Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: DMAM
Tik tok tik tok tik tok!!
Jam terasa berlalu dengan begitu cepat.
Langit subuh masih berwarna biru pekat bertabur sisa-sisa embun dingin ketika sebuah mobil SUV hitam mewah membelah jalanan desa yang sepi. Deru mesinnya bergetar konstan, memecah ketenangan pemukiman yang masih tertidur lelap.
Di balik kemudi, Bu Rosma meremas lingkar kemudi berlapis kulit itu dengan jemari berbatu permata besar. Wajahnya yang dipoles riasan tebal memancarkan kepuasan yang sangat besar.
Sepanjang malam ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia menunggu kabar kemenangan dari Jaka, pria suruhan yang telah dibayarnya mahal untuk menghancurkan harga diri Aisyah. Namun hingga detik ini, ponselnya tak kunjung menerima kiriman foto atau pesan konfirmasi dari preman tersebut.
"Dasar preman pasar, disuruh kerja begitu saja lama sekali!" umpat Rosma seraya menatap tajam ke jalanan depan.
Ketidaksabaran menggerogoti hatinya. Hingga Rosma memutuskan untuk mengambil alih panggung secara langsung.
Rencana busuknya sudah tersusun sangat rapi di dalam kepala. Ia akan datang ke rumah Aisyah di pagi terbit dan memergoki Aisyah dalam kondisi terpojok bersama Jaka, lalu mengambil foto sebagai bukti kejahatan.
Dengan skenario itu, Aisyah tidak akan punya pilihan lain. Nama baiknya sebagai guru berakhlak mulia akan hancur lebur dalam sekejap.
Kemudian, dalam posisi terhina, Rosma akan tampil sebagai 'penyelamat' yang bermurah hati dan menawarkan pernikahan darurat antara Aisyah dan Dimas untuk menutupi aib, dengan syarat Aisyah harus tunduk sepenuhnya pada keluarga mereka.
"Lihat saja, Aisyah... Pagi ini kamu akan berlutut di kaki saya dan memohon agar Dimas mau memungut kamu!" bisik Rosma licik dengan senyum kemenangan yang mengembang di bibirnya.
Setelah beberapa saat...
Cekitttt!
Rosma menghentikan mobil mewahnya di tepi jalan utama, persis di mulut gang sempit menuju rumah Aisyah.
Tanpa memperdulikan sepatu hak tingginya yang menginjak tanah becek sisa hujan semalam, juga tanpa melihat jika mobil putranya juga berada di sekitar itu, Rosma melangkah anggun namun terburu-buru menyusuri gang yang sunyi.
Saat tiba, suasana di sekitar rumah kayu bersahaja milik Aisyah terasa lengang. Pintu depan rumah kayu itu sedikit renggang, meninggalkan celah gelap yang langsung menyalakan gairah kejahatan di dalam hati Rosma.
"Luar biasa... Pintu sampai tidak dikunci. Pasti si Jaka sudah di dalam dari semalam," batin Rosma bersorak girang.
Rosma membusungkan dadanya, merapikan busana mewahnya, lalu memasang raut wajah murka yang dibuat-buat.
Tanpa mengetuk atau mengguncang grendel, Rosma langsung menggunakan telapak tangannya untuk mendorong pintu kayu rumah Aisyah hingga terbuka lebar.
BRAAK!
"Aisyah! Buka matamu dan lihat siapa yang datang!" teriak Rosma nyaring sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Ia menyapu pandangan ke area ruang tengah yang tampak berantakan, dan pecahan gelas kaca yang masih berserakan dan kursi yang bergeser. Hal itu semakin meyakinkan benak Rosma bahwa perbuatan mesum dan pergelutan antara Jaka dan Aisyah telah terjadi di sini.
"Dasar perempuan munafik! Di luar sok suci, ternyata di dalam rumah kelakuannya seperti ini!" jerit Rosma provokatif, dan membiarkan suaranya bergema memenuhi ruangan yang hampa.
Dengan langkah mantap yang penuh kebencian, Rosma berjalan cepat menuju pintu kamar tidur Aisyah yang berada di sudut ruangan.
Ia merogoh ponsel mahal dari tas cantiknya dan bersiap mengabadikan momen Aisyah yang ia pikir sedang tak berdaya di samping Jaka.
Kini, Rosma mencengkeram gagang pintu kamar Aisyah, lalu mendorongnya dengan sangat keras hingga menghantam dinding kamar.
BAM!
"Kurang ajar! Angkat muka kalian berdua—"
Jeng jeng jeng ...!!
Kalimat ancaman Rosma terhenti seketika di tenggorokan. Napasnya langsung tertahan. Matanya melotot selebar-lebarnya, seolah hendak melompat keluar dari kelopaknya.
Seluruh darah di tubuh Rosma serasa membeku dalam sekejap. Senyum licik yang baru saja menghiasi wajah berisi riasan tebal itu luntur tanpa sisa, berganti dengan warna pucat pasi yang mengerikan.
Di dalam kamar yang temaram itu, tak ada sosok Jaka si preman pasar.
Namun, di atas kasur busa sederhana, Aisyah terbaring lemah dengan selimut tertutup rapat hingga dada, wajahnya masih pucat dan tertidur pulas setelah melewati malam yang menyiksa.
Dan di samping kasur itu, duduk meringkuk seorang pria dengan kemeja mahal yang robek di bagian lengan, berdarah, pipi memar kebiruan, dan raut wajah yang ketakutan bagai anak kecil.
Pria itu adalah Dimas. Putranya sendiri.
"Di... Dimas?!" jerit Rosma dengan suara melengking dan bergetar hebat antara syok, bingung, dan ketakutan.
Dimas mendongakkan kepalanya. Begitu melihat sosok ibunya berdiri di ambang pintu, matanya yang merah dan berkaca-kaca langsung meledak dalam tangisan.
Tidak ada raut gagah atau tegas seperti yang di lakukannya semalam. Dimas kini bersikap seperti biasa, seorang anak mami yang ketakutan dan mengadu saat tertimpa masalah besar.
"Mami...! Mami...!" jerit Dimas histeris sambil merangkak mendekati ibunya dan memeluk pinggang Rosma erat-erat. "Mami ke mana aja?! Dimas takut banget, Mi! Dimas hampir mati semalam!"
Rosma kini mematung, tangannya yang gemetar menyentuh kepala putranya lalu bertanya, "Kamu... kenapa kamu ada di sini, Dimas?! Mana si Jaka?! Kenapa wajah kamu memar-memar begini?!"
"I-itu, Mi... Si Jaka gila, Mi!" lapor Dimas dengan nada merengek dan napas terengah-engah di balik dekapan ibunya. "Semalam Dimas dengar dari Doni kalau Jaka mau ke rumah Aisyah. Dimas takut Aisyah kenapa-napa, jadi Dimas susul ke sini. Tapi pas Dimas datang, si Jaka malah ngeluarin pisau! Tangan Dimas kena pisau, Mi! Sakit banget, hiks... Pipi Dimas juga dipukul sama dia!"
"Apa!."
Rosma merinding mendengar ucapan putranya itu. Wajahnya makin pucat pasi saat menyadari rencana busuknya bukan saja gagal total, tetapi juga hampir mencelakai anak kesayangannya sendiri.
"Kamu... kamu berantem sama Jaka?!" tanya Rosma gagap sambil mengusap bekas luka goresan pisau di lengan kemeja Dimas dengan panik. "Aduh, anak Mami... Kok kamu nekat banget sih?! Kenapa gak telepon Mami atau bawa pengawal?!"
"Gimana mau telepon Mami, Dimas panik!" rengek Dimas sambil mengusap air mata dan darah yang mengering di pipinya. "Lagian Mami kok jahat banget sih?! Mami kan yang suruh si Jaka ke sini?! Jaka tadi bilang dia dibayar Mami buat bikin Aisyah celaka! Mami tega banget bikin Dimas ketakutan setengah mati begini! Tangan Dimas sakit, Mi... Dimas takut kena infeksi!"
Kata-kata Dimas bagaikan hantaman keras yang menelanjangi kesalahan Rosma di depan anaknya sendiri. Rencana anggun dan licik yang dipikirkannya berubah menjadi kekacauan total gara-gara sifat anak mami Dimas yang impulsif dan tidak bisa dikontrol.
"Dimas, dengar Mami dulu... Mami kan cuma mau bantuin kamu supaya Aisyah mau nikah sama kamu," bujuk Rosma dengan suara yang panik dan berusaha menenangkan Dimas yang masih terisak.
"Bantu dari mana?! Dimas trauma, Mi!" jerit Dimas manja sambil menggoyang-goyangkan lengan ibunya. "Tempat ini seram banget! Ada darah di lantai, ada pecahan kaca! Dimas mau pulang, Mi! Dimas gak mau di sini lagi! Obatin tangan Dimas sekarang!"
Perdebatan dan tangisan manja Dimas yang bising akhirnya mengusik tidur nyenyak Aisyah.
Kelopak mata gadis itu bergerak-gerak pelan lalu akhirnya terbuka sepenuhnya. Kesadarannya mulai pulih, meski kepalanya masih terasa pening akibat sisa obat pembius semalam.
Aisyah mengedipkan matanya dan mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya subuh yang masuk lewat celah jendela. Lalu, pandangannya menangkap sosok Bu Rosma yang berdiri di dalam kamarnya, serta Dimas yang sedang mengadu sambil menangis sesenggukan di pelukan ibunya.
"M-mas... Dimas... Bu Rosma...?" bisik Aisyah yang masih lemah.
Dimas dan Bu Rosma langsung menoleh secara bersamaan ke arah kasur.
Dimas langsung melepaskan pelukannya dari ibunya, dan berjalan cepat dengan langkah agak tertatih mendekati pinggiran kasur Aisyah dengan wajah yang ringkih.
"Aisyah! Kamu udah bangun?" tanya Dimas dengan nada khawatir yang berlebihan. "Kamu lihat kan, Aisyah? Demi nolongin kamu dari si Jaka jahat itu, tangan aku sampai berdarah-darah begini! Pipi aku juga memar dipukul Jaka! Aku trauma banget, Aisyah... Aku sampai nangis dari semalam nungguin kamu bangun!"
Aisyah menatap Dimas dengan tatapan bingung apalagi dengan kepalanya yang masih berdenyut.
Memori semalam perlahan berputar kembali di benaknya, rasa pusing, tubuhnya yang terasa terbakar, sentuhan dingin handuk, dan sosok Dimas yang menangis ketakutan di sampingnya.
Namun melihat sikap Dimas saat ini yang kembali merengek di depan ibunya, Aisyah menghela napas panjang dan menyadari bahwa Dimas memang tetaplah Dimas, seorang anak mami yang tak pernah dewasa.
Bu Rosma yang melihat situasi makin tidak menguntungkan baginya segera menarik lengan Dimas dengan kasar.
"Sudah! Cukup, Dimas!" bentak Rosma yang berusaha menyembunyikan rasa malunya atas kegagalan skenario yang dibikinnya sendiri. "Ayo kita pulang sekarang! Mami panggilkan dokter pribadi ke rumah buat obatin kamu! Rumah ini pembawa sial!"
"Tapi Mami... Aisyah gimana?!" rengek Dimas, yang enggan ditarik oleh ibunya.
"Aisyah sudah sadar dan dia baik-baik saja! Kamu lihat sendiri kan?!" potong Rosma, seraya membelalakkan matanya pada Dimas agar menurut. "Ayo ikut Mami pulang sekarang juga, Dimas! Jangan bikin Mami tambah pusing!"
Dimas yang dari dulu tidak pernah bisa membantah perintah tegas ibunya akhirnya meruncingkan bibirnya dengan kesal. Ia lalu menoleh ke arah Aisyah dengan wajah yang memelas.
"Aisyah... aku pulang dulu ya. Nanti kalau luka aku udah diobatin Mami, aku ke sini lagi bawain kamu makanan..." pamit Dimas dengan nada manja dan kekanak-kanakan.
Tanpa membiarkan Aisyah membalas sepatah kata pun, Bu Rosma langsung menyeret tubuh Dimas keluar dari dalam kamar Aisyah.
Namun, sebelum mereka beranjak jauh, mereka di kejutkan dengan kedatangan beberapa warga yang langsung masuk ke rumah dengan ricuh.
"Mereka di dalam!."
Bersambung...