Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Mentari hampir sepenuhnya terbenam ketika Savera tiba di kediaman Arkatama, meninggalkan semburat jingga di langit kelabu.
Savera. Putri angkat dari Arina, adik Meira. Ia datang seorang diri setelah menerima telepon dari ibunya yang masih berada di luar kota. Ibunya bahkan tidak memberinya kesempatan menolak, hanya meminta dirinya segera pergi ke kediaman Arkatama setelah mendapatkan kabar tentang kecelakaan Damar.
Namun sejak menginjakkan kaki di kediaman Arkatama, Savera justru belum melihat siapa pun selain beberapa pelayan yang berlalu-lalang mempersiapkan kamar untuk menyambut kepulangan majikan mereka yang memilih untuk melakukan perawatan pemulihan di rumah.
Ia segera membawa langkahnya menaiki tangga menuju kamar Ravian dengan senyum mengembang. Kebersamaannya dengan Ravian sejak ia masih kecil membuat ia terbiasa mendatangi kamar pemuda itu tanpa rasa sungkan.
Begitu ia membuka pintu kamar, ia mendapati Ravian duduk di sofa dengan kedua siku bertumpu pada paha. Pandangannya terkunci pada ponsel yang tergeletak di atas meja bersama secangkir kopi yang sudah kehilangan uap sejak entah kapan.
Savera tidak langsung memanggil, ia berdiri di ambang pintu selama beberapa saat, memperhatikan pria yang sudah dikenalnya hampir sepanjang hidup.
Biasanya Ravian akan menyadari kehadirannya hanya dari suara langkah, tapi kali ini tidak.
Savera berjalan mendekat, mengambil cangkir di meja, lalu mengernyit ketika bibirnya menyentuh permukaan kopi saat ia menyesapnya.
“Kalau memang berniat minum kopi dingin, seharusnya sejak awal minta es sekalian. Tidak perlu membiarkannya telantar seperti ini.”
Wajah Ravian terangkat. Tatapan yang sebelumnya kosong, berubah saat netranya menemukan sosok penuh Savera sudah duduk di kursi sebelahnya.
“Kapan datang?”
“Cukup lama sampai aku sempat berpikir kamu sengaja bersembunyi di sini supaya tidak perlu menyambutku." Savera meletakkan kembali cangkir di tangannya ke tempat semula.
Ravian mengembuskan napas. "Aku memikirkan Ayah, tapi Kakek melarangku datang ke rumah sakit."
Savera menyandarkan punggungnya. “Tante bilang, Om Damar memilih rawat jalan di rumah, kamu hanya perlu menyambutnya di depan pintu, kenapa harus segelisah ini?"
“Ayah hampir kehilangan nyawa, Vera," ucap Ravian pelan.
“Aku tahu,” jawab Savera. "Tapi Tante juga sudah bilang tidak ada luka serius, kondisi Om juga stabil setelah ditangani. Buktinya saja, Om memilih pulang kan? Padahal, baru dua malam di rumah sakit."
Beberapa menit berlalu dalam keheningan setelah Savera menyelesaikan ucapannya. Ravian tidak memberikan tanggapan ataupun sanggahan. Tatapannya kembali ponsel di meja yang tak kunjung berdering. Sejak ia pulang dari kantor, ponselnya masih senyap. Hingga, suara deru mobil samar masuk ke pendengarannya melalui pintu balkon yang sengaja ia biarkan terbuka.
"Sepertinya Om sudah pulang." ucap Savera seraya bangun dari duduknya. "Ayo keluar."
Tanpa peringatan, Savera meraih tangan Ravian, menarik pemuda itu meninggalkan kamar dan berjalan cepat menuruni tangga.
Selama beberapa saat, Ravian menatap punggung wanita yang sudah ia kenal sejak kecil, turun ke tangan wanita itu, kemudian tersenyum sembari membalas genggaman tangan Savera.
Langkah mereka terhenti di depan pintu utama, berdiri menunggu saat mobil bergerak perlahan hingga sepenuhnya berhenti.
Pintu bagian kemudi terbuka, asisten Bima keluar dengan gerakan tenang saat ia beralih membuka pintu belakang, membantu Damar keluar dan menuntunnya berjalan setelah penolakan menggunakan kursi roda.
Di waktu yang sama, pintu depan sisi penumpang terbuka, sebuah tongkat terulur lebih dulu sebelum Raksa turun dari mobil diikuti Meira. Beberapa saat kemudian, mobil berbeda berhenti tepat di belakang mobil yang dikemudikan asisten Bima, dan saat pintu mobil terbuka, seorang dokter turun diikuti satu perawat.
Pemeriksaan kembali dilakukan begitu Damar dibaringkan di atas tempat tidur. Raksa, Meira, dan Ravian berdiri di sekitar tempat tidur, sementara Savera dan Bima menunggu di luar kamar.
Tekanan darah, refleks, luka di kepala, hingga memar di sisi tubuh kembali diperiksa. Setelah selesai, dokter menutup tas medisnya dan menatap Damar dengan serius.
“Untuk satu minggu ke depan, saya sarankan istirahat total. Akan lebih baik jika Anda tidak terlalu stres memikirkan hal berat."
Dokter menyebutkan apa saja yang boleh dan tidak boleh Daman konsumsi selama pemulihan, menyarankan pekaian longgar untuk memperlancar pernapasan, dan memberikan obat yang perlu Damar minum dengan rutin. Selesai menyampaikan semua itu, dokter pamit setelah mengatakan akan datang lagi di hari berikutnya.
Hening menyelimuti sesaat setelah pintu kamar menutup, sampai Ravian melangkah mendekat dan berdiri di sisi ranjang.
“Ayah.”
Damar menoleh, menatap putranya dalam diam, menunggu.
Beberapa detik Ravian tidak mengatakan apa pun. Banyak kalimat sudah ia pikirkan sejak sore, tetapi ketika akhirnya berdiri di hadapan ayahnya, semua kata itu tersangkut di tenggorokan.
“Aku akan kembali ke pabrik besok,” ucap Ravian akhirnya.
Meira menoleh cepat, sementara Damar justru menatap putranya lebih serius.
Ravian melanjutkan, “Aku belum tahu apakah aku bisa langsung menjadi seperti yang Ayah harapkan. Tapi aku akan mulai dari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku akan mempelajari laporan itu lagi, melihat cara tim Daneswara bekerja, dan berhenti merasa tersinggung setiap kali ada orang yang menemukan sesuatu lebih cepat dariku.”
Tidak ada janji berlebihan yang Ravian ucapkan, namun Damar menangkap apa yang ingin putranya sampaikan.
“Bagus.”
Ravian tersenyum tipis. “Ayah masih marah?”
Damar menggeleng. “Ayah tidak pernah marah karena kamu belum mampu. Ayah hanya tidak mau kamu nyaman dengan ketidakmampuanmu.”
Ravian diam tanpa bantahan.
“Pergilah besok. Belajar. Jangan datang untuk menunjukkan kepada siapa pun bahwa kamu pewaris Arkatama. Tapi, datanglah sebagai orang yang memang belum tahu dan ingin memahami."
Beberapa langkah dari ayah dan anak yang tengah berbicara, Raksa menatap keduanya dalam diam, kemudian berbalik sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Jemari tuanya menggulir layar ponsel hingga menemukan nama 'Bram' untuk melakukan panggilan, kemudian mengatakan satu kalimat begitu panggilannya terhubung.
"Aku ingin bertemu dengan putramu. Bawa dia menghadapku besok di rumah."
. . . .
. . . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????