NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Budhe

Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi, namun suasana di area keberangkatan bandara sudah riuh. Pagi itu, mobil milik Arjuna kembali membelah jalanan, membawa muatan penuh energi yang siap meledakkan telinga siapa saja.

Di kursi kemudi, Arjuna tampak gagah dengan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dan senyum tengil yang sudah aktif sejak pukul enam pagi.

Di sampingnya, Laila duduk bersedekap dada dengan wajah sedingin es kutub utara. Lingkar hitam tipis di bawah matanya menjadi bukti bahwa misinya tidur terpisah dengan Arjuna semalam tidak sepenuhnya membuahkan ketenangan.

Alih-alih tidur nyenyak, Laila justru menghabiskan malam dengan mendengarkan interogasi gagal Elvira dan sialnya membayangkan apa yang sedang dilakukan pria yang sekarang menjadi suaminya itu lakukan di kamarnya.

Sementara itu, di kursi penumpang baris kedua, Budhe Lastri dan Mbak Elvira sedang sibuk merapikan diri seolah-olah mereka mau pergi ke acara besar. Budhe Lastri sibuk membetulkan letak selendang batik mencoloknya, sedangkan Elvira sibuk mencocokkan jam keberangkatan di ponselnya.

Begitu mobil berhenti dengan sempurna di drop-off zone bandara, Arjuna langsung turun dengan sigap. Gerakan refleksnya selalu muncul jika berurusan dengan logistik dan efisiensi waktu. Ia memutari mobil, membuka pintu bagasi, dan menurunkan dua koper besar milik Budhe Lastri.

"Waduh Nak Juna. Menantu jagoan ini luar biasa tanggap," puji Budhe Lastri heboh begitu turun dari mobil, langsung menepuk-nepuk bahu tegap Arjuna.

"Tenaganya sisa banyak ya, Le? Padahal tak kira hari ini kamu bakal lemas dan ngantuk gara-gara efek 'ditinggal istri' di kamar atas semalam."

Laila yang baru saja turun dari pintu depan langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia memelototi budhenya dengan wajah yang mulai merona merah. "Budhe, ini di tempat umum, gak usah bahas yang aneh-aneh deh."

"Aneh piye toh, La? Budhe kan cuma mengagumi kekuatan fisik suamimu. Iya kan, Juna?" Budhe Lastri mengedipkan sebelah matanya yang dilapisi eyeshadow hijau terang, membuat penampilannya pagi itu terlihat luar biasa eksentrik.

Arjuna bukannya membela istrinya, malah langsung memasang wajah sok prihatin sambil membetulkan letak kacamata hitamnya. "Betul sekali, Budhe. Kamar segede itu rasanya kayak lapangan terbang yang sepi penumpangnya. Dingin banget, gak ada yang bisa dipeluk kecuali guling yang baunya bau hotel, bukan bau istri."

"MAS ARJUNA!" desis Laila tajam, melangkah cepat dan langsung mencubit bagian belakang pinggang Arjuna dengan gemas. "Bisa diem gak? Itu petugas bandara sampai ngeliatin."

"Aduh, Dek... sakit. Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga," keluh Arjuna dengan nada yang dibuat semelas mungkin, namun senyum kemenangan di sudut bibirnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

Elvira yang sedang menarik kopernya langsung tersenyum melihat pemandangan itu. Ia merangkul pundak Laila dengan gaya jail. "Sudahlah La, akui saja. Lagian kamu aneh-aneh saja sih. Pengantin baru kok malah milih tidur sama Mbak. Tahu gak, semalam si Laila ini bolak-balik mengubah posisi tidur, Juna. Kayaknya ngerasa ada yang kurang di sampingnya tapi gengsi mau ngaku."

"Mbak Elvira, tolong ya, tiketmu masih bisa aku batalkan secara sepihak kalau kamu gak mandek ngomong," ancam Laila dengan volume suara yang ditekan namun penuh intimidasi.

"Hahaha galak tenan anak Dirga ini!" seru Budhe Lastri.

Mereka berempat kemudian berjalan memasuki area terminal keberangkatan menuju konter check-in. Arjuna dengan sukarela mendorong troli yang memuat dua koper raksasa Budhe Lastri plus tiga kardus besar oleh-oleh yang entah isinya apa saja, Laila curiga isinya adalah kerupuk dan bakpia dalam jumlah banyak.

"Juna, ini kardus yang warnanya cokelat tua jangan sampai kebalik ya layanannya. Itu isinya barang pecah belah dan rajutan berharga buat dipajang di rumah Jogja," instruksi Budhe Lastri sambil berjalan mundur di depan troli, bertindak seolah-olah dia adalah petugas pengatur lalu lintas udara.

"Siap, Budhe! Kardus berharga sudah dikunci posisinya, aman dari guncangan turbulensi udara," sahut Arjuna dengan nada tegas layaknya menerima perintah dari Panglima TNI.

Laila berjalan di samping Elvira, mencoba mengabaikan interaksi antara Budhe dan Arjuna. Namun, pandangan mata Laila tidak bisa bohong. Sesekali ia melirik profil samping Arjuna yang sedang mendorong troli dengan santai. Kemeja flanelnya yang pas di tubuh memperlihatkan siluet punggungnya yang tegap dan kokoh. Ada rasa yang aneh mendadak menyusup di dada Laila melihat bagaimana Arjuna dengan sabar melayani keribetan Budhe Lastri tanpa mengeluh sedikit pun.

"Tuh, kan. Diliatin terus suaminya. Takut hilang ya, La?" bisik Elvira menyenggol lengan Laila lagi.

"Siapa yang liatin? Aku lagi nyari papan petunjuk arah gate, Mbak. Gak usah sok tahu," elak Laila cepat, langsung memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat.

"Halah, alasan. Bilang aja kamu mulai terpesona sama pesona suamimu itu. Juna itu emang dari SMA auranya kuat, La. Dulu aja banyak adik kelas yang sengaja pura-pura pingsan di depan UKS pas dia lagi piket PMR," cerita Elvira memberikan info masa lalu yang tidak diminta.

Laila mengernyitkan dahi, ada rasa tidak nyaman yang mendadak menggelitik dadanya mendengar fakta itu. "Oh ya? Banyak yang suka?"

"Banyak banget! Tapi dia kan anaknya cuek bebek, kerjaannya cuma melanggar aturan sama dihukum lari. Makanya aku syok pas tahu dia bisa langsung setuju dijodohin sama kamu dan langsung bucin begini," tambah Elvira dengan senyum tipis yang tulus.

Mendengar kata 'dijodohin', Laila kembali teringat akan realita hubungan mereka. Pernikahan ini hanya untuk menjaga kesehatan Ayahnya agar tetap stabil.

Proses check-in bagasi berlangsung cukup lama karena berat kardus oleh-oleh Budhe Lastri ternyata melebihi kuota bagasi yang tertera di tiket. Petugas konter, seorang wanita muda dengan seragam rapi, tampak sibuk menghitung ulang biaya kelebihan bagasi.

"Waduh, Mbak masa kelebihan dua kilo saja harus bayar mahal toh? Ini isinya cuma kerupuk kaleng sama peyek teri, Mbak. Gak berat-berat amat, cuma volumenya saja yang bikin heboh," tawar Budhe Lastri mulai mengeluarkan mode emak-emak di depan konter.

Elvira menutup wajahnya dengan dompet, malu melihat kelakuan ibunya. Sementara Laila mulai panik melihat antrean di belakang mereka yang semakin panjang.

Arjuna dengan tenang melangkah maju, berdiri di samping Budhe Lastri. Ia melepas kacamata hitamnya, lalu memberikan senyum paling menawan kepada petugas wanita tersebut.

"Selamat pagi, Mbak. Mohon izin membantu," kata Arjuna dengan suara baritonnya yang sangat teratur dan sopan.

"Ini bawaan Budhe saya memang agak berlebih karena beliau terlalu bersemangat merayakan pernikahan kami. Kalau boleh, biaya kelebihan bagasinya biar saya yang selesaikan sekarang secara tunai atau debit agar tidak menghambat proses check-in penumpang lain."

Petugas wanita itu sempat terpana sesaat melihat ketampanan dan ketegasan sikap Arjuna. Wajah petugas itu mendadak bersemu merah, lalu dengan gugup menekan tombol di komputernya. "Eh... iya, Mas. Eh, maksud saya, Pak. Boleh, silakan diselesaikan di konter pembayaran sebelah sana."

Budhe Lastri langsung menyenggol lengan Laila dengan heboh. "La Lihat tuh! Suamimu kalau sudah mengeluarkan mode begitu, mbak-mbak bandara langsung lemes kayak yoyo kehabisan tali, kamu harus hati-hati, La. Suami modelan Arjuna begini kalau dilepas sendirian di pangkalan udara, bisa-bisa pulang membawa pasukan cadangan."

Laila terbelalak, wajahnya merah padam menahan malu karena suara Budhe Lastri terdengar oleh beberapa orang di sekitar mereka. "Budhe Lastri, pelanin suaranya."

Arjuna yang baru kembali setelah menyelesaikan pembayaran bagasi langsung menyambar obrolan itu dengan gaya tengil andalannya. "Tenang saja, Budhe. Pasukan cadangan saya cuma satu, namanya Dek Laila. Saya gak berani cari cadangan lain."

"Hahaha, cocok banget kalian ini. Yang satu jago nembak, yang satu jago ngeles," tawa Budhe Lastri pecah lagi, membuat Laila rasanya ingin menghilang sebentar dari sana.

Setelah urusan bagasi selesai, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Budhe Lastri dan Elvira sudah harus bersiap memasuki area pemeriksaan keamanan menuju boarding gate. Suasana kocak yang sedari tadi mendominasi perlahan berubah menjadi sedikit haru saat prosesi pamitan dimulai.

Budhe Lastri memeluk Laila dengan erat, menepuk-nepuk punggung keponakannya itu dengan kasih sayang seorang ibu. "Jaga dirimu baik-baik ya, La. Sekarang kamu sudah jadi istri abdi negara. Harus kuat, harus sabar menghadapi kehidupan ke depannya. Tapi budhe percaya, Arjuna itu anak baik. Dia bakal jaga kamu lahir batin."

"Iya, Budhe... makasih ya sudah datang jauh-jauh dari Jogja," bisik Laila dengan tulus, matanya agak berkaca-kaca karena ia selalu merasa dekat dengan budhenya ini sejak ibunya tiada.

Elvira juga memeluk Laila, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Laila. "La, aku gak tahu apa yang lagi kamu sembunyiin atau apa masalahmu. Tapi tolong, buka hatimu sedikit buat Arjuna. Jangan sampai kamu menyesal karena telat menyadari siapa yang bener-bener berjuang buat ada di sampingmu."

Laila tertegun mendengar bisikan Elvira. Ia melepaskan pelukannya, menatap mata sepupunya yang kini memancarkan keseriusan seorang sahabat. Laila hanya bisa mengangguk pelan tanpa mampu mengeluarkan kata-kata.

Setelah berpamitan dengan Arjuna yang lagi-lagi dihadiahi wejangan kocak dari Budhe Lastri tentang 'taktik serangan malam' kedua wanita itu akhirnya berjalan melintasi gerbang pemeriksaan, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum menghilang di balik dinding kaca terminal.

Suasana di sekitar lorong keberangkatan mendadak terasa lebih sunyi setelah kepergian duo heboh tersebut. Laila berdiri diam, menatap ke arah gerbang kosong dengan perasaan campur aduk. Rasa lelah, beban rahasia hubungan dengan Devan, dan nasihat Elvira barusan berkumpul menjadi satu, membuat dadanya terasa sesak kembali. Ia mengembuskan napas berat, bahunya sedikit merosot karena keletihan mental.

Arjuna melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat natural ia merangkul pundak Laila, menarik tubuh gadis itu agar bersandar pada sisi tubuh tegapnya. Tangan kanannya yang hangat mengusap lengan Laila dengan lembut, memberikan kehangatan yang instan di tengah dinginnya AC bandara.

Laila sempat menegang, insting defensifnya muncul untuk melepaskan diri. Namun, sebelum ia sempat bergerak, suara bariton Arjuna yang dalam dan menenangkan terdengar tepat di atas kepalanya.

"Sebentar saja, Dek. Biarkan begini dulu," bisik Arjuna lembut, nadanya sama sekali tidak mengandung kejenakaan yang menyebalkan seperti tadi. "Mas tahu kamu capek. Kamu sudah hebat banget hari ini bisa senyum dan nemenin Budhe Lastri yang hebohnya luar biasa. Sekarang budhe sudah berangkat, tugasmu akting di depan umum sudah selesai. Bersandar saja dulu kalau kakimu masih pegal."

Laila terpaku. Kata-kata Arjuna menghujam tepat ke bagian jiwanya yang paling rapuh. Pria ini lagi-lagi tahu. Arjuna tahu bahwa senyum yang ia tampilkan sejak kemarin hanyalah topeng untuk menutupi kelelahan dan kegelisahan hatinya. Dan alih-alih menuntut penjelasan atau marah karena sikap dingin Laila semalam, Arjuna justru menawarkan pundaknya sebagai tempat bersandar yang aman tanpa syarat.

Untuk pertama kalinya sejak rangkaian acara pernikahan dimulai, Laila tidak menolak sentuhan fisik Arjuna. Ia membiarkan tubuhnya bersandar pada dada bidang suaminya, menikmati kehangatan dan perlindungan yang ditawarkan oleh Arjuna di tengah keramaian bandara.

Setelah sekitar satu menit menikmati momen hening tersebut, Arjuna menundukkan kepalanya, melihat ke arah Laila yang masih bersandar di pundaknya dengan mata terpejam. Sebuah seringai jail yang sangat familiar perlahan kembali muncul di wajah tampannya.

"Nah, kalau bersandar lama-lama begini kan enak, Dek," celetuk Arjuna dengan suara yang kembali disetel ke mode tengil. "Mas jadi merasa fungsi sebagai suami sudah berjalan."

Laila langsung membuka matanya sempurna. Rasa haru dan nyaman yang baru saja mengembang di dadanya seketika menguap berganti dengan emosi yang meletup-letup. Ia mendorong dada Arjuna dengan kuat, melangkah mundur satu langkah sambil mendelik tajam.

"ARJUNA, Lo bener-bener merusak suasana ya!" pekik Laila kesal setengah mati, wajahnya memerah sempurna karena malu dan gemas yang luar biasa.

...Bersambung......

1
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!