajaan, membungkuk hormat secara sangat sopan saat menyilakan Baxeena melangkah menuju kendaraan.

Baxeena menatap suaminya itu dengan tatapan benci yang berpura-pura, mengepalkan tangannya di dalam saku mantel.

Pria gila, batin Baxeena memaki, melangkah turun dari tangga marmer dengan anggun meski dadanya bergemuruh hebat. Lihat saja apa yang akan kubuat padamu di Cotswolds nanti.

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!