NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Kenalkan, namaku Leo, komandan lapangan dari geng Cobra."

Bayu menegakkan punggungnya, berusaha menyembunyikan rasa pusingnya yang belum hilang sepenuhnya.

"Ada urusan apa komandan geng sebesar ini repot-repot datang ke gubuk jelek saya?" tanya Bayu dengan nada datar.

Leo tertawa pelan mendengarnya, suara tawanya terdengar aneh seperti desisan ular berbisa.

"Bagas lapor padaku kalau dia kehilangan sepuluh juta gara-gara anak kampung yang tiba-tiba sakti," kata Leo santai.

"Awalnya aku sama sekali tidak percaya dan mengira Bagas cuma mabuk kecubung murahan."

Leo mengambil sebatang rokok kretek dari sakunya dan menyalakannya dengan korek besi.

"Tapi siang tadi, aku dapat kabar memalukan kalau dua adikku masuk penjara setelah dikerjai kekuatan aneh di minimarket," lanjut Leo sambil menghembuskan asap ke udara.

"Ciri-ciri pelakunya persis seperti yang digambarkan oleh si bodoh Riko ini."

Bayu tetap memasang wajah tenang meski jantungnya mulai berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

"Lalu apa hubungannya rentetan kejadian itu dengan saya?" elak Bayu mencoba bermain bodoh.

"Saya dari tadi siang cuma diam di rumah menjemur kelereng."

Riko yang berdiri aman di belakang Leo langsung maju dengan wajah memerah karena amarah yang memuncak.

"Jangan berani bohong kamu anak sialan." bentak Riko menunjuk tepat ke wajah Bayu.

"Bos Leo sudah mengecek ke terminal angkot, ada supir yang melihatmu turun di depan Lunara Minimarket tadi siang."

Bayu mendecakkan lidahnya pelan menyadari kecerobohannya meninggalkan jejak saksi mata.

"Ternyata jaringan preman ini lumayan luas juga untuk sekadar mencari informasi receh," batin Bayu merasa sedikit kesal.

Leo mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat tanpa suara agar Riko mundur ke belakang.

"Aku tidak peduli kamu pakai ilmu hitam apa, pesugihan, atau punya jimat kebal peluru," ucap Leo menatap tajam mata Bayu.

"Kamu sudah berani membuat geng Cobra rugi besar hari ini."

Leo menjentikkan puntung rokoknya yang masih menyala terang ke arah ujung sepatu Bayu.

"Ganti uang Bagas sepuluh juta, ditambah denda ganti rugi minimarket lima puluh juta." ancam Leo dengan suara dingin.

"Atau rumah ini akan kami bakar rata dengan tanah bersama tubuhmu di dalamnya malam ini juga."

Kelima preman yang sedari tadi diam di belakang Leo langsung mengeluarkan senjata tajam masing-masing dari balik baju mereka.

Ada yang membawa celurit berkarat, rantai besi gir motor, dan tongkat bisbol aluminium.

Bayu melihat deretan senjata itu tanpa menunjukkan raut ketakutan sedikit pun.

"Uangnya sudah saya pakai untuk beli beras, Bang Leo," jawab Bayu sambil tersenyum mengejek dengan sengaja.

"Kalau kalian memang mau membakar rumah ini, silakan saja, saya juga sudah bosan melihat atapnya yang selalu bocor."

Wajah Leo langsung mengeras menahan marah mendengar tantangan terang-terangan dari pemuda ingusan di depannya ini.

"Habisi anak ini, potong salah satu kakinya biar dia tahu caranya bersujud," perintah Leo dengan nada kejam.

Kelima preman itu langsung berteriak garang dan menerjang maju ke arah Bayu secara serentak dari berbagai sisi.

Bayu melirik layar biru sistem yang masih melayang pasif di sudut pandangannya.

"Energi Waktu sisa empat, sementara tubuhku masih sangat lelah akibat eksperimen barusan," batin Bayu menghitung peluang menangnya.

"Aku tidak bisa menghentikan waktu terlalu lama atau memukul mereka satu per satu seperti sebelumnya."

Preman pertama yang memegang rantai besi sudah mengayunkan senjatanya dengan kecepatan penuh ke arah kepala Bayu.

"Batu Waktu, hentikan waktu." perintah Bayu dengan fokus maksimal.

Wusss.

Dunia kembali membeku dalam kebisuan.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Energi Waktu: 3/10]

Rantai besi berkarat itu berhenti mengambang tepat sepuluh sentimeter dari pelipis kiri Bayu.

Wajah beringas preman itu membeku kaku dengan mulut yang sedang terbuka lebar.

Bayu tidak membuang waktu sedetik pun karena ia sadar sisa energinya sangat kritis.

Ia hanya menunduk sedikit untuk menghindari lintasan hantaman rantai besi tersebut.

Bayu kemudian melangkah perlahan mengambil batu bata utuh yang tergeletak di dekat pot bunga kakeknya.

Ia meletakkan batu bata itu tepat di jalur langkah kaki preman kedua yang membawa celurit.

"Satu jebakan dasar selesai," gumam Bayu sambil menahan napas agar staminanya tidak cepat terkuras.

Ia beralih ke dua preman terakhir yang posisinya sedang berlari berdampingan.

Bayu menarik kerah baju preman sebelah kiri sedikit saja, mengubah derajat arah larinya agak menyerong ke kanan.

"Dan kalian berdua akan saling bertabrakan dengan indah nanti," batin Bayu merasa puas.

Bayu lalu berjalan mundur beberapa langkah menjauhi mereka dan bersandar santai di tiang kayu teras rumahnya.

"Lanjutkan waktu."

Wusss.

Brak. Bugh. Gubrak.

Rentetan kejadian konyol namun brutal terjadi di depan mata Leo dan Riko dalam hitungan detik.

Preman pertama yang mengayunkan rantai hanya memukul angin kosong karena tubuh Bayu sudah tidak ada di depannya.

Rantai itu terus melayang terbawa momentumnya sendiri dan malah menghantam wajah preman di sebelahnya dengan sangat keras.

"Aaarrgh." jerit preman itu kesakitan sambil memegangi wajahnya yang berdarah robek akibat sabetan rantai temannya sendiri.

Di saat yang sama persis, preman bercelurit tersandung keras pada batu bata yang sengaja diletakkan Bayu.

Ia jatuh tertelungkup menghantam tanah dan celuritnya terlempar melayang mengenai ban depan mobil sedan milik Leo.

Cesss.

Ban mobil mahal itu langsung bocor dan kempes seketika mengeluarkan angin.

Dua preman terakhir yang arah berlarinya diubah Bayu malah saling bertabrakan dengan sangat keras layaknya adu banteng.

Kepala mereka saling berbenturan telak dan keduanya langsung tumbang pingsan di atas rumput tanpa bersuara.

Hanya dalam waktu kurang dari dua detik, kelima anak buah Leo sudah terkapar tak berdaya mengerang kesakitan.

Leo dan Riko melongo mematung tak percaya melihat pemandangan mustahil di depan mata mereka.

"Apa-apaan ini semua." teriak Leo dengan wajah pucat pasi kehilangan ketenangannya.

"Kamu sebenarnya pakai ilmu sihir jenis apa, hah."

Bayu tetap melipat kedua tangannya di dada sambil menyunggingkan senyum sinis yang mengintimidasi.

"Saya tidak pakai sihir apa pun, Bang Leo," jawab Bayu santai meski kedua lututnya sedikit gemetar menahan lelah.

"Anak buah abang saja yang kurang latihan keseimbangan dan hobi memukul teman sendiri."

Riko langsung bersembunyi ketakutan di balik punggung Leo dengan seluruh tubuh gemetar hebat.

"Sudah kubilang kan Bos, dia itu pasti pelihara jin iprit di rumah ini." bisik Riko dengan nada panik.

Leo menggeram marah menahan malu lalu mencabut sebuah pistol revolver rakitan dari balik jaket kulitnya.

"Jin atau bukan, tidak ada makhluk yang bisa selamat dari timah panas," ancam Leo sambil mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dada Bayu.

Bayu menelan ludah dengan susah payah melihat senjata api itu menyalak di depannya.

Ia tahu sisa energinya tidak akan cukup untuk berlari menghindari peluru jika ia sampai telat merespons tarikan pelatuk.

[Peringatan Kritis.]

[Energi Waktu: 2/10]

[Penggunaan Jeda Waktu berikutnya berisiko tinggi menyebabkan kerusakan jaringan saraf pengguna.]

"Sial, sepertinya aku harus benar-benar bertaruh nyawa kali ini," batin Bayu bersiap mengaktifkan kekuatannya untuk yang terakhir kalinya hari ini.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!