NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Rencana

"Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal bagimu, tapi inilah kebenarannya," bisik Kaelen seraya menggenggam erat telapak tangan Airyn yang masih terasa dingin.

"Ibuku, yang tak lain adalah nenekmu, diracuni oleh penasihatnya sendiri yang kini bertakhta sebagai penguasa kejam Tidebay. Ayah dan ibumu diserang habis-habisan hingga terdesak ke tepi tebing air terjun. Aku sendiri terluka parah saat berjuang membawamu kabur dari sana," terang Kaelen panjang lebar dengan nada penuh beban.

Mendengar penuturan Kaelen, sensasi déjà vu yang sangat kuat menghantam benak Airyn. Bayangan mimpi buruk yang berulang selama beberapa bulan terakhir mendadak berputar cepat di kepala: kecamuk perang berdarah, pria dan wanita yang bertahan di tepi air terjun, serta sesosok pria yang menerobos derasnya air terjun.

"Apakah ayahku... memiliki surai berwarna putih perak, dan ibuku berambut biru gelap?" tanya Airyn perlahan.

Manik mata biru Kaelen membelalak lebar. "K-kau... bagaimana kau bisa tahu?! Lihat, Airyn! Kau benar-benar keponakanku!" serunya penuh antusias.

"Selama beberapa bulan belakangan ini, aku selalu memimpikan pemandangan itu," jawab Airyn pelan. "Dua orang yang terdesak di tepi tebing air terjun, bersimbah darah, dan seorang bayi yang dilarikan menembus derasnya air."

Kaelen mendadak menarik Airyn kembali ke dalam pelukannya. "Aku tidak tahu apakah mimpi itu sebuah karunia atau justru kutukan bagimu, Airyn... tapi aku sangat bersyukur kita bisa bertemu lagi di dunia ini," gumam Kaelen, menahan sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh lagi.

Airyn mengusap punggung pamannya. "Apa yang sebenarnya terjadi malam itu... Paman?"

Rasanya masih sedikit canggung di lidah Airyn saat menguraikan kata 'Paman', sebuah panggil kekeluargaan sejati, bukan sekadar panggilan akrab seperti yang ia gunakan pada Paman Marco.

"Delapan belas tahun lalu, aku sedang bertugas menjaga perbatasan Tenggara selama beberapa bulan," kenang Kaelen. "Malam itu, aku menerima kabar bahwa istri kakakku akan melahirkan. Ya, bayi itu adalah kau, Airyn."

Airyn mendengarkan dengan napas tertahan.

"Tanpa membuang waktu, aku bergegas pulang ke istana utama. Namun, bukannya sambutan hangat, pemandangan mengerikan yang menyambutku. Ibuku, Lylian... sudah terbujur kaku di kamarnya akibat racun,"

Kaelen meremas buku jarinya hingga memutih. "Aku langsung mencari Kak Liam dan Kak Ariel. Melihat barisan prajurit pengkhianat berbondong-bondong menuju air terjun di belakang istana, aku mengejar mereka."

Kaelen menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Saat aku tiba, Kak Liam sudah bersimbah darah menahan barisan musuh, sementara Kak Ariel memelukmu erat di sudut tebing. Aku melompat dari dahan pohon untuk menyergap. Kakak ipar langsung menyerahkanmu padaku, dan aku menggunakan sihir air untuk membelah derasnya air terjun sebagai jalur melarikan diri."

Pria itu terdiam sejenak, memejamkan mata menahan sengatan kejam kenangan masa lalu.

"Dari balik tirai air terjun, aku mendengar tawa pria licik itu...Grance, penasihat ibu yang berkhianat dan membantai seluruh keluarga kita. Mereka terus mengejar. Aku membawamu menembus kegelapan malam menuju pemukiman pesisir saat prajurit pembelot mengepung wilayah itu. Panah musuh sempat menembus bahuku. Saat tenagaku benar-benar habis, aku meletakkanmu di dalam keranjang di depan pintu rumah seorang warga lokal, lalu melarikan diri memancing musuh demi menyembunyikan jejakmu sekaligus memalsukan kematianku."

Kaelen menatap Airyn lekat-lekat, raut wajahnya dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam. "Maafkan aku, Airyn. Aku bahkan tak tahu namamu dari awal. Seharusnya aku meyakinkan diriku untuk mencarimu lebih awal... tapi aku terlalu pengecut dan diselimuti ketakutan."

Kaelen menundukkan kepala. Namun, bukannya amarah, Airyn justru berhambur merengkuh bahu pamannya. Sebuah kehangatan aneh mengaliri dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, benang rahasia masa lalunya terurai terang. Ia bukan lagi seorang anak yang dibuang tanpa identitas, ia memiliki keluarga yang utuh.

"Sebelum berusia enam tahun, aku dibesarkan oleh seorang nenek tua yang ramah. Kata beliau hanya ada tulisan 'Airyn' pada bedong bayi yang aku kenakan." tutur Airyn lembut.

"Beliau yang mengajariku merajut, membuat roti, dan membalurkan pasta arang untuk menyembunyikan warna rambut ini. Beliau pula yang selalu membela ketika anak-anak lain menjulukiku 'Mata Kucing'. Namun beliau meninggal karena usia lanjut, dan Madam Ruby membawaku ke panti asuhan."

Airyn mengambil jeda sejenak, mengenang masa-masa sulitnya.

"Belasan tahun aku menunggu ada keluarga yang mau mengadopsiku. Hingga suatu hari, aku tak sengaja mendengar percakapan sepasang calon orang tua angkat. Mereka berkata aku anak yang baik, tetapi penampilanku khususnya manik mata emas ini terlalu aneh dan mencolok. Mereka takut membawaku pulang. Sejak hari itu, aku berhenti berharap. Aku menerima kenyataan bahwa aku sendirian di dunia ini."

Air mata Kaelen menetes membasahi bahu baju Airyn mendengarkan kepedihan yang ditanggung keponakannya sendirian selama belasan tahun.

"Tapi aku sangat bersyukur," lanjut Airyn dengan senyum tulus. "Madam Ruby mau menampungku hingga usia delapan belas tahun, dan Paman Marco memberiku pekerjaan yang layak. Dan sekarang... aku tahu aku punya seorang paman. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Keduanya berpelukan erat di dalam kamar remang tersebut, saling menenggelamkan diri dalam rasa haru perjumpaan yang telah lama terpisah.

Keesokan harinya, kedai roti Paman Marco beroperasi seperti biasa.

"Kau yakin pria ini pamanmu, Airyn?" bisik Paman Marco penuh selidik sembari memperhatikan Kaelen yang sedang telaten menyeduh teh untuk pelanggan.

Surai biru serenity milik Kaelen kini dilapisi pasta arang pekat yang disiapkan oleh Airyn. Pria itu awalnya sempat canggung, tetapi ia paham penyamaran ini adalah harga mutlak agar tidak menimbulkan kegemparan di tengah warga.

"Di luar wilayah Tidebay, konon ada orang-orang yang memiliki ciri fisik unik seperti kita," ujar Kaelen sebelumnya saat Airyn membalurkan racikan arang tersebut ke rambutnya.

Penjelasan itu memicu rasa penasaran di benak Airyn. Apakah ada orang lain di dunia ini yang memiliki penampilan unik dan sihir aneh seperti mereka? Namun, ia memilih menyimpannya dulu. Kehadiran Kaelen yang membantu pekerjaan di kedai sudah membuat hidupnya jauh lebih tenang dan berwarna.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.

Brak! Tak-tak-tak!

Derap langkah kaki kuda melaju ugal-ugalan di sepanjang jalan dermaga. Sekelompok prajurit berlapis zirah besi menerobos kerumunan warga, menendang lapak-lapak pedagang hingga beberapa gerobak sayur dan pot bunga hancur berantakan.

Pasukan itu berhenti tepat di depan kedai Paman Marco. Menarik perhatian setiap orang untuk segera keluar dan berkumpul.

"Ada keperluan apa Tuan-tuan sekalian kemari?" sapa Paman Marco berusaha sopan.

Tanpa menjawab, salah seorang prajurit kasar mendorong dada Paman Marco hingga pria tua itu hampir tersungkur. Dengan sigap, Airyn menahan tubuh Paman Marco agar tidak jatuh membentur jalanan.

"Perhatikan semuanya!" seru salah seorang prajurit dari atas punggung kuda seraya menebar pandangan mengancam ke seluruh warga.

"Jika ada di antara kalian yang melihat keberadaan orang aneh, segera laporkan ke pos penjaga! Terutama jika kalian menemukan siapa pun yang memiliki rambut berwarna biru!"

Para pelanggan kedai langsung berbisik-bisik heran. Rambut biru? Mana ada manusia berambut biru?

Namun, bagi Airyn dan Kaelen, pengumuman itu menghantam dada mereka bagai petir di siang bolong. Jantung Airyn berpacu hebat, telapak tangannya mendadak berkeringat dingin. Mengapa prajurit istana mendadak menyebar perburuan rambut biru hari ini?

Tanpa memedulikan kepanikan warga, Pasukan prajurit itu memutar haluan kencang, melanjutkan patroli ke jalan-jalan kota lainnya untuk menyebarkan dekrit yang sama.

"Prajurit biadab! Lihat pot-pot bungaku hancur semua!" umpat Paman Marco gusar.

Kaelen buru-buru membantu merapikan pecahan pot yang berserakan, sementara Airyn berlari kecil menolong seorang ibu penjual buah yang dagangannya ditabrak para prajurit itu.

Setelah situasi agak terkendali, Kaelen menarik lengan baju Airyn pelan. "Airyn, ikut aku sebentar."

Mereka melangkah ke samping kedai sebuah lorong kecil yang terlindung dari lalu-lalang warga.

"Kenapa mereka tiba-tiba berburu rambut biru?" tanya Airyn dengan suara bergetar panik. "Bukankah selama ini kita berdua sudah bersembunyi dengan sangat rapi?"

"Aku pun tidak tahu," bisik Kaelen dengan raut wajah seram. "Tapi Grance pasti telah menemukan suatu petunjuk bahwa garis darah bangsawan Tidebay masih tersisa di pesisir ini."

"Jika perburuan ini terus meluas, lambat laun penyamaran kita pasti terbongkar," tegas Airyn, meremas ujung apronnya.

Kaelen terdiam sejenak. Manik mata birunya mendadak memancarkan keteguhan yang belum pernah Airyn lihat sebelumnya, sebuah aura kepemimpinan dari seorang kesatria bangsawan yang lama tertidur.

"Kudeta," ucap Kaelen singkat namun berbobot.

Dahi Airyn berkerut dalam. "Apa?"

"Airyn, keluarga kitalah pemilik sah atas takhta dan wilayah Tidebay ini," ujar Kaelen bersungguh-sungguh, menatap lurus ke dalam manik mata emas keponakannya. "Kita tidak bisa terus berlari dan bersembunyi di balik pasta hitam ini selamanya. Kita harus merebut kembali hak kita dan meruntuhkan kekuasaan Grance."

Airyn terpaku di tempatnya. Lidahnya kufur kata-kata saat menyadari bahwa sang paman baru saja mengajaknya mengibarkan bendera perang melawan penguasa terkejam di wilayah tersebut.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!