NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

[30] Nafkah dan Ancaman Bumi

Langit menatap uang ratusan yang ditaruh Bumi di atas meja. Matanya mengerjap. "Buat apa?"

"Nafkah."

"Hah?"

"Hah hah. Lo budeg apa ya?"

Langit mendelik kesal. Dia dengar kata nafkah. Hanya saja ini tidak salah Bumi harus mengasihnya nafkah? Dia tahu Bumi sedang kesusahan mencari uang untuk biaya ibu dan juga sekolah cowok itu sendiri.

Ini nafkah dari gue buat lo." Bumi menyodorkan uang itu lebih dekat kepada Langit. "Semalam gue gajian. Ini gak seberapa.

Tapi gue harap sementara ini cukup."

"Gue tahu ini nafkah. Tapi gue gak mau." Langit mengeser uang itu lebih dekat. Saat ini keduanya lagi di rumah Bumi.

"Ini kewajiban gue ya Munah dan hak lo

Buat dapat nafkah dari gue."

"Gue tahu Paman. Tapi gue gak mau nerima."

Sebelah alis Bumi naik.

"Buat bantu biaya ibu aja."

"Semuanya udah gue bagi. Biaya ibu, sekolah gue dan nafkah buat istri."

"Nafkah buat gue gak sekarang. Nanti-nanti aja kalau lo selesai kuliah. Papa ngasih gue jajan."

"Apa sesusah itu buat lo nerima nafkah?"

Langit jadi tidak enak hati. "Bukan gitu paman. Gue tahu lo banting tulang buat ibu juga. Fokus perawatan ibu. Jangan gue."

"Gue gak suka lo bilang gitu Langit."

"Terima dan pakai. Kalau kurang bilang."

"Bu-"

Bumi mencondongkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dengan wajah Langit. Gadis itu menahan nafas. "Gue tahu papa kasih lo jajan. Tapi gue juga berhak kasih

Nafkah. Jangan larang untuk hal ini."

"Ta-tapi."

"Gue kasih pilihan."

"A-apa?"

Bumi tersenyum. Senyum yang tidak biasa. Netranya menatap dalam Langit. Sungguh langit jadi was-was apalagi saat jempol Bumi mengusap bibirnya lembut.

"Terima nafkah lahir gue atau gue minta nafkah batin sekarang."

Wajah langit memerah dengan mata yang sempurna membulat. Jantungnya seketika betalu-talu. Tangannya meremas bagian samping roknya di bawah meja.

"Gimana... sayang?" bisik Bumi. Langit hampir-hampir kehabisan nafas akan ulah Bumi. Tangannya dengan cepat meraih uang nafkah itu dan menggeleng.

"G-gue ambil uang aja."

Dua alis Bumi baik. Dibalik ekspresi seriusnya dia menahan tawa melihat wajah merona Langit. Gadis itu benar-benar salah

Tingkah. Bumi jadi makin bersemangat menggoda.

"Yakin? Katanya gak usah."

Langit menelan ludahnya. "Ya-yakin kok," ucapnya tergagap.

Bumi masih setia mengusap lembut bibir

ranum Langit. Dia menatap bibir itu sesaat. Semakin lama malah membuatnya tergoda.

Takut nafsunya semakin menjadi, dia kembali mundur dan menyeringai.

"Nah gitu kan enak."

Langit setelah Bumi menjauh langsung mengeluarkan nafasnya. Dia memalingkan wajah gugup. "Em ponsel gue ketinggalan di mana ya." Langit pura-pura mikir dan langsung ngacir pergi. Meninggalkan Bumi yang tertawa puas.

Seru juga bikin Langit tidak berkutik dengan wajah merona.

***

"Hah hah!"

Langit menyentuh dadanya yang berdebar

Lalu wajahnya yang masih terasa panas. Lalu jatuh ke bibirnya yang disentuh Bumi. Masih terasa bagaimana jempol itu tadi mengusap bibirnya.

Langit memejamkan matanya.

Kenapa dia jadi serem kalau Bumi udah gini? Hish bisa-bisanya. Padahal niat Langit tuh ya biar Bumi gak makin terbebani akan nafkah untuknya.

Dia menatap pintu kamar ibu yang sudah dia kunci dan melompat ke kasur. Bumi gila!

Hari ini Langit memang bertandang ke rumah Bumi. Bangun pagi dia baru ngeh hari ini tanggal merah. Rencana melanjutkan tidur pagi, dia memilih ke rumah Bumi aja deh. Menggunakan waktu liburnya untuk berbakti. Karena kalau tidak begini hari lain ya dia sibuk terus. Sekalian juga ada tugas buat besok. Bisalah contek tugas Bumi, pikirnya tadi.

Sebenarnya langit juga bersorak senang akan tanggal merah hari ini. Dia jadi gak repot ke sekolah dengan segala omongan untuknya.

Satu hari bebas Itu menyenangkan.

Kecuali les. Libur gak libur nanti sore dia akan tetap les.

Karena menghindari Bumi sementara, Langit banyak di kamar Ibu. Dia tidak mau tahu apa yang dilakukan cowok itu di luar.

Tujuannya sekarang bersembunyi.

Melakukan scroll sosial media sampai puas dan rebahan santai.

Eh tapi tunggu... dia ada ide!

Tadi Bumi sengaja melakukan itu padanya. Dia jadi tertarik menjahili balik.

Lagipula sepertinya sudah lama tidak kan?

Senyum Langit melengkung lebar. Ia turun dengan semangat dari kasur. Dia mondar-mandir seraya mengetuk dagunya.

Kira-kira hal menyenangkan apa yang bisa dia lakukan untuk Ghabumi?

Aha!

Dia tahu!

Langit membuka pintu kamar Ibu perlahan. Kepalanya nyembul duluan untuk

Melihat ke luar. Lenggang. Tidak ada suara apapun. Senyumnya melengkung sempurna. Langit keluar tanpa menimbulkan bunyi.

Dia lirik dulu sekitar. Rumah kosong dan sangat sepi. Lah mana Bumi? Suara air dari luar dan musik membuat Langit mendekat ke jendela. Bisa dia lihat Bumi tengah mencuci motor sport-nya. Cowok itu memakai kaus lengan pendek dan juga celana pendek.

Kebetulan yang pas!

Langit berlari kembali ke lantas atas.

Menuju kamar Bumi. Dia melirik sesuatu yang bisa dijadikan bahannya untuk mengerjai Bumi.

Beralih membuka lemari Bumi, dia mencari kain putih. Karena ini bukan rumahnya, Langit sedikit kesulitan. Dia cari terus sebelum Bumi selesai cuci motor.

Di lemari paling bawah, Langit langit tersenyum lebar menemukan kain putih panjang. Dia lalu Terkikik dan membawanya ke dapur. Kalau gak salah dia kemarin lihat gincu merah. Di mana ya?

Jadilah Langit mengusai isi dapur. Hingga

Baru dia ditemukan di lemari penyimpanan. Langit mengolesi kain itu dengan gincu merah. Setelah selesai, dia kembali lagi ke kamar Bumi. Dia ambil guling, dia bungkus kain putih dan dia ikat di beberapa titik.

Iya Langit buat pocong mainan.

Setelah selesai. Dia merasa ada yang kurang. Langit menatap karyanya sesaat lalu melirik meja belajar Bumi. Spidol!

Dengan spidol tersebut langit bikin gambar mata hitam dan juga hidung. "Em bibirnya tipis aja. Tambah gigi," ujarnya terkikik.

Begitu selesai. Langit membaringkan guling itu dan menarik selimut yang sudah terlipat rapi. Dia tutup dengan selimut. Kalau Bumi masuk pasti dia akan ngira Langit tidur.

Langit terkikik membayangkan ini semua.

"Hadiah buat Bumi." Dia menepuk tangannya takjub. Lantas lekas keluar dan menutup pintu. Sepanjang jalan menuju kamar Ibu dia senyum-senyum sendiri.

"Ngapain lo senyam-senyum?"

Langit berjingkak kaget akan kemunculan Bumi yang tiba-tiba. Dua alis Bumi naik. Langit mengernyit lalu mencebik. "Kepo! Wlee!" Dia juga menjulurkan lidah sebelum masuk ke kamar Ibu.

Tentu saja Bumi heran dibuatnya. Tapi ya sudahlah. Dia berencana rebahan sesaat abis itu baru mandi. Kakinya melangkah menuju kamar. Saat membuka pintu dan tatapannya tertuju ke kasur, Bumi heran kenapa selimutnya berantakan.

Padahal tadi sudah dilipat.

"Masa gue lupa?"

Langit yang mendengar suara pintu ditutup. Kembali keluar dan mendekat ke kamar Bumi. Dia mendekatkan telinganya ke pintu itu.

Bumi mengedikkan bahu. Memilih masuk ke dalam selimut. Bumi memosisikan tubuhnya miring dan menarik gulingnya dalam selimut. Tapi dia malah melompat refleks dan jatuh ke lantai saat memeluk pocong dan darah.

"Argh!"

Punggungnya sakit. Bumi meringis dan duduk. Matanya menatap pocong tersebut dengan Kerinyitan.

Ini pasti kerjaan Langit!

Bumi memejamkan matanya kesal.

"LANGIT!!!!!" teriaknya keras.

Yang diteriaki malah tertawa terpingkal-pingkal di depan pintu. Suara tawa yang sangat puas itu membuat Bumi lekas berdiri dan membuka pintu.

Tapi...

BRUK!

Langit malah jatuh mencium lantai dengan posisi nungging. "Bhahahah!" Gantian tawa Bumi menggelegar.

"Aww."

"Sakit." Langit mengaduh dan bangun dari posisinya. Dia mengusap bibirnya dan melirik Bumi yang puas menertawainya.

Plak!

Langit yang kini duduk di lantai memukul kaki cowok itu kesal. "Kurang ajar lo. Malah ketawain gue!"

"Tuh Rasain! Lagian siapa suruh jahil sama gue, Munah. Hahaha kualat kan lo!"

"Hish! Bantuin gue berdiri."

Bumi menyeringai. "Mau gue bantuin?" Dia berjongkok dengan satu lutut di tekuk. Bumi lalu mengulurkan tangannya.

"Ya iyalah. Gara-gara lo gue jatuh ya!"

"Kelakuan sendiri berdiri di depan pintu. Kualat sih. Ayo gue bantu."

Langit menatap tangan Bumi lalu menerimanya. Belum jadi dia berdiri, dengan jahilnya Bumi menarik tangannya kembali hingga Langit kembali jatuh.

"BUMIII LAKNAT!" Langit berteriak emosi sambil menahan nyeri. Kali ini sikunya sakit kena lantai. Bibir itu maju beberapa senti. Dua alisnya menyatu. Tangannya mrngusap sikunya yang sangat nyeri.

Bumi malah tertawa.

"Licin tangan lo!"

"Licin-licin. Lo sengaja lepasin tangan gue kan?!"

Bumi mengusap lantai bekas Langit jatuh. "Ya ampun Lantai-nya baik-baik aja kan?"

Langit melongo. "Gue yang sakitt!" ucapnya tak percaya.

Bumi melirik dengan kerlingan jahil. Beberapa detik hingga dia berteriak saat pukulan maut bertubi-tubi mendarat di punggungnya.

"Aw aw."

Bumi melindungi punggungnya. Langit kalau pukul gak main-main. Tenaga gadis itu sangat extra. "Sakit Munah."

"Rasain. Lutut gue juga sakit. Bibir gue juga sakit ya cium lantai."

"Lo yang jahil duluan aduh."

"Gak akan jatuh kalau lo gak buka pintu dadakan."

"Siapa suruh lo berdiri di sana!"

Bruk bruk bruk

"KDRT Munah!"

Bumi dengan cepat menangkap tangan Langit yang tidak berhenti. Gerakan yang cepat dan Langit yang tidak siap malah membuat tubuhnya jatuh menubruk tubuh Bumi yang ikut jatuh.

Jantung Langit berdetak cepat saat dia berada di atas tubuh Bumi. Bumi juga sama, kaget akan posisi Langit.

Mereka saling menatap sesaat sebelum Langit sontak memukul dada Bumi kesal. "Lo nyari kesempatan ya!"

"Enak aja. Geser lo, tubuh lp berat!"

"Dih siapa juga yang mau lama-lama kayak gini." Langit bersungut-sungut kesal dan lekas bangun sedikit susah. Sayangnya kala sudah berdiri, ia malah tertungkai dengan kaki Bumi.

Bruk!

Tubuhnya malah jatuh lagi dan menubruk Bumi yang tadinya hendak bangun. Tanpa

Sengaja ini bibir bersentuhan dengan pipi Bumi hingga keduanya sama-sama membulatkan mata lagi.

Deg deg deh

Blush

Wajahnya langit memerah. Sedang Bumi kupingnya juga memanas. Hanya satu detik karena langit sontak beranjak cepat, namun efeknya memberikan sengatan.

Langit menyingkir gugup. Sedang Bumi mengerjap karena kejadiannya begitu cepat. Dia sontak duduk.

"Kaki lo bikin gue jatuh." Langit melakukan pembelaan. "So-sorry." Padahal tidak ada yang salah karena mereka halal.

Bumi mengusap pelipisnya. Di saat bersamaan dering ponsel di atas nakas, mengalihkan atensi cowok itu. Bumi lekas berdiri dan menerima telfon yang ternyata dari Liam. Langit sendiri lagi duduk menetralisir detak jantungnya.

"Kenapa?"

Bumi langusng to the point.

"Bum, gue, Alden sama Hugo di depan. Pintunya gak dikunci. Kita masuk ya!"

Bumi tersentak. "Ngapain lo di rumah gue?" tanyanya panik dan menatap Langit yang menoleh penasaran.

Langit berdiri dan Bumi meloud speaker agar cewek itu tahu. "Ya main PS lah. Gue udah masuk."

Langit melotot panik. "Gue ke luar sekarang."

Bumi melirik ponselnya dan buru-buru mematikan panggilan. Dia menarik tangan Langit yang hendak keluar.

"Gak ada waktu. Lo di kamar gue aja."

"Ta-"

"Udah. Aman di sini. Mereka udah di dalam rumah."

"Lo kok gak bilang sih mereka mau ke sini?"

"Mereka dadakan Munah. Nggak kasih

Kabar. Diam di sini dan jangan bersuara.

Paham kan?"

Langit mengangguk. "Bum ponsel lo tinggalin," ujarnya menahan Bumi yang sudah membuka pintu kamar.

"Ponsel gue di kamar Ibu. Bosan ih gak ngapain-ngapain," lanjutnya.

Bumi menyerahkan ponselnya. "Nih. Kata sandinya hari akad kita."

Eh?

Langit mengerjap.

"Beresin sekalian karya lo di kasur."

Telunjuk Bumi menunjuk pocong mainan yang masih tidur di atas kasurnya. Langit menberikan cengiran. Setelah Bumi pergi dia melangkah ke atas kasur. Karena lagi males, Langit taruh aja pocong itu di lantai.

Dia sendiri rebahan sambil buka ponsel Bumi.

"Eemm kata sandinya tanggal akad ya. Akadnya tanggal berapa emang?" Bola mata Langit berotasi. Sedang dia lagi berpikir, Bumi

Yang sudah keluar menyambut ketiga sahabatnya yang udah nyelonong masuk.

Memang gak ada adab.

"Bum. Kita bawakan cemilan teman main PS. Langsung aja ke kamar lo." Hugo mengangkat satu kresek besar bertuliskan nama salah satu Swalayan. Belum dapat izin cowok itu sudah nyelonong ke arah kamar Bumi.

"Kamar gue berantakan. Gak usah main PS hari ini." Bumi mengeraskan suaranya. Dia harap Langit di dalam kamar mendengar.

Liam tertawa dan menepuk bahu Bumi.

"Kayak kita asing aja. Biasa kali Bro kamar cowok berantakan," ujar Liam dan berjalan ke kamarnya.

Alden juga ikut. Dia menarik Bumi yang kelimpungan.

"Jangan-jangan lo sembunyiin sesuatu dari kita?" tebak Alden. Hugo dan Liam yang sudah naik tangga menatap Bumi.

"Lo nyembunyiin apa Bum?" Dua alis Liam naik.

"Lo lagi gak nonton porn* kan di dalam?" sambung Hugo.

Bumi melotot. "Saraf lo pada rusak ya?

Gue gak nyembunyiin apapun."

"Lah terus kenapa lo aneh?"

Bumi menggaruk tengkuknya. Ketiganya sudah berjalan duluan. Terus melangkah ke kamar Ghabumi. Sementara itu Langit yang masih mutar otak karena lupa tanggal akad duduk dengan kesal. Beberapa kali malah salah.

Kalau gini ceritanya gimana mau buka HP Bumi? Gak mungkin dia keluar menanyakan langsung. Bisa habis dia ketahuan sama Hugo.

"Kenapa gak ngabarin gue pada datang?"

Suara Bumi yang terdengar deket membuat Langit mengernyit.

"Ya salam. Sejak kapan kita ngabarin mau ke sini." Lalu ada suara Liam.

"Lo benar-benar sembunyiin sesuatu ya Bum di kamar?" Juga suara curiga Hugo. Langit berdiri panik. Suaranya makin dekat.

Drap drap drap

Langkah kaki kian dekat. Engsel pintu mulai bergerak. Mata Langit membulat sempurna.

Mampus!

1
Sitilestari Ikhsan
kpn up ni lama
Akira Kun: kalau sudah update, berarti besok GK akan update lagi tunggu besok selanjut baru update, karena kurang peminat ya,
total 1 replies
Akira Kun
kalau seru jangan lupa like, ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!