Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Semalaman gadis itu menangis dalam pelukan Lala. Sahabatnya itu memang sudah sangat tahu bahwa Tirta akan sangat kecewa. Sudah berkali-kali Lala bertengkar dengan Tirta hanya untuk menjelaskan betapa bodohnya gadis itu yang terus mempertahankan hubungan tersebut. Namun, saat mendengar semua pengakuan yang keluar dari mulut sahabatnya, hati Lala justru ikut terasa sesak.
Andai bisa, ia ingin Jordan kembali peduli seperti saat mereka baru menjalin hubungan.
Selama tiga tahun, Tirta menjalani hubungan yang begitu manis di tahun pertama, tetapi berubah menjadi sangat menyesakkan di tahun-tahun berikutnya, saat pria itu mulai bergaul dengan orang-orang yang tak memiliki empati.
Pagi ini, dengan mata yang masih sembab, Tirta duduk termenung menatap sarapan yang sudah disiapkan oleh Lala. Gadis itu memutuskan untuk menginap beberapa hari dengan alasan tidak ingin meninggalkan Tirta sendirian di kontrakan.
Tirta bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan semua perasaannya. Jadi, jika ia sudah bercerita dengan sangat detail, itu berarti kepercayaannya kepada orang tersebut begitu besar.
"Makanlah. Kita berangkat bersama nanti." Lala mendorong sepiring nasi beserta lauk yang telah ia siapkan ke hadapan Tirta. Tirta menarik piring itu dan mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Ia memiliki penyakit asam lambung. Jika tidak sarapan, meski hanya sedikit, perutnya pasti akan kembali terasa sakit.
"Terima kasih, Lala." Ucapannya lirih sambil menunduk. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.
"Makanlah. Jangan menangis di depan nasi. Nenekku bilang nanti nasinya merasa kamu tidak bersyukur atas rezeki yang diberikan." Lala mencoba menghiburnya, meski suaranya sendiri terdengar tercekat.
Setelah selesai makan, Tirta keluar lebih dulu. Ia akan memanaskan motornya sambil menunggu Lala yang masih memasukkan beberapa berkas dan keperluan lainnya ke dalam tas.
Ceklek!
Tirta terkejut ketika melihat sebuah buket bunga berada tepat di depan wajahnya. Seorang pria sedang memegang buket itu. Jordan perlahan menurunkan bunga tersebut lalu menyodorkannya kepada Tirta yang masih terpaku.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Aku baru sadar kalau kemarin hari ulang tahunmu. Aku benar-benar minta maaf karena melupakannya. Untuk hadiahnya akan aku berikan nanti malam." Pria itu tersenyum, berharap kekasihnya sudah tidak marah lagi.
"Sayang, kesempatan yang kamu berikan kemarin tidak akan aku sia-siakan. Aku tahu selama ini aku benar-benar sudah mengecewakanmu. Aku tidak menghargaimu sebagaimana mestinya, dan aku sungguh minta maaf." Jordan menggenggam tangan Tirta yang masih memilih diam.
"Kamu bisa memaafkanku, kan? Apa kamu masih marah?" Ia berusaha mengajak Tirta berbicara.
Padahal tanpa ia sadari, semakin Tirta memaklumi semua kesalahannya dan tidak lagi menunjukkan amarah, semakin hilang pula perasaan yang selama ini ia pertahankan.
"Hm... terima kasih."
Hanya itu yang mampu Tirta ucapkan dengan senyum yang dipaksakan.
Lala yang melihat semuanya mulai naik pitam. Rasanya ia ingin menghajar wajah pria yang merasa dirinya begitu sempurna itu.
Gadis itu hanya bersandar di dinding, ingin melihat sejauh mana sahabatnya masih akan bersikap baik kepada Jordan.
"Aku tahu kamu masih marah. Tapi kali ini percayalah padaku. Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mengakui kesalahanku. Malam ini datanglah ke tempat tongkronganku. Aku akan memperkenalkanmu kepada mereka sekaligus memberi pelajaran atas ucapan mereka kemarin."
Jordan memohon dengan sungguh-sungguh.
Tirta terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
"Jam berapa? Aku akan datang."
Entah mengapa, hatinya sama sekali tidak menerima semua kata maaf yang keluar dari mulut pria itu.
"Nanti jam delapan malam, di Blok A. Aku jemput kamu, ya."
"Tidak usah. Aku akan datang sendiri. Kita bertemu di sana saja. Aku harus ke kantor, sudah terlambat. Ayo, Lala." Panggilnya kepada sahabatnya yang sejak tadi menatap Jordan dengan tatapan tajam.
"Ckckck... sudah miskin, tidak tahu diri lagi." Lala menyenggol bahu Jordan saat melewatinya. Jordan hanya mendecak kesal. Gadis itu memang tidak pernah menyukainya, bahkan setiap hari ucapannya semakin pedas.
...****************...
Tepat pukul tujuh malam, Tirta sudah bersiap dengan pakaian kasual. Malam ini ia mengenakan celana jeans biru, tanktop sebagai dalaman, dan kemeja putih sebagai outer.
Lala duduk di atas kasur sambil memakan sepiring buah.
"Yakin mau pergi sendiri? Aku bisa ikut." Tanya Lala, masih merasa khawatir Jordan akan bertindak sesuka hati.
"Aku bisa sendiri. Nanti aku kabari." Jawab Tirta sambil meraih tas selempangnya dan mengambil kunci motor.
"Kamu sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi nanti setelah memberinya kesempatan lagi?" Lala memastikan sahabatnya benar-benar memahami konsekuensi dari keputusan itu.
Tirta menoleh lalu tersenyum tipis.
"Sepertinya hatiku hanya sedang menunggu dia membuat satu kesalahan lagi. Sudah cukup aku berjalan terlalu jauh meninggalkan diriku sendiri hanya demi pria seperti dia." Tatapannya menerawang jauh.
Setelah berpamitan, Tirta segera pergi menuju tempat yang telah ditentukan.
"Tirta sudah mulai bangkit lagi. Aku harap setelah ini kamu benar-benar mendapatkan seseorang yang lebih baik." Itulah doa yang selalu Lala panjatkan.
Ia akan selalu menemani sahabatnya dalam keadaan apa pun, karena Tirta pun selalu melakukan hal yang sama untuknya. Gadis polos itu tidak akan ia biarkan jatuh ke lubang yang tak berujung.
Sepanjang perjalanan, Tirta memandangi jalanan yang ia lewati.
Ini adalah pertama kalinya Jordan akan memperkenalkannya kepada teman-teman tongkrongannya.
Ia tidak merasa senang.
Ia juga tidak merasa sedih.
Yang ada hanyalah kehampaan.
"Kamu sudah datang, Sayang. Ayo masuk." Jordan ternyata sudah menunggu di depan sebuah restoran yang berada di Blok A. Dari luar, tempat itu terlihat modern, dipenuhi anak-anak muda, dan cukup ramai.
"Ini salah satu restoran milik temanku. Kami sedang merayakan kelulusannya. Ayo, aku kenalkan kamu." Jordan menggenggam tangan Tirta, lalu mengajaknya masuk ke dalam bangunan bernuansa cokelat itu.
Namun, kedatangan Tirta tidak disambut dengan hangat. Sebagian dari mereka hanya memandang tanpa ekspresi, seolah sedang menilai dirinya.
"Guys! Perhatian semuanya!" Jordan bertepuk tangan.
"Perkenalkan, ini Tirta. Pacarku." Kemudian ia menunjuk satu per satu.
"Itu Elisa, Bobbi, Edwin, Gangga, dan masih ada beberapa teman yang belum datang." Seperti biasa, Tirta hanya membalas dengan senyum ramah.
Ia adalah tipe orang yang mudah bergaul dengan siapa pun selama orang tersebut bisa diajak berkomunikasi dengan baik.
Namun entah mengapa, ia merasa teman-teman Jordan bukanlah orang-orang yang bisa ia ajak berbicara dengan nyaman.
"Kamu mau ikut ke belakang? Aku harus membantu Bobbi sebentar." Jordan mengusap pelan pundak Tirta.
"Aku tunggu di sini saja. Kamu pergilah." Jawab Tirta dengan sedikit ragu. "Lagi pula hanya sebentar."
"Kamu yakin?" Tirta mengangguk.
Setelah Jordan pergi, ia duduk di salah satu meja sambil memainkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian, Elisa datang dan duduk tepat di hadapannya.
"Hi! Kamu Tirta, ya?"
Elisa menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu berdecak pelan.
"Tidak ada yang spesial darimu. Kok bisa, sih, kamu jadi pacarnya Jordan?"
Ia kembali mengamati Tirta sebelum menyeringai tipis.
"Jangan-jangan kamu menyerahkan tubuhmu? Aku lihat postur badanmu lumayan juga."
"Oh... jadi begini, ya, mulut yang tidak pernah dididik." Jawab Tirta dengan tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam. Sejak awal ia sudah tahu kalau gadis itu menyukai Jordan.
Tatapan matanya saja sudah cukup menunjukkan bagaimana murahnya harga diri seseorang yang terus menggoda kekasih orang lain.
"Tajam juga ucapanmu." Elisa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kenapa? Apa hatimu mulai bergetar? Khawatir Jordan akan meninggalkanmu... lalu memilih aku?"
Ia sengaja mengucapkan kalimat itu untuk memancing emosi Tirta.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜