NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKU TIDAK BISA MARAH

BAB 30 — AKU TIDAK BISA MARAH

Keisha sama sekali tidak bisa memejamkan mata semalaman.

Setiap kali ia mencoba tidur, adegan di depan pintu tadi malam terus berputar ulang di kepalanya seperti film yang diputar berulang kali.

Tatapan mata Arsen yang dalam.

Hangatnya napas pria itu.

Dan sentuhan bibir yang hanya terjadi beberapa detik... namun cukup kuat untuk menghancurkan seluruh tembok pertahanan yang sudah ia bangun selama lima tahun.

Ia membalik badan ke kanan.

Lalu ke kiri.

Lalu akhirnya memukul bantalnya dengan frustrasi.

“Menyebalkan...”

Masalah terbesarnya saat ini bukan karena Arsen berani menciumnya.

Masalah terbesarnya adalah...

Ia tidak benar-benar menolak saat itu terjadi.

 

Pagi harinya, Keisha turun ke bawah dengan wajah kusut dan mata sembab khas kurang tidur.

Ibunya yang sedang sibuk di dapur menatapnya dengan tatapan menyelidik.

“Kamu kenapa? Sakit?”

“Insomnia.”

“Terus kenapa pipimu merah sekali kayak kepiting rebus?”

“Panas saja.”

“Terus kenapa bibirmu dipegang terus dari tadi? Nyeri ya?” ledek ibunya lagi.

Keisha langsung menjauhkan tangan dari bibirnya cepat-cepat.

“Bu! Fokus goreng tempe saja sana! Jangan banyak teori!”

Ibunya hanya tersenyum senyum penuh arti.

Bahaya sekali suasana pagi ini.

 

Leo datang berlari-lari kecil sambil membawa mobil-mobilan plastiknya.

“Mama.”

“Hm?”

“Papa kapan datang ya?”

“Entahlah. Terserah dia.”

“Kalau Papa datang... Mama jangan marah-marah ya?”

“Kenapa?”

Leo mengerucutkan bibirnya.

“Karena kalau Mama marah... wajah Papa jadi kayak kucing kehujanan. Sedih sekali.”

Keisha hampir tertawa mendengar deskripsi itu.

Sialan, deskripsinya sangat tepat sekali.

 

Siang hari, Keisha sengaja berangkat ke studio lebih awal dari biasanya.

Strateginya sederhana: Menghindar.

Menghindar dari Arsen, menghindar dari pertanyaan, dan menghindar dari perasaannya sendiri.

Namun baru setengah jam ia duduk bekerja, Nadia masuk dengan wajah berseri-seri sambil membawa sekotak besar donat warna-warni.

“Woy! Kiriman spesial dari bodyguard tajirmu!”

“Hah? Apa?”

Di tutup kotak donat itu ada secarik kertas kecil tertulis rapi dengan pulpen hitam:

Untuk tim desain yang hebat. Maaf kalau bos kalian galak pagi ini. — A

Nadia menjerit kecil kegirangan.

“Gila sih! Dia itu lucu banget ya! Gentleman banget!”

Keisha mengambil kertas itu cepat lalu menyimpannya di laci meja.

“Norak banget sih,” gerutunya.

Namun tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat naik membentuk senyum kecil.

 

Menjelang sore, saat Keisha keluar dari gedung studio, ia sudah bisa menebak apa yang akan dilihatnya.

Benar saja.

Arsen sudah berdiri tegap di samping mobil hitamnya, menunggu seolah-olah itu adalah tugas utamanya di dunia ini. Seolah pria itu tidak pernah tahu arti kata malu.

Ia berjalan mendekat dan membuka pintu penumpang depan lebar-lebar.

“Masuk.”

“Aku bisa naik taksi sendiri,” tolak Keisha ketus.

“Aku bisa batalin taksimu lagi. Seperti kemarin.”

“Kamu ini kriminal!”

“Masuk saja, Sha. Hujan mau turun.”

Keisha mendecih kesal lalu akhirnya masuk juga ke dalam mobil.

 

Suasana di dalam mobil terasa sangat canggung dan hening.

Untuk pertama kalinya, Arsen pun tampak sedikit lebih hati-hati dari biasanya. Tidak banyak bicara, tidak banyak menggoda.

Ia fokus menyetir.

Keisha menatap lurus ke depan menatap jalanan.

Akhirnya Keisha menyerah memecah keheningan.

“Kamu enggak mau ngomong apa-apa gitu?”

“Mau banget.”

“Terus ngapain diam?”

“Aku lagi sibuk milih kalimat yang pas... biar nanti kamu enggak langsung marah dan turun dari mobil di tengah jalan.”

Keisha hampir tersenyum mendengarnya.

Hampir.

 

“Aku marah sama kamu,” kata Keisha akhirnya, memulai topik pelan-pelan.

“Aku tahu. Sangat tahu.”

“Kamu berani cium aku tanpa izin sama sekali. Itu tidak sopan.”

“Aku salah. Aku akui.”

“Terus kenapa kamu nekat lakukan itu?”

Arsen diam beberapa detik, jari-jarinya mengetuk pelan setir.

Lalu menjawab dengan jujur apa adanya.

“Karena kalau aku tanya dulu... aku yakin seratus persen kamu pasti bilang tidak.”

Keisha menoleh menatap profil wajah pria itu tak percaya.

“Kamu benar-benar menyebalkan, Arsen.”

“Aku tahu.”

 

Mobil berhenti di lampu merah.

Arsen menoleh menatap wanita itu dalam-dalam.

“Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu.”

“Apa?”

“Aku sudah menahan diri ini... sangat lama. Sangat berat.”

Jantung Keisha berdetak salah tempo mendengarnya.

“Bukan urusanku,” jawabnya pura-pura cuek.

“Itu urusanmu. Karena penyebabnya kamu. Cuma kamu.”

Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.

Keisha memilih untuk diam, takut kalau bicara malah meledak atau mengaku kalah.

 

Sesampainya di rumah, Leo sudah siap sedia dengan tas kecil di punggungnya.

“Mama! Papa! Ayo cepat! Kita mau ke pesta ulang tahun Dimas!”

Keisha berkedip bingung.

“Apaan sih? Kapan jadwalnya?”

Ibunya keluar dari rumah sambil tersenyum lebar.

“Teman satu kompleks ultah, Nak. Dia undang Leo. Ibu bilang kalian berdua yang antar dan temani.”

“Kalian berdua?” ulang Keisha.

Dari arah sofa, ayahnya menambahkan santai,

“Bagus itu. Buat latihan jadi keluarga kompak.”

Keisha menghela napas panjang.

Seluruh anggota keluarga ini benar-benar pengkhianat perasaan.

 

Suasana di lokasi pesta jauh lebih 'berbahaya' dari dugaan Keisha.

Penuh dekorasi balon warna-warni.

Musik anak-anak yang ceria.

Anak-anak berlarian ke sana kemari.

Dan yang paling bikin deg-degan... para ibu-ibu komplek yang berkumpul sambil mengobrol dan sesekali melirik ke arah mereka.

Keisha duduk dengan sangat kaku.

Arsen justru duduk santai bangga di sebelahnya.

Salah satu ibu tetangga mendekat dengan ramah.

“Wah, ini suaminya Keisha ya? Ganteng sekali, cocok banget!”

Keisha hendak menyela dan mengoreksi, tapi Arsen lebih cepat bicara.

“Masih proses, Bu. Tapi insyaallah segera selesai.”

JEDAR!

Kaki Keisha menginjak sepatu pria itu dengan sangat keras di bawah meja.

Dan Arsen... bahkan tidak meringis sedikit pun. Sok kuat.

 

Selama acara berlangsung, Leo sibuk bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya.

Arsen ternyata sangat laris manis. Ia beberapa kali membantu anak-anak mengambil hadiah yang digantung tinggi, meniupkan balon sampai pipinya membulat, bahkan sampai jadi sasaran foto para ibu-ibu yang minta difoto bareng.

Keisha duduk diam memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk antara malu dan geli.

Pria dingin, serius, dan galak yang dulu ia kenal...

Sekarang sedang memakai topi pesta kerucut warna-warni sambil memegang goodie bag di tangan.

Hidup memang penuh kejutan.

 

Saat acara hampir selesai, tiba-tiba Leo berlari ke arah mereka sambil menangis kecil.

“Mamaaa... Aduh...”

Lututnya lecet sedikit karena tersandung kaki meja.

Keisha langsung panik dan ingin berdiri, tapi Arsen lebih cepat.

Pria itu langsung berjongkok, mengambil tisu basah dari tas, membersihkan luka itu dengan sangat lembut, lalu meniup pelan area yang sakit.

“Cowok hebat boleh nangis kok, nggak apa-apa. Tapi habis itu harus kuat dan berdiri lagi, oke?”

Leo mengusap air matanya dengan punggung tangan.

“Kayak Papa?”

Arsen tersenyum kecil.

“Lebih hebat dari Papa.”

Keisha menatap keduanya dari belakang, dadanya terasa hangat menjalar sampai ke ujung kaki.

 

Di perjalanan pulang, kelelahan membuat Leo tertidur pulas di kursi belakang lagi.

Suasana di dalam mobil kembali tenang dan damai.

Keisha bicara pelan, matanya menatap keluar jendela tanpa melihat wajah Arsen.

“Aku masih marah sama kamu, lho.”

“Aku tahu.”

“Tapi...” Ia menggigit bibir bawahnya ragu-ragu. “Aku tidak bisa marah sepenuhnya.”

Tangan Arsen yang memegang setir terlihat menggenggam lebih erat.

“Kenapa?”

Keisha akhirnya menoleh, memberanikan diri menatap mata pria itu.

“Karena... aku juga memikirkan ciuman itu.”

BRUK!

Mobil nyaris oleng sedikit karena kaget.

Arsen cepat-cepat mengendalikan setir kembali dan menatap jalanan dengan wajah yang kini tampak memerah.

“Keisha...”

“Hm?”

“Jangan goda aku seperti itu... saat aku lagi nyetir. Bahaya.”

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama...

Keisha tertawa lepas. Tawa yang renyah, bahagia, dan tulus dari hati.

Mendengar suara itu, Arsen merasa... semua harta dan kekayaannya tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan saat ini.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ohh,, berarti ini ceritanya ngulang lagi ke masa Arsen baru memuin Keisha, mau minta restu ke orang tuanya Keisha, tapi maaf ya Thor, ceritanya jadi bingungin, maaf ini loh Thor bukan mau merendahkan atau menjatuhkan, cuma pendapat dari saya, seharusnya dilanjut saja biar gak bingung pembaca
wiwi: makasih kak😄
total 3 replies
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!