NovelToon NovelToon
TOXIC AND CONTROL

TOXIC AND CONTROL

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Toxic and Control* *BAB 16: Jejak yang Berbicara*

*Toxic and Control*

*BAB 16: Jejak yang Berbicara*

Di dalam ruang UKS yang tenang dan beraroma karbol, tirai putih pembatas ruangan sedikit tertutup.

Randy mendudukkan Kinara di tepi Ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati. Wajah cowok basket itu masih memperlihatkan gurat kecemasan yang mendalam, sementara tangannya yang tidak diperban bergerak mengambil kotak persediaan P3K dari atas rak medis.

"Tunggu sebentar, Nara. Aku bersihkan bekas tamparannya," ujar Randy lembut, suaranya terdengar parau karena menahan nyeri di sekujur tubuhnya sendiri akibat pengeroyokan kemarin sore.

Kinara hanya diam membeku. Tangannya meremas ujung rok seragamnya dengan gemetar. Tamparan Silla siang ini tidak seberapa dibanding rasa sesak yang menghantam dadanya akibat kehadiran Rian di ambang pintu kelas tadi.

Pikiran Kinara terus berputar rumit. Mengapa Rian harus melayangkan tamparan sekejam itu pada Silla demi dirinya? Bukankah cowok itu sudah kembali ke mode awalnya yang dingin dan acuh tak acuh?

"Nara, tolong buka maskermu. Pipi kirimu sudah mulai membiru, harus dikompres es," bujuk Randy sembari menyodorkan kantung es batu yang dibalut kain bersih.

Kinara tersentak dari lamunannya. Rasa panik seketika menyerang isi kepalanya.

"T-tidak usah, Kak Randy. Biar aku kompres sendiri dari balik masker," tolak Kinara terbata-bata, tangannya menahan kantung es tersebut.

Randy mengernyitkan dahi. Kedekatan yang terjalin sejak dia melindungi Kinara di gudang belakang membuat instingnya sebagai seorang pria menjadi jauh lebih peka. Dia menyadari ada sesuatu yang sedang disembunyikan rapat-rapat oleh gadis di depannya ini.

"Nara, buka maskermu sebentar saja. Jangan keras kepala," pinta Randy lagi, nadanya sedikit mendesak namun tetap terdengar lembut.

Tanpa menunggu jawaban, tangan Randy bergerak perlahan namun pasti, menarik tali masker medis putih yang melingkar di telinga Kinara.

"Kak, jangan—"

Sret.

Masker itu terlepas sepenuhnya, terjatuh ke atas pangkuan Kinara.

Detik itu juga, napas Randy tercekat di tenggorokan. Kedua matanya membelalak sempurna menatap wajah polos Kinara di bawah pencahayaan lampu UKS yang terang.

Bukan hanya pipi kiri Kinara yang memar kemerahan akibat tamparan Silla. Fokus mata Randy langsung terkunci kaku pada bibir ranum Kinara. Di sana, di sudut bibir bawah gadis itu, terdapat luka robek yang membengkak dengan sisa darah yang mengering pekat. Luka yang sangat jelas bukan berasal dari hantaman telapak tangan Silla. Itu adalah luka bekas gigitan yang dipaksakan.

Otak cerdas Randy langsung berputar cepat. Memori beberapa menit lalu saat dia berpapasan dengan Rian Pradifta di koridor sekolah seketika melintas hebat di kepalanya. Randy mengingat dengan sangat detail: di sudut bibir bawah Rian, terdapat sebaris luka kering berwarna merah pekat yang serupa. Luka robek yang posisinya sangat simetris jika dipadukan.

Deg.

Darah di sekujur tubuh Randy mendadak terasa mendesir dingin. Sebuah kesimpulan mengerikan yang di luar nalar langsung menghantam dadanya hingga terasa sesak.

"Kinara... luka di bibirmu sama dengan milik Rian," bisik Randy dengan suara yang bergetar hebat. Dia menatap lekat-lekat mata jernih Kinara yang kini berkaca-kaca dipenuhi ketakutan. "Sebenarnya apa hubungan kalian berdua? Apa kalian berpacaran?"

"Luka di bibirku enggak ada hubungannya dengan Kak Rian... aku jatuh," dusta Kinara dengan cepat.

Dengan tangan yang gemetar hebat, dia langsung menyambar kembali maskernya dan memakainya rapat-rapat, lalu membuang muka demi menghindari tatapan menyelidik Randy. Paranoianya pecah sepenuhnya karena jejak mengerikan semalam di Aston Club kini telah berbicara sendiri tanpa bisa dia sangkal lagi.

Namun tentu saja, sebagai laki-laki, Randy tidak bodoh. Dia tidak percaya begitu saja pada alasan konyol itu. Luka bengkak di bibir Kinara jelas merupakan luka gigitan akibat ciuman yang liar dan teramat kasar.

Randy mengepalkan tangannya kuat-kuat di samping tempat tidur. Di dalam kepalanya, sebaris pertanyaan baru mulai menyiksa batinnya.

`Apakah hubungan Kinara dan Rian di luar sekolah memang sudah sejauh dan sepanas itu? Atau... Rian yang selama ini menggunakan kekuasaannya untuk memaksa Kinara?`

Sementara itu, di dalam kegelapan basecamp yang pekat, Rian Pradifta duduk sendirian di atas sofa kulit setelah mengusir Rama dan Rangga keluar. Cowok gila kontrol itu menenggakkan kepalanya ke belakang, menatap langit-langit ruangan dengan napas yang memburu berat.

Pikiran gilanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Kenyataan bahwa Randy masih terus pasang badan dan mendekap bahu Kinara membuat rasa cemburu di dadanya bertransformasi menjadi kegilaan yang absolut. Rian tidak akan membiarkan kerikil bodoh itu terus berada di sekitar permatanya.

Rian meraih ponselnya di atas meja dengan gerakan dingin. Dia menekan satu tombol cepat, menghubungkan panggilan langsung kepada kepala komite disiplin sekolah dan yayasan Pradifta.

"Cabut seluruh hak beasiswa atletik atas nama Randy sekarang juga," perintah Rian dengan suara baritonnya yang teramat rendah dan tanpa ampun. "Dan keluarkan dia dari tim basket utama Garuda Nusantara sebelum matahari terbenam. Pastikan dia tidak punya panggung lagi di sekolah ini."

Rian mematikan ponselnya, melemparkannya kembali ke atas sofa. Sebuah senyuman miring yang teramat kejam dan dingin terukir di wajah tampannya. Rian telah mengaktifkan mode pembersihan total. Jika bawahannya kemarin gagal membuat Randy kapok, maka kali ini, Rian sendiri yang akan menghancurkan seluruh eksistensi dan masa depan cowok basket itu hingga tidak tersisa sedikit pun.

Sore harinya, setelah berhasil melarikan diri dari cecaran pertanyaan Randy di UKS, Kinara melangkah lunglai memasuki koridor Rumah Sakit Harapan Bangsa. Langkah kaki yang berat membawanya menuju ruang rawat kelas tiga di bangsal melati.

Semua kepenatan, ketakutan, dan penghinaan yang dia terima di sekolah seketika menguap digantikan oleh rasa sesak yang lain saat matanya menatap pintu kamar nomor 304.

Di dalam ruangan yang sempit dan berbau obat pekat itu, seorang wanita paruh baya berwajah pucat tampak terbaring lemah. Tubuhnya yang kurus kering dipenuhi selang infus dan alat pemantau detak jantung. Wanita itu adalah ibunya, satu-satunya alasan mengapa Kinara rela menanggalkan harga dirinya setiap malam di Aston Club demi sepeser uang untuk membiayai pengobatan kanker stadium lanjut yang dideritanya.

Kinara mengulas senyum terbaiknya, menelan bulat-bulat semua air mata dan rasa sakit di bibirnya. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi plastik samping brankar.

"Ibu... Nara datang," bisik Kinara lembut sembari menggenggam tangan ibunya yang terasa sangat dingin dan kurus.

Wanita paruh baya itu membuka kelopak matanya yang sayu dengan perlahan. Senyuman tipis yang sangat tulus terukir di wajah rentanya.

"Anakku... maafkan Ibu, ya. Gara-gara Ibu yang sakit-sakitan, kamu jadi harus bekerja keras sepulang sekolah menjaga toko."

Mendengar ucapan ibunya, dada Kinara terasa seperti dihantam batu besar. Ibunya sama sekali tidak tahu kalau anaknya bekerja di tempat hiburan malam yang liar, bukan di toko kelontong seperti yang selalu dia ceritakan. Ibunya juga tidak tahu kalau kacamata Kinara pecah diinjak anak buah penguasa sekolah, atau bibirnya yang bengkak tertutup masker ini adalah akibat dari kegilaan seorang pria gila kontrol bernama Rian Pradifta.

"Ibu jangan bicara begitu. Tugas Nara hanya belajar dan memastikan Ibu cepat sembuh," jawab Kinara sembari mengecup punggung tangan ibunya dengan takzim. Air matanya nyaris tumpah, namun dia mati-matian menahannya agar suaranya tidak terdengar bergetar.

Di dalam kamar rawat yang sunyi itu, Kinara menyadari satu hal yang teramat sakral. Biaya rumah sakit ibunya untuk bulan depan sudah hampir jatuh tempo, dan dia tidak boleh goyah. Jika dia menyerah pada teror psikologis Rian di sekolah atau melarikan diri dari Aston Club, maka nyawa ibunya yang sedang dipertaruhkan ini akan menjadi taruhannya.

Kinara Jose terpaksa mengunci rapat hatinya, bersiap menghadapi badai apa pun yang akan dibawa oleh sang tuan muda besok pagi, murni demi mempertahankan napas kehidupan ibunya.

Setelah hampir satu jam menemani ibunya hingga wanita paruh baya itu kembali terlelap, Kinara memutuskan keluar untuk mengambil air minum. Namun, saat dia melangkah keluar dari pintu kamar 304 dan berbalik di koridor bangsal Melati yang sepi, seluruh tubuhnya mendadak membeku.

Di ujung lorong yang temaram, bersandar pada dinding bercat putih rumah sakit, berdiri seorang cowok bertubuh tinggi tegap berbalut jaket kulit hitam.

Rian Pradifta.

Kinara terkejut setengah mati. Jantungnya berdegup gila berkejaran dengan rasa takut yang mencuat kembali. Cowok itu ternyata diam-diam mengikutinya sampai ke rumah sakit ini. Kinara mengira Rian akan bersembunyi atau segera menghindar begitu ketahuan, namun skenarionya salah besar.

Rian sama sekali tidak menunjukkan niat untuk sembunyi. Dia justru menegakkan tubuhnya, melangkah pelan namun pasti dengan sepasang mata elang yang menatap lurus ke arah Kinara.

Aura intimidasi yang biasa dibawa Rian di sekolah seolah menguap, digantikan oleh ekspresi wajah tampan yang teramat datar, namun tersirat gurat frustrasi yang tertahan.

Rian berhenti tepat dua langkah di depan Kinara. Tanpa mengucapkan satu kata pun, tangan kekarnya bergerak merobek sebuah saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kartu tipis berwarna hitam pekat mengilat—sebuah black card tanpa batas limit finansial yang mencantumkan nama besar keluarganya.

Rian menyodorkan kartu itu tepat di depan dada Kinara.

"Ambil ini," ujar Rian dengan suara baritonnya yang rendah dan berat. "Gunakan untuk memindahkan ibumu ke kamar VIP. Bayar seluruh biaya operasinya sampai sembuh total."

Kinara menatap kartu hitam itu dengan dada yang bergemuruh hebat oleh luapan emosi campur aduk. Rasa terkejutnya sesaat berganti dengan harga diri yang terinjak-injak. Rian baru saja melihat titik lemah terbesarnya, dan sekarang cowok gila kontrol ini mencoba membelinya menggunakan uang.

"Aku tidak butuh uangmu, Kak Rian," tolak Kinara mentah-mentah. Suaranya terdengar sangat dingin dan menusuk, matanya menatap Rian penuh kilat perlawanan. Dia melangkah mundur, menolak menyentuh kartu tersebut. "Aku bisa membiayai pengobatan ibuku dengan caraku sendiri. Ambil kembali kartumu dan jangan pernah menampakkan dirimu di depan kamar ibuku lagi!"

Rian menatap tangan kosongnya yang tertolak, lalu beralih menatap sepasang mata jernih Kinara yang masih tertutup masker. Bukannya marah karena kebaikannya ditolak secara kasar, rahang Rian justru semakin mengeras kokoh menahan gejolak rasa tidak rela yang kian menyiksa batinnya.

Dia menyadari, benteng pertahanan gadis beasiswa ini jauh lebih kuat dari apa yang bisa dihancurkan oleh tumpukan uangnya.

-

1
mamah fitri
alur cerita nya bikin penasaran .. tokoh utamanya betul2 punya aura masing2
mamah fitri
bisa 3 sampai 4 bab ngga .. penasaran dengan apa yg terjadi nanti di kapal..

semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
Park ha: kwkkwkwk sabar kak 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Tamirah
Begitu bucinnya Rian pada Kinara sampai meng-klaim bahwa dia pacar putrinya..... wesss angelllll..,!
Tamirah
Ceritanya semakin halu Uuuuu.Yayasan kepala sekolah yg tunduk dgn Rian lalu rumah sakit yg mendadak naik tarifnya apa lagi mungkin bandara dan pesawat nya sekalian atau pusat perbelanjaaan atau mall semua milik pelajar yg bernama Rian wik...wik....wik.
Park ha: ini emang cerita halu ku kak ...kwkwkwk
bukan pengalaman pribadi whehehehe
total 1 replies
Tamirah
Thor mulai hingga episode ini gak ada interaksi orang tua Rian maupun guru guru di sekolah, alur cerita didominasi Rian dan temannya juga Rendi serta so Cupu.dan aneh nya lagi semua keputusan ada ditangan Rian ttg pencabutan bea siswa Rendy padahal ada komite sekolah.dimana peran ketua yayasan dan ketua komite,masih status siswa bak seorang CEO punya kartu hitam lagi cerita nya berlebihan Thor.
Tamirah
Kok bisa orang yg sdh mabuk berat dan hasrat nya sdh fulll bisa berhenti mendadak karena sebuah kalimat aku membencimu ya emang sengaja' dibuat begitu sama sang sutradara dara.Kalau dunia nya itu mah lewat langsung jebol selaput sang dara 😄😄😄.
Park ha: 🤭 lanjutin ya kak masih banyak kejutan..moga gk bosen bacanya..gpp sambil marah2 juga.berarti karakter Rian ini emang berhasil di buat untuk di benci wkkwk
total 1 replies
Tamirah
Menjijikan berapa korban pelajar yg dilecehkan selama ini apa gak ada yg berani para Guru untuk melaporkan kebejatan murid laki laki walau org tuanya pemilik yayasan sekolah' tsb, laporan pada Diknas jangan takut kalau dipecat banyak yg akan membela guru bahkan dgn bukti bukti kuat sekolah itu ijin pendirian akan dicabut dan sekolah' otomatis ditutup.Pimilik yayasan akan dipanggil oleh pihak Diknas.
Tamirah: sayang nya ini hanya cerita halu, Thor terinspirasi dari mana cerita ini dari lingkungan sekitar atau dari Drakor atau dracin 😄😄😄
total 2 replies
Tamirah
Sangat disayangkan masih pelajar tapi sdh biasa menikmati' minuman minuman haram dan sdh biasa menyentuh tubuh wanita .yah mungkinn dari kehidupan orang tuanya yg gak mengutamakan agama hingga anaknya gak bermoral, tapi namanya cerita halu bisa saja author nya berubah seorang pelajar dari amoral menjadi bermoral akanw lebih seru dan bisa menjalin cinta SMA dengan si Cupu jenjang perguruan tinggi dan ahirnya mereka menikah' itupun maunya pembaca.
Park ha: 🤭 iya kak aku emang sengaja tokohnya toxic.. gk menormalisasi juga buat kehidupan nyata...itu cuma tokoh fiksi...

judulnya jelas ya Toxic and control
bukan Kisah cinta yang manis...
moga kakaknya gak bosen naca kelanjutannya..Dan kuat mental dengan Ke toxic an Rian hehe
total 1 replies
Park ha
novel ini ceritanya lumayan panjang ya mulai dari masa sma transisi ke Dewasa...
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk
Park ha
kwkwkwkw santai mari kita maki bersama wkkwwk
falea sezi
burung bekas masuk ke lobang beda2 tangan. bekas obok2 lubang beda. lagi astaga🤣 gimna g jijik
falea sezi
cowok bekas🤣 najis amat
falea sezi
dikira semua bisa di beli dengan uang🤣🤣
Park ha: bisa kak semua butuh duit wkkwkw🤭🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
dikira semua cwek murahan apa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!