NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

[23] Saingan Bumi

"Lo beneran boncengan sama Bumi?"

Tuh kan. Baru juga satu hari boncengan. Satu Sekolah sudah tahu dan malah kepo semua. Teman-temannya bertanya penasaran. Termasuk Bina.

Sejak tadi. Dia sampai capek meladeni.

"Itu karena kebetulan aja." Langit menoleh malas. Dia belum bisa mengatakan alasan yang Bumi bilang. Seperti tadi pagi. Dia hanya mencari alasan lain.

"Kok bisa?"

"Iya bisa dong Binaa."

"Daritadi pada gibahin lo sama Bumi. Gue sih awalnya gak percaya. Ada yang bilang kalian udah akur ya?"

"Enggak. Kami gak akur." Langit menata buku cetak Sejarah Wajib dari perpustakaan. Dia di suruh ambil buku untuk pelajaran hari ini bersama Bina. Saat ini sudah masuk jam mata pelajaran kedua.

"Tapi kalau kalian dekat gue sih setuju."

"Nih lo bawa." Dia menyerahkan beberapa pada Bina. Keduanya lalu melangkah keluar perpustakaan membawa tumpukan buku tersebut.

"Eh tapi lo kan sukanya kak Biru. Tapi ya udah sih. Kak Biru juga gak suka lo kan. Cocok sama Bumi di mana-mana. Kalian kalau berantem aja seru. Apalagi sampai jadian ya."

Langit hanya berdehem malas meladeni.

"Gue males jalan sendiri," gelengnya. "Kak Biru masih di UKS kan? Kok lo tumben enggak seheboh biasanya. Kenapa gak dicariin dokter gantengnya?"

Langit tersenyum tipis. Sejak kemarin dia memang punya banyak cara dekatin Biru. Apalagi di tempat yang sama. Dia bisa cari alasan sakit dan berakhir di UKS. Atau cari cara biar pulangnya bareng Biru, tapi karena status dia saat ini. Langit berusaha menahan diri.

Karena Bumi.

Langit menatap sampul buku bahasa Jepang. Dia menghela nafas. "Kayaknya gue bakal move on deh Bin."

"Loh kenapa? Lo nyerah karena sebelah pihak terus?"

"Kak Biru itu udah punya tunangan. Gue lihat dia bareng cewek. Dokter juga,"

"Jadi lo mundur?"

"Gue gak bakal bisa bareng kak Biru, Bin." Statusnya adalah istri orang saat ini.

"Kenapa? Kan gak ada yang tahu gimana ntar lo emang jodohnya sama Kak Biru."

Dia ingin tertawa. Tidak akan mungkin. Orang dia sudah nikah sama Bumi. "Udahlah mending mundur sebelum patah hati kan?" kilahnya

"Kak Biru yang seganteng itu memang berat sih buat dijadikan pendamping." Tatapan Bina lurus ke arah depan mereka. "Tuh kak Biru." Bina menunjuk Biru yang berjalan ke arah UKS dengan dagunya.

Langit mengikuti tatapan Bina.

Dokter muda itu tampak gagah dengan jasnya dan tengah membawa kardus yang berisi obat-obatan di tangannya. Pria itu berjalan dengan tubuh tegap. Melihat Biru, Langit menahan nafas. Jantungnya berdetak. Dia mencengkram buku yang dia pegang.

"Kita lewat lorong sana aja yuk!" Langit menunjuk lorong lain yang tidak melewati

Depan UKS. Emang perpustakaan itu letaknya gak beda jauh dari UKS. Jika dulu dia langsung kejar Biru, sekarang memilih mengabaikan walaupun rasanya berat.

"Lo beneran move on sampai ngehindar?"

"Ayo ah. Kita bisa kena omel kalau lama,"

ajaknya lagi, tapi netranya menatap Albiru yang kebetulan melihat arah mereka sehingga netra mereka berselobok.

Langit lekas membuang pandang dan

berjalan duluan.

Albiru ditempatnya menatap kepergian Langit dengan sebelah alis yang naik. Dia sampai heran dengan tingkah Langit kali ini.

Tumben.

***

Langit tengah duduk bersantai di lapangan basket. Dia memperhatikan anak cowok yang sedang main basket. Pikirannya lagi pada Biru. Makanya Langit duduk di sini.

Biar lupa.

Sayangnya Biru malah terus memenuhi pikirannya. Cowok dilupain malah sering teringat ya. Dia jadi kesal.

Tidak mudah untuk move on begitu saja.

Melihat Biru, dadanya masih berdebar.

Melihat pria itu, dia sulit menahan diri. Tapi Langit tidak bisa melakukan itu pada Bumi yang sudah menjadi suaminya. Lagipula dia juga berusaha menjaga hubungan mereka.

Dia mengembuskan nafas berat.

Jatuh Cinta

Itu kata Bumi.

Bagaimana caranya mencintai sedang hatinya masih untuk orang lain?

Rasa dingin yang terasa menyentuh pipin membuat Langit mendongak. Alden. Langit mengerjap. Cowok itu tersenyum dan kini menyodorkan ice cream ke hadapannya.

"Jangan ngelamun. Ntar kesambet," gurau cowok itu.

"Eh enggak kok."

"Nih buat lo."

"Buat gue?"

"Hem."

Netra Langit beralih pada ice cornetto tersebut. Dia mengulum senyum dan menerimanya. Alden ikut bergabung di sampingnya.

"Kenapa di sini?"

"Gak ada. Lagi pengen ngadem aja di bawah pohon." Lapangan basket memang dikelilingi pohon rindang yang cukup besar. Sehingga bikin betah dan cukup sejuk.

Alden memberi anggukan. "Hari minggu lo sibuk?"

"Enggak sih. Kenapa emangnya?"

Cowok blasteran itu mengeluarkan undangan yang tampak mewah dan berkelas. Dia lalu menyodorkannya. "Ada party. Lo diundang."

"Pesta? Memang pesta apa?" tanyanya menerima undangan itu dan membacanya. "Lo ulang tahun?"

Alden tersenyum. "Yap."

"Wow."

"Gue gak undang banyak orang. Acaranya di rumah."

"Jadi yang diundang orang tertentu?" Langit mengigit ice creamnya dan melirik Alden. Undangan tadi dia taruh di atas pahanya.

"Iya. Anak-anak Xigroues juga pada

Datang. Bumi, Hugo dan Liam juga. Terus anak kelas, cuman ya dikit. Datang kan?"

Alden terlihat berharap. Xigroues adalah gang motor di mana keempatnya bergabung dan tidak sembarangan orang yang bisa masuk.

Termasuk salah satu gank motor besar di luar sekolah dan terbesar di Jakarta.

"Malam ya?"

"Iya. Lo datang, kan?"

Langit menatap tatapan harap itu. Dia tidak enak menolak. Apalagi cowok itu banyak membantunya. Sayangnya Ezhar tidak akan kasih izin kalau malam.

Eh tapi kan ada Bumi!

Senyumnya merekah. Kalau ada Bumi pasti dibolehkan. "Gue pergi kok," angguknya. "Gue gak mungkin gak pergi. Ini hari spesial lo kan?"

Wajah Alden cerah. Dia tersenyum. "Hm. Gue tunggu lo Langit."

"Pasti. Lo mau apa?"

"Mau apa?"

"Kadonya."

Alden mengernyitkan dahinya.

"Lebih baik tanya orangnya langsung, Alden. Jadi apa yang lo mau?"

"Apapun yang lo kasih?"

Langit cemberut. "Jangan jawaban gitu kenapa? Gue kan bingung."

"Lo datang aja gue udah senang."

"Tapi harus ada hadiah."

"Gak usah repot."

"Gak dong! Pokoknya gue mau kasih," gelengnya dan kembali memakan ice creamnya. "Selama ini kan lo udah baik sama gue."

Alden terkekeh melihat ice cream yang berlepotan ke pipi Langit. Dia mengambil tisu dari kantong celananya. "Ternyata lo emang bocil ya? Ice creamnya berlepotan nih ke pipinya." Alden membersihkan sisa ice cream itu. Tindakan yang diluar dugaan itu membuat Langit membeku.

Sementara itu Bumi, Hugo dan Liam yang baru memasuki lapangan basket mengarahkan perhatian mereka begitu melihat Alden dan Langit yang terlihat berdua.

"Oooh di sana Alden. Dicariin malah

Berduaan sama Langit. Mana sosweet lagi." Hugo bersiul.

"Tatapannya itu loh." Liam juga ikutan. Dia melirik Bumi.

Bumi memperhatikan mereka yang saling menatap. Netranya fokus pada tangan Alden yang memegang tisu dan mengusap pipi Langit.

"Em gue aja," Langit langsung mengambil alih. Ia buru-buru menatap arah lain.

Alden terlihat santai. Cowok itu mengangguk. Alden. Cowok yang irit bicara dan jarang dekat sama cewek, kali ini bersikap ini padanya. Dia dibuat kikuk.

"Lo bisa bawa apa aja Langit. Gue pasti suka." Alden tersenyum.

"Sejak masuk sekolah. Gak pernah dekat siapa-siapa. Tapi sama Langit nyaman ya kelihatannya?" Liam berujar lagi.

Hugo mengangguk. "Cocok ya Bum keduanya?" Dia menoleh pada Bumi dan menepuk pundak cowok itu.

Bumi hanya berdehem. Tatapannya masih lurus. Ada sebersit rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul.

"Dilihat-lihat mereka serasi juga." Ucapan keduanya malah membuat dia makin tidak nyaman.

"Enak nih diganggu." Hugo terkekeh. Dia lalu mengangkat kedua tangannya dan mendekatkan ke depan mulut. Setelah itu berteriak kencang hingga perhatian Alden dan Langit beralih ke depan. Anak-anak basket yang lagi main juga sampai menoleh.

"WOI ALDEN. MAIN BASKET BUKAN PDKT SAMA LANGIT."

Teriakan itu membuat Langit melihat ke arah suara. Tapi bukan Hugo yang dia lihat. Tapi Bumi. Cowok itu menatapnya. Langit seketika menjauh sedikit dari Alden.

Apa Bumi melihat yang tadi?

Sayangnya cowok itu sudah mengalihkan pandang. Bumi berjalan ke tengah lapangan basket dengan tangan yang terselip di saku celana.

Kok Bumi langsung buang wajah sih?

Kenapa dia jadi merasa bersalah?

"SINI LO!" Liam berteriak dan memberi instruksi Alden untuk bergabung ke tengah-tengah mereka.

"Langit. Gue ke sana dulu." Perhatian Langit kembali beralih pada Alden. "Jangan lupa datang. Nanti pulang sekolah gue tunggu di parkiran."

Hah?

Langit mengerjap.

Alden keburu berdiri dan pergi setelah tersenyum. Dia kan belum jawab. Kenapa juga tumben cowok itu tidak bertanya dulu.

Langit memperhatikan Alden yang turun ke bawah dan bergabung bersama temannya. Liam dan Hugo langsung berdiri di Kanan kiri Alden. Merangkul cowok itu.

"Jadi sekarang lo udah mulai dekat sama cewek dan dia Langit?" Hugo menaikturunkan alisnya.

"Anjaay Alden udah besar. Udah tahu cara kasih perhatian. Bangga banget abang." Liam mengacak rambut Alden. Yang jadi korban berdecak lalu menjauh.

"Yah si Alden salting." Keduanya tertawa. Tampak puas menggoda Alden yang kini berlari ke arah Bumi yang sedang mendribble bola basket.

"Pantes aja mau ngajarin Langit. Gue

Sempat heran ternyata ...."

"Sukaa." Liam dan Hugo kompak melanjutkan kata terakhir. Mereka senang sekali menggoda Alden yang sebelumnya tidak pernah seperti ini.

Bumi memperhatikan wajah sahabatnya.

Dia lalu kembali mengarahkan tatap pada Langit yang sedang melihat ke arahnya.

Alden tidak akan jadi saingan dia kan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!