NovelToon NovelToon
The Pretense

The Pretense

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sequel Novel "The End Of Before"

"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."

Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.

Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.

Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.

Selamat Membaca 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Aroma disinfektan dan sisa parfum mahal yang menguap di udara biasanya tidak mengganggu Ezzra Velasquez. Namun pagi ini, bau itu terasa mencekik. Dengan seragam housekeeping yang terasa terlalu sempit di bahu tegapnya dan troli pembersih yang didorongnya dengan malas, Ezzra tampak seperti anomali di lorong sunyi lantai 22 The Grand Velasquez.

Bagi dunia luar, dia adalah Ezzra Velasquez, putra mahkota dari dinasti properti yang menguasai garis langit kota. Namun bagi para staf hotel, dia hanyalah "Nomor 09"—karyawan baru yang sedang menjalani hukuman pembuangan.

Sang ayah, Sebastian Velasquez, akhirnya kehilangan kesabaran setelah Ezzra menghancurkan mobil sport kelimanya dalam kondisi mabuk dan memenuhi halaman depan tabloid dengan berita pesta gila bersama deretan model.

"Bekerja sebagai pelayan, atau aku coret namamu dari hak waris," ancam ayahnya dua minggu lalu.

Maka di sinilah dia. Pria berusia 21 tahun dengan tato yang tersembunyi di balik lengan seragam, seorang berandal kampus yang biasanya menghabiskan waktu dengan botol whiskey, kini harus memegang sapu dan cairan pembersih. Semua karyawan diperingatkan untuk tidak memberinya perlakuan khusus. Jika dia melakukan kesalahan, dia ditegur. Jika dia lambat, dia dimarahi.

Ezzra berhenti di depan pintu kamar 222. Kamar ini seharusnya sudah kosong sejak satu jam yang lalu menurut data check-out. Ia menempelkan kartu aksesnya. Bunyi klik mekanis terasa bergema di telinganya.

"Housekeeping," gumamnya datar, sebuah prosedur formal yang ia benci.

Tidak ada jawaban. Sunyi.

Ezzra melangkah masuk. Ruang utama kamar suite itu tampak sangat rapi. Terlalu rapi. Tempat tidurnya bahkan tidak tampak habis ditiduri, hanya ada satu lekukan kecil di atas bantal sutra putih. Namun, sesuatu terasa salah. Udara di dalam kamar itu terasa dingin, mencekam, dan membawa aroma besi yang tajam—aroma darah yang tak asing bagi seseorang yang sering terlibat perkelahian jalanan.

Ia meletakkan botol semprotnya di atas meja. Langkah kakinya membawa Ezzra menuju kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat bau anyir itu menusuk hidungnya.

Saat ia mendorong pintu kaca buram itu, dunianya seolah berhenti berputar.

Di dalam bathtub porselen berwarna putih gading, seorang gadis terbaring. Dia tidak mengenakan sehelai benang pun. Kulitnya yang seputih susu tampak kontras dengan cairan merah pekat yang menggenangi air di dalam bak tersebut. Darah itu berasal dari pergelangan tangan kirinya yang tersayat dalam, membasahi air yang kini mendingin.

"Sial," desis Ezzra, suaranya tercekat di tenggorokan.

Panic biasanya bukan kata yang ada dalam kamus Ezzra, namun melihat tubuh pucat yang tampak seperti boneka porselen pecah itu, jantungnya berdegup tak keruan. Gadis itu tampak sangat cantik dalam cara yang mengerikan. Rambut hitamnya tersebar di air seperti tanaman laut yang mati. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengiris nadinya sendiri.

Ezzra segera bertindak. Ia berlari kembali ke ruang utama, menarik selimut down comforter yang tebal dari atas ranjang dengan satu sentakan kuat. Ia kembali ke kamar mandi, mengabaikan fakta bahwa sepatu sneakers-nya kini basah oleh genangan air bercampur darah yang meluap dari bak.

Dengan tangan gemetar namun gerakan yang cekatan, ia membungkus tubuh polos itu dengan selimut tebal, menutupi kehormatan gadis itu sekaligus mencoba menghalau dingin yang mungkin sudah merasuk ke tulang. Saat lengannya menyentuh kulit gadis itu, Ezzra tersentak. Dingin sekali.

Ia mendekatkan wajahnya ke hidung gadis itu, lalu ke lehernya.

"Dia masih hidup," ucapnya dingin, meski di dalam hatinya ia ingin berteriak. Napas gadis itu tersengal-sengal, dangkal dan sangat lemah, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan terakhir yang melelahkan.

Ezzra segera mengangkat tubuh itu. Gadis itu terasa ringan, seolah-olah ia memang sudah berniat untuk menghilang dari dunia ini. Ia membawa gadis itu ke ruang utama, membaringkannya di sofa panjang sambil terus menekan luka di pergelangan tangannya dengan kain handuk bersih yang ia temukan.

Ia menyambar telepon kamar dan menekan nomor darurat hotel.

"Ada yang terluka di kamar 222. Panggil ambulans sekarang! Katakan ini darurat tingkat satu!" suaranya menggelegar, memerintah dengan otoritas yang selama ini ia sembunyikan di balik seragam pelayannya.

Sambil menunggu tim medis datang, Ezzra berlutut di samping sofa. Ia menatap wajah gadis itu. Di usianya yang mungkin baru 19 tahun, apa yang membuatnya begitu putus asa?

Tiba-tiba, jemari dingin gadis itu bergerak. Dengan sisa kekuatan yang entah datang dari mana, tangan yang terluka itu bergerak dan menggenggam ujung lengan seragam Ezzra. Genggamannya begitu erat, begitu menuntut, seolah pria di depannya ini adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut ke kegelapan.

Ezzra terpaku. Ia menatap tangan mungil yang kini mengotori seragamnya dengan noda merah.

Dasar gadis gila! umpat Ezzra dalam hati. Matanya yang tajam memindai tubuh yang terbungkus selimut itu. Kau berusaha mengakhiri hidup demi apa? Apa kau hamil?

Ezzra mengingat kembali saat ia mengangkatnya tadi. Tidak ada perut membuncit. Tubuhnya ramping, ringkih, dan tampak suci. Bukan kehamilan. Pasti patah hati karena putus cinta. Gadis bodoh.

Ia terus mengumpat dalam hati, mencoba menutupi rasa takut yang mulai merayap. Ia benci kelemahan, dan baginya, bunuh diri adalah bentuk kelemahan paling tinggi. Namun, genggaman gadis ini... bagaimana mungkin seseorang yang sudah berada di ambang maut, yang kesadarannya sudah menghilang, bisa memegang tangannya seerat ini?

Apa dia kesakitan? Mengingat darah yang memenuhi kamar mandi tadi, Ezzra yakin gadis ini sudah kehilangan lebih dari setengah cadangan darah di tubuhnya.

"Kenapa kau memilih hotelku untuk mati?" bisik Ezzra parau. "Kenapa kau harus muncul di depan mataku saat aku sedang berusaha memperbaiki hidupku yang sampah ini?"

Gadis itu tidak menjawab. Hanya ada suara napasnya yang pendek-pendek, seperti detik jam yang hampir habis baterainya. Wajahnya yang pucat pasi tampak sangat rapuh di bawah lampu kristal kamar suite.

Namanya, menurut data yang kemudian ia ingat sekilas, adalah Elowen Valerio. Nama keluarga yang cukup dikenal di kalangan elit, namun Ezzra tidak peduli. Baginya, saat ini dia hanyalah seorang gadis yang mencoba membuang nyawanya seperti sampah.

Tak lama kemudian, pintu kamar didobrak terbuka. Tim medis hotel dan paramedis masuk dengan tandu. Suasana menjadi sangat kacau. Suara teriakan instruksi, bunyi peralatan medis, dan langkah kaki yang terburu-buru memenuhi ruangan.

Saat paramedis mencoba mengangkat Elowen ke tandu, mereka mengalami kesulitan. Tangan Elowen masih mengunci pergelangan tangan Ezzra dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk orang pingsan.

"Mas, tolong ikut kami dulu. Pasien tidak mau melepaskan tangan Anda," ucap salah satu perawat dengan nada mendesak.

Ezzra mengumpat pelan, namun ia tidak menolak. Ia ikut berlari di samping tandu, melewati lorong hotel yang kini dipenuhi wajah-wajah terkejut para tamu dan karyawan. Ia tidak peduli jika besok ayahnya akan mengamuk karena ia menjadi pusat perhatian. Yang ia pedulikan hanyalah tangan dingin yang terus mencengkeramnya, seolah-olah jika ia melepaskannya, gadis bernama Elowen ini akan benar-benar pergi.

Di dalam ambulans yang melaju membelah jalanan kota dengan sirine yang meraung melankolis, Ezzra duduk di sudut yang sempit. Ia menatap tangan Elowen yang dibalut perban putih, yang kini mulai merembes merah lagi.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Valerio," gumam Ezzra, matanya menatap tajam ke arah wajah pucat Elowen yang kini dipasangi masker oksigen. "Kau tidak boleh mati sebelum aku tahu alasan kenapa kau mengotori hari pertamaku bekerja dengan darahmu."

Udara di dalam ambulans terasa dingin dan hampa, sehangat tatapan Ezzra yang kini mulai berubah dari kemarahan menjadi rasa ingin tahu yang gelap. Di antara deru mesin dan bunyi monitor jantung, sebuah ikatan yang tidak diinginkan mulai terjalin di antara si berandal yang dipaksa bekerja dan si putri kaya yang ingin mati.

Malam itu, di kamar 222, Elowen Valerio memutuskan untuk mengakhiri ceritanya. Namun ia tidak tahu, bahwa di tangan Ezzra Velasquez, cerita itu baru saja dimulai kembali dengan tinta yang terbuat dari darah dan rahasia.

...****************...

...Happy Reading Dear 🌷...

1
Dev..
waahh ngeri pembalasannya 🤧
Ros 🍂: author Minta maaf ya kak 🤭🙏🏼
total 1 replies
ren_iren
akhirnya, kau akhiri juga derita tiada akhirnya si elowen kak.... gas halalin Ez biar bisa ehm..... 🤭😁😂🤣
Ros 🍂: hmmm tunggu kak tunggu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Dev..
bener ternyata dugaanku klo yg nyekap Jeff ibunya Ezzra😊 semangat balas dendamnya Tante🙌
Ros 🍂: hiyah kak🥰
total 1 replies
Dev..
apa yg culik Jeff itu ibunya Ezzra y thor??
Ros 🍂: wkwkw bisa ketebak ya kak🤭🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
gercep tangkap Jeff, tunjukkan kekuatan kluarga elowen dan ezzra n mencari psikopat sep Jeff tdk lah susah. hancurkan smua yg berhubungan dgn jeff
Ros 🍂: Nah benar kak🤭🙏🏼
total 1 replies
ren_iren
syokkkk diriku....
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...
Ros 🍂: maafkan author 🤭 🙏🏼🫶
total 1 replies
Dev..
ngeri banget Jeff kyk psikopat gtu😡
Dev..: maafnya gk diterima thor,,harus dipenjara Jeff.nya. 🙂
total 2 replies
winpar
lnjut thorrrr
Ros 🍂: siap kak🙏🏼🥰
total 1 replies
ren_iren
sihhhh ngeri kali derita elowen tiada akhir..... dahlah patah hati trauma dikelonin ezzra cinta ma ezzra nah sekarang dibonyokin lagi sm si Jeff...
ren_iren: apakah karma....
dulu kan dia jahatin flo, yaa meski flo sm al enak2 nananinu.... 🤭
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Sedih tp untung El msh selamat 😔
Ros 🍂: hihi🤭🥰
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Wuiiihhh Ibunda Ratu, udh dtg 😎😍🤩
Ros 🍂: haha iya Kak🤭🥰
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Klo 2 Sahabat saling mngkhianati, jdx gini y, De 🤦🤦🤦
Ros 🍂: iya kak, Entahlah Mau kasihan sama siapa author bingung 😅🤣
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Wkwkwkwk untung pny bnyk cadangan hp & nomor y 🤭🤭🤭
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Casing beda tp 'dalamny' sama 🤦🤦🤦
Ros 🍂: kasihan sekaleee🤭🤣
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Kdng berbicara jujur, perlu energi super extra
Ros 🍂: ma'aciww kak 🫶🏼😍🙏🏼
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Itulah knp kita lebih suka cabe yg pedas y 🤣🤭🤦
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Iya, Ade, Bener Bgt 🤣👍🥳
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Nh itu, anggap aja, dirimu lg, mnikmati Movie mngenai masa muda mu, Logan 🤦🤦🤦
Ros 🍂: iya kak🤭🥰
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Wkwkwkwk klo bisa mah, kedua ny 🤣🤭🤦
Ros 🍂: hahah Benar kak🤭
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Mkx, kudu djaga baik² dah tu
Ros 🍂: Tidak akan pernah kak🤣🤣
total 3 replies
mbuh
lanjooottttttt🤣
Ros 🍂: sabarrrrr🤭🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!