Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Pagi itu, langit Jakarta tampak abu-abu, seolah mencerminkan suasana hati Kinanti yang beku namun waspada. Setelah pertengkaran hebat tadi malam, Kinanti memutuskan untuk berangkat lebih awal.
Ia sengaja tidak memanggil supir pribadinya. Ada keinginan dalam dirinya untuk merasakan kendali penuh, setidaknya atas kemudi mobilnya sendiri, menjauh sejenak dari pengapnya dinding rumah yang kini terasa seperti medan perang.
Kinanti mengendarai sedan hitamnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya melayang pada rapat direksi pukul sembilan nanti.
Ini adalah rapat krusial di mana Arkan berencana mengajukan anggaran tambahan untuk proyek ekspansi yang sebenarnya hanyalah kedok untuk mengalirkan dana ke desa tempat Alana berada.
Namun, tepat di sebuah persimpangan yang cukup sepi menuju jalur protokol, mesin mobilnya batuk-batuk. Stirnya terasa berat, dan kepulan asap tipis mulai muncul dari kap mesin.
"Sial," umpat Kinanti pelan. Ia menepikan mobilnya dengan sisa momentum yang ada.
Kinanti keluar dari mobil, wajahnya menunjukkan kekesalan yang nyata. Ia membuka kap mesin, namun ia bukanlah wanita yang paham tentang mekanik. Ia melihat jam tangannya - pukul 08.15.
Rapat akan dimulai dalam empat puluh lima menit. Jika ia terlambat, Arkan akan menggunakan absennya untuk meloloskan anggaran gila itu dengan suara bulat dari para direksi yang sudah ia intimidasi.
Ia celingukan mencari bantuan, namun di jalur itu jarang ada bengkel. Kinanti mencoba menghubungi layanan derek, tapi antreannya memakan waktu satu jam.
"Ayo, Kinanti... berpikirlah," gumamnya pada diri sendiri sambil menyeka keringat di dahinya yang mulai membasahi riasan sempurnanya.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV mewah berwarna perak melambat dan berhenti tepat di depan mobilnya. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria turun dengan langkah yang santai namun tegas.
Pria itu mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Wajahnya tegas, dengan rahang yang kuat dan tatapan mata yang teduh namun tajam. Ia tampak seperti seseorang yang terbiasa memimpin, bukan seseorang yang biasa mengotori tangannya dengan oli.
"Butuh bantuan?" tanya pria itu. Suaranya berat dan tenang, seolah memiliki daya magis yang mampu meredam kepanikan.
Kinanti menoleh, sedikit curiga namun terdesak. "Mesinnya tiba-tiba mati dan berasap. Saya tidak tahu apa masalahnya."
Pria itu mendekat, memeriksa kap mesin sejenak tanpa rasa canggung. "Sepertinya overheat karena kabel kipas yang longgar. Biar saya coba perbaiki sebentar."
"Kamu bisa?" tanya Kinanti ragu.
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang berbeda dengan seringai sinis Arkan. Senyum ini terasa tulus dan menenangkan. "Aku dulu sering mengutak-atik mesin saat kuliah di Jerman. Tunggu sebentar."
Dengan cekatan, pria itu menyentuh beberapa bagian mesin. Kinanti hanya memperhatikan dari samping, merasa aneh. Di tengah kekacauan hidupnya yang dikelilingi pengkhianatan, ada orang asing yang tiba-tiba datang menawarkan bantuan tanpa diminta.
"Coba nyalakan sekarang," ucap pria itu setelah beberapa menit.
Kinanti masuk ke kursi kemudi dan memutar kunci. Mesin menderu halus, kembali hidup. Kinanti menghela napas lega yang luar biasa. Ia segera keluar dari mobil.
"Sudah nyala. Terimakasih banyak... saya benar-benar sedang terburu-buru," ucap Kinanti tanpa sempat menanyakan nama atau basa-basi lainnya. Pikirannya hanya tertuju pada ruang rapat.
"Sama-sama. Berhati-hatilah, jangan dipacu terlalu kencang sampai suhunya stabil," pesan pria itu.
Kinanti hanya mengangguk singkat. Tanpa berkenalan, tanpa menoleh lagi, ia langsung masuk ke mobil dan tancap gas. Ia tidak sadar bahwa pria itu masih berdiri di sana, menatap kepulan debu dari mobil Kinanti dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pria itu, Dewa Dirgantara, seorang pengusaha properti raksasa yang baru saja kembali ke Indonesia, terpaku di tempatnya. Ia terpesona bukan hanya oleh kecantikan Kinanti, tapi oleh sorot mata wanita itu, sorot mata yang penuh luka namun menyimpan kekuatan yang luar biasa.
"Wanita yang menarik," gumam Dewa. Ia merasakan debaran aneh yang sudah lama tidak ia rasakan. "Dan sangat terburu-buru."
Karena rasa penasaran yang tiba-tiba membuncah, Dewa kembali ke mobilnya. Alih-alih menuju kantornya sendiri, ia memutuskan untuk mengikuti sedan hitam itu dari kejauhan.
Gedung Wiratama Group, Pukul 08.55 WIB
Arkan duduk di kursi utama ruang rapat dengan senyum kemenangan. Ia melihat jam dinding. Lima menit lagi rapat dimulai, dan kursi Kinanti masih kosong.
"Sepertinya Ibu Kinanti tidak akan hadir karena alasan pribadi," ucap Arkan pada para direksi dengan nada meremehkan. "Mari kita mulai saja pembahasannya mengenai alokasi dana ekspansi di Jawa Tengah."
Baru saja Arkan hendak membuka map dokumennya, pintu ruang rapat terbuka dengan hantaman yang cukup keras.
Kinanti masuk dengan langkah yang sangat berwibawa. Rambutnya sedikit acak-acakan karena angin jalanan, namun itu justru membuatnya tampak semakin berbahaya. Ia meletakkan tasnya di meja dengan denting yang membuat semua orang terdiam.
"Maaf saya terlambat. Ada sedikit gangguan dijalan, tapi untungnya ada seseorang yang membantu saya tetap tepat waktu untuk menghadiri rapat ini," ucap Kinanti sambil menatap Arkan dengan tajam.
Wajah Arkan mengeras. "Duduklah, Kinanti. Kita baru saja akan mulai."
"Bagus. Karena saya punya banyak hal untuk dikritik dari anggaran fiktif yang kamu susun ini, Arkan," sahut Kinanti dingin.
Di luar gedung, SUV perak milik Dewa berhenti di seberang jalan. Ia melihat Kinanti turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa tadi dan masuk ke dalam gedung yang memiliki logo raksasa 'WIRATAMA GROUP'.
Dewa menyandarkan punggungnya di kursi mobil, menatap gedung tinggi itu. "Jadi dia bekerja di perusahaan ini?"
Dewa mengambil ponselnya, menghubungi asistennya. "Cari tahu semua jadwal rapat dan kegiatan Wiratama Group minggu ini. Dan siapkan proposal kerjasama yang pernah kita tunda dengan mereka... Secara resmi."
Dewa tersenyum. Pertemuan di pinggir jalan tadi mungkin sebuah kebetulan bagi Kinanti, tapi bagi Dewa, itu adalah awal dari sebuah rencana baru.
Sementara itu, di dalam ruang rapat, Kinanti mulai membantai setiap poin anggaran Arkan. Suaranya lantang, logikanya tak terbantahkan.
Arkan hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja, tidak menyadari bahwa di luar sana, seorang pria jauh lebih berkuasa dan lebih berbahaya darinya sedang mulai memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya.
Pertandingan kini bukan lagi soal dua orang. Ada pemain ketiga yang masuk ke lapangan, dan kehadirannya akan mengubah peta peperangan antara Kinanti, Arkan, dan Alana selamanya.
...----------------...
To Be Continue ....
ga punya hati. .. tetap berselingkuh
Tunggu hukum karma selanjutnya
Kinanti yg dihianati kalah. ga setuju
.👍