Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Zilia akhirnya memalingkan wajahnya fokus lurus kedepan. Namun, tiba-tiba pak sopir mengerem mendadak.
Suasana di dalam mobil berubah begitu canggung.
Tak ada lagi perdebatan. Tak ada lagi saling meledek. Hanya keheningan yang terasa semakin menyesakkan.
Zilia masih menutup bibirnya dengan telapak tangan. Wajahnya semerah tomat matang. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga seolah ingin meloncat keluar dari dada.
"Ini... ini yang kedua kali."
gumamnya dalam hati.
Di sisi lain, Rafael berdeham pelan sambil mengusap tengkuknya yang mulai memanas.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu tenang itu kehilangan kata-kata.
Sang sopir melirik melalui kaca spion.
"Maaf, Tuan Rafael. Saya benar-benar tidak sengaja."
Rafael mengembuskan napas panjang.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja."
"Baik, Tuan."
Mobil kembali melaju.
Beberapa menit berlalu. Tak seorang pun membuka suara. Hingga akhirnya...
"Hei."
Suara Rafael memecah keheningan.
Zilia masih menatap ke luar jendela.
"Apa?"
"Kamu jangan salah paham."
Zilia menoleh pelan.
"Aku juga nggak sengaja."
"Ck."
Zilia berdecak pelan.
"Siapa yang bilang aku salah paham?"
"Oh, syukurlah."
"Tapi..."
Rafael kembali menoleh.
"Apa?"
"Kejadian ini anggap saja nggak pernah terjadi."
Rafael tersenyum tipis.
"Setuju."
"Dan..."
Zilia menyipitkan mata.
"Kamu nggak boleh cerita ke siapa-siapa."
"Aku memang bukan tukang gosip. Termasuk ke Papa kamu."
Zilia kembali memalingkan wajah.
Namun beberapa detik kemudian. Tanpa sadar jemarinya kembali menyentuh bibirnya sendiri.
Refleks kecil itu tidak luput dari perhatian Rafael.
Senyumnya semakin tipis.
"Kamu masih kepikiran?"
"Enggak!"
Jawaban Zilia terlalu cepat.
"Bener?"
"Iya."
"Kalau nggak kepikiran, kenapa dari tadi pegang bibir terus?"
Zilia langsung tersadar.
Refleks ia menurunkan tangannya.
"Kamu... jangan merhatiin aku terus, bisa nggak?"
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Soalnya kamu duduk di sebelahku."
"Cari alasan."
"Bukan alasan."
Rafael kembali menatap jalan di depan.
Dengan suara lebih pelan, ia berkata,
"Setidaknya..."
"Apa?"
"...sekarang kita impas."
Zilia mengernyit.
"Impas apanya?"
"Dulu aku kasih napas buatan."
Rafael melirik sekilas.
"Sekarang kejadian ini."
"Jadi nggak usah nuduh aku macam-macam lagi."
Wajah Zilia langsung memerah.
"Kamu masih berani bahas itu?"
"Aku cuma meluruskan fakta."
"Huh!"
Zilia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Mulai sekarang aku males ngobrol sama kamu."
"Yakin?"
"Yakin."
"Lima menit juga paling ngomong lagi."
"Nggak akan."
Rafael hanya tersenyum.
Ia sengaja tidak membalas lagi.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia menyadari satu hal. Awalnya ia hanya mengikuti keinginan kedua orang tua mereka. Tetapi semakin lama mengenal Zilia...
Semakin sering ia ingin melihat gadis itu tersenyum. Sementara itu, Zilia diam-diam mencuri pandang ke arah Rafael.
Pria itu memang menyebalkan. Hobi menggodanya. Membuat emosinya naik turun.
Namun, anehnya...
Sejak bertemu Rafael, untuk pertama kalinya ia bisa melalui beberapa jam tanpa terus-menerus menangisi Vio.
Kesadaran itu justru membuat Zilia semakin bingung pada dirinya sendiri.
Mobil perlahan memasuki halaman mansion keluarga Adrian.
Begitu berhenti di depan pintu utama, sopir segera turun dan membukakan pintu.
Rafael lebih dulu keluar dari mobil.
"Terima kasih sudah meluangkan waktunya bersamaku," ucapnya sambil menoleh ke arah Zilia.
Zilia hanya mengangguk singkat.
"Hm."
Baru saja Rafael hendak berpamitan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari dalam rumah.
"Kak Rafael!"
Seorang gadis berambut panjang berlari dengan wajah berbinar.
Tanpa memberi kesempatan Rafael bereaksi...
Bruk!
Lora langsung memeluk tubuh Rafael dengan erat.
"Kak Rafael, akhirnya datang juga!"
Rafael sontak membeku.
"Lora?"
Pelukan itu berlangsung beberapa detik sebelum Rafael buru-buru melepaskannya secara perlahan.
"Lora, apa-apaan ini?"
Lora justru tersenyum manis.
"Aku kangen."
Suaranya terdengar manja.
"Boleh, kan, peluk calon suami sendiri?"
Ucapan itu membuat Rafael menghela napas panjang.
Di sisi lain, Zilia yang baru saja turun dari mobil menyaksikan semuanya tanpa ekspresi.
Matanya hanya melirik sekilas ke arah Lora yang terus menempel di samping Rafael.
"Ck..."
Ia berdecak pelan.
"Baru juga sampai."
Tanpa berniat ikut campur, Zilia langsung melangkah masuk ke dalam mansion.
Baginya, urusan Rafael dengan perempuan itu sama sekali bukan urusannya.
Namun entah mengapa pemandangan itu terasa begitu mengganggu.
Di halaman depan. Lora kembali meraih lengan Rafael.
"Kak Rafael, ayo masuk."
"Mamaku pasti senang lihat Kakak datang."
Rafael segera menarik lengannya dengan halus.
"Lora."
"Iya?"
"Jangan bersikap berlebihan."
Lora mengerucutkan bibir.
"Kenapa?"
"Kita tidak punya hubungan seperti yang kamu pikirkan."
"Tapi Om Darmawan sama Papa Adrian kan sudah sering bilang..."
"Itu urusan orang tua."
Rafael memotong dengan nada tenang.
"Bukan berarti kamu boleh bersikap seenaknya."
Senyum di wajah Lora perlahan memudar.
"Tapi aku suka sama Kak Rafael."
Rafael terdiam sejenak.
"Lora, dengarkan aku."
Tatapannya berubah serius.
"Aku menganggapmu seperti adik sendiri."
Kalimat itu membuat wajah Lora langsung berubah.
"Adik?"
"Iya."
"Aku tidak ingin kamu salah paham."
Lora mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi aku nggak mau jadi adik."
Rafael mengembuskan napas pelan.
"Perasaan tidak bisa dipaksakan."
"Lama-lama juga bisa."
"Lora."
Suara Rafael tetap tenang, tetapi tegas.
"Jangan membuat dirimu berharap terlalu jauh."
Lora menundukkan kepala.
Raut wajahnya jelas menunjukkan kekecewaan.
Beberapa saat kemudian, ia kembali mengangkat wajah.
"Kalau begitu... masuk dulu, yuk."
"Mama pasti senang ketemu Kakak."
Rafael menggeleng pelan.
"Maaf."
"Aku masih ada urusan di luar."
"Sebentar aja."
"Nanti lain kali."
Rafael tersenyum sopan.
"Tolong sampaikan salamku untuk Mama kamu."
Setelah mengucapkan itu, Rafael berbalik menuju mobilnya.
Lora hanya bisa memandang punggung pria itu yang semakin menjauh.
Senyum manis yang tadi menghiasi wajahnya kini berganti dengan tatapan kecewa.
Sementara dari balik jendela lantai dua...
Zilia yang tanpa sengaja melihat pemandangan itu hanya menggeleng pelan.
"Dunia orang kaya memang rumit."
"Satu dijodohkan."
"Yang satu mengejar."
Ia mengembuskan napas panjang.
Tanpa disadari, benang-benang takdir di antara mereka mulai saling bertaut, membawa masing-masing menuju konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan hati.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄