"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13 -Penolakan yang Menghancurkan
Setelah sarapan pagi yang penuh debaran itu selesai, suasana rumah berangsur-angsur kembali sepi. Maya memutuskan untuk ikut pergi bersama Bagas yang ada jadwal rapat di luar kota, sekalian memanfaatkannya untuk menyegarkan pikiran (refreshing). Sementara itu, Arden sendiri memutuskan untuk melanjutkan agendanya hari ini: mencari ruko atau tempat yang cocok untuk studio musik barunya.
Saat hendak melangkah keluar menuju pelataran parkir, langkah Arden terhenti ketika melihat Alyssa yang sedang sibuk menyiram dan merawat tanaman-tanaman hias di area taman samping rumah.
"Kak, kamu mau ikut denganku tidak?" tanya Arden, menghampiri Alyssa dengan langkah santai.
Alyssa menoleh, menghentikan aktivitasnya sejenak. "Ke mana?" tanya Alyssa balik. Entah sejak kapan, dirinya perlahan mulai terbiasa dan tidak lagi sekaku dulu saat menerima ajakan demi ajakan dari adik iparnya itu.
"Mencari tempat yang pas untuk studio musikku," balas Arden sembari menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Alyssa sempat menimbang sejenak, sebelum akhirnya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Tidak usah, Den. Aku di rumah saja."
Belum sempat Arden menanggapi, suara deru mesin mobil yang teramat familier terdengar memasuki gerbang dan berhenti tepat di halaman depan rumah. Itu mobil Adrian.
Adrian turun dari mobilnya sembari sesekali merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan pegal akibat semalaman terpaksa tidur di sofa sempit klinik tempat Hanum dirawat. Namun, begitu pandangannya terlempar ke arah taman, kening Adrian seketika berkerut dalam saat mendapati Alyssa dan sang adik kandung tengah asyik berbincang berdua sepagi ini.
Adrian melangkah mendekat dengan langkah tegap, memancarkan aura tidak suka yang kentara. "Ada apa ini? Sedang membicarakan apa kalian?" tanya Adrian dengan nada menyelidik.
Alyssa tersentak pelan. Jantungnya berdesir cemas, berusaha keras menahan rasa gugup yang mendadak menyerang dadanya. "Mas... sudah pulang?"
"Ya. Siapkan air hangat untukku sekarang," perintah Adrian dengan nada datar dan dingin, seolah-olah perbuatannya yang menelantarkan Alyssa di pinggir jalan semalam sama sekali bukan masalah besar.
Alyssa hanya bisa mengangguk patuh demi menghindari keributan yang tidak perlu. "Baik, Mas." Pikiran logikanya berputar cepat, ia segera berbalik dan bergegas pergi meninggalkan halaman rumah, menjauh dari atmosfer mencekam di antara dua pria bersaudara tersebut.
Kini, di halaman samping rumah, hanya tersisa Adrian dan Arden yang saling melempar tatapan dengan arti yang berbeda.
Arden melipat kedua lengannya di dada, lalu menatap sang kakak dengan binar mata yang meremehkan. "Tumben sekali jam segini sudah pulang, Mas? Bagaimana kabar pacar rahasiamu itu? Dia tidak sedang merajuk atau ngambek, kan?"
Pertanyaan Arden terdengar santai dan kasual, namun di telinga Adrian, kalimat itu terasa seperti sebuah ejekan dan tamparan keras yang memanaskan telinganya.
Adrian mengepalkan tangannya di sisi tubuh, rahangnya mengeras. "Bukan urusanmu," balas Adrian dengan sangat ketus. Ia langsung membalikkan badan dan melangkah pergi dengan langkah lebar yang dipenuhi emosi terpendam.
Sementara itu di belakangnya, Arden tetap berdiri bergeming di tempatnya. Sepasang mata elangnya terus menatap punggung Adrian yang menjauh, diiringi seulas senyuman sinis yang terukir jelas di bibirnya. Sebuah senyuman penuh arti, seolah tahu bahwa takhta yang selama ini ditempati kakaknya tidak lama lagi akan runtuh.
Di dalam kamar, Alyssa berdiri mematung di dekat ranjang. Matanya menatap lekat ke arah Adrian yang sedang membuka kemeja kusutnya dan melemparkannya begitu saja ke dalam keranjang baju kotor. Namun, gerakan tangan Alyssa mendadak terkunci saat pandangannya menangkap sebuah noda kemerahan yang agak pudar di area pundak sang suami.
Jantung Alyssa mencelos. Dadanya seketika terasa dihantam godam besar.
“Itu... tidak mungkin. Mereka tidak mungkin melakukan sejauh itu, kan?” gumam Alyssa dalam hati.
Sepasang matanya mulai berkaca-kaca menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup rapat setelah Adrian masuk ke dalamnya. Setitik air mata lolos begitu saja di pipinya.
“Tidak, Alyssa. Jangan berpikir negatif dulu. Mungkin saja pundak Mas Adrian tidak sengaja terbentur sesuatu saat di klinik semalam,” bisik Alyssa, mencoba membohongi logikanya sendiri demi mempertahankan sisa-sisa harga diri yang ia punya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mulai bergerak menyiapkan setelan baju kerja bersih untuk suaminya.
Alyssa dengan setia menunggu di dalam kamar sampai suaminya selesai membersihkan diri. Begitu Adrian keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya dan mulai mengenakan pakaian, Alyssa melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Adrian yang kini sedang sibuk memakai kemejanya di depan cermin besar.
Adrian melirik sekilas pantulan bayangan Alyssa dari cermin dengan tatapan datar. "Ada apa?" tanya Adrian ketus.
Alyssa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Mas... dua minggu lagi adalah hari jadi pernikahan kita yang keempat."
Alyssa mengulurkan tangannya, menyodorkan dua lembar tiket fisik yang beberapa hari lalu diberikan oleh ibunya.
"Ibu memberikan kita tiket ini. Ini tiket untuk bulan madu ke Bali. Lagipula... Mama Maya juga terus menagih dan ingin kita secepatnya memberikan mereka cucu," ucap Alyssa dengan wajah yang perlahan merona tipis karena malu sekaligus berharap.
Adrian menghentikan gerakan tangannya. Ia terdiam cukup lama tanpa menanggapi sepatah kata pun. Detik berikutnya, ia membalikkan tubuh sepenuhnya, menatap Alyssa dengan sorot mata yang teramat dingin dan menusuk.
"Kamu tahu sendiri bagaimana keadaannya, Alyssa. Aku tidak bisa meninggalkan Hanum. Dia sedang sakit dan membutuhkanku," ujar Adrian tanpa beban.
Alyssa tersentak, rasa perih kembali menggores hatinya. "Tapi, Mas... ini hari jadi pernikahan kita. Sekali saja, tolong luangkan waktumu untukku."
"Alyssa, sudah berapa kali harus aku perjelas kepadamu?" potong Adrian dengan suara meninggi, menatap Alyssa dengan tatapan penuh penolakan.
"Aku tidak mau memiliki anak darimu! Aku juga tidak mau merayakan apa pun yang berhubungan dengan pernikahan ini, karena sejak awal, semua ini hanyalah keterpaksaan bagi hidupku!"
Jleb.
Kalimat terakhir Adrian bagaikan pisau beracun yang ditusukkan tepat di jantung Alyssa.
Tanpa memedulikan tubuh Alyssa yang langsung membeku dihantam rasa sakit yang teramat luar biasa, Adrian melangkah lebar keluar dari kamar setelah memastikan dirinya rapih, meninggalkan istrinya begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Alyssa masih berdiri mematung di tempatnya. Perlahan, jemarinya meremas kuat-kuat dua lembar tiket di tangannya hingga kertas itu kusut tak berbentuk, selembut hatinya yang kini telah hancur lebur menjadi serpihan.
"Apa... apa yang sebenarnya harus aku lakukan sekarang?" tanyanya lirih pada kesunyian kamar, meratapi nasibnya yang teramat menyedihkan.
Di tengah rasa sakit yang mendera, tiba-tiba kilasan memori semalam berputar kembali di benak Alyssa. Ia teringat akan tatapan mata intens Arden di taman kota, juga bisikan rendah pria itu yang menawarkan diri untuk menggantikan posisi suaminya.
Sebuah pemikiran gila mendadak melintasi kepalanya. Apa dia harus menerima tawaran Arden? Apa dia harus membalas semua rasa sakit dan pengkhianatan yang telah dilakukan Adrian dengan cara yang sama?
Jantung Alyssa berdegup kencang hanya karena memikirkannya.
Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala dengan kuat. Logika dan sisa harga dirinya menolak keras ide gila tersebut. Tidak, Alyssa tidak ingin merendahkan dirinya menjadi seorang peselingkuh, meskipun suaminya sendiri sudah bertindak seadanya.
Namun, melihat dua lembar tiket bulan madu yang kini sudah kusut di genggamannya, Alyssa tahu... benteng pertahanannya tidak akan pernah bisa sekuat dulu lagi selama Arden masih berada di rumah ini.
Bersambung ....
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣