NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pria misterius 1

Matahari pagi itu mulai menyingsing lembut, menyinari halaman rumah kecil kami yang kini terasa lebih sepi tanpa suara langkah Ayah. Setelah selesai membereskan rumah dan menyapu halaman, Ibu menghampiriku sambil menyodorkan selembar uang yang dilipat rapi.

"Angela," ucapnya pelan sambil mengusap kepalaku dengan penuh kasih. "Tolong belikan kebutuhan dapur ya. Kita butuh beras, telur, sayuran segar, dan sedikit bumbu dapur. Ibu masih harus menyelesaikan setrikaan baju tetangga yang harus diantar siang nanti."

Aku mengangguk patuh. "Siap, Bu. Biar Angela yang urus."

Sebelum berangkat, aku membuka lemari pakaianku yang tak terlalu banyak isinya. Tanganku meraih satu gaun kesayanganku—dress berbahan katun lembut berwarna dasar merah muda dengan corak bunga-bunga kecil yang cantik. Ini adalah pemberian Ayah beberapa tahun lalu, sebelum nasib keluarga kami berubah drastis. Modelnya sederhana, tak berlebihan, namun saat aku memakainya, rasanya seolah ada pelukan hangat dari ayah yang menyertai. Aku merapikan kerahnya, memastikan tak ada kerutan, lalu menyisir rambutku rapi. Wajahku memang pucat dan terlihat lelah, tapi dress ini entah bagaimana membuatku merasa sedikit lebih berani menghadapi hari.

Dengan membawa tas belanja anyaman, aku melangkah menuju pasar tradisional terdekat yang tak terlalu jauh dari rumah. Suasana pasar sudah sangat ramai. Bau khas sayuran segar, aroma ikan, dan suara tawar-menawar pedagang memenuhi udara. Aku berjalan perlahan, menyusuri lorong-lorong pasar sambil mencatat dalam hati apa saja yang harus kubeli.

Saat aku sedang berhenti sejenak di depan lapak sayuran untuk memilih kangkung yang segar, perasaanku tiba-tiba menjadi tak tenang. Ada rasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang. Aku menoleh ke samping, dan napasku sempat tertahan sejenak.

Tak jauh dari sana, berdiri sekelompok pemuda yang tampak berbeda dari orang-orang pasar pada umumnya. Mereka mengenakan pakaian serba hitam—kemeja lengan panjang hitam yang dikancingkan rapi, celana panjang hitam, hingga sepatu yang tampak mengkilap. Penampilan mereka sangat rapi namun terasa kaku dan mengintimidasi di tengah keramaian pasar yang berdebu dan sederhana itu. Beberapa dari mereka berdiri tegak sambil memandangi sekeliling dengan tatapan waspada, seolah sedang menjaga sesuatu atau seseorang yang penting.

Namun yang membuatku merinding adalah salah satu pemuda yang berdiri sedikit lebih maju dari rombongan itu. Dia tampak lebih muda dari yang lain, namun aura kekuasaannya terasa paling kuat. Dia menatap lurus ke arahku—tepat ke mataku. Tatapan itu tak beralih sedikit pun. Tak ada keramahan, tak ada senyum, tak ada pun kedipan mata. Wajahnya datar, dingin, penuh misterius seolah dia sedang menilai sesuatu yang hanya dia yang tahu maknanya. Tatapan itu terasa menusuk, seolah bisa menembus pikiranku.

Aku buru-buru menundukkan kepala, jantungku berdegup tak karuan. "Dih, apaan sih orang itu?" gerutuku dalam hati, berusaha mengusir rasa tidak nyaman itu. "Mungkin dia salah lihat atau memang orangnya begitu. Ah, tidak usah dipikirin, Angela. Urusanmu bukan dia."

Aku menghela napas panjang, berusaha mengabaikan sepasang mata yang masih terasa menancap padaku itu. Aku kembali menoleh ke arah sayuran di depanku, berpura-pura sibuk membandingkan mana yang lebih segar dan mana yang harganya pas dengan uang yang kubawa.

"Bu, kangkungnya berapa ikat?" tanyaku pada pedagang itu dengan suara yang berusaha ku buat tenang.

Meski punggungku masih terasa merinding seolah tatapan itu tak pernah lepas, aku memantapkan hati. Aku tak kenal dia, dia pun tak kenal aku. Tugas pagiku jelas: belanja kebutuhan rumah untukku dan Ibu. Hal lain yang tak penting, tak perlu kupusingkan. Biarlah orang asing itu menatap sesukanya, aku punya kewajiban yang harus diselesaikan dengan baik

Aku masih sibuk menawar harga sayuran agar pas dengan uang yang kubawa, saat tiba-tiba suara lantang terdengar memanggil namaku dari arah belakang.

"Angel!"

Langkah tanganku yang sedang memegang ikat kangkung seketika berhenti. Aku menoleh cepat, dan wajah tegangku perlahan melembut saat melihat sosok yang berdiri di sana. Itu Bagus—teman kerjaku di kafe, pemuda yang selalu sigap membantu jika aku kesulitan membawa pesanan dan sering menutupi kerjaku kalau aku harus izin menjaga Ibu atau ke rumah sakit dulu. Dia mengenakan kaos kerja kafe yang digulung lengannya, tampak baru saja selesai membeli bekal sarapan sebelum gilirannya masuk bekerja.

"Wah, ternyata kamu ya, Bagus," ujarku sambil tersenyum lega, rasa tak nyaman karena tatapan pemuda misterius tadi perlahan memudar. "Kamu ngagetin aja."

Bagus tersenyum ramah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf ya, Angel. Kebetulan lewat dan lihat punggung yang biasa pakai baju rapi itu, ternyata benar kamu. Lagi belanja kebutuhan rumah ya?"

"Iya, titipan Ibu," jawabku sambil menata sayuran ke dalam tas belanja. "Kamu gimana? Mau berangkat kerja?"

"Siap, nanti ketemu di kafe ya," katanya sambil menatapku sekilas. "Kamu cantik banget pagi ini lho, bunganya nempel terus kayak baju yang kamu pakai."

Wajahku memerah malu mendengar pujian polos itu. "Ah, kamu bisa aja. Ya sudah, aku selesaikan dulu belanjaannya ya, nanti terlambat."

Saat aku kembali menoleh ke arah tempat tadi sekelompok pemuda berbaju hitam berdiri, tempat itu sudah kosong. Mereka entah kapan pergi tanpa suara, seolah tak pernah ada di sana. Namun rasa dingin dari tatapan itu masih tersisa samar di benakku. Aku menggeleng pelan, menyadari bahwa aku tak perlu memikirkannya lebih jauh. Bagus mengajakku berjalan beriringan keluar dari pasar, dan aku menyertakan langkahku bersamanya, membiarkan keramaian pasar dan obrolan ringan Bagus mengusir sisa kegelisahan pagi itu.

Setelah berpisah dengan Bagus di gerbang pasar, aku berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Tas belanja di tangan terasa berat, tapi hatiku terasa lebih tenang. Sesampainya di rumah, aku melihat Ibu masih asyik menyetrika pakaian tetangga di ruang tengah dengan keringat yang menetes di pelipis.

"Bu, aku sudah pulang," sapa pelan sambil meletakkan tas di meja makan.

Ibu menoleh dan tersenyum lemah. "Terima kasih ya, Nak. Kamu istirahat dulu sebentar."

"Nanti saja, Bu. Angela mau masak dulu. Hari ini kita buat sup hangat ya, biar Ibu segar kembali," kataku sambil mulai menata bahan-bahan di dapur.

Aku mencuci sayuran dengan teliti, mengiris wortel, kentang, dan daging seadanya dengan hati-hati. Aroma kaldu dan rempah yang mendidih perlahan memenuhi seisi rumah, membawa kehangatan yang lama tak terasa. Tak lama kemudian, semangkuk sup hangat dengan taburan daun bawang sudah siap di meja.

"Silakan, Bu," ujarku sambil menuangkan sup ke mangkuk Ibu.

Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu mengusap kepalaku. "Terima kasih, Angela. Kamu memang anak yang baik. Semoga Ayah di sana bangga melihatmu."

Kami makan bersama dengan sederhana namun penuh rasa syukur. Rasa hangat sup itu menyebar ke seluruh tubuh, mengusir lelah sekaligus menguatkan hati kami untuk melanjutkan hari.

Malam pun perlahan menyelimuti desa. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan memastikan perut kami sudah terisi, aku dan Ibu duduk sebentar di teras. Langit tampak gelap tanpa banyak bintang, namun angin malam yang sejuk membawa ketenangan.

"Sudah larut, Nak. Kita istirahat ya," ajak Ibu sambil mengusap lenganku.

Aku mengangguk. Kami masuk ke dalam rumah, mematikan lampu ruang tengah, lalu berpisah menuju kamar masing-masing. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri berdoa—memohon perlindungan untuk Ibu, dan memohonkan ketenangan untuk Ayah di sana. Tubuhku terasa lelah sehabis beraktivitas seharian, namun hatiku terasa damai karena bisa merawat dan menemani satu-satunya orang yang kini kusayangi di dunia ini. Perlahan, mataku terpejam, terhanyut dalam tidur yang tenang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!