NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA

Joe menatap rumah bercat biru itu lekat-lekat, napasnya tertahan sejenak. Perlahan ia menoleh ke arah Arthur, suaranya rendah namun tegas. "Ini rumah Om Seto. Salah satu anggota orang tua gue... dan dialah salah satu yang berkhianat dulu."

Arthur melongo sejenak, lalu menepuk bahu Joe dengan keras sambil tertawa santai. "Wah, hebat sekali! Tapi dengar ya — gue peringatkan sejak awal, gue ikut cuma karena ada bayaran. Kalau sampai gue terluka gara-gara menyerang rumah orang yang berkhianat itu, jangan harap gue diam saja!" candanya dengan nada berlebihan. "Loe wajib bayar gue, gak mungkin gue berobat ke rumah sakit hanya mengandalkan nama loe terus dikasih kartu berobat gratis!" serunya bercanda. "Dan setelah ini selesai, gue minta makan di restoran Jepang. Sudah, itu syarat mutlak!"

Joe tersenyum tipis meski hatinya sedang bergolak. "Setuju. Semua loe minta akan gue penuhi. Sekarang ayo bergerak."

Mereka berdua bergegas turun dari mobil, melangkah tegas menuju pintu depan rumah itu. Joe mengangkat tangan dan mengetuk pintu tiga kali — bunyi ketukan itu terdengar nyaring di keheningan sore yang sepi.

Tak lama kemudian pintu terbuka perlahan. Seorang pria tua berdiri di ambang pintu, wajahnya keriput namun matanya masih tajam menatap kedua pemuda itu.

"Maaf mengganggu, Pak," ucap Joe dengan suara tenang namun dingin. "Apakah benar Bapak bernama Om Seto?"

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia malah menyilangkan tangan di dada dan menatap mereka dengan curiga. "Kalian siapa? Apa maksud kalian datang ke rumah saya?" tanyanya dengan nada berat.

Arthur yang sudah tidak sabar menunggu, tiba-tiba maju selangkah dan dengan satu gerakan cepat mendorong bahu pria tua itu masuk ke dalam rumah. "Cukup bertanya balik! Masuk saja dulu!" serunya.

Pria tua itu — Om Seto — kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh ke lantai ruang tamu. Sebelum ia sempat bangun, Joe dan Arthur sudah masuk dan dengan cepat menutup pintu rapat-rapat dari dalam, mengunci pintunya dengan bunyi yang nyaring.

Om Seto terkejut setengah mati. Ia mendongak menatap mereka dengan mata terbelalak. "Apa... apa maksud kalian? Keluar dari sini!" serunya berusaha tegas, namun suaranya sedikit bergetar.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Joe melangkah mendekat. Ia berjongkok di hadapan pria tua itu, lalu mengeluarkan sebilah pisau panjang yang berkilau dingin di bawah cahaya jendela. Ujung pisau itu langsung diarahkan tepat ke leher Om Seto.

Wajah Om Seto seketika pucat pasi. Ia mundur sedikit namun punggungnya sudah menabrak dinding. "Apa... apa yang kalian mau? Uang? Berapa pun jumlahnya ada di laci meja itu, ambillah! Jangan sakiti saya!" suaranya bergetar ketakutan.

Joe menatapnya tajam, matanya menyala penuh amarah yang tertahan lama. "Katakan semua yang kau ketahui soal Tuan Kevin dan istrinya," ucapnya tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Jelaskan peranmu saat itu... saat kau berkhianat kepada mereka."

Mendengar nama itu, ekspresi Om Seto berubah seketika. Ia menarik napas panjang, lalu tiba-tiba tertawa keras — tertawa yang terdengar sinis dan penuh meremehkan.

"Aku kira siapa kalian," ucapnya sambil masih tertawa. "Ternyata hanya anak muda bau kencur yang mencoba mengingat masa lalu yang sudah lama terkubur. Katakan soal apa? Berkhianat? Aku tidak akan memberitahu kalian apa pun!"

Wajah Joe langsung berubah gelap. Tanpa memberi peringatan lagi, ia menggerakkan tangannya dengan cepat — menusukkan pisau itu ke paha kiri Om Seto, lalu segera mencabutnya dan menusuk paha kanannya dengan cepat pula.

"AAAAAAHHH!!" Om Seto meraung kesakitan, tubuhnya melengkung menahan sakit yang luar biasa. Darah segar mulai membasahi celananya.

"Ini baru permulaan," ucap Joe dingin, menatapnya tanpa belas kasih. "Akan jauh lebih parah lagi akibatnya jika kau tidak memberi jawaban yang memuaskan."

Keringat dingin mulai membasahi dahi Om Seto. Rasa sakit yang menyengat di kedua kakinya membuatnya sadar bahwa pemuda di hadapannya tidak bercanda. Dengan napas terengah-engah dan wajah yang pucat karena ketakutan, ia mulai bercerita — panjang lebar, tanpa menyembunyikan satu hal pun. Ia menceritakan siapa saja yang terlibat, rencana pengkhianatan yang disusun secara rapi, perannya sendiri sebagai orang yang membocorkan rahasia, serta bagaimana harta dan kekuasaan diambil alih secara paksa. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat Joe dan Arthur semakin terkejut — pengkhianatan itu jauh lebih besar dan lebih kejam daripada yang mereka bayangkan.

Setelah Om Seto selesai bercerita, napasnya sudah tersengal-sengal lemah. Ia menatap Joe dengan tatapan memohon belas kasihan. "Sudah... itu semua yang aku tahu... lepaskan aku..." gumamnya pelan.

Joe tidak menjawab. Dengan wajah yang tetap dingin dan tanpa keraguan sedikit pun, ia mengangkat pisau itu sekali lagi — dan dengan satu gerakan tegas, menikamkan pisau itu tepat ke leher Om Seto.

Mata Om Seto terbelalak lebar, mulutnya terbuka seakan ingin bertanya sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya darah yang mengalir deras. Dalam sekejap, tubuhnya menjadi lemas dan akhirnya diam tak bergerak lagi. Napasnya berhenti selamanya.

Joe berdiri perlahan, menyeka pisau itu ke kain lantai lalu menyimpannya kembali. Ia menoleh ke arah Arthur yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan semuanya.

"Kita harus pergi sekarang. Segera," ucap Joe singkat.

Mereka berdua segera bergegas keluar rumah itu, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal, lalu berjalan cepat menuju mobil. Tanpa menunda lagi, mereka melaju pergi meninggalkan rumah bercat biru itu — meninggalkan rahasia besar yang kini terkubur bersama nyawa pria tua di dalamnya.

Sepanjang perjalanan pulang yang sunyi, Arthur yang sejak tadi menahan keheningan akhirnya membuka suara. "Joe... kenapa loe harus membunuhnya? Dia sudah bercerita semua kan?" tanyanya pelan, masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Joe menatap jalanan di depannya dengan tatapan tajam. "Kalau aku tidak membunuhnya, cerita itu bisa menyebar ke mana-mana," jawabnya tenang namun berat. "Dan kalau begitu, rencana balas dendamku tidak akan pernah tercapai. Mereka akan membuat perhitungan langsung ke gue."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tegas. "Untuk sekarang, kita harus memikirkan cara menghancurkan mereka satu per satu. Kita tidak bisa melawan mereka semua sekaligus — mereka terlalu kuat dan terlalu banyak sekutu. Tapi kalau satu per satu... kita bisa."

Arthur mengangguk pelan, meskipun hatinya masih berat. Namun ia tahu, Joe benar. "Baik... gue ikut loe. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama," ucapnya mantap.

" Tapi loe jangan lupain, kita mesti ke restoran sekarang. Gue lapar karena dari siang belum makan sama sekali. Sedangkan ini udah mulai gelap, joe".

"Beres. Kita langsung makan aja sampai di kota". Ucap joe meyakinkan arthur.

Mobil itu terus melaju membelah jalan yang semakin sepi, membawa mereka menjauh dari rumah bercat biru itu — namun langkah awal balas dendam baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!