NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 - Rasa Kekhwatiran

Malam telah larut di tengah hutan sunyi yang mengelilingi rumah kayu Guru Ling. Udara terasa dingin, sementara cahaya bulan yang menembus sela-sela dedaunan jatuh redup di atas halaman belakang yang dipenuhi bekas latihan. Suara benturan kayu dan desis petir ungu sesekali memecah kesunyian, seolah malam itu sendiri sedang menjadi saksi kerasnya tempaan yang harus dijalani Cang Li.

Di halaman depan, Su Yan baru saja menyelesaikan latihan tandingnya bersama Ling. Napas gadis itu sedikit terengah, butiran keringat membasahi pelipisnya, tetapi matanya masih memancarkan semangat yang menyala terang. Ia menyarungkan pedangnya perlahan, lalu menatap gurunya yang berdiri tegak di bawah pohon tua.

Ling mengusap pelan bagian samping lehernya, lalu mengangguk tipis.

“Gerakan kakimu sudah jauh lebih ringan daripada bulan lalu. Seranganmu juga mulai memiliki ritme. Jika kau terus berkembang seperti ini, kau akan menjadi lawan yang sangat merepotkan di turnamen nanti.”

Su Yan menunduk hormat, meskipun sudut bibirnya terangkat bangga.

“Terima kasih, Guru. Tapi aku tahu diriku belum cukup kuat. Di luar sana, pasti masih banyak monster muda dari dinasti lain.”

Ling tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergeser ke arah belakang rumah, tempat suara hantaman terus terdengar tanpa henti sejak sore tadi.

Su Yan mengikuti arah pandang gurunya, lalu menghela napas pelan.

“Dia belum berhenti juga?” gumamnya, sedikit tidak percaya. “Ini sudah lewat tengah malam…”

Mereka berdua berjalan menuju halaman belakang. Begitu sampai, pemandangan yang terlihat di hadapan mereka membuat Su Yan tanpa sadar menahan napas.

Di bawah cahaya bulan yang pucat, Cang Li masih berdiri di depan sebatang Bambu Hitam Jiwa. Tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, pakaian latihannya menempel pada kulit, dan tangannya tampak gemetar hebat karena kelelahan. Telapak tangannya bahkan sudah lecet dan berdarah akibat terlalu lama menggenggam gagang pedang. Namun, meski tubuhnya terlihat hampir roboh, sorot matanya tetap tidak lepas dari batang bambu hitam di depannya, seolah seluruh dunia di malam itu hanya berisi satu hal—membelahnya.

Pedangnya kembali terangkat. Petir ungu berderak lemah di sekeliling bilahnya.

Tok!

Pedangnya menghantam permukaan bambu, tetapi hasilnya tetap sama. Batang hitam itu hanya berguncang sedikit sebelum kembali diam seperti sebelumnya, keras, dingin, dan tak tergoyahkan.

“Cang Li, cukup!” seru Su Yan, suaranya tanpa sadar meninggi karena khawatir. “Kalau kau terus memaksa tubuhmu seperti ini, meridianmu bisa rusak!”

Ling pun melangkah maju dan berkata dengan nada tegas yang tak memberi ruang untuk dibantah.

“Latihanmu selesai untuk hari ini.”

Pedang di tangan Cang Li akhirnya turun perlahan. Dadanya naik turun berat, seolah setiap tarikan napas menggores paru-parunya dari dalam. Ia menunduk, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang memerah dan penuh luka.

“Aku…” suaranya serak dan putus-putus karena kelelahan. “Aku masih belum bisa membelahnya, Guru.”

Ling berdiri di depan batang bambu itu, lalu mengangkat satu tangan untuk menyentuh permukaannya. Ujung jarinya menyapu pelan bagian tengah bambu, sebelum matanya sedikit menyipit.

“Siapa bilang kau tidak membuat kemajuan?”

Cang Li dan Su Yan sama-sama menatap ke arah bambu itu.

Di sana, tepat di bagian yang tadi dihantam berkali-kali, tampak sebuah goresan tipis namun cukup dalam. Memang belum cukup untuk membelahnya, tetapi bekas itu jauh lebih nyata daripada semua serangan Cang Li sebelumnya.

Ling menoleh pada murid mudanya itu.

“Untuk seseorang di tahapmu, bisa meninggalkan jejak seperti ini pada Bambu Hitam Jiwa sudah termasuk kemajuan besar. Masalahmu bukan tidak punya kekuatan, melainkan kau belum tahu bagaimana mengumpulkan dan memadatkan kekuatan itu ke satu titik.”

Setelah beberapa saat, Ling memerintahkan mereka masuk.

Suasana di dalam rumah jauh lebih hangat. Aroma kayu cendana dan teh yang masih tersisa di udara sedikit meredakan ketegangan dari latihan keras tadi. Cang Li duduk di dekat meja rendah dengan tubuh yang masih kaku, sementara Su Yan keluar sebentar lalu kembali membawa semangkuk air hangat dan sehelai kain bersih.

Tanpa banyak bicara, gadis itu duduk di hadapan Cang Li dan meraih tangannya.

Cang Li sedikit terkejut.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa lagi? Mengobati tangan keras kepalamu ini,” gerutu Su Yan sambil memutar mata. “Kalau luka seperti ini dibiarkan, besok kau bahkan tidak akan bisa menggenggam pedang.”

Ia mulai membersihkan darah kering di telapak tangan Cang Li dengan gerakan hati-hati. Begitu kain basah menyentuh luka yang terbuka, rasa perih langsung menjalar.

“Ah—!” Cang Li spontan meringis dan hampir menarik tangannya.

Su Yan langsung menatapnya tajam.

“Jangan bergerak. Baru segini saja sudah mengeluh?”

Cang Li hendak membalas, tetapi ucapannya tertahan ketika melihat ekspresi Su Yan dari dekat. Gadis itu tampak benar-benar serius membersihkan lukanya, alisnya sedikit berkerut, dan sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang bahkan tidak ia sembunyikan.

Untuk sesaat, suasana menjadi hening.

Wajah Cang Li mendadak memanas tanpa alasan yang jelas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, tetapi Su Yan sudah keburu menyadarinya.

“Kenapa?” tanya Su Yan curiga. “Kenapa wajahmu merah begitu?”

“Tidak apa-apa,” jawab Cang Li terlalu cepat.

Su Yan mendengus kecil, tetapi sudut bibirnya justru sedikit terangkat.

“Dasar aneh.”

Setelah selesai mengobati lukanya, Su Yan bangkit berdiri dan merapikan lengan bajunya.

“Jangan sok kuat lagi besok,” katanya sebelum berbalik menuju pintu. “Kalau tubuhmu hancur sebelum turnamen dimulai, semua kerja keras ini akan percuma.”

Cang Li menatap punggungnya sejenak, lalu berkata dengan tulus,

“Terima kasih, Su Yan.”

Su Yan berhenti di ambang pintu, lalu menoleh dengan senyum kecil yang terasa ringan namun hangat.

“Anggap saja itu balas budi karena kau sudah membantuku waktu pedangku dicuri.”

Ia mengangkat dagunya sedikit, lalu menambahkan dengan nada yang sengaja dibuat angkuh.

“Dan mulai besok, panggil aku Senior Su Yan. Aku lebih dulu berguru di sini daripada kau.”

Cang Li menatapnya beberapa detik, lalu hanya bisa menghela napas pasrah.

“Baik, Senior…”

Su Yan tersenyum puas sebelum pergi meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup, suasana di dalam rumah kembali sunyi. Ling yang sejak tadi duduk diam di dekat lilin akhirnya membuka suara.

“Duduk dengan benar, Cang Li.”

Nada suaranya berubah. Tidak lagi seperti guru yang sedang mengawasi latihan, melainkan seperti seseorang yang hendak membuka pintu menuju dunia yang jauh lebih besar.

Cang Li segera menegakkan duduknya.

Ling menatap nyala lilin di atas meja sejenak sebelum berkata pelan,

“Kalau kau ingin bertahan hidup di dunia ini, kau harus tahu seberapa tinggi langit yang sedang kau hadapi. Selama ini kau hanya melihat kekuatan dari permukaannya saja. Tapi di Benua Tian Zhu, jalan seorang kultivator dibagi ke dalam sembilan jenjang besar. Setiap jenjang adalah jurang yang bisa memisahkan manusia biasa dari monster.”

Cang Li menelan ludah. Ia bisa merasakan bahwa penjelasan ini bukan sekadar teori. Ini adalah gambaran nyata tentang dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang.

End Chapter 25

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!