Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Balik Ruang Rawat
Bau disinfektan yang tajam dan bunyi ritmis dari mesin pemantau detak jantung menjadi teman setia Isaac selama tiga hari terakhir. Bagi seorang pria yang terbiasa bergerak cepat dan mengendalikan ribuan detail arsitektur, terbaring kaku di ranjang rumah sakit dengan selang infus menancap di punggung tangan adalah sebuah siksaan mental yang luar biasa. Setiap detik terasa seperti jam, dan setiap jam terasa seperti keabadian.
Kondisi fisiknya benar-benar mencapai titik nadir. Kelelahan kronis yang selama ini ia abaikan akhirnya menuntut bayaran. Namun, yang membuat Isaac lebih menderita bukanlah rasa sakit di tubuhnya, melainkan grafik data perusahaan yang dipantau melalui tablet di samping ranjangnya. Grafik itu terus menunjukkan tren menurun 📉. Kehilangan Pak Danu sebagai investor ternyata memicu efek domino; beberapa proyek sempat tertunda dan kepercayaan pasar sedikit goyah.
Isaac menatap langit-langit ruang rawatnya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang jauh ke perbukitan, pada Luna. Ia melihat ponselnya yang tergeletak di meja kecil. Ada puluhan pesan dari istrinya yang belum ia balas sejak dua hari lalu. Isaac bukan tidak mau membalas, namun ia merasa tubuhnya terlalu lemah bahkan hanya untuk mengetik satu kata "Halo".
Lebih dari itu, ia takut. Ia takut jika ia membaca pesan-pesan penuh kerinduan dan kekhawatiran dari Luna, benteng pertahanan mentalnya akan runtuh. Ia takut ia akan menangis seperti anak kecil dan membocorkan rahasia bahwa dirinya sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit. Ia ingin tetap menjadi sosok Isaac yang kuat bagi Luna, sosok yang selalu bisa diandalkan, bukan pria ringkih yang butuh dikasihani.
"Maafkan aku, Luna... sebentar lagi," bisik Isaac dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
Di tengah kegelapan itu, pintu kamar rawat terbuka pelan. Hendra masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah namun matanya memancarkan semangat yang berbeda dari sebelumnya. Di belakangnya, mengekor Zaki, asisten Hendra yang juga merupakan salah satu karyawan muda paling berbakat dan tekepercaya di perusahaan IL Architecture & Associates. Zaki adalah tipe pekerja keras yang teliti, dan bersama Hendra, mereka menjadi kaki tangan utama Isaac selama badai ini berlangsung.
"Pak Isaac," sapa Hendra dengan nada rendah, takut mengganggu jika sang atasan sedang beristirahat.
Isaac menoleh perlahan, mencoba memaksakan sebuah senyuman. "Bagaimana kantor, Hendra? Zaki?"
Zaki melangkah maju, membuka sebuah map kulit yang ia bawa. "Pak, ada perkembangan yang sangat tidak terduga. Sepertinya kabar tentang Bapak yang menendang Pak Danu tersebar luas, dan anehnya, itu justru menarik perhatian pemain-pemain besar yang jauh lebih kredibel."
Hendra mengangguk mantap. "Kita mendapatkan respon serius dari tiga investor besar sekaligus, Pak. Dan kali ini, mereka bukan sekadar investor yang ingin menaruh uang, tapi mereka ingin melakukan kerja sama strategis jangka panjang."
Isaac sedikit bangkit, meskipun kepalanya masih terasa berdenyut. "Siapa saja?"
Hendra mulai membacakan profil mereka satu per satu. "Pertama, Regan dari Singapura. Dia adalah pengembang properti ramah lingkungan terbesar di Asia Tenggara. Kedua, Carissa dari Swiss. Dia mewakili firma modal ventura yang sangat tertarik pada desain arsitektur berkelanjutan. Dan ketiga, ini yang paling menarik, Valencia dari Surabaya. Dia adalah ratu properti di Jawa Timur yang dikenal sangat selektif namun royal jika sudah percaya pada sebuah karya."
Mendengar nama-nama itu, Isaac tertegun. Ini bukan sekadar keberuntungan; ini adalah takdir yang memberikan jalan keluar di saat yang paling kritis. Namun, kegembiraan itu segera tertutup oleh kenyataan pahit.
"Masalahnya, Pak..." Zaki berbicara dengan nada ragu. "Mereka semua menuntut pertemuan tatap muka. Mereka ingin melihat langsung siapa sosok di balik IL Architecture sebelum menandatangani kesepakatan apa pun. Mereka berada di kota ini sekarang, dan mereka hanya punya waktu dua hari sebelum kembali ke negara masing-masing."
Isaac menatap infus di tangannya, lalu menatap Hendra. "Aku tidak mungkin menemui mereka dalam kondisi seperti ini. Jika mereka melihatku di ranjang rumah sakit, mereka akan berpikir perusahaan kita sedang di ambang kehancuran karena pemimpinnya sakit."
"Itulah yang kami khawatirkan, Pak," sahut Hendra. "Tapi mengulur waktu juga berisiko. Pak Regan dan Ibu Carissa sangat disiplin dengan waktu. Jika kita membatalkan pertemuan, mereka mungkin akan menganggap kita tidak profesional."
Isaac terdiam lama. Ia berpikir keras di tengah pengaruh obat-obatan yang masih membuatnya sedikit mengantuk. Di satu sisi, ada peluang emas untuk menyelamatkan masa depan panti dan karyawannya. Di sisi lain, fisiknya benar-benar sedang dikhianati oleh rasa sakit.
Tiba-tiba, ponsel Isaac bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Luna.
[Pesan dari Luna]
"Mas... setidaknya beri aku tanda kalau kau masih hidup. Kau membuatku takut. Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau mendiamiku seperti ini? Anak-anak terus menanyakanmu, dan aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Tolong, Mas... satu pesan saja."
Membaca pesan itu, hati Isaac terasa seperti disayat sembilu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya yang pucat. Ia mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tidak tahan melihat penderitaan Luna yang disebabkan oleh rahasianya.
"Hendra," panggil Isaac, suaranya kini terdengar lebih tegas meskipun masih pecah.
"Ya, Pak?"
"Zaki, siapkan ruang rapat pribadi di apartemenku. Jangan di kantor. Bilang pada mereka bahwa aku sedikit kurang enak badan karena kelelahan, tapi masih bisa menemui mereka secara privat."
"Tapi Pak, dokter bilang—"
"Aku tidak peduli apa kata dokter!" potong Isaac dengan sorot mata yang kembali tajam, sorot mata sang pemimpin yang tidak mau kalah oleh keadaan. "Minta suster untuk memberikan dosis vitamin tambahan atau apa pun itu agar aku bisa berdiri tegak selama tiga jam besok. Aku akan keluar dari sini dengan izin atau tanpa izin. Kita tidak boleh kehilangan Regan, Carissa, dan Valencia."
Zaki dan Hendra saling pandang. Mereka tahu jika Isaac sudah mengeluarkan nada suara seperti itu, tidak ada satu pun orang yang bisa menghalanginya.
"Baik, Pak. Saya akan atur jadwalnya secara berurutan agar Bapak tidak terlalu lelah," ujar Zaki sembari mencatat di tabletnya.
"Dan satu lagi, Hendra," tambah Isaac. "Setelah pertemuan itu selesai, apa pun hasilnya... siapkan mobil untuk mengantarku pulang ke bukit. Aku tidak bisa membiarkan Luna seperti ini lebih lama lagi. Aku harus pulang."
Hendra mengangguk hormat. "Akan saya siapkan semuanya, Pak. Bapak istirahatlah sekarang. Simpan tenaga Bapak untuk besok."
Setelah mereka pergi, Isaac kembali sendiri di dalam ruangan itu. Ia menatap ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang seolah menertawakan kerapuhannya. Ia tahu besok akan menjadi pertaruhan terbesar dalam kariernya. Ia akan berhadapan dengan tiga raksasa bisnis dalam kondisi fisik yang hancur, sembari memikul beban kerinduan dan rasa bersalah pada istrinya.
Isaac memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan setiap sisa kekuatan yang ada di sel-sel tubuhnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ini adalah terakhir kalinya ia membiarkan Luna menunggu dalam kegelapan. Ia akan memenangkan kesepakatan ini, menyelamatkan perusahaannya, dan kemudian ia akan pulang untuk berlutut memohon maaf pada wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
Malam itu, di ruang rawat yang sunyi, Isaac mulai menyusun strategi di dalam kepalanya. Rasa sakit di tubuhnya seolah memudar, kalah oleh adrenalin dan tekad untuk kembali ke perbukitan sebagai pemenang, bukan sebagai pria yang gagal.