Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Rani menarik sudut bibirnya tipis saat melihat ketiga putra Roy berdiri dengan wajah menegang. Tatapan mereka tertuju lurus pada Haikal yang duduk tenang di kursi rodanya. Amarah yang berusaha mereka tahan terlihat jelas dari rahang mengeras dan tangan yang mengepal.
Namun, bukan reaksi ketiga anak itu yang paling menarik perhatian Rani, tapi pandangannya justru berhenti pada Roy.
Pria yang biasanya selalu mampu menyembunyikan emosi di balik wajah datarnya itu kini menunjukkan raut kesal yang begitu kentara. Tatapannya tidak tertuju kepada Haikal, melainkan kepada Rico yang berdiri di samping Rani sambil memegang koper kecil milik Haikal.
"Ka-kamu benar-benar membawanya ke sini?" tanya Roy dengan suara rendah. Dagunya terangkat sedikit ke arah Rico.
Rani mengikuti arah telunjuk Roy sebelum menjawab dengan tenang, "Dia hanya mengantarku. Jangan asal menuduh."
Rico sama sekali tidak menanggapi. Ia hanya berdiri tegak di samping Haikal, seolah kehadiran Roy dan ketiga putranya tidak mampu menggoyahkan ketenangannya.
Sayangnya, sikap tenang itu justru semakin membakar emosi anak-anak Roy.
Aksan melangkah maju lebih dulu.
"Mama masih ingat, kan, kalau Papa itu masih suami Mama?" ucapnya dengan nada menekan. "Harusnya Mama tahu bagaimana menjaga batasan dengan laki-laki lain."
Rani baru saja hendak membuka mulut ketika Arlan menyela.
"Papa bahkan mau menyabut Mama di sini." Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. "Tapi Mama malah datang diantar pria lain. Apa Mama tidak berpikir bagaimana orang luar akan memandang keluarga kita?"
Belum sempat Rani menjawab, Arjun ikut melangkah mendekat.
"Atau memang Mama sengaja?" katanya tajam. "Supaya Papa cemburu? Atau supaya lelaki itu punya alasan untuk terus datang ke rumah ini?"
Rico akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Arjun. Tatapannya dingin, membuat pemuda itu sesaat kehilangan keberanian untuk melanjutkan ucapannya. Namun sebelum Rico mengatakan sesuatu, Rani lebih dulu mengangkat tangan, memberi isyarat agar pria itu tetap diam.
"Sudah selesai?" tanyanya tenang.
Ketiga bersaudara itu terdiam.
"Kalau sudah, sekarang giliran aku yang bicara."
Rani melangkah satu langkah ke depan hingga berdiri sejajar dengan Rico.
"Pertama, Rico datang atas permintaanku untuk mengantar aku dan Haikal. Kedua, dia tidak melakukan sesuatu yang melanggar batas. Dan ketiga..." tatapannya bergantian menyapu wajah Aksan, Arlan, dan Arjun, "...kalian bertiga adalah orang terakhir yang pantas mengajariku tentang menjaga sikap."
Wajah Aksan langsung mengeras. "Mama menyindir kami?"
"Bukan menyindir." Senyum Rani memudar. "Aku hanya mengingatkan."
Tatapannya kini berubah tajam. "Orang yang pernah menyewa preman untuk mencelakai ibunya sendiri seharusnya lebih dulu belajar menghormati perempuan sebelum berbicara soal harga diri."
Ucapan itu membuat wajah Arlan memerah. Ia langsung menyangkal, "Itu sudah selesai! Mama sendiri yang mencabut laporannya!"
"Aku mencabut laporan karena ada kesepakatan dengan ayah kalian," balas Rani tanpa menaikkan nada suara. "Bukan karena kalian tidak bersalah."
Arjun mendecak pelan. "Mama selalu merasa paling benar."
"Kalau aku memang salah," jawab Rani tenang, "seharusnya kalian bisa membuktikannya dengan fakta, bukan dengan emosi."
Suasana kembali sunyi. Roy yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya melangkah maju. Sorot matanya tetap tertuju pada Rico.
"Cukup."
Satu kata itu langsung membuat Aksan, Arlan, dan Arjun menutup mulut.
Roy kemudian mengalihkan pandangannya pada Rico. "Rani sudah sampai rumah."
Rani mengerti maksud kalimat itu. Roy sedang mengusir Rico. Ia menoleh sekilas ke arah pria yang sejak tadi menemaninya. "Terima kasih sudah mengantarku."
Rico mengangguk pelan, tak ingin berdebat dengan Roy meskipun ia sadar maksud lelaki itu, karena satu alasan, ia tidak ingin memberikan masalah baru pada Ran. "Kalau ada apa-apa, hubungi aku."
"Baik."
Rico tidak berkata apa-apa lagi. Ia sempat membungkukkan badan di depan Haikal.
"Om pulang dulu, ya."
Haikal yang sedari tadi hanya memperhatikan orang-orang di sekelilingnya perlahan mengangkat tangan. Gerakannya masih kaku, tetapi cukup untuk membuat Rico tersenyum.
"Sampai jumpa lagi."
Setelah itu Rico berdiri tegak. Tatapannya sempat bertemu dengan Roy selama beberapa detik. Tak ada sapaan, tak ada jabat tangan. Hanya dua pasang mata yang saling mengukur dalam diam.
Rico akhirnya berbalik menuju mobilnya.
Suara mesin mobil yang menjauh membuat halaman kembali diselimuti keheningan.
Roy masih berdiri di tempatnya. Rahangnya mengeras saat memastikan mobil Rico benar-benar keluar dari gerbang rumah. Barulah ia mengalihkan pandangan kepada Rani.
"Masuk." Nada suaranya datar, tetapi cukup dingin untuk membuat ketiga putranya saling bertukar pandang.
Rani tidak membantah. Ia mendorong kursi roda Haikal melewati Roy tanpa sedikit pun menoleh kepadanya. Saat roda kursi itu melintasi ambang pintu, suara Roy kembali terdengar.
"Tunggu."
Rani menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi?"
Roy berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan kursi roda Haikal. Pandangannya turun memperhatikan bocah itu beberapa saat.
Haikal refleks memegang lengan Rani. Jemarinya mencengkeram pelan seolah mencari rasa aman.
Melihat itu, mata Roy berkedip nyaris tak terlihat.
"Haikal akan tinggal di lantai dua," ucapnya.
"Tidak," jawaban Rani datang begitu cepat. "Kamar Haikal di lantai satu."
Roy mengernyit. "Kenapa?"
"Karena dia memakai kursi roda."
"Rumah ini punya lift."
"Lift bisa rusak."
Jawaban singkat itu membuat Roy terdiam.
Rani melanjutkan dengan tenang, "Selain itu, proses evakuasi saat keadaan darurat jauh lebih mudah kalau dia berada di lantai bawah. Dan aku heran selama bertahun-tahun kamu tidak pernah bertemu dengannya, bukan bertanya kabarnya tapi meributkan kamar"
Roy menatap Rani beberapa detik, benar dirinya sebagai ayah kenapa tidak memiliki perasaan sedikitpun pada anak itu. Sebenci-bencinya ia tentu darahnya tetap mengalir di tubuh sang anak.
"Kamu sudah menyiapkan kamarnya?" tanya lagi untuk menunjukkan sikap perhatian.
"Sudah."
"Di mana?"
"Kamar yang seharusnya kutempati."
Ucapan itu membuat Hani yang baru keluar dari ruang tamu langsung berhenti melangkah.
"Apa?" serunya tidak percaya. "Kamu mau menempatkan anak itu di kamar utama?"
Rani menoleh, mendengar suara Hani, rasanya rumah itu tidak pernah tenang, tapi ia mencoba bersabar. Bagaimanapun ia tidak ingin membuat Haikal tak nyaman di rumah ini.
"Bukan anak itu, Bu. Namanya Haikal."
Hani mengembuskan napas kesal dan tidak peduli. "Itu kamar istri Roy."
Rani tersenyum tipis. "Saya memang masih istri Roy."
Kalimat sederhana itu membuat Hani kehilangan kata-kata.
Sementara itu, Aksan kembali angkat bicara. "Kalau Haikal tidur di kamar itu, lalu Mama tidur di kamar lama? Apa Mama mau Tante Sintia tidur dengan Haikal?"
"Kamu pikir Mama gak waras? Membiarkan adikmu ini tidur dengan wanita itu?" ujarnya
"Lalu?"
Rani menarik napasnya dalam, "Di kamar yang sama."
"Apa?"
Arlan membelalak. "Mama mau sekamar dengan Haikal?"
"Iya."
"Kenapa harus begitu?"
Rani mengusap pelan kepala Haikal sebelum menjawab. "Karena selama bertahun-tahun dia tidak pernah mendapatkan rasa aman."
Tatapannya beralih kepada ketiga pemuda itu. "Mulai malam ini, aku ingin dia tahu kalau setiap kali membuka mata, akan selalu ada seseorang yang bisa dia percaya. Dan untuk menjaganya dari orang-orang yang ingin berniat buruk."
Haikal yang tidak sepenuhnya memahami pembicaraan itu perlahan menyandarkan kepalanya ke lengan Rani. Rani membalas dengan mengusap lembut rambutnya.
Pemandangan itu membuat Arjun tanpa sadar menelan ludah. Dulu Rani memperlakukan dirinya seperti itu meskipun selalu ia abaikan. Tanpa ia sadari ia merindukan jemari Rani yang mengusap rambutnya.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏