NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI ATAS ANGIN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 6: Di Atas Angin

Satu minggu telah berlalu sejak insiden berdarah di Bukit Cemara. Luka lebam di tubuh Jaka mulai memudar, menyisakan bekas kebiruan tipis yang tak lagi menyengat. Jaka dan Kiki kini sudah beraktivitas seperti biasa, melenggang bebas membelah jalanan kampung tanpa lagi dibayangi ketakutan akan dijegal atau dibalas dendam oleh Dodi dan kawan-kawannya.

Rasa waswas itu menguap sepenuhnya setelah sebuah kabar sampai ke telinga mereka: Dodi memilih bungkam dan bersumpah kepada teman-temannya bahwa luka babak belur di wajahnya murni akibat kecelakaan konyol terpeleset di bukit.

Malam kian larut saat angin dingin berhembus menyapu pelataran emperan toko tua yang sudah lama mangkrak—tempat yang sudah bertahun-tahun menjadi markas rahasia mereka.

Suasana nongkrong malam ini terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Di samping Kiki, duduk seorang gadis berambut sebahu bernama Ayu, yang baru beberapa hari ini resmi menjadi kekasihnya.

"Ah, kamu mah dari tadi gombal melulu, Ki!" celoteh Ayu sambil menepuk lengan Kiki gemas, diselingi tawa renyah yang merona di pipinya.

Kiki terkekeh bangga. Dengan jemawa, ia merangkulkan tangannya ke bahu Ayu, menarik gadis itu makin rapat ke sisinya. "Gombal tapi bikin kamu ketagihan, kan?" godanya, disambut sorakan riuk dari kawan-kawannya.

Gelak tawa dan obrolan ricuh saling ledek sahut-menyahut, memecah kesunyian malam di pelataran toko kosong itu. Namun, di tengah riuhnya canda tawa yang membumbung tinggi, Jaka hanya duduk bersandar pada tiang beton dingin. Tangannya menggenggam cangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Matanya menatap kosong ke kegelapan jalan raya, sementara pikirannya justru melayang jauh—kembali terpaut pada sosok Dea yang hingga kini masih dingin membatu padanya.

Ternyata, semenjak insiden malam itu, Dodi tidak pernah terlihat lagi keluyuran di desa mereka. Bahkan kini Dodi seolah tak berani lagi mendekati Dea. Bukan karena takut pada gertakan Jaka dan Kiki, melainkan Dodi hanya tak ingin memperpanjang masalah di kampung orang. Namun, hal itu justru memantik tanda tanya besar di benak Dea. Seminggu belakangan, Dodi selalu menghindar dan menjauh darinya tanpa alasan yang jelas.

Tiba-tiba, dari kegelapan gang, muncul sosok gadis berjalan dengan langkah terburu-buru menghampiri markas mereka. Tumit sandalnya menghentak keras di atas aspal, menandakan amarah yang membendung di dada. Dea makin yakin bahwa semua perubahan sikap Dodi belakangan ini adalah ulah licik dari Jaka.

"Jak! Lihat tuh, bukannya itu si Dea?! Tumben banget dia main ke sini!" seru Kiki panik bercampur heran seraya menepuk bahu Jaka cukup keras.

Jaka yang kala itu tengah melamun tersentak kaget dari lamunan panjangnya. Pandangannya lurus menangkap sosok sang pujaan hati yang berjalan cepat menghampirinya. Jantung Jaka mendadak berdegup kencang tak karuan. Tanpa membuang waktu, ia bergegas bangkit dari duduknya, merapikan kaus dan celananya dengan canggung seraya memasang senyum terbaiknya.

Namun, harapan manis itu hancur seketika. Tanpa ragu sedikit pun, begitu langkahnya terhenti tepat di hadapan Jaka, Dea mengayunkan tangannya dan melayangkan tamparan keras yang mendarat telak di pipi kiri Jaka.

PLAK!

Suara tamparan itu menggelegar nyaring, memecah keriuhan di emperan toko tua itu seketika. Jaka memegangi pipinya yang mendadak panas dan berdenyut nyeri. Matanya membelalak tak percaya. Bukannya sapaan hangat atau senyuman manis yang ia dapatkan, melainkan hantaman penuh amarah dari wanita pujaan hatinya.

Kiki, Ayu, dan teman-teman lain yang ada di sana seketika bungkam, melongo terpaku menyaksikan kejadian tak terduga yang berlangsung begitu cepat.

"Aduh... Dea! Kamu kenapa, sih?! Datang-datang langsung nampar aku?! Sadar, Dea!" seru Jaka dengan nada tinggi bercampur syok, jemarinya masih menekan pipinya yang memerah.

"Seharusnya Kak Jaka yang sadar!" potong Dea tegas, matanya mendelik tajam memancarkan kekecewaan dan amarah yang meluap-luap. "Apa yang udah Kak Jaka lakukan sama Dodi, hah?!"

"Apa yang kamu katakan?! Aku nggak mengerti maksudmu apa! Kamu nuduh aku?!" sahut Jaka panik, berusaha mengelak walau suaranya terdengar goyah dan matanya bergerak liar.

"Sudahlah, Kak Jaka! Nggak usah pura-pura!" potong Dea dengan suara meninggi, dadanya naik turun menahan amarah yang makin meluap. "Lagian apa urusan Kak Jaka, hah?! Aku mau dekat sama siapa saja, itu urusan aku! Bukan urusan Kak Jaka! Aku... semakin benci sama Kak Jaka!"

Kata-kata terakhir itu menusuk tepat di dada Jaka, dingin dan mematikan.

Tanpa sudi mendengar sepatah kata pun lagi, Dea memutar tubuhnya dan melangkah pergi terburu-buru, menghilang di balik pekatnya malam.

Jaka berdiri membisu. Ia masih mematung dengan mulut sedikit terbuka, menatap kosong ke arah jalanan sepi yang ditinggalkan Dea. Pipi kirinya masih berdenyut panas, namun rasa nyeri itu tak seberapa dibanding rasa hina yang menghujam jantungnya. Harga dirinya remuk tak tersisa, hancur lebur di depan mata teman-temannya sendiri.

Melihat kejadian itu, Kiki bergegas melepaskan rangkulannya dari Ayu. Ia melangkah cepat menghampiri Jaka yang masih berdiri kaku bagai patung.

"Sudahlah, Jak! Buat apa kamu masih ngejar-ngejar cewek nggak jelas seperti dia? Mending cari yang lain aja," saran Kiki berusaha menenangkan seraya merangkul erat bahu sahabatnya itu.

Jaka tak bergeming sedikit pun. Cengkeraman jemarinya di samping paha mengepal keras hingga persendian tangannya memutih. Tatapannya lurus menembus pekatnya malam, sementara matanya menyipit penuh dendam yang kian membara.

"Tidak, Ki... kali ini aku benar-benar serius sama Dea. Nggak akan ada cewek lain," sahut Jaka dengan suara datar dan dingin, tanpa ada sedikit pun rasa ragu.

Kiki menghela napas panjang, menatap wajah sahabatnya yang kini sudah sepenuhnya dibakar oleh racun obsesi dan rasa sakit hati. Sebuah seringai tipis yang penuh intrik terukir samar di sudut bibir Kiki. Ia menepuk-nepuk bahu Jaka beberapa kali.

"Ya sudah kalau itu mau kamu. Terserah kamu, Jak... aku cuma bisa mendukungmu," ujar Kiki dengan nada rendah, meniupkan bara nekad yang siap meledak di dalam kepala Jaka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!