Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Ceklek......
"Papa...kenapa papa nda jadi jemput Key? Cudah belcama aunty cantik, jadi lupa cama anaknya" pekik Keysa sambil berkacak pinggang menatap papanya.
Arya dan Alya menoleh melihat kedatangan gadis kecil itu.
"Cepat kesini tidak usah drama. Kamu tidak malu dengan aunty cantikmu" ucap Arya yang malas meladeni drama putrinya.
Keysa mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang juga sedang menatap ke arahnya. Gadis kecil itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lewat mulut.
"Baik papa" ucap Keysa patuh, dia harus menjaga sikap di depan calon mama barunya.
Dengan kaki kecilnya Keysa menghampiri mereka. Alya tersenyum dan membantu gadis kecil itu duduk di sebelahnya.
"Telima kacih aunty" ucapnya.
Alya tersenyum lembut melihat tingkah Keysa yang lucu. Ia merapikan sedikit rambut gadis kecil itu yang agak berantakan karena perjalanan.
"Sama-sama, Sayang. Aunty senang Keysa sudah datang," jawab Alya dengan suara hangat, tangannya lembut menyentuh lengan Keysa sebentar.
Keysa melirik papanya dulu, seolah meminta izin, sebelum akhirnya duduk lebih dekat ke Alya. Matanya yang besar dan polos menatap wajah Alya dengan rasa penasaran yang kentara.
"Aunty cantik banget, cepelti bidadali," gumam Keysa pelan, tapi masih cukup keras untuk didengar Arya. Pipinya sedikit memerah, campuran antara malu dan kesan yang tulus.
Arya mengangkat satu alis, sudut bibirnya sedikit terangkat melihat interaksi itu. Ia memang sengaja membawa Keysa malam ini. Bukan hanya karena ingin makan bersama, tapi juga untuk melihat bagaimana Alya berinteraksi dengan putrinya. Sampai saat ini, hasilnya... cukup memuaskan.
Pelayan masuk dengan tenang, membawa beberapa menu, termasuk makanan untuk Keysa.
Arya memesan makanan seperti permintaan Alya, steak medium rare untuk dirinya, salmon panggang untuk Alya, dan chicken katsu dengan kentang goreng plus jus strawberry untuk Keysa.
Begitu pelayan keluar, Keysa langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Alya.
"Aunty cuka es klim nda? Key cuka yang coklat cama ctrawbelly, tapi nda boleh banyak-banyak, kata papa gigi Key bica bolong," cerita Keysa tanpa henti, tangan kecilnya bergerak-gerak menggambarkan.
Alya tertawa kecil, suaranya lembut mengisi ruangan private yang sunyi. "Aunty suka es krim juga, tapi jarang makan. Nanti kalau Keysa mau, kita bisa pesan satu yang dibagi bertiga ya?"
Keysa mengangguk cepat, matanya berbinar. "Boleh! Tapi papa nda boleh ambil banyak, dia cuka lebut-lebut makanan Key" ucapnya sambil melirik ke arah papanya, Arya terkadang suka penasaran dengan makanan yang di makan putrinya, dia ikut mencicipinya.
Arya hanya menggeleng kepala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, memperhatikan keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelembutan di sana, yang jarang sekali muncul di depan orang lain.
"Keysa, Jangan terlalu cerewet. Aunty Alya capek habis kerja." Tegur Arya.
"Tapi Key nda celewet, Pa. Key cuma cenang bica makan malam cama aunty Alya" Keysa manyun sebentar, lalu tiba-tiba tersenyum lebar lagi.
Ia menoleh ke Alya. "Aunty, papa kalua di kantol cuka malah-malah nda? Cama Key cuka, tapi Key tahu papa cayang Key kok. Papa cuma nda pandai bilangnya."
Alya melirik Arya sekilas, ada senyum kecil di bibirnya. "Papa Keysa kelihatannya orang yang bertanggung jawab. Pasti sayang banget sama Keysa."
Keysa mengangguk-angguk puas. "Iya! Papa paling cayang Key di dunia, setelah Oma. Eh, dan cekarang cetelah aunty juga mungkin?"
Ruangan menjadi hening sejenak. Arya menatap Alya lebih intens, sementara Alya hanya tersipu kecil, pipinya memerah tipis di bawah cahaya lampu.
Makanan akhirnya datang, mengalihkan suasana. Aroma steak dan salmon langsung memenuhi ruangan. Keysa langsung bersorak kecil, tapi masih ingat untuk menjaga sikap di depan Alya.
Sepanjang makan, Keysa terus bercerita dengan polosnya, tentang sekolah, teman-temannya, boneka kelinci kesayangannya, sampai minta tolong Alya memotong chicken katsu-nya karena tangan Key masih kecil.
Arya diam-diam tersenyum melihat Alya yang sabar dan ikut bermain dengan Keysa. Dia bisa merasakan jika Alya sangat tulus dengan sang putri.
Selesai makan utama, saat dessert es krim yang dipesan Alya tiba, Keysa tiba-tiba bertanya dengan polos yang mematikan
"Aunty, aunty mau jadi mama Key nda?"
"Eh?"
Alya hampir tersedak dengan sendok es krim yang baru saja masuk ke mulutnya. Matanya membelalak, ekspresi terkejutnya begitu polos hingga membuat suasana di ruangan private itu berubah dalam sekejap. Sendok kecil di tangannya berhenti di udara, sementara es krim vanilla yang mulai mencair menetes pelan ke piring kecil di depannya.
Pertanyaan Keysa yang polos namun sangat berat itu menggantung di udara seperti bom waktu kecil yang meledak tanpa suara.
Gadis kecil itu menatap Alya dengan mata bulat penuh harap, bibirnya yang masih belepotan es krim coklat sedikit manyun, menunggu jawaban dengan sabar. Tangan kecilnya mencengkeram pinggiran meja, seolah pertanyaan itu adalah hal paling penting di dunia baginya saat ini.
Alya langsung menoleh ke arah Arya, dan pada saat yang sama, pria itu juga sedang menatapnya. Tatapan mereka bertemu di atas meja makan yang diterangi cahaya keemasan lampu ruangan. Untuk sesaat, seluruh dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan mewah yang sunyi itu, ditemani denting lembut sendok Keysa yang tak sadar telah menciptakan momen canggung luar biasa.
Jantung Alya berdegup kencang, begitu keras hingga ia khawatir Arya bisa mendengarnya. Pipinya memanas, warna merah muda merayap naik sampai ke telinganya. Ribuan pikiran berputar cepat di kepalanya.
Jika aku menjawab tidak, Keysa pasti akan kecewa. Ia bisa membayangkan wajah polos gadis kecil itu langsung lesu, mata besarnya yang penuh harap akan redup. Menolaknya terasa seperti menyakiti hati anak kecil yang tak bersalah.
Tapi jika dia mengiyakan, Arya bisa berpikir macam-macam. Ini baru kali pertama mereka makan malam bersama. Meski ada ketertarikan yang jelas di antara mereka, segalanya masih terlalu dini. Ia takut jawabannya akan terdengar terlalu berani, terlalu cepat, atau justru membuat Arya merasa tertekan.
Udara di ruangan terasa lebih berat sekarang. Aroma manis es krim bercampur dengan ketegangan yang tak terucapkan. Musik piano samar dari luar koridor seolah semakin pelan, seolah ikut menahan napas menunggu respons Alya.
Arya tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk dengan tenang, punggung tegak, satu tangannya bertumpu di meja. Matanya yang tajam dan dalam terus menatap Alya tanpa berkedip, seolah sedang membaca setiap emosi yang berkelebat di wajah perempuan itu. Ekspresinya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu di balik tatapannya, kesabaran, rasa penasaran, dan sedikit kehangatan yang jarang ia tunjukkan.
Ia sengaja tidak memotong pembicaraan, ingin mendengar sendiri bagaimana Alya menangani situasi ini.
Keysa mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Alya, suaranya kecil tapi penuh harap, “Aunty... kenapa diam? Aunty nda mau jadi mama Key, ya?”
Alya menggigit bibir bawahnya pelan. Tangannya tanpa sadar meremas ujung serbet di pangkuannya. Ia merasa terjebak di antara keinginan untuk melindungi perasaan Keysa dan ketakutannya akan kesalahpahaman dengan Arya.