Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Aku ambil nafas panjang kemudian ku hembuskan pelan. "Ya Bang, insyaallah aku selalu siap mendampingi Abang kemanapun dan kapanpun. Jadi, aku nanti juga warning ke Pak Wandi dan Cik Melly buat nyiapin pengganti aku. Tapi, misalnya aku nggak bisa langsung ikut Abang pindah, gimana? Abang nggak keberatan kan? Soalnya nggak mudah kan, nyiapkan penggantiku. Ya kalau si Bos mau menyiapkan orang untuk masing-masing pos yang aku pegang. Kalau mau tetep model kayak aku, pegang banyak pos kerjaan kan susah Bang." keluhku.
"Iya, asal jangan lama-lama aja. Masak iya, pengantin baru jauh-jauhan?Apa iya Abang harus solo karir kalau lagi kangen!"
"Maksudnya pye? Solo karir opo, Bang?" tanyaku cengoh.
"Halah, lupain aja. Ntar aja Abang jelasin kalau udah sah. Nggak mungkin juga kan Abang tunjukin sekarang!" jawab Bang Rengga.
"Hemmmm... Terserah Abang. Berangkat yuk, ntar telat aku. Jangan lupa hari minggu besok Bapak sama Ibu datang ke rumah Abang. Ketemu sama Papa dan Mama. Mau kasih tanggal nikah kita."
Lelaki itu mengangguk, kemudian kami pamit dan berangkat kerja dengan kendaraan kami masing-masing karena jadwal Abang hari ini lintas selatan. Jadi tidak mungkin menjemput ku pulang nanti. Sedangkan aku, malas jika harus naik kendaraan umum atau okeh online.
*****
"Assalamu'alaikum, Bang!" ucapku saat sampai di depan rumah Bang Rengga. Pintunya tidak tertutup rapat, membuat aku mengernyitkan dahi.
Akhirnya aku langsung masuk. Dan aku terdiam saat melihat pemandangan di dalam rumah Bang Rengga. Lelaki itu hanya memakai singlet dan ada seorang wanita yang memeluk lelaki itu. Mereka saling menatap, dan wajah mereka mendekat.
"Abang," panggilku lirih sambil menahan lajunya air mata yang entah sejak kapan mulai keluar.
Lelaki itu seketika melihat ke arahku berdiri.
"Maaf, aku mengganggu. Silahkan dilanjutkan. Permisi." ucapku lalu berbalik dan keluar.
"Yang," terdengar suara Bang Rengga memanggil. Tapi aku tetap berjalan dan tidak menghiraukan panggilan lelaki itu.
Karena kalah cepat, lelaki itu akhirnya bisa menangkap pergelangan tanganku. Kemudian dia menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Lepas!" ucapku tegas.
"Yang, ini nggak seperti yang kamu bayangkan!"
"Oya? Kalau aku nggak datang, udah silaturahmi kan itu bibir! Abang selesaikan aja dulu semuanya. Jangan melangkah saat ada masa lalu yang masih belum selesai dan masih tertinggal. Nggak usah mikirin gimana aku dan keluargaku kedepannya. Cukup pikirkan gimana Abang bisa bahagia. Mumpung ikatan antara kita masih sesama manusia saja. Belum ada tanggung jawab di depan Allah. Aku pamit Bang." ucapku karena aku tahu siapa perempuan yang tadi ada dalam pelukan Bang Rengga.
"Yang, jangan gitu! Abang nggak bisa kehilangan kamu. Please dengerin penjelasan Abang dulu."
"Lepas, Bang. Aku udah telat. Sudah ditunggu Ko Erik sama Cik Melly di mobil."
"Kamu mau kemana, Yang? Bukannya Selasa besok ke luar kotanya.?"
"Anak cabang ada yang kecelakaan. Sementara aku gantikan dia. Lepas Bang, nggak enak sama Cik Melly sama Ko Erik."
"Kamu ke cabang mana, Yang!"
"Trenggalek."
"Berapa hari?"
"Seminggu!"
"Abang jemput, ya!"
"Nggak usah, aku mau mampir rumah eyang. Mau nginep disana."
"Abang jemput, please."
"Selesaikan aja dulu urusan Abang. Nggak usah repot-repot mikirin aku. Assalamu'alaikum." ucapku lalu berbalik dan langsung masuk mobil tanpa menunggu jawaban dari Bang Rengga terlebih dahulu.
"Udah, Ran. Pamitnya?" tanya Cik Melly ketika aku sudah duduk dalam mobil. Kenapa aku bisa langsung pamit ke rumah Bang Rengga? Karena Cik Melly sekalian ngantar Mamanya pulang ke rumah beliau yang satu komplek dengan Bang Rengga hanya beda Blok saja.
"Sudah, Cik." jawabku singkat sambil tersenyum.
Sengaja ku matikan ponsel selama di jalan, aku hanya ingin menenangkan diri, meredam emosi. Entahlah, setelah ini apa yang akan aku lakukan. Buatku, lebih baik sakit di awal daripada selamanya bersama lelaki yang hatinya bercabang. Meski hari pernikahan kami sudah ditentukan dua bulan lagi.
Ponselku baru kunyalakan menjelang malam saat akan istirahat. Aku lupa belum mengabari Ibu jika aku sudah sampai. Banyak notifikasi panggilan dan juga pesan dari Bang Rengga.
Sengaja kuabaikan memang, segera saja aku hubungi Ibu dan aku kabarkan jika aku sudah sampai, tidak lupa aku juga minta maaf karena terlambat memberi kabar.
Tidak lama setelah menghubungi Ibu, ponselku kembali bergetar. Kulihat nama Abang yang memanggil.
"Astaghfirullah," ucapku lirih. Dengan malas aku mengusap icon hijau pada setan pipih yang ada dalam genggaman tanganku.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam, Yang. Abang mau jelasin semua sama kamu."
Aku hanya diam, rasanya lelah. Kupejamkan mataku, hanya kutatap saja layar ponselku.
"Yang, dia itu mantan aku. Namanya Wandha." ucapnya mulai bercerita. "Aku kemarin nggak sengaja ketemu dia pas di jalan. Dia hampir aja ketabrak. Dia lagi sakit, Yang. Umur dia nggak lama, Abang nggak tega buat ninggalin dia di jalanan. Terpaksa Abang bawa pulang. Dia udah nggak punya siapa-siapa selain Abang."
Aku hanya diam, mendengarkan tanpa berniat memotong ataupun menyela penjelasannya.
"Yang, ngomong. Jangan diemin Abang kayak gini."
"Emang dia sakit apa?" tanyaku datar dan tetap dingin.
"Dia sakit kanker rahim, Yang. Umurnya diprediksi nggak lama lagi. Sekitar tiga bulan lagi kata dokter." ucap lelaki itu dengan wajah sedih. Aku tersenyum miring melihatnya.
"Itu versi dia menurut dokter kan?" tanyaku. "Terus maunya Abang gimana sekarang?"
"Abang pengen bantuin dia, Yang. Boleh ya Abang dampingi dia selama dia sakit."
"Selamanya sama dia juga nggak papa." jawabku. Tidak ada lagi air mata yang keluar, cukup kemarin saja aku menangis itu.
"Yang, please... Jangan.."
"Umur dia tinggal tiga bulan kan katanya? Itukan perkiraan, bisa aja dia bertahan hidup lebih lama. Sementara, pernikahan kita kurang berapa bulan, Bang?"
"Dua bulan lagi." jawab lelaki itu.
"Oke, dua bulan lagi. Kalau jadi!" jawabku sambil tersenyum miring.
"Mbak Rani... " panggil seseorang dari luar kamar.
"Iya, nes? Ada apa?" jawabku setelah meletakkan ponsel, dan berdiri membuka pintu kamar.
"Mau nitip sesuatu nggak? Aku mau keluar cari camilan."
"Beliin martabak telor aja ya, ini uangnya." ucapku sambil mengulurkan uang lembaran merah pada Agnes. "Sekalian beli camilan, buat yang lain. Kalau aku terserah deh, asal jangan yang manis." ucapku sambil senyum.
Agnes mengangguk kemudian berlalu setelah menerima uang dariku. Setelah itu aku kembali masuk dan meraih ponsel yang kuletakkan begitu saja di atas kasur.
"Yang,... " panggil Bang Rengga karena aku kembali terdiam.
"Hmmm... "
"Please, Yang. Boleh ya... Kasihan dia nggak ada siapa-siapa," ucap lelaki itu.
Aku menghirup nafas panjang... lalu ku keluar kan perlahan sekedar menghilangkan rasa sesak didada.
"Boleh, terserah Abang mau gimana. Asal Abang bahagia. Rengga Wardhana, hari ini, aku melepaskan dan membebaskan kamu dari semua ikatan yang ada di antara kita." ucapku sambil tersenyum.
"Yang, nggak gitu juga. Abang nggak bisa kehilangan kamu." lelaki yang awalnya tersenyum mendengar jawabanku seketika jadi panik.
"Hai, Abang pikir aku sedalam itu sama Abang, sebucin itu sama Abang? Maaf aja ya, aku nggak goblok, Bang. Yang mau gitu aja nerima calon suamiku sibuk ngurusin mantan yang lagi sakit, terus nggak punya siapa-siapa! Kemana lelaki yang dia bela sampai dia tega ninggalin Abang dulu? Kenapa saat dia jatuh kayak gini, baru mikir balik sama Abang? Satu hubungan itu cukup aku, dan kamu, keluarga kita buat mendampingi. Kalau Abang masukin dia diantara kita, It's oke. Dengan senang hati, aku mundur. Silahkan Abang lanjutkan kisah yang belum usai itu."
"Terus, harus gitu. Tinggal satu atap sama Abang. Sementara ada aku, calon istri Abang yang harus Abang jaga perasaannya kalau mungkin Abang lupa. Dan apa yang aku lihat kemarin, apa? Bisa Abang jelaskan?"
"Yang,.. Iya.. Maaf kemarin Abang khilaf."jawab Bang Rengga.
"Kalau aku yang seperti itu, apa yang Abang rasakan? Sudahlah, lanjutkan saja dengan dia. Abang bisa fokus ngurusin dia. Beri dia kenangan indah sebelum dia pergi. Agar Abang nggak ada penyesalan, soal Papa dan Mama, juga Bapak dan Ibu. Nanti setelah aku pulang tugas aku temui mereka. Aku yang akan jelaskan. Aku yang mundur."
"Yang, Abang cinta sama kamu,... "
"Tapi Abang juga belum lepas dari dia kan? Kalian belum selesai! Buktinya kemarin, kalau aku nggak datang pasti akan ada kisah lagi? Udahlah, Bang. Aku capek. Aku mau istirahat. Aku udah memudahkan Abang, nggak perlu Abang repot milih dan mikir aku apa dia. Karena aku yang pergi. Semoga dia sehat selalu, dan kalian bahagia." ucapku lirih karena memang rasa lelah sangat menyiksa badan, lalu mematikan sambungan telepon.
"Rani, kamu hebat, kamu kuat! Semangat!" ucapku mensugesti diriku sendiri agar tidak larut dalam masalah ini.
****
Di tempat lain,
"Ma,.... Mama... " panggil Papa Adam.
"Iya, Pa... Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Mama Sofie.
"Kita ke rumah Rengga sekarang, sebelum anak itu berbuat bodoh."
"Emang Rengga kenapa, Pa?"
"Kata orang suruhan Papa, di rumah Rengga ada perempuan yang nginep dari semalam. Tapi bukan Rani."
"Allahuakbar, siapa Pa?"
"Mantannya yang nggak tahu diri itu. Dan yang lebih kacau lagi, sepertinya Rani tahu. Tadi pagi katanya Rani habis dari rumah Rengga dan Rani sempat nangis waktu ngobrol sama Rengga di teras."
"Ayo, Pa. Buruan kita kesana. Nggak bener bujang satu ini. Masih aja mau dibodohi sama perempuan nggak tahu diri itu!" ucap Mama Sofie gemas.
Dua pasangan paruh baya itu tidak peduli jika hari sudah malam, mereka berdua segera bersiap pergi ke rumah anaknya dengan di antar sopir yang selalu standby untuk mengantar mereka.
Setelah perjalanan beberapa puluh menit, akhirnya meraka sampai si rumah putra semata wayang mereka. Tanpa mengucapkan salam, Papa Adam membuka pintu dengan kasar kemudian menghempaskan begitu saja.
Hingga membuat dua orang yang sedang makan malam berjingkat kaget.
"Begini kelakuan kamu, Bang!" ucap Papa Adam dengan suara yang menggelegar.
"Mama kecewa sama kamu, Bang! Apa sih yang kamu pikirkan? Kenapa perempuan j****g nggak tahu diri ini ada disini?"
"Dia punya nama, Ma. Dan Wanita bukan jalang!" balas lelaki itu sambil berteriak. Sedangkan Mama sofie seketika mengelus dadanya. Baru kali ini Rengga membentak nya. Dan itu karena perempuan yang dulu sudah membuat anaknya itu terpuruk.
"Jangan berteriak sama istriku!" balas Papa Adam. "Jangan karena sekarang kamu sudah mandiri, lantas kamu seenaknya saja membentak istriku! Sedangkan apa yang dia katakan itu benar! Perempuan apa namanya yang ketahuan tidur dengan lelaki lain kalau bukan j****g namanya! Biar Papa ingatkan! Wanita yang baru saja kamu bentak itu adalah wanita yang sudah bertaruh nyawa demi kamu bisa hadir ke dunia ini. Kamu bentak dia, demi perempuan yang sudah mengkhianati kamu dengan sahabat kamu sendiri kalau kamu lupa!" Bentak Papa Adam emosi.
"Rengga, Papa tidak pernah mengajari kamu jadi lelaki brengsek! Dimana otak kamu ha? Jangan-jangan udah nyelip di sela****ngan wanita j***ng itu!" ucap Papa Adam sambil menunjuk muka Wandha.
"Kamu kayak gini, udah mikir gimana perasaan Rani ha? Sudah bagus dia nggak ngehajar kamu tadi pagi. Dia masih menghargai kamu sebagai calon suaminya. Itupun kalau memang dia masih mau sama kamu. Kalau Mama sih ogah! Mending cari lelaki lain."
"Rani ngadu ke kalian?" tanya Bang Rengga.
"Tuh kan, Ma. Kayaknya emang bener otak dia udah keselip!" ucap Papa Adam sambil menatap Mama Sofie. "Kamu pikir Rani perempuan seperti itu? Kamu belum tahu siapa Papa?"
Rengga terdiam, dia lupa jika selalu ada anak buah Papa nya yang menjaga dari kejauhan sejak insiden dia diculik oleh saingan bisnis Papanya saat dia masih kecil dulu.
"Kamu nyakitin Rani, demi perempuan model kayak gini! Ingat perjuangan kamu buat sampai di titik ini biar bisa sama Rani. Dan ingat juga apa yang sudah perempuan ini lakukan sama kamu! Buka otak kamu yang cerdas itu, gunakan untuk berpikir! Boleh kasihan, boleh simpati. Asal harus pintar dan jangan pernah mau dimanfaatkan oleh siapapun." ucap Mama Sofie.
"Dan kamu, perempuan nggak tahu diri. Kalau kamu memang masih punya harga diri, punya malu dan masih punya akal untuk berpikir. Segera tinggalkan rumah anakku. Jangan pernah lagi muncul dan mengganggu anak dan calon menantuku. Kamu pikir aku tidak tahu trik yang kamu gunakan?" ucap Papa Adam sambil menatap Wandha. Kemudian lelaki paruh baya itu melemparkan amplop coklat tepat di muka anak semata wayangnya.
"Baca! Kamu masih bisa baca kan? Dan kalau otakmu masih berfungsi, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan." ucap Papa Adam.
"Apa ini, Pa?" tanya Bang Rengga.